Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
ki ranu


__ADS_3

Dan ketika ilmu ki Ranu sudah terserap semua olehnya , watak asli Aryo Seto segera kelihatan.


Dia beberapa kali menggunakan kekerasan pada warga dukuh yang dipimpin ki Ranu, dia sering mengambil apapun dari warga padukuhan tanpa ijin dari pemiliknya dan jika warga padukuhan menolak maka tak segan Aryo Seto menggunakan kekerasan.


Beberapa kali juga dia mengundang teman- temannya dari dukuh asalnya untuk minum-minum hingga mabuk dan juga membawa kebiasaan jelek dari luar padukuhan itu kedalam dukuh seperti berjudi dan mengajak para pemuda padukuhan untuk memalak pengendara yang lewat di jalan dekat dukuh tersebut..


Lama-kelamaan warga padukuhan muak dengan perilaku Aryo Seto, sehingga meminta ki Ranu untuk mengusir Aryo Seto dari dukuh itu.


Dalam suatu kesempatan ki Amongraga dan ki Sentanu berbicara bertiga saja dengan ki Ranu.


"Kakang Ranu, solah tingkah dari Aryo Seto sudah meresahkan warga padukuhan, dia membawa pengaruh buruk pada pemuda-pemuda di padukuhan ini," ki Amongraga membuka pembicaraaan.


"Betul kang Ranu, bahkan Aryo Seto dan kawan- kawannya sudah berani terang-terangan melakukan kejahatan di luar padukuhan dengan merampok pengendara yang melintasi jalanan umum di sebelah padukuhan Srengseng ini,," kata ki Sentanu.


Ya dukuh yang sangat tertutup dari dunia luar ini bernama dukuh Srengseng.


Mendengar laporan kedua pembantu setianya ini, ki Ranu segera berkata;


"Amongraga dan Sentanu, sebenarnya akupun sudah mengetahui nya, akan tetapi aku perlu mendapatkan laporan dari warga padukuhan yang lainnya, juga perlu mendengar kan masukan dari kalian..


Dan memang sudah saatnya aku bertindak,," jawab ki Ranu.


"Aku tidak dapat bertindak dengan kekerasan pada anak itu, walaupun aku gurunya, karena dia adalah anak sesepuh di dukuh Wuni, yang juga merupakan sahabatku," kata Ki Ranu.


"Kalau begitu apa tindakan yang akan kita lakukan ki Ranu?" tanya ki Amongrogo.


"Aku akan mengusirnya dari padukuhan ini, Amongrogo!" jawab ki Ranu tegas.


"Mungkin ini jalan yang terbaik yang bisa aku ambil," lanjut Ki Ranu lagi.


"Aryo Seto ini sudah menyerap sebagian besar ilmu yang aku kuasai, selain itu dia juga menguasai ilmu dari orang tuanya yang juga sesepuh dari dukuh Wuni, Itu lah yang menjadi kekawatiran ku, Amongrogo..!" kata ki Ranu.


Mendengar hal ini, ki Amongrogo dan ki Sentanu terdiam,, mereka juga mulai merasa khawatir akan kemampuan dari Aryo Seto ini, yang tampaknya memang menguasai berbagai macam ilmu olah kanuragan yang bersumber dari para sesepuh padukuhan yang sangat tertutup dari dunia umum di lereng Tengger ini.


Pada kesempatan yang lain Ki Ranu dan juga para pembantunya akhirnya memanggil Aryo Seto.


"Aryo Kami para tetua padukuhan akhir- akhir ini sangat kawatir pada perilakumu dan teman temanmu itu. Kamu sudah membawa pengaruh yang tidak baik pada padukuhan ini,, apakah solah tingkahmu ini sudah kamu pikirkan masak- masak Aryo " tanya ki Ranu.

__ADS_1


"Maaf guru , perilaku mana yang sekiranya tidak berkenan di hati para penduduk dukuh ini?" bantah Aryo Seto.


"Apakah kamu kira kami orang orang tua ini tidak tau akan tingkah polahmu di luaran?!" kata Ki Ranu..


"Kamu sudah mengajarkan para pemuda di padukuhan ini bermabuk-mabukan, berjudi, bahkan merampok," seru Ki Ranu yang tampak mulai emosi,


Aryo Seto hanya telihat tertunduk diam, walau bagaimanapun orang tua ini adalah gurunya, walaupun dia juga mempunyai guru yang lain..


"Baiklah guru, aku mengakui, aku yang mandégani mereka untuk mabuk , judi dan merampok, tapi apakah guru tidak melihat kalau mereka juga mau melakukan itu semua atas kehendak sendiri?" Aryo Seto mencari pembenaran atas perilakunya.


"Aku tidak memaksa agar mereka mengikutiku, mereka mengikuti atas kehendak sendiri, " bantah Aryo Seto.


