
Malam itu, Tirta menginap di rumah pak Fajrul karena hari sudah hampir mendekati fajar.
Dan ketika pada pagi hari dia berniat untuk kembali ke padepokan, dengan berpamitan pada Iza juga kedua orang tuanya, Tirta tidak di izinkan oleh Iza.
"Jangan buru-buru kembali Ta, Papa mau membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan kamu," kata Iza.
"Ayo kita ke ruang makan, sudah ditunggu sama Papa dan Nama, kata Iza yang segera menggamit lengan Tirta untuk di ajak ke ruang makan.
Dan benar apa yang di katakan Iza.
Pak Fajrul dan Mama emang sudah menunggu di ruang makan.
Tampak di meja makan yang berbentuk bulat memanjang terbuat dari kayu jati dan di atasnya tersedia makanan yang lumayan banyak.
"Pagi pak , Bu !" sapa Tirta, ya Tirta ini memang masih bingung menghadapi orang tua Iza, walaupun dia sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, tetap saja Tirta kikuk menghadapi mereka.
"Silahkan duduk Mas Tirta," kata pak Fajrul mempersilakan Tirta duduk di antara mereka,,
"Sini Ta," Iza menarik kursi supaya Tirta duduk di sebelahnya,,
Setelah duduk, Iza segera mengambilkan makanan buat Tirta.
Ya Iza memang sangat perhatian pada kekasih hatinya ini.
Setelah mereka semua selesai makan pak Fajrul segera berkata ;
"Mas Tirta , Bapak sangat sangat berterima kasih sama Mas Tirta. kalau tidak ada Mas Tirta entah nasib apa yang akan menimpa Iza." kata pak Fajrul memulai pembicaraan.
"Ah, ini semua karena ulah Tirta Pak!" kata Tirta.
"Yang mereka tuju sebenarnya adalah Tirta pak," lanjut Tirta.
"Mereka adalah suruhan bandar besar Narkoba yang Bernama Mr Budiman," lanjut Tirta.
Tirta segera menceritakan hal Ikhwal nya dia berbenturan dengan Mr Budiman.
Setelah Tirta selesai dengan ceritanya, pak Fajrul segera berkata;
"Bapak bangga sama kamu mas Tirta! kamu berani menentang Mr Budiman itu," kata pak Fajrul.
"Dengan kemampuan mas Tirta bapak yakin Mr Budiman ini bisa segera di hancurkan oleh mas Tirta dan kawan-kawan. Dan bapak dengan sumber daya yang ada di bapak akan membantu mas Tirta kalau mas Tirta membutuhkannya," lanjut pak Fajrul.
Tirta menyampaikan banyak terimakasihnya pada kesediaan pak Fajrul yang mendukungnya.
Padahal awalnya Tirta khawatir kalau pak Fajrul akan marah- marah mendengarkan cerita tentang Mr Budiman,,
Sehingga menyebabkan hampir celakanya Iza ditangan orang-orang nya Mr Budiman.
"Kedepannya harus lebih berhati-hati mas Tirta!" kata pak Fajrul lagi.
"Sejak awal sebelum mas Tirta pergi kan bapak sudah titip Iza pada mas Tirta?" kata pak Fajrul mengingatkan .
Tirta hanya mengangguk-angguk mendengarkan kata-kata pak Fajrul.
"Dan sekarang mas Tirta harus lebih hati-hati dalam menjaga Iza, dia anak kami satu-satunya, dan kami percaya mas Tirta mampu menjaga anak kami," kata pak Fajrul panjang lebar.
"Dan agar mas Tirta lebih leluasa menjaga Iza, sebaiknya bisa bertunangan terlebih dahulu," kata pak Fajrul lagi.
"Walaupun kalian masih muda, akan tetapi Papa pikir inilah langkah terbaik supaya mas Tirta tidak ada halangan dalam menjaga Iza," pak Fajrul berhenti sesaat sambil memperhatikan Tirta dan Iza.
__ADS_1
Tampak Iza dan Tirta saling berpandangan.
kemudian pak Fajrul melanjutkan perkataannya.
"Kalau mas Tirta setuju, dan tentunya atas persetujuan orang tua mas Tirta juga,' kata pak Fajrul.
"Kalian tetap masih bisa meneruskan kuliah kalian sampai selesai," lanjut pak Fajrul..
"Apa tidak sebaiknya langsung menikah saja Pa?" sela mamanya Iza..
Mendengar perkataan istrinya, nampak pak Fajrul berdiam sejenak . tampaknya dia memikirkan sesuatu.
"Itu terserah anak-anak saja Mam, tapi menurut Papa mereka masih terlalu muda,,"
"Ahh tidak papa Pa, kita dulu juga menikah muda,, " sela mama Iza..
Tirta yang mendengar kata- kata pak Fajrul sebenarnya sangat senang, dia yang hanyalah pemuda miskuin, anak orang" kere", bisa dihargai setinggi ini oleh pak Fajrul..
Akan tetapi Tirta pun juga berfikir bahwa hidupnya sekarang ini penuh dengan ancaman! Bahkan kejadian tadi malam pun akibat dari Mr Budiman yang ingin balas dendam padanya...
"Tidak apa-apa Mas Tirta, selama mas Tirta berdiri pada jalan yang benar pasti Gusti Allah tetap melindungi mas Tirta, dan saya yakin Mas Tirta juga mampu melindungi Iza," jawab pak Fajrul.
"Oh ya bapak minta tolong mas Tirta supaya mengajak bapaknya mas Tirta dan juga Ibu mas Tirta supaya kemari ya, supaya kami bisa kenal dan membicarakan urusan ini kepada Bapak dan Ibu mas Tirta," lanjut pak Fajrul..
