
"Eyang hanyalah orang tua yang sedang lewat saja Ngger," jawab orang tua itu.
"Kalau boleh Eyang tau, siapkah Angger bertiga ini?" tanya orang tua itu.
Tirta , Bayu dan Adnan segera memperkenalkan diri mereka !
"Kami hanya anak- anak muda yang senang merantau dan mencari pengalaman saja Eyang," jawab Adnan.
"Kami berasal dari lereng gunung Ungaran Eyang," lanjut Adnan lagi.
"Hm, jauh juga perjalanan kalian!" kata orang tua itu lagi.
"Maaf ya Angger sekalian !
Eyang kemarin sudah melihat apa yang kalian kerjakan di sini ! Eyang sudah melihat latihan-latihan yang kalian kerjakan ," kata orang tua itu lagi.
Tirta, Bayu dan Adnan kaget mendengar bahwa orang tua ini sudah mengetahui apa yang di kerjaan mereka di kawah Ijen ini!
"Siapakah sebenarnya eyang ini," batin Tirta penasaran.
"Eyang adalah seorang yang Kabur Kanginan( tidak punya rumah, tidak punya sanak saudara dan tidak terikat oleh apapun) Ngger.
Tapi orang-orang yang mengenal diri Eyang mu ini sering memanggil dengan sebutan Kyai Wonokerti." lanjut orang tua ini.
Beberapa saat kemudian mereka sudah menjadi akrab, karena orang tua ini sangat terbuka dan mempunyai banyak topik pembicaraan untuk di per berbincangkan.
Dalam suatu kesempatan Kyai Wonokerti menanyakan tentang asal-usul dari cincin bermata biru yang di kenakan oleh Tirta Jayakusuma di jari manisnya di tangan kanan.
Tirta Jayakusuma pun tanpa ada keraguan-raguan sedikitpun pada Kyai Wonokerti segera menceritakan asal- usul cincin tersebut pada Kyai Wonokerti.
Mendengar cerita Tirta, Kyai Wonokerti tampaknya sangat lah tertarik.
Walaupun baru saja mengenal Kyai Wonokerti ini, tapi Tirta merasa sangat percaya dan seakan-akan sudah mengenal lama dengan Kyai Wonokerti.
Dan ketika Blue Fire mulai muncul di sela- sela bebatuan di lereng-lereng kawah Ijen ini, Tirta Bayu dan Adnan segera turun ke kawah Ijen dimana Blue Fire banyak bermunculan.
Tirta segera melakukan ritual seperti kemarin-kemarin. Sednaahkan Adnan dan Bayu juga mulai memperdalam aji Suryo Dahono tahap permulaan yang memang mulai di ajarkan oleh Tirta Jayakusuma pada mereka berdua.
__ADS_1
Kyai Wonokerti yang menyaksikan ritual Tirta dalam menyerap dan mengerahkan aji Suryo Dahono melalui cincin bermata biru, tampak mulai memperhatikan dengan seksama ritual yang di jalankan Tirta ini.
Seperti kemarin ! Tirta masih kesulitan dalam memfokuskan segenap sinar dari aji Suryo Dahono ke arah cincin bermata birunya.
Sinarnya masih berpendaran kesana kemari tak beraturan.
Hingga akhirnya Kyai Wonokerti berkata;
"Cobalah aji Surya Dahono dari Angger Tirta di fokuskan ke arah jari kanan! kemudian alirkan ke permata biru di jarimu itu!" saran Kyai Wonokerti.
"Usahakan aliran aji Suryo Dahono tidak terpecah.. arahkan seperti aliran pipa kecil yang mengalir menyusuri pipa kecil itu. Jangan sampai aliran aji Suryo Dahono keluar dari pipa kecil itu...!" lanjut Kyai Wonokerti mulai membimbing Tirta Jayakusuma.
Demikianlah Kyai Wonokerti mulai memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berarti pada Tirta Jayakusuma dalam penguasaan aji Suryo Dahono tingkat kedua.
Tanpa terasa hari sudah mendekati pagi! Matahari pelan-pelan mulai menampakkan dirinya!
Tirta segera mengajak Bayu dan Adnan untuk turun gunung kembali ke perkemahan, sedangkan Kyai Wonokerti segera mengambil jalan lain untuk turun dari kawah gunung Ijen ini.
Kyai Wonokerti berjanji untuk datang lagi ke tempat itu besok dinihari , menemani Tirta dan memberikan petunjuknya dalam penguasaan aji Suryo Dahono tingkat yang kedua.