"Hmm, tampak nya kamu salah jalan Aryo,, bahkan sudah berani pada guru mu ini Aryo!" ki Ranu tampak bertambah emosi, nadanya semakin tinggi saja..


"Sekarang kamu pergi ! tinggalkan padukuhan ini jangan pernah menginjakkan kakimu disini lagi!" seru ki Ranu.


Aryo Seto tampaknya memang sudah berniat untuk meninggalkan padukuhan ini, jiwanya merasa terkungkung dan tidak bebas.


Dia tahu kejadian ini pasti akan terjadi. Dia merasa sudah cukup menimba ilmu dari ki Ranu..


Tampaknya Aryo Seto sudah bertekad bulat meninggalkan padukuhan ini.


"Begitulah anak mas Tirta, semua ini bersumber dari kesalahan Eyangmu ini dalam menilai kepribadian Aryo Seto ," sesal ki Ranu sedih, mengingat bagaimana dia telah mengajarkan pada Aryo Seto semua ilmu yang disimpannya dan tidak diajarkannya pada semua orang.


"Dan beberapa hari yang lalu dia telah datang kemari untuk memenuhi perkataannya waktu itu," anakmas, lanjut ki Ranu.


"Aryo ingin mengambil alih padukuhan ini dan juga mengambil Nastiti!" kata ki Ranu lagi.


"Waktu itu yang menemui Aryo Seto adalah ki Amongrogo dan ki Sentanu, anakmas.. Dengan mudah Aryo Seto mengalahkan mereka berdua. Dan menurut Amongraga dan Sentanu, sekarang ini Aryo Seto sudah menjadi pemimpin di padukuhan Wuni .. dan jika sewaktu-waktu kemari , dia pasti membawa beberapa tetua dari padukuhan itu.."


Tirta mendengarkan cerita ki Ranu dengan sungguh-sungguh, kemudiaan dia bertanya;


"Apakah ki Ranu sudah tidak mampu menundukkan Aryo lagi?" tanya Tirta..


"Semua kemampuanku sudah aku turunkan padanya anak mas." kata ki Ranu.


"Lagi pula ragaku sudah tidak sekuat dulu lagi anak mas Tirta."

__ADS_1


"Aryo selain berguru kepadaku, dia juga mendapat ilmu dari sesepuh yang mempunyai doyo linuwih di padukuhan sebelah." kata Ki Ranu lagi.


"Dan tampaknya ilmunya semakin lama semakin matang ,"


"Tapi aku yakin, anak mas Tirta mampu menghadapinya," lanjut ki Ranu.


"Tapi untuk berjaga-jaga sebaiknya anak mas harus mengenal ilmu yang bersumber dari eyangmu ini, anak mas.." dan kalau anak mas Tirta berkenan, akan aku berikan sedikit ilmu yang orang tua ini simpan kepada anak mas Tirta, supaya anak mas Tirta lebih leluasa dalam menghadapi tingkah Aryo Seto."


"Oh ya Eyang , kapan kira kira Aryo akan kemari?" tanya Tirta .


"Kemungkinan tiga atau empat hari lagi anak mas, tapi entahlah," kata ki Ranu.


Tanpa teras malam semakin larut bahkan sudah lewat tengah malam, Tirta segera mohon diri.


"Maaf eyang Ranu, dimana rekan-rekan aku," tanya Tirta,,


"Tanyakan pada Nastiti anak mas, dialah yang membuat permainan ini," jawab Ki Ranu tersenyum.


Tirta segera mengalihkan pandangannya pada Nastiti gadis lincah cucu ki Ranu..


Nastiti, menundukkan wajahnya ketika Tirta memandanginya.


Sebelum Tirta berkata sesuatu pada cucu ki Ranu, terdengar ki Ranu berkata pada cucunya terlebih dahulu.


"Nduk, lepaskanlah kembali kawan-kawan anakmas Tirta, kata ki Ranu pada Nastiti..


Sambil menunduk Nastiti segera menyahut;


"Njih Eyang," Nastiti segera mau beranjak ke luar pendopo, ki Ranu segera berkata pada Tirta.


"Ikutilah Nastiti anak mas, nanti setelah anak mas selesai dengan kawan-kawan anak mas, eyang harap anak mas segera kembali kemari,, aku yakin anak mas bisa menemukan tempat ini kembali, kata ki Ranu.


"Njih eyang, beberapa hari lagi saya akan kemari," jawab Tirta.


"Oh ya eyang, kami untuk sementara akan menginap di desa Ngadas ".. kata Tirta.


Nastiti segera berjalan dengan cepat kembali ke hutan pinus yang cukup lebat dimana tadi Tirta kehilangan jejak dari mobil Alex.

__ADS_1


__ADS_2