
Pagi itu mereka menikmati suasana puncak kawah Ijen yang sangat indah itu..
Matahari keluar dari peraduannya, menyalakan kehidupan di pagi yang cerah.
Setelah puas menikmati suasana pagi di kawasan kawah gunung Ijen, kemudian mereka kembali menuruni Gunung Ijen dan kembali ke camping ground di pos Paltuding.
Tirta berencana berada di gunung Ijen ini paling tidak antara seminggu sampai dua mingguan untuk menyerap intisari dari Blue Fire!
Sampai dia mampu menguasai aji Suryo Dahono tingkatan berikutnya yang lebih tinggi.
Disela-sela waktu yang itulah kadangkala Tirta menuntun Bayu dan Adnan untuk menggapai kemampuan olah Kanuragan lebih tinggi lagi. Tirta mulai memberikan dasar-dasar aji Suryo Dahono pada dua sahabatnya ini.
Begitupun dengan Mahardika, dia juga mulai melatih anak buahnya dengan lebih fokus terutama di sore harinya, ketika mereka tidak banyak melakukan aktivitas.
Suatu sore di pos Paltuding, terlihat kedatangan serombongan anak-anak muda. Terdiri dari puluhan orang pemuda dan pemudi dengan berseragam khas pakaian pencak silat yang memang banyak terdapat di daerah-daerah di Jawa Timur.
Mereka berpakaian hitam hitam dengan memakai iket bercorak batik.
Tampaknya mereka dipimpin oleh seorang guru yang terlihat sudah agak tua tapi masih terlihat lincah dan cekatan.
Diantara mereka terlihat seorang gadis yang cukup menonjol di antara gadis-gadis yang menjadi anggota mereka.
Gadis itu tampak menjadi pusat perhatian dari para pemuda di sekitarnya.
Gadis itu tinggi semampai dengan rambut nya yang panjang di kepang dua, kulit putih cerah dengan mata hitam berbinar tajam, alis hitam tebal dan buku mata yang lentik. Tubuhnya cukup berisi dengan lekuk lengkung yang menawan. Geraknya terlihat enteng dan lincah. Bibir merah merekah dengan senyum yang agak sinis. Sungguh wajah gadis yang cantik tapi membawa aura yang membuat siapapun yang mendekati nya harus berfikir ulang.
Ketika mereka melewati tenda yang di tempati Tirta dan kawan-kawannya, tampak rombongan mereka agak tertarik dengan Mahardika yang sedang melatih olah kanuragan bersama anak buahnya.
Ketika mereka melewati, salah seorang diantara pemuda ini nyeletuk :
"Berlatih Silat apaan tuh, buat nakut nakutin ayam yaa!" ledek pemuda itu.
Kemudian di balas oleh kawannya yang lain;
"Ha, ha, ah, itu sih jurus buat naklukin cewek!" seru pemuda yang lain.
"Emangnya ada jurus naklukin cewek?" tanya pemuda yang lain nya lagi.
"Adalah !" jawab pemuda tadi.
"Aji Jaran goyang!" sahutnya "atau Semar mesem!" lanjutnya pula.
"Hua, ha, ha, ha !" seru kawan-kawannya terbahak-bahak.
__ADS_1
"Heh, kalian ini! emangnya bisa naklukin hati kami para cewek dengan ilmu kalian?" sahut salah seorang gadis diantara rombongan itu.
"Coba tuh Intan, kalo kalian bener bener berilmu!" kata seorang gadis yang Lain.
"Ahh,, kalo Intan sih aku gak berani!" seru pemuda itu.
"Ya tampak nya gadis yang cantik dan berisi tersebut bernama Intan, dia adalah murid sekaligus anak dari pemilik perguruan silat ini. pemilik perguruan silat ini bernama kyai Syahroni, seorang kyai yang juga memimpin perguruan silat " Rogo Sejati" yang berlokasi di sebuah kabupaten di Jawa Timur.
Sebenarnya kawan-kawan Mahardika sudah panas kupingnya mendengar ledekan mereka, tapi mereka ditenangkan oleh Mahardika dan Tirta Jayakusuma.
"Biarkan anjing menggonggong, belajar untuk menahan diri !" kata Mahardika dengan suara yang agak keras yang memang di sengaja agar para pemuda itu mendengarnya.
Sekumpulan pemuda itu dengan jelas mendengar apa yang di ucapkan Mahardika.
"Hmm, apa yang kamu katakan ! tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam kelompok perguruan silat tersebut.
Tampak seorang pemuda dengan gerakan lincah dan berwajah garang kembali menghadap ke arah Mahardika dan anak buahnya.
"Apa katamu, !" bentak pemuda itu pada Mahardika.
