
***
Sore itu kabut tampak mulai turun di pinggir hutan Pinus, tempat di mana anak-anak Wanahardi dahulu pernah di buat kebingungan oleh pagar ghaib yang di buat oleh Ki Ranu!
Kini puluhan orang yang dipimpin seorang pemuda tampan tampaknya juga mengalami hal yang sama..
Beberapa saat mereka tampak berjalan berputar-putar saja mengitari pohon pohon Pinus di dalam hutan tersebut.
Kabut yang turun semakin sore semakin bertambah tebal saja, membuat rombongan itu menjadi semakin panik.
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari balik rimbunnya hutan...
"Ha, ha, ha,, hi, hi, hi.."
Suara tertawa khas dari seorang Bayu,,!
Ya , Bayu yang kali ini yang bertugas menjemput Mahardhika dan kawan kawan!
Ternyata rombongan ini adalah Mahardhika dan kawan-kawan nya.
Begitu mengenali suara ini Mahardhika segera berseru!
"Bayuuuu!"
"Kurang ajar kau Bay," seru Mahardhika marah-marah.
"Jauh- jauh kami dari Banyuwangi malahan kau kerjai, awas ya kamu! "
seru Mahardhika lumayan Jengkel.
Bayu kemudian menampakkan dirinya, keluar dari balik sebuah pohon Pinus yang berukuran paling besar! paling tidak seukuran rentang tangan dua orang dewasa!
Seorang pemuda tinggi dan besar dengan perut sebesar gentong masih saja terkekeh kekeh hingga perutnya yang sebesar gentong terguncang guncang keras.
"He,,, he,,, he, maaf Dika,,, maaf deh.!" jawab Bayu dengan senyum lebarnya dan langsung memeluk Dika erat- erat!
Ya Bayu memang seorang pemuda yang berhati lapang terbuka dan ceria!
"Ah,, kamu bau Bay, seru Dika yang segera menutup hidungnya!
Mahardhika tampak membawa orang-orang padepokan silat yang mengikuti persatuan perguruan silat.
Kali ini Mahardhika membawa semua anak buahnya sewaktu dia merantau di Surabaya yaitu Gembul, Jabrik dan lain-lainnya
Sementara perwakilan dari padepokan silat ada Intan, Cemani, Fatih, Ludiro, Ki Suromenggolo, Ki Maruto, Kyai Fakih serta cucunya dan anggota anggota dari padepokan lainnya.
Total yang di bawa oleh Mahardhika ada Empat puluh orang dan rata rata mempunyai ilmu Kanuragan yang lumayan mumpuni!
Bayu kemudian menunjukkan arah menuju ke Padukuhan Srengseng.
Semua yang ikut di belakang Bayu tampak Bingung! Jalan yang mereka lalui benar-benar aneh, tidak umum !
__ADS_1
Beberapa kali mereka tampak menembus semak semak rimbun, tapi begitu di lewati ternyata itu adalah jalanan kecil!
Begitulah sesat kemudian mereka sudah keluar dari hutan Pinus itu, dan segera tampak di depan sana padukuhan Srengseng!
"Itulah padukuhan Srengseng Dika!" kata Bayu sambil menunjukkan telunjuknya ke depan.
Dan ketika mereka sampai di pinggir Padukuhan Srengseng , tampak Tirta, Adnan dan juga para sesepuh dari padukuhan Srengseng menyambut kedatangan Mahardhika dan kawan-kawannya.
Mereka kemudian saling memperkenalkan dirinya .
Mereka kemudian di ajak ke pendopo dan di jamu dengan meriah!
Berbagai makanan di keluarkan! dari daging ayam hutan daging kijang sampai daging landak ! juga beberapa Ikan sungai!
Dari singkong rebus, talas rebus, Uwi rebus, gembili rebus, ganyong rebus yang sudah langka di temui di perkotaan.
Makanan khas suku Tengger juga keluar, seperti nasi Aron, Sawut kabut dan Iga pasir.
Semua tampak gembira menyambut kedatangan Mahardhika dan kawan- kawannya.
Para orang tua berbincang dengan s sesama orang tua ! mereka berkumpul sendiri, membentuk suasana nya sendiri.
Ki Ranu, Ki Amongrogo, Ki Sentanu berkumpul dengan Ki Suromenggolo, Ki Maruto, kyai Fakih juga Ki Seno Aji.
Dan anak-anak mudanya dengan jumlah yang lebih banyak sudah Saling membaur.
Intan kali ini pun selalu di ikuti oleh Topan! Sebenarnya Intan sudah muak dengan Topan yang selalu membuntutinya, tapi dia selalu gagal mengusir topan, karena si Topan ini sudah putus Urat malunya! Topan benar benar bermuka tembok!
