
Setelah interogasi dirasa cukup, Bayu segera bertanya pada Tirta.
"Bagaimana selanjutnya Ta, apakah mereka kita serahkan pada pihak polisi saja!?"
Tirta berdiam diri sejenak, dia juga bingung, tindakan apa yang seharusnya di lakukannya, kemudian dia berkata pada Bayu dan Adnan.
"Bagaimana menurut kalian berdua," Tirta meminta pendapat kedua nya.
"Bagaimana kalau untuk sementara mereka kita tawan disini dulu, setelah kita membereskan kelompok Hendra ini kita baru memikirkan nasib mereka," Adnan memberikan pendapatnya.
"Bagaimana dengan mu Bay?" tanya Tirta pada Bayu.
"Aku kira saran Adnan boleh juga, tapi kita harus segera bergerak menyerang mereka, sebelum mereka menyadari kita sudah membereskan anak buah mereka ini." Bayu menambahkan saran dari Adnan.
"Baik, kita putuskan demikian saja, besok pagi kita bergerak ke markasnya Hendra," Tirta memutuskan.
"Mbak Latifah, adakah ruang kosong yang bisa di gunakan untuk menahan sementara para penjahat ini?" tanya Tirta.
"Tidak ada Mas, hanya rumah utama dan rumah khusus tamu yang di tempati Mas bertiga."
"Bagaimana kalo rumah kecil itu di gunakan untuk mereka dan Mas bertiga menggunakan kamar di rumah utama?" Latifah mengusulkan.
"Kalao Mbak Latifah tidak keberatan, baiklah di atur demikian saja" jawab Tirta.
"Saya tidak keberatan Mas, sungguh Mas! kami semua sudah berhutang banyak pada Mas bertiga, kalo tidak ada Mas-mas bertiga kami tidak tahu nasib seperti apa yang akan menimpa kami."
"Mbak mu ini dan harta benda ini kalo mau diminta oleh Mas Tirta Mas Bayu dan Mas Adnan juga saya Iklas kok!?"
"Waduh , jangan Mbak." seru Tirta.
"Kami ikhlas membantu kok Mbak, kami tidak berharap imbalan apapun Mbak."
Latifah terharu mendengar jawaban anak- anak muda ini, sungguh anak-anak muda yang baik hati dan berbudi.
"Oh ya Mbak, tolong besok pagi-pagi, perintahkan semua karyawan laki-laki yang berani untuk berkumpul disini, saya ingin mereka membantu menjaga para penjahat ini dan sebagian lagi membantu kami." kata Tirta.
"Ayo Bay, Ad, kita bawa para penjahat ini masuk ke rumah," ajak Tirta pada Bayu dan Adnan.
"Mbak tolong, siapkan air buat menyadarkan para penjahat yang pingsan.".
Para penjahat ini segera di giring masuk kedalam rumah kecil yang tadinya di gunakan oleh Tirta Bayu dan Adnan. Banyak dari mereka yang masih merintih- rintih kesakitan.
Para penjahat ini tidaklah mungkin bisa melarikan diri karena cedera yang di derita walaupun tidak berat tapi juga tidak bisa langsung sembuh.
Setelah semua penjahat di masukkan rumah kecil tersebut Mbak Latifah segera mengajak Tirta, Bayu dan Adnan untuk beristirahat di rumah utama.
__ADS_1
Malam itu semua penghuni tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan Mbak Latifah dan Zahra tidak bisa tidur sama sekali.
***
Ketika waktu Subuh tiba.
Tirta bangun terlebih dahulu, di ikuti Adnan, sedang Bayu seperti biasa, paling lambat.
Pagi itu ketika matahari sudah menampakkan dirinya di ufuk timur. Tirta sudah memeriksa para penjahat yang terluka dan memberikan sedikit pijatan dan urutan untuk meringankan sakit agar tidak berbahaya bagi keselamatan meraka. Para penjahat menjadi sangat berterima kasih pada anak muda ini.
Tirta juga menanyakan pada Black tentang aktivitas di markas kelompok Hendra dan penjagaan di markas itu.
Black menceritakan kalau markas itu digunakan untuk menampung mobil-mobil curian.
Sebagian di pereteli dan di jual dalam bentuk terpisah-pisah, sedangkan sebagian lain di jual dalam bentuk utuh dengan surat-surat palsu.
Markas itu di jaga dengan cukup ketat, ada lima orang yang selalu berjaga-jaga. Dan tiap sudut terpasang oleh cctv.
Dan masih menurut Black, grup eksekutor seperti grup nya ini ada dua. yang satunya lagi di pimpin oleh seseorang yang bernama Hans.
Grup eksekutor ini akan berkumpul jika ada perintah saja. seperti perintah untuk membegal, mencuri, menculik dan tindakan-tindakan kriminal lainnya.
Para pimpinan yang berjumlah empat inipun tidak tiap saat berada di markas itu. Mereka berkumpul kalau ingin merencanakan sesuatu atau di suruh berkumpul oleh Hendra.
Tapi yang paling sering ada di markas itu adalah Bram, pimpinan tertinggi dari kelompok eksekutor dan merupakan orang terkuat yang diketahui oleh Black dalam kelompok Hendra.
"Terimakasih Black infomu cukup berguna bagiku," kata Tirta.
Dari pembicaraannya barusan dengan Black, Tirta menjadi berpikir ulang rencananya untuk menyerbu markas kelompok Hendra secara langsung, karena anggota kelompok ini tersebar-sebar dan hanya berkumpul jika ada tugas.
