
Para penyerang yang sudah berhasil menyandera pak Michael dan istrinya segera menggiring tawanannya ke lantai bawah dengan todongan pistol dan acungan samurai tajam berkilat yang sekali tebas bisa memotong leher manusia dengan mudahnya.
Mamanya Nadine terlihat sangat shock dan terus menangis dari tadi, sedangkan pak Michael terlihat lebih tabah walaupun tampak juga rasa takut dan khawatir di wajahnya, apalagi ketika sampai di lantai bawah di saksikannya pemandangan yang mengerikan!
Para pengawal yang disewanya untuk melindungi dirinya dan keluarganya pada tewas bergelimpangan di lantai.
Darah berceceran di lantai marmer putih, menimbulkan pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mayat mayat yang rata rata berlumuran darah akibat sabetan senjata tajam, tusukan ataupun luka tempak menimbulkan kengerian yang luar biasa.
Mama Nadine tampak hampir pingsan dibuatnya, sehingga kemudian memejamkan mata menyaksikan pandangan mengerikan di lantai bawah rumahnya ini..
Ketika para penyandera sampai di lantai bawah, mereka sempat menyaksikan bagaimana tiga kawan mereka di habisi oleh Bayu Adnan dan Leo.
"Jika kalian bergerak akan aku habisi orang ini," seru sang pemimpin dengan wajah beringas karena menyaksikan anak buahnya di habisi oleh orang orang di hadapannya ini tanpa dia mampu berbuat sesuatau untuk menolongnya, sambil mengarahkan pistol kearah mamanya Nadine.
"Bai- baik Kami akan mundur" kata Bayu.
Terpaksa Leo Adnan dan Bayu menyibak memberikan jalan untuk rombongan penyerang yang berjalan menuju pintu yang hancur akibat bahan peledak yang di gunakan para penyerang tadi.
Tirta dan Nadine bersama kedua adiknya Tomy dan Joey sampai di atas balkon.
Dia segera menyaksikan para penyandera berhadapan dengan Leo, Bayu dan Adnan.
Tirta segera bersiap-siap menyerang para penyandera papa dan mamanya Nadine.
Disana ada lima orang penyandera, seorang memegang pistol! sedang kan empat orang bersenjatakan samurai.
"Kalian tetap di sini dulu, sebelum keadaan terkendali dengan baik jangan sekali-kali kalian turun!" Tirta memberikan pesannya pada Nadine , Tomy dan Joey.
"Hati-hati Tirta!" kata Nadine yang terlihat sangat mengkawatirkan Tirta.
Tirta mengangguk kecil.
Tirta segera memberikan kode pada Leo, Bayu dan Adnan di bawah kalau dirinya bersiap menyerang!
Dia segera melompat cepat dari balkon lantai dua, langsung menyerang secepat Kilat kearah pemimpin kelompok penyerang yang berpakaian hitam dan berikat kepala hitam.
Gerakannya seperti elang besar yang menukik memburu mangsanya, Kakinya mengarah leher dari pemimpin itu ketika jarak sudah dekat dan tendangan dari atas hampir mengenai sasarannya tampak pemimpin tersebut sadar akan serangan ini! Pistol segera di alihkan ke arah Tirta dan letusan segera terdengar.
"Dor dor dor!"
__ADS_1
Tiga tembakan beruntun mengarah ke Tirta dua tembakan pertama berhasil di elakkan sedangkan satu tembakan tepat mengenai bahu kanannya!
Nadine sampai berteriak kaget !
"Tirtaaa!!!...." teriaknya.
Sejak awal Tirta sudah melindungi dirinya dengan Aji Tameng Waja ! Awal-awalnya dia masih menyangsikan apakah Tameng Waja mampu menahan terjangan sebuah peluru? Beberapa kali dia di hadapkan dengan lawan yang menggunakan senjata api.
Terakhir Tirta menghubungi Mbah Hardjo menanyakan masalah ini melalui telponnya kang Damar.
"Jangan ragu Ngger, dengan dasar kekuatanmu sekarang ini, Aji Tameng Waja mampu menghadapi terjangan peluru tajam!" demikianlah jawaban Mbah Hardjo menghapus keragu-raguan dalam hatinya.
Kejadian terjadi dengan sangat cepat, semua sangat kaget!
Lebih kaget lagi karena Tirta
ternyata tetap berdiri dengan kokohnya dan segera mengerahkan pukulan telapak tangan terbuka menghantam dada pemimpin penyerang tersebut.
"Ahhh,...!" terdengar teriakan ngeri ketika tubuh orang tersebut terlontar sekitar sepuluh meter dan menghantam dengan keras kursi kayu Jati berukiran khas Jepara yang ada di ruangan tersebut.
Dadanya terlihat bekas telapak tangan menghitam dan tersiar bau daging bakar..dan terlihat masih mengepulkan asap tipis, ya inilah Aji Tapak Geni yang diturunkan langsung oleh Eyang Wasis Jayakusuma.