Ketika mereka sampai di tenda, ternyata Mahardhika masih belum sampai di tenda mereka.
***
Sementara itu di dalam tenda di lokasi lain, sekelompok orang berkumpul dan tampak berbicara dengan serius.
"Tampak nya para tetua perguruan perguruan silat sudah mencurigai pergerakan kita, " kata seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima dua puluh enam tahunan yang berambut gondrong seperti anggota grup band tahun 90 an yang sukanya memanjangkan rambut.
"Benar !" seru seorang pria yang lainnya.
"Tampaknya mereka sudah mencurigai pergerakan kita yang menjadikan beberapa perguruan silat menjadi pancatan kita," tambah pria itu!
"Kita sudah meloloskan empat orang , kalo di babak kedua nanti kita harus saling di hadapkan lagi satu dengan yang lain, maka makin lama akan habis perwakilan kita!" lanjut pria yang lainnya.
"Sudah ! kita bereskan saja Ki Seno Aji itu lebih dulu!" usul seorang pria yang lainnya lagi.
"Jangan !" seru pria yang bermata tajam menakutkan! seperti mata binatang buas saja.
__ADS_1
"Jika kita membunuh Ki Suryo Aji, pasti akan menyebabkan kegaduhan! dan bisa- bisa mereka akan membatalkan keikutsertaan kita dan akan sia-sia saja usaha yang telah kita rintis untuk merebut kursi pimpinan perguruan-perguruan silat di sini." lanjut pria bermata seperti binatang buas ini!
Pria ini bernama "Jadug"! dialah yang memimpin orang- orang ini untuk bisa mengambil alih pimpinan perkumpulan perguruan silat di sini!
Jadug ini adalah seorang yang memang benar- benar jadug ( hebat/jagoan).
"Nanti aku akan menemui Ki Seno Aji, dia harus bersikap adil!" kata Jadug.
"Dan kalau dia tidak bisa di ajak berbicara! mungkin aku akan bertindak lebih. Tapi aku kira tuntutan kita ini tidak terlalu berlebihan, kita tidak menyalahi paugeran dalam pertandingan ini! kita hanya menuntut keadilan dalam peraturan pertandingan ini," lanjut Jadug lagi.
Dalam kesempatan itu, kawan-kawan Jadug juga mengkhawatirkan tentang kemunculan seorang pemuda perwakilan dari padepokan Watu Gunung yang tampaknya sangat lah hebat yang bernama Mahardhika.
Akan tetapi Jadug tampaknya tidak terlalu khawatir sama sekali pada kemunculan Mahardhika ini.
Dia sangat yakin akan kemampuan dirinya untuk bisa mengatasi pemuda yang bernama Mahardika yang merupakan perwakilan dari padepokan Watu Gunung!
"Aku kira aku bisa mengalahkannya!" kata Jadug sangat yakin akan kemampuan dirinya.
"Dia memang cukup hebat, tapi tidak cukup hebat bagiku!" kata Jadug meyakinkan orang-orangnya!
Orang orang yang hadir tampak puas dengan jawaban Jadug yang terkesan sombong ini.
"Benar Jadug," kata seorang pria yang bertubuh gempal dan tidak terlalu tinggi. Akan tetapi mempunyai badan kekar, dengan otot- otot menonjol menghiasi lengan dan dadanya! Dia bernama Sondong ! Wajahnya terlihat seram karena penuh brewok.
"Akupun yakin mampu mengalahkan pemuda itu!" seru Sondong yakin pada dirinya sendiri.
Sondong ini juga salah seorang yang lolos ke babak kedua selain Jadug dan dua orang lagi.
Orang ketiga dari kelompok orang-orang ini yang lolos ke babak kedua adalah seorang Wanita tinggi semampai dengan Dada lumayan besar, kulit cerah, halus dan mulus, akan tetapi berwajah mesum dan terlihat ganjen dan genit berusia tiga puluh tahunan, jadi benar benar terlihat cantik menarik dan matang!
Dia bernama " Mawar" !
Sedangkan orang keempat dari kelompok orang-orang ini yang lolos adalah seorang pemuda tampan!
Pemuda ini terlihat ramah dan senyum yang selalu mengembang di sudut bibirnya!
Tapi di balik senyum ramah nya ini tersimpan tangan gapah ( ringan tangan/ suka memukul sembarangan) dan sangat kejam.
__ADS_1
Dia bernama "Roy"!
Dan tampak Mawar yang genit dan ganjen, selalu berusaha mendekati Roy ini.