Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Ikatan Iza


__ADS_3

"Aku kemari sebenarnya mau pamit padamu Iza, aku akan pergi merantau!mencari pengalaman."


Iza terkejut dengan perkataan Tirta,


"Apa!!?? kamu akan merantau ?? ngapain merantau?? .....Kamu ada kesulitan keuangan atau ada masalah lain!?" sergah Iza yang segera mandang ke wajah Tirta dan menggenggam kedua telapak tangan sang pemuda.


"Kalo kamu butuh uang bilang ke aku, aku ada tabungan sendiri, kalau cuma beberapa ratus juta aku ada!" seru Iza.


"Tidak-tidak bukan itu masalahanya Iza ! masalahnya ini adalah tugas dari Eyang Guru ku. Aku di tugaskan untuk merantau mencari pengalaman dan menyempurnakan ilmuku, aku akan ditemani Bayu dan Adnan,"


Iza merasakan sedih yang luar biasa Mendengar kalau Tirta akan merantau, dia tidak rela berpisah dari Tirta!.


"Tidak aku tidak setuju Ta,! Iza mengatakan itu dengan terbata-bata, wajahnya terlihat sedih dan air mata segera mengalir dari sudut mata yang indah teraebut..


Tirta jadi bingung, dia tidak memikirkan sampai sejauh ini tanggapan Iza, dia tahu Iza menyukai diri nya karena dirinya mirip dengan Farhan, dia tidak berani membayangkan hubungan yang lebih dengan Iza yang seorang anak tunggal seorang pengusaha hotel yang kaya raya dan terpandang.


Sedang dirinya? hanya seorang pemuda sederhana dari keluarga biasa saja.


Reflek, diusap nya air mata yang memgalir di pipi putih dan halus Iza, Tirta sendiri juga tidak tahu, kenapa dirinya mendadak se melow itu, jarinya seperti bergerak sendiri mengusap dua pipi halus milik Iza.


"Aku sayang kamu Tirta, aku sayang kamu tidak hanya seperti sayangku kepada Kak Farhan, tapi lebih dari itu," bisik Iza lirih.


Walaupun dia seorang gadis lincah dan terbuka, mengungkapkan perasannya pada pemuda yang di cintai tetaplah tabu dan di butuhkan keberanian.


Hari ini dia dengan terpaksa mengungkapkan perasaan nya pada sang pemuda, dengan harapan sang pemuda memahami perasaannya


Selama ini, dirinyalah yang di kejar kejar para pemuda! Sudah tidak terhitung berapa banyak pemuda yang jatuh hati padanya, dan semuanya di tolak, tak ada satupun yang bisa menaklukkan hatinya.


Tirta bingung, mendengar pengakuan Iza, tapi hatinya bahagia dan berbunga bunga, sebagai seorang pemuda biasa bisa di cintai seorang gadis yang luar biasa, pastilah hatinya melambung tinggi ke angkasa.


"Tapi aku harus melaksanakan tugas Eyang Guru,,,,,iza," jawab Tirta lirih.


Aku hanya pergi merantau paling cepat seminggu dan paling lama pun dua minggu, dan itupun bukan ketempat tempat yang berbahaya.


"Tidak aku tetap tidak setuju, aku takut kehilanganmu Ta,,, aku takut akan kehilangan lagi untuk yang kedua kali."


"Aku berjanji akan kembali untuk mu Iza. Jawab Tirta lembut.


Iza hanya diam mendengar penjelasan Tirta, pikirannya melayang-layang jauh membayangkan hal-hal yang tidak-tidak, seperti Tirta akan terluka, Tirta akan celaka atau ,,,,, atau,,,Tirta akan mengenal gadis-gadis cantik di luaran dan berpaling darinya.


"Memikirkan hal ini, kembali air mata mengalir di kedua pipinya, kembali rona kesedihan terlihat di wajahnya yang jelita,


"Aku tahu kamu tidak akan membatalkan kepergianmu Ta, tapi aku minta kamu sehari ini temani Iza ya.." kata Iza yang tampaknya mulai mengiklaskan kepergian Tirta.


Tirta mengangguk dan menyanggupi permintaan Iza.


Hari itu Tirta menemani Tirta berkeliling kota dengan motor nya Tirta.

__ADS_1


Iza berpikir kalau pakai mobil nya terasa kurang romantis dan tidak bisa berdekatan dengan Tirta,


Mereka berjalan-jalan di pinggir sungai banjir kanal barat yang indah. Sore itu sepanjang sungai tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasang muda - mudi saja yang sedang duduk- duduk dan juga berjalan-jalan disana sambil bersenda gurau, bahagia.


Iza berjalan dengan menggamit lengan Tirta dan menyandarkan kepalanya di pundak sang pemuda.


Tirta sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Iza yang mulai manja kepada dirinya, mereka berjalan pelan menyusuri pedestarian yang tampak bersih dengan taman-taman kecil nan indah di kanan kirinya.


Rambut panjang Iza berkibar lembut tertiup angin yang cukup deras di pinggiran sungai tersebut, tercium oleh Tirta aroma wangi memabukkan di hidungnya, dihirupnya dalam dalam dan diciumnya lembut rambut hitam indah dan harum itu.