Pada saat yang sama sewaktu Tirta mulai bergerak, Leo juga bergerak secepat kilat menyerang seorang yang mengacungkan samurainya di leher pak Michael.
Belati di tangan kiri menahan samurai yang mengancam leher pak Michael dan belati di tangan kanan secepat kilat menyabet ke arah leher sang penyandera pak Michael ini.
kecepatan dan kekuatan seorang mantan pasukan khusus dan mantan pembunuh professional benar-benar mengerikan!
Belati yang sangat tajam segera mememberikan luka sayatan menganga di leher lawan...!
Darah memancar dari leher yang tersayat oleh belati Leo, gerakan Leo benar-benar cepat dan brutal tanpa ampun dan tanpa ragu sedikitpun.
Bayu dan Adnan ikut bergerak bersaman , keduanya menyerang dua orang lain.
Sementara Tirta yang berhasil menghabisi pemimpin penyerangan kali ini melompat tinggi dan menyerang lagi kearah lawan yang terdekat, tidak di pedulikannya sabetan samurai yang mengarah dirinya.
Samurai lawan membentur lengan kanan dan terpental, sang lawan kaget karena lengan tidak putus atau pun tersayat, malahan tangan kanan Tirta yang menghantam dengan keras kening sang lawan hingga terbanting dengan keras ke lantai marmer, tanpa bisa bangun lagi! karena mulut hidung dan telinganya mengalir darah segar.
Kini Tirta dan Leo tidak punya lawan lagi...
Lawan-lawan Bayu dan Adnan langsung down nyalinya! mereka melihat kawan- kawannya dihabisi, apalagi melihat sepak terjang Leo yang sangat brutal itu.
__ADS_1
Mereka segera berteriak menyerah!
"Kami menyerah!" teriak kedua nya.
keduanya segera membuang samurainya dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Jangan bunuh kami!" mohon keduanya.
Nadine Tomy dan Joey segera berlari turun melalui tangga dan memeluk kedua orang tuanya yang masih shock dan tak mampu berkata-kata.
Nadine menangis tersedu sedu sambil memeluk Mamanya, meraka berlima berpelukan bersama. Pak Michael tidak mampu berkata apa apa, matanya berkaca-kaca sambil memeluk keluarganya.
Pria tinggi besar dan berwibawa dalam kesehariannya dihormati para karyawan dan di hargai sesama pebisnis hari ini benar benar terlihat sangat menyedihkan. Walaupun seluruh anggota keluarganya selamat, akan tetapi peristiwa kali benar-benar mengguncang jiwanya.
Maaf pak Michael tolong di hubungi para pengawal bapak yang tidak bertugas malam ini, biar membantu mengurus jenazah jenazah ini juga mengurus kawan kawannya yamg terluka. kata Tirta.
Iya mas, jawab pak Michael yang segera menghubungi pengawal pengawal lainnya.
Sambil menunggu para pengawal lainnya datang, Tirta, Bayu, Adnan juga Lei berkeliling di sekitar rumah besar itu.
Ternyata dari dua puluh lima orang yang bertugas pada malam itu ada sepuluh orang yang selamat, lima orang terluka berat dan lima orang lagi terluka ringan termasuk pimpin para pengawal yaitu Hendra yang tadi sempat diselamatkan oleh Tirta..
Sedangkan dari para penyerbu yang berjumlah lima belas orang sepuluh orang tewas dan seorang luka berat dan empat orang yang menyerah tanpa terluka sedikitpun.
Setelah para pengawal yang harusnya berjaga siang datang maka tugas pembersihan di lakukan oleh mereka.
Para pengawal ini sangat bersyukur mereka tidak ikut mengawal pada malam itu, entah bagaimana nasibnya jika mereka ikutan berjaga pada malam itu, mereka tidak dapat membayangkannya.
Tirta kemudian mengajak pak Michael, Nadine, mamanya serta Tomy dam Joey Untuk menuju ruang keluarga di lantai atas.
Sedangkan Leo Bayu Adnan juga Herman menginterogasi para penyerang yang memyerah.
Dengan kemampuan dan pengalaman Leo tidaklah mudah untuk mengorek keterangan dari para tawanan ini.
Di ruang keluarga lantai atas, pak Michael sudah agak tenang, pikirannya mulai bisa berpikir dengan jenih!
"Trimakasih Mas Tirta. Aku tidak bisa berkata kata lagi.. hutang budi pada Mas Tirta terlalu besar. Andaikata sejak semula aku mendengarkan dan mempercayai kata- kata Nadine, mungkin semua tidak akan terjadi separah ini!" pak Michael menyatakan penyesalannya pada anak muda di hadapannya ini.
"Tidak apa- apa pak Michael, yang penting keluaraga bapak selamat semuanya," kata Tirta.
"Saya membantu dengan ikhlas pak!" lanjut Tirta.
__ADS_1