Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Pandu


__ADS_3

Selanjutnya benturan-benturan dari batu yang di lemparkan menjadi semakin keras suaranya, beberapa batu pecah berkeping-keping ketika membentur badan Tirta yang dilingkupi Aji Tameng Waja.


"Plok plok plok". mendadak terdengar suara tepukan tangan yang keras di malam yang sunyi tersebut.


Tirta dan Mbah Hardjo terkejut di buatnya.


Tirta segera mengarahkan pandangan ke arah sumber suara, begitu juga Mbah Hardjo.


"Muridmu sungguh berbakat kali ini Djo!" terdengar suara dari balik batu gunung yang besar, melompat bagai kelelawar turun dengan entengnya.


Seorang pria tua berpakaian sederhana melangkah mendekati mereka.


Mbah Hardjo sejenak mengamati orang tua yang berdiri di depannya tersebut.


Dengan pakaian sederhana, kulit bersih terawat dan mata yang tajam setajam mata elang, kakek-kakek tersebut terlihat sangat berwibawa.


"Kakang Pandu,? " seru Mbah Hardjo. begitu sudah dekat Mbah Hardjo segera mengenali orang tersebut.


Mbah Hardjo segera mengulurkan tangannya bersalaman dan memeluk erat orang yang di sebut nya Kakang Pandu tersebut.


Mereka berpelukan erat layaknya sahabat yang telah berpisah selama puluhan tahun.


"Sehat Kang tanya Mbah Hardjo.


Orang tersebut mengangguk dan berkata.


"Aku baik-baik dan sehat wal afiat Djo, bagaimana denganmu?" tanya Pandu.


"Sama Kang, Alhamdulillah masih sehat," jawab Mbah Hardjo.


Kemudian Mbah Hardjo mengajak Kang Pandu dan Tirta untuk duduk diatas batu batu gunung yang memang banyak terdapat di tempat itu.


"Dia adalah Tirta, Tirta Jayakusuma, masih cucu Kanjeng Adipati". Mbah Hardjo mulai mengenalkan Tirta pada Pandu.


"Tirta dipasrahkan padaku oleh Kanjeng Adipati secara langsung untuk memberikan dasar-dasar olah kanuragan." Mbah Hardjo menjelaskan tentang asal muasal Tirta.


"Dan Kang Pandu ini juga masih cucu Kanjeng Adipati dari generasi di atasmu Ngger." Mbah Hardjo gantian memberi penjelasan pada Tirta.


Ternyata Pandu juga masih ada hubungan dengan Sang Adipati.


Nama lengkapnya Pandu Brojo, seorang anak turun Wasis Joyokusumo yang berbakat pada jaman ini.


Dia belajar olah kanuragan bersamaan dengan Mbah Hardjo pada masa lalu.


Demikianlah Mbah Hardjo secara singkat menceritakan tentang Pandu Brojo kepada Tirta.


"Dan apa maksud kedatangan Kang Pandu kemari," tanya Mbah Hardjo. Walau sebenarnya Mbah Hardjo sudah mengetahuinya.

__ADS_1


Pandu berdiam sejenak ke


mudian menjawab.


"Kedatanganku kemari karena dapat wisik ( pesan) dari Eyang Pragola, Beliau ingin aku ikut mendidik Angger Tirta ini. Selain itu aku juga sudah kangen dengan suasana padepokan kita. Sudah puluhan tahun sejak aku kembali ke Tuban tidak pernah menengok padepokan kita. Ini karena aku terlena akan kehidupan dunia ini Djo." Pandu bercerita tentang hidupnya.


"Dan sekarang ini di penghujung hidupku ini aku ingin ikut memberikan sedikit ilmu yang aku bisa kepada pewaris yang terpilih ini, yaitu Angger Tirta."


"Ayolah aku sudah tidak sabar ingin melemaskan otot-otoku Djo, ceritanya nanti kita lanjut di padepokan saja. Aku ingin menjajagi dulu kemampuan Angger Tirta."


"Ayo Ngger, Eyang Pandu ingin menguji dirimu" kata Mbah Hardjo.


"Baik Eyang Pandu, Tirta siap!"


Mereka segera memposisikan saling berhadapan. Tanpa ragu dan sungkan Pandu menyerang dengan satu lompatan panjang, Tirta berkelit dengan cepat.


Pertarungan seru segera terjadi.


Dari gerakan pelan samapi cepat laksana kilat, dari serangan ringan sampai berat di coba oleh Eyang Pandu.


Beberapa kali terjadi benturan antara lengan dengan lengan ataupun lengan dengan kaki.


"Ayo Ngger tidak usah ragu, kerahkan semua tenagamu dan ajia yang telah kau kuasai!" seru Eyang Pandu.


Tadinya Tirta memang ragu-ragu untuk menyerang sepenuh tenaga, tetapi setelah ada perintah Eyang Pandu ini, Tirta segera mengerahkan kekuatan wadag dan batinnya dengan di ikuti pengerahan Aji Lembu Sekilan.