Tirta segera menyanggupi permintaan pak Fajrul..
Demikian lah pembicaraan selanjutnya menjadi lebih santai.. wajah Iza tampak berseri-seri bahagia.
ketika acara sarapan pagi selesai Tirta segera mohon diri pada pak Fajrul dan mama Iza .
Iza kali ini mengantar dengan Nissan Navara Doble cabin menuju rumah Tirta.
Tangannya selalu menggenggam erat jari jemari Tirta,, ada getaran di sana yang menjalar Sampai di hati keduanya..
Ketika Tirta dan Iza sampai di rumah, Tirta segera memarkirkan mobil pak Fajrul di halaman Mushola supaya tidak menggangu jalanan di depan rumah Tirta yang hanya bisa dilintasi satu mobil saja, maklumlah perumahan sederhana dan dapat subsidi pemerintah, jadi jalannya sempit-sempit.
Terlihat bapak- bapak komplek perumahan ini sedang bekerja bakti membersihkan lingkungan mushala yang letaknya memang bersebelahan dengan rumah orang tua Tirta Jayakusuma.
"Saya kira siapa,, ternyata Mas Tirta," celetuk bapak-bapak yang sedang mencabuti rumput di jalanan kecil depan Mushala..
"Iya pak, " kata Tirta.
"Lah itu siapa mas," tanya bapak-bapak yang lain.
"Calonnya ya mas,,?" tanya bapak-bapak yang lainnya lagi..
Tirta dan Iza hanya tersenyum saja melewati bapak-bapak yang kerja bakti ini..
Bapak yang sedang membabat sebuah ranting pohon mangga segera mendekat...
"Mobil siapa Mas?" tanya Bapak.
"Ini pak mobil Iza pak ," jawab Tirta sambil memperkenalkan Iza pada pak Joyo.
"Hmm bagus sekali,,!" kata bapak..
"Juga cantik sekali pak Joyo!" seru bapak- bapak yang lain..
"Mas Tirta pinter nyari calon bini pak Joyo.. !" seru mereka..
__ADS_1
"Hmmm tentu dong,, kayak bapaknya!"
"He,, he,, he,, !" jawab bapak bangga..
Memang ini adalah hari Minggu sehingga bapak- bapak komplek menggunakan waktu untuk bekerja bakti.
"Sudah sana masuk rumah duluan , nanti bapak menyusul !" seru pak Joyo pada Tirta.
Tirta segera menggandeng Iza memasuki teras rumah.
Ternyata Ibu sedang berada di teras rumah dan sedang merawat bunga di pot.
Ibu memang suka merawat bunga jika hari libur seperti ini. Ibu pasti akan menyempatkan waktu untuk merawat bunga- bunganya, karena penghuni rumah semua cowok, sehingga kurang begitu suka pada bunga...
"Ehh, mbak Iza,, mari masuk mbak !"
Seru ibu ramah, mempersilakan teman anaknya,, ya setahu Ibu memang sejak kuliah teman cewek Tirta ini lumayan banyak.
"Ini Bu ada sedikit oleh oleh dari mama ," kata Iza sambil memberikan bungkusan cukup besar kepada Ibunya Tirta.
"Ahh, gak usah repot-repot Mbak Iza," kata ibu berbasa- basi.
Kalo ada Irman,. pasti deh langsung di serobot ini bungkusan.
"Loh Mas, Irman kok enggak kamu ajak pulang sekalian ?" tanya Ibu..
"Irman masih di padepokan kok Bu, tadi Tirta kesini karena awalnya Tirta di rumah Iza, jadi gak di padepokan terlebih dahulu," jawab Tirta.
"Ya sudah, kamu ajak mbak Iza masuk dulu, Ibu tak nyelesaiin kerjaan ibu dulu," kata Ibu.
"Sekalian bawaannya taruh kedalam mas," lanjut Ibu.
"Ayo Iza masuk dulu," ajak Tirta.
Setelah beberapa saat Ibu kemudian menemani Iza di ruang Tamu.
"Apa mbak Iza gak ada acara sama keluarga, kok ikutan kemari ?" tanya Ibu.
"Gak kok, Bu , Papa dan Mama hari ini gak ada acara, lagian ini sekalian ngantar Tirta, " jawab Iza.
Ibu dan Iza segera terlibat dalam percakapan yang asyik, maklum Ibu gak punya anak cewek.
Dirumah ini gak ada yang nyambung jika ibu ngajakin ngomong, apalagi ngomongnya tentang bunga, tantang belanja tentang apapun yang berbau wanita..
Beberapa saat kemudian Bapak pulang.
"Ini pak mbak Iza temannya mas Tirta," kata Ibu.. memang kebiasaan Bapak dan Ibu memanggil Tirta dan Irman "Mas" soalnya mereka adalah kakak bagi adik nya, sedangkan si bungsu Levi dipanggil oleh Bapak dan Ibu "Adek".
"Mbak Iza ini sudah beberapa kali kemari, tapi tidak pernah ketemu sama Bapak,," kata Ibu Tirta.
"Ohh,, kok bisa ya gak ketemu bapak ,," jawab bapak konyol.
"Lagian kok mau ya mbak Iza temenan sama mas Tirta," kata bapak lagi..
"Emangnya kenapa pak?" tanya Iza penasaran...
Bapak tersenyum, kemudian menjawab;
"Tirta kan anak orang miskiiin mbak," kata bapak.
__ADS_1
"Apalagi tampaknya mbak Iza ini anak orang kaya, cakep lagi!" lanjut bapak..