Ketika kaki-kaki Iza sudah mulai lelah berjalan dia mengajak Tirta untuk duduk di taman kecil yang memang tersebar sepanjang aliran sungai banjir kanal barat Kota Semarang.


Mereka duduk-duduk sambil menikmati senja di sore itu .


"Ice ice, cream, minuman dingin", terdengar teriakan seorang anak laki-laki kecil menawarkan dagangannya.


Iza segera melambai memanggil pedagang kecil tersebut yang segera menghampiri mereka.


Dipilihnya dua ice krim dan beberapa minuman kemasan juga cemilan.


Iza mengeluarkan satu lembar ratusan ribu buat membayar


"Sebentar kak, aku cari kembaliannya dulu, mau tukar ke temen , atau kakak ada uang pas saja? habis nya tujuhpuluh ribu kak," kata anak laki- laki penjual itu.


"Tidak usah dek, kembaliannya buat kamu aja yaa," kata Iza.


"Semoga kakak berdua bisa terus bersama," lanjut si bocah yang segera berlalu.


Iza terlihat senang dengan kata-kata si bocah dia dengan serta merta menggenggam tangan Tirta dengan erat, dan berkata;


"Semoga perkataan dari bocah tadi bisa terwujud ya Ta."


Ketika hari mendekati waktunya Maghrib, kedua nya segera meninggalkan pinggir sungai banjir kanal barat Kota Semarang. Mereka mampir dulu ke bakso Pak Geger, di daerah Kumudasmoro, yang memang satu arah dalam perjalanan pulang menuju rumah Iza.


Iza dan Tirta sampai rumah selepas Isya,


Mama Iza dan Pak Fajrul ternyata sudah berdiri di teras rumah menyambut mereka.


Tirta segera mengucap salam pada keduanya


"Assalamualaikum Pak, Ma," sapanya.


"Wa Alaikum Salam Mas, ayoo sini duduk, Mama segera mempersilakan Tirta duduk di teras. Udara malam itu terasa sejuk dan segar di daerah Graha Taman Bunga ini.


Kemudian Iza menyampaikan kepada Papa dan Mamanya tentang rencana Tirta yang akan melakukan perantauan selama seminggu atau dua minggu karena tugas dari Gurunya.


"Mas, apa harus merantau seperti itu" tanya Mama, "kan sangat berbahaya Mas!"

__ADS_1


"Iya Ma, buat menambah pengalaman Tirta." jawab Tirta


"Nanti Iza gimana Mas, pasti dia kesepian berat lho!"


"Tirta hanya sebentar kok Ma, paling lama juga dua mingguan," jawab Tirta.


"Tuh Ta! Mama juga keberatan kan!" sela Iza.


"Kami juga khawatir Mas, soalnya Mas Tirta kan pergi bukan buat jalan-jalan saja tapi juga buat mencari masalah kan," lanjut Mama.


"Iya sih Ma, Tapi Tirta yakin kok kalo Tirta pasti dapat perlindungan dari Gusti Allah Ma.


Pak Fajrul yang dari tadi diam saja kemudian ikut berbicara,


"Memang sebagai laki-laki Mas Tirta harus kuat dan mencari pengalaman hidup, Papa juga mendukungmu Mas, akan tetapi Papa juga ada rasa khawatir akan keselamatan Mas Tirta, Mas sudah kami anggap keluarga sendiri sudah seperti anak kami," Papa mengambil nafas sejenak dan kemudian melanjutkan.


"Jaringan usaha Papa cukup banyak Mas, hampir semua kota-kota besar di seluruh pulau Jawa ini ada Hotel milik Papa, adapula usaha yang lainnya," kata Papa.


"Kalao Mas ada kesulitan di manapun berada, Mas cukup menghubungi anak buah papa saja, Papa akan memberimu tanda pengenal sebagai perwakilan dari Papa! gimana mas?"


Mendengar ini, Mama langsung berseru.


"Betul Pa, kasih itu tanda pengenal Papa,"


"Ahh jangan Pak, Tirta malahan merepotkan Bapak saja," tolak Tirta.


"Ta, kalo kamu enggak mau nerima keiginan Papa aku gak rela kamu pergi," ancam Iza.


Tirta akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa dia akhirnya menerima juga usul dari Pak Fajrul.


Pak Fajrul segera masuk kedalam rumah dan segera keluar dengan membawa sebuah kartu seperti kartu ATM berwarna hitam legam dan bertuliskan tinta emas dengan nama Fajrul Suryo Wibowo.


"Ini sebagai tanda pengenalmu Mas, terimalah, ini bisa di gunakan sebagai ATM juga, ada isinya cukup untuk bekal Mas Tirta," kata Pak Fajrul sambil menyerahkan Kartu tersebut kepada Tirta, dan menyebutkan beberapa angka sebagai PIN nya.


Iza lega, akhirnya Tirta menerima pemberian dari Papanya.


"Mas Tirta harus berjanji untuk kembali demi Iza," kata Pak Fajrul dengan tegas kali ini.


Tirta mengangguk dan menyanggupi permintaan dari Pak Fajrul. Dengan ini secara tidak langsung Pak Fajrul memang dengan sengaja mengikat Tirta dengan Iza.



banjir kanal barat Kota Semarang



jembatan banjir kanal barat, Kota Semarang

__ADS_1


__ADS_2