Juga ternyata kelompok ini cukup rapi susunan organisasi nya.
ketika Tirta sudah selesai dengan para penjahat yang cedera, di dapatinya banyak karyawan laki-laki yang berkerumun di halaman rumah Latifah. Tampaknya mereka adalah karyawan-karyawan Latifah. Mereka terdiri dari sopir-sopir truk dan karyawan lainnya semuanya hampir limapuluh orang.
Terlihat di antaranya pak Darman, sopir truk yang sempat diselamatkan oleh Tirta dan kawan-kawanya dari usaha pencurian truk yang di kemudikannya.
Tampaknya mereka mendapatkan penjelasan tentang peristiwa semalam.
Banyak dari mereka yang tidak mempercayai kemampuan tiga anak muda tersebut, tapi begitu di tunjukkan ada belasan penjahat yang terluka dan sekarang di tahan di rumah khusus tamu, barulah mereka percaya.
Diantara sekian banyak karyawan laki-laki hanya dua puluhan orang saja yang tampaknya berani untuk ikut menjaga aset-aset pabrik juga aset lain yang mungkin saja menjadi sasaran kelompok Hendra. Dan dari sejumlah dua puluh orang tersebut yang mempunyai sedikit dasar-dasar beladiri hanya tiga orang saja, sedang kan yang lainnya hanya mengandalkan keberanian dan otot yang terlihat macho.
Setelah diberikan keterangan, karyawannya yang memang sudah agak tua atau lemah diminta untuk menjaga para penjahat yang tertawan, sedangkan yang dua puluh orang di minta melindungi pabrik batik dan truk-truk yang tersisa.
Tiga orang yang mempunyai dasar-dasar beladiri posisikan sebagai ketua regu keamanan, dengan membawahi teman temanya. masing-masing regu beranggotakan enam orang dan satu ketua regu. Jumlah anggota regu terakhir yang tadinya hanya 5 orang, akan tetapi pak Darman tampaknya ikutan bergabung jadi genaplah enam orang seperti regu satu dan regu dua.
__ADS_1
Setelah Membagi bagi tugas pada karyawan Mbak Latifah. Tirta segera mengajak Adnan dan Bayu untu mendiskusikan langkah mereka lagi.
"Tadi aku berbicara dengan Black," Tirta segera menceritakan kembali hasil pembicaraannya dengan Black.
"Bagaimana menurut kalian!?"
Bayu dan Adnan berdiam, tampaknya mereka memikirkan hasil pembicaraan Tirta dan Black.
Setelah berfikir sejenak Adnan segera memberikan pendapatnya.
"Menurutku kita tidak usah mengubah rencana, biar kita selesaikan markas itu lebih dahulu, ketika markas itu sudah kita selesaikan Hendra pasti akan datang kemari dengan kekuatan penuhnya. Jika kita datang pagi ini markas kelompok hendra ini hanya di jaga lima orang penjaga dan mungkin beberapa orang anggota eksekutor lain serta Hans, dan aku yakin kita bisa menaklukkan mereka.
Tirta terdiam mendengar paparan Adnan ini, tampaknya Adnan memang mempunyai strategi sendiri.
"Selain itu kita bisa mengurangi banyak kekuatan mereka! kalau kekuatan mereka full jadi satu kita juga akan kerepotan menghadapinya." lanjut Adnan.
"Brilian pemikiran Ad!" seru Bayu sambil menunjukkan jempol dan senyum lebarnya.
"Bagaimana Bay,? menurutmu!" tanya Tirta pada Bayu.
"Aku ikut dan manut saja," serunya.
"Aku rasa memang rencana Adnan cukup bagus! Baik kita lanjutkan rencana semula," Tirta memutuskan rencana penyerbuan ke markas Hendra tetap di laksanakan pagi ini.
Pagi ini Tirta berencana mengunjungi markas kelompok Hendra yang menurut keterangan ada di daerah yang agak jauh di pinggiran kota pekalongan, yaitu di daerah lereng pegunungan di selatan kota Pekalongan.
Jaraknya sendiri dari Kota pekalongan adalah kurang lebih tiga puluh lima kilometer.
Tirta menggunakan mobil pribadi Mbak Latifah. Sebuah mobil kijang inova, dengan pak Darman sebagai sopir dan petunjuk arahnya.
Latifah sendiri memaksa untuk ikut Tirta Bayu dan Adnan. Tadinya Tirta menolak tapi Latifah tetap memaksa untuk ikut serta karena ini menyangkut kepentingannya. Dan Akhirnya Tirta menyetujuinya.
Sedangkan urusan rumah dan operasional pabrik batik nya diserahkan pada adiknya Zahra.
Rombongan ini segera berangkat menuju lokasi yang di tunjukkan Black sebagai markas mereka.
perjalanan menuju lokasi ini melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok menanjak.
Sampailah mereka di lokasi yang seperti di gambarkan oleh Black.
Bangunan di tengah- tengah areal perkebunan teh. bangunan di kelilingi tembok setinggi dua meteran bercat warna putih. Jika dilihat dari luar hanya tampak atap bangunan yang ada di dalamnya saja.
Pak Darman, berhenti di sini dulu pak, kata Tirta pada Pak Damar selaku sopir. Mobil berhenti kurang lebih berjarak limapuluh meter dari pintu gerbang yang di duga adalah markas kelompok Hendra.
"Kita akan mengamati sebentar, paling tidak mengetahui aktivitas markas di pagi ini."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian terlihat sebuah truk colt diesel dan sebuah mobil alphard masuk ke dalam bangunan tersebut.