Eyang Pandu juga dengan sengaja membenturkan tenaga beberapa kali, dan dia segera merasakan tolakan yang kuat dari tenaga Tirta.


Beberapa kali Eyang Pandu dengan pengalamannya mampu mengenai tubuh Tirta, tapi tetap tidak mampu menyentuh tubuh Tirta secara langsung.


Dan ketika tenaga yang di kerahkan semakin kuat, perlahan tapi pasti, pukulan-pukulan Eyang Pandu mulai bisa menembus Aji Lembu Sekilan dan mengenai tubuh Tirta secara langsung.


Tirta mulai merasakan pukulan -pukulan Eyang pandu mulai menembus Aji Lembu Sekilan.


Karenanya, Tirta segera mengerahkan Aji Tameng Waja yang baru saja di latihnya.


Eyang Pandu segera merasa pukulannya kali ini terbentur dinding besi yang tebal.


"Bagus Ngger! serunya.


Ternyata Angger juga sudah menguasai Tameng Waja."


Akan tetapi, begitu Eyang Pandu meningkatkan kekuatannya hampir mencapai puncaknya, segera terlihat Tirta sudah tidak mampu menahannya.


Beberapa kali tubuh nya terlempar oleh pukulan Eyang Pandu.


Beberapa kali tubuh Tirta terpental kebelakang, akan tetapi dia tidak menunjukkan kelelahan dan keletihan sedikitpun, hanya ada rasa nyeri saja itupun masih bisa di tahannnya.

__ADS_1


"Cukup Ngger," seru Eyang Pandu.


"Angger benar- benar pemuda berbakat dan pilih tanding," lanjut Eyang Pandu Dengan nafas yang mulai memburu.


Tidak bisa di pungkiri, usia yang menua tidak bisa ditolak! ketahanan Eyang Pandu sudah merosot jauh sekali di bandingkan pada masa dia masih muda.


Eyang Pandu segera menghampiri Mbah Hardjo di pinggir arena


"Luar biasa murid mu kali ini Hardjo! serunya.


Mbah Hardjo tersenyum simpul mendengarkan penilaian Eyang Pandu .


"Aku hanya memberikan dasar saja Kang Pandu, yang menurunkan ilmu nya secara langsung adalah Kanjeng Adipati sendiri.".Pandu Brojo mengangguk-angguk tanda menyetujui pernyataan Mbah Hardjo .


Selanjutnya Mbah Hardjo berkata pada Tirta.


"Angger, Kanjeng Adipati kemaren menurunkan Ajian apa lagi selain Aji Lembu sekilan dan Aji Tameng waja?" tanya Mbah Hardjo.


"Aji Tapak Geni Mbah , jawab Tirta.


"Cobalah Ngger, biar kami yang tua tua ini bisa menilai penguasaan mu akan Ilmu Tapak Geni, dan kalau tidak salah Eyangmu Pandu juga menguasainya dengan cukup sempurna."


"Baik Mbah, Eyang Pandu" .


Tirta segera bangkit dari duduknya diatas batu gunung yang seukuran kambing.


Dia berdiri di atas kedua kakinya yang memasang kuda kuda dengan kokoh.


Di pusatkannya akal budinya, dikerahkannya kekuatan dari pusarnya dan diarahkan ke telapak tangan kanannya.


Dengan teriakan yang keras, telapak tangan yang terbuka yang penuh tenaga panas segera di lontarkan ke arah batu gunung yang berdiri kokoh di depannya, setinggi kurang lebih sedada orang dewasa.


"Duakk !" Terdengar suara benturan yang cukup keras. Terlihat batu besar yang tadinya berdiri dengan kokoh di lereng Gunung Ungaran ini miring karena terjangan pukulan Tapak Geni dari Tirta.


Eyang Pandu dan Mbah Hardjo saling pandang, kemudian tanpa di komando keduanya menghampiri Tirta yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


Batu besar yang menjadi sasaran pukulan Tapak Geni mengeluarkan asap tipis dan terlihat retak sedikit di bagian yang terkena Aji Tapak Geni.


Tanah tempat sebagian batu tersebut tertanam juga terlihat terangkat kepermukaan.


Dapat lah di lihat betapa kuatnya tenaga yang tadi di benturkan Tirta! Kekuatan sepuluh orang dewasapun tidak akan mampu menggeser batu gunung itu.


"Kekuatan yang kamu gunakan sudah luar biasa Ngger akan tetapi Aji Tapak Geni ini bukan hanya kekuatan saja!" Eyang Pandu mulai memberikan arahan- arahan nya cara menguasai Aji Tapak Geni.


Tirta mendengarkan arahan-arahan dari Eyang Pandu dengan seksama.


Begitulah di lereng Gunung Ungaran, tiap malam sehabis Isya Tirta di gembleng oleh dua orang dengan kemampuan olah kanuragan yang mumpuni.

__ADS_1


Bayu, Adnan juga sudah mulai menguasai dasar- dasar Kanuragan yang di ajarkan oleh Damar.


__ADS_2