Dalam perjalanan menuju Srengseng kali ini pun Intan sudah menolak Keikut sertaan Topan, akan tetapi ketika orang-orang sudah masuk ke dalam bus yang di Carter, mendadak saja si Topan ini sudah berada di dalam bus!
Dengan cengar-cengir tanpa rasa berdosa dia sudah duduk di sebelah Intan.
Muak rasa hati Intan, sejak dia mulai melihat para pemuda di luaran. Sedikit demi sedikit kesombongan dan keangkuhannya mulai terkikis.
Cantik ? dia tidak lebih cantik dari Mawar! Sexy dan Montok!? dia merasa sangat jauh di banding Mawar! pokonya semua keangkuhannya selama ini telah rontok semua!
Apakah Memang harus nasib nya menerima Topan?!
"Tidak, tidak,, !aku tidak mau dengan kang Topan!" jerit hati Intan.
Sebenarnya Kyai Syahroni tidaklah membatasi pergaulan putri satu satunya ini, akan tetapi karena Intan merasa dirinya tinggi, akhirnya banyak dari para pemuda yang menjauh darinya!
Dan sekarang ini tinggal Topan yang masih setia mengejarnya.
Dan ketika Intan tahu kalau Mahardhika duduk sendiri, Intan dengan memberikan diri duduk disebelahnya.
Walaupun ngganteng dan gagah, akan tetapi Mahardhika ini bukanlah tipe perayu wanita ! Mahardhika tidak seperti kakeknya Eyang Pandu Brojo yang beristri banyak ! dimana mana punya istri dan anak!
Beberapa saat Dika dan Intan duduk dalam diam!
Sementara Topan yang mengikuti Intan dari belakang tampak sangat kecewa melihat hal ini, dia akhirnya kembali ke tempat duduk nya semula yang ternyata kini sudah terisi oleh seorang pemuda.
__ADS_1
Mau tak mau akhirnya Topan dengan wajah cemberut duduk juga dengan pemuda itu yang ternyata adalah si Fatih!
Tempat duduk di bus sendiri terdiri dari dua tempat duduk berjajar kanan dan kiri.
Walaupun di sebelahnya ada gadis cantik tapi Mahardhika adalah tipe pemuda yang cuek pada wanita!
Dan selama ini dia belum pernah punya pacar atau kekasih, walau banyak sekali gadis-gadis cantik yang berusaha mendekatinya.
Setelah beberapa saat tak ada reaksi dari Mahardhika , akhirnya Intan yang memberanikan diri untuk memulai berbicara.
"Mas Dika sudah lama kenal dengan mas Tirta sudah lama?!" tanya Intan yang berusaha membuka kecanggungan di antara mereka.
Mahardhika tampak diam dan tidak bereaksi terhadap ucapan Intan.
Tampak Intan juga ragu untuk berbicara lagi. Dalam kebimbangan nya Intan menoleh untuk melihat pemuda ngganteng si sebelahnya ini!
Dan ternyata Mahardhika sedang memejamkan matanya ! dan tampak tertidur dengan pulas nya!
tampak dari nafasnya yang halus dan teratur.
Dipandanginya wajah pemuda di sampingnya ini, Sungguh seorang pemuda yang ngganteng ! kulitnya putih dan wajahnya terlihat tenang dengan alis mata tebal dan mata dengan bulu mata agak lentik yang menambah daya tariknya sebagia seorang pemuda!
"Alangkah jauh nya dengan kang Topan ! batin Intan.
Mahardhika lebih dari segala-galanya di bandingkan dengan kang Topan! bahkan dengan sepupunya!
Beberapa jam kemudian, ketika bus mengalami goncangan akibat jalan yang berlobang dan bergelombang, Dika tampak terbangun.
" Pulas sekali tidurmu mas Dika!" kata Intan berbasa-basi..
"Iya Intan, maaf aku tertidur! Habis kurang tidur," jawab Mahardhika.
"Ini mas ada sedikit cemilan,"Intan menyodorkan sebatang cokelat.
Ternyata Mahardika ini seorang penggemar coklat !
Akhirnya keakraban di mulai dari sebatang cokelat.
"Mas Dika sudah lama ya kenal sama Mas Tirta?" tanya Intan ketika pembicaraan mereka makin hangat.
"Barusan sih Tan, tapi walaupun barisan kami sangat cocok satu sama lain, juga dengan Bayu dan Adnan," jawab Mahardhika.
Kemudian Mahardhika bercerita tentang bagaimana mereka bisa bertemu dan akhirnya bisa berteman dengan erat seperti sekarang ini.
Walaupun Mahardhika agak pendiam dan agak cuek dengan para gadis, akan tetapi karena Intan terus mengajak nya berbicara, mereka akhirnya semakin akrab saja!
iga pasir, makanan khas suku Tengger
__ADS_1
Sawut Kabut, kudapan khas suku Tengger.