Tapi Tirta lah yang kemudian menjawabnya;
"Maaf, maaf itu hanya kata kata sepintas lalu saja, hanya bertujuan untuk kami sendiri !" jawab Tirta sambil membungkukkan badan dengan kedua telapak tangan menangkup di depan dadanya..
"Huh, ternyata hanya nyali kucing, aku kira nyali harimau!"
ketika baru beranjak dua langkah, mendadak seperti ada yang mendorongnya dengan kuat dari belakangnya.
Gubrak, si pemuda berwajah garang dan tengil itu mendadak jatuh terjerembab ke depan, Wajahnya tepat mengenai kubangan air kecil yang lebih mirip dengan lumpur daripada air.
Kurang ajar, serunya seraya melenting bangun dengan lincahnya.
Tapi dia tidak mendapati gerakan yang mencurigakan dari Mahardika.
Teman-teman seperguruannya juga memandang heran dengan kejadian ini. Mereka tidak melihat gerakan apapun dari Anak anak muda itu.
Tapi pemuda berwajah garang itu yakin seyakin yakinnya kalau ada yang mendorong dengan kuat sehingga dia jatuh terjungkal dan wajahnya terbenam di lumpur .
Sialan, Jan***k, serunya marah marah.
Jarak antara dirinya dan kelompok Mahardika ada kalau lima sampai tujuh langkah, dan teman temannya juga menjadi saksi tidak ada gerakan apapun dari pihak Mahardika.
Wajahnya terlihat sangat lucu,, kemarahan yang tidak bisa di kendalikan ya membuat kepalanya seakan akan mau pecah .
__ADS_1
"Jan*** k. siapa yang tadi mendorongku hah, ?!" serunya marah-marah tak karuan.
Sebenarnya lah Tirta sudah tau bagaimana Mahardika yang usil telah melontarkan pukulan jarak jauh yang menghantam punggung pemuda yang berwajah ganas dan garang tersebut..
Maaf mungkin kamu tadi terantuk batu, kata Mahardika mencoba mencari kambing hitam atas perbuatannya.
Tidak ada batu! bentak si pemuda berwajah garang tersebut.
Aku benar benar merasa ada yang mendorongku seru si pemuda berwajah garang tersebut ngotot..
"Terus, kamu mau menuduh kami?" Seru Mahardika!
tanya kawan kawanmu ! apa kami menggerakkan tangan kami, kata Mahardika!
"Jarak kami dengan mu ada kalau tujuh langkah ! bagaimana kami bisa mendorongmu tanpa di ketahui kawan kawanmu?" kata Mahardika.
Sementara itu Bayu dan Adaan yang mendengar suara keributan di luar tenda segera mengajak Adnan untuk keluar tenda.
"Ada apa sih ribut ribut Ta?" tanya Bayu.
"Gak ada apa-apa Bay, hanya salah paham saja," jawab Tirta.
Begitu perguruan silat Rogo Sejati berlalu berlalu, Tirta segera berkata!
Untung mereka tidak tahu, Kalo ketahuan kita akan menghadapi kesulitan dengan mereka ! kamu sih Usil sekali Dika," kata Tirta.
Risih aja ngelihat tingkah tengil pemuda pemuda yang sok jagoan itu Ta, jawab Mahardika.
Sudah ayo kita lanjutkan latihan kita, seru Dika pada Jabrik, Arif, Hanif, Eko dan Gembul.
Beberapa saat mereka lakukan gerakan gerakan tendangan, terlihat kembali serombongan pemuda dengan pakaian perguruan Silat yang lain.
Kali ini serombongan anak-anak muda ini berjumlah lebih sedikit. Hanya berjumlah sekitar lima belas orang, terdiri dari sepuluh orang pemuda dan lima orang gadis muda.
Tapi kali ini kelompok ini terlihat lebih tenang dan cenderung diam, tidak usil dan mencari masalah dengan orang lain dan tidak berlagak sok jagoan seperti perguruan silat Rogo Sejati tadi.
Ketika hari beranjak semakin sore, semakin banyak pula perguruan perguruan silat yang berdatangan ketempat ini.
"Kok makin banyak perguruan silat yang berdatangan kemari ya," kata Tirta pada Mahardika ,Bayu dan Adnan.
"Mungkin ada pertandingan silat di puncak Gunung Ijen," jawab Mahardika menerka-nerka.
"Iya, mungkin juga atau mungkin ada hal lainnya, misal pemilihan pemimpin di antara perguruan silat?" kata Adnan.
__ADS_1
"Bisa jadi sih, " kata Tirta.
Mereka kemudian sibuk berdiskusi tentang kedatangan banyak perguruan silat ke Gunung Ijen ini.