Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
pertarungan di pinggir pantai


__ADS_3

dua bayangan saling serang, kadang berputar, berdekatan kadang terlontar dan menjauh.


Keduanya memang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing, hal ini sangat tampak dari luar.


Bayu yang besar dan gendut layaknya anakan gajah benar-benar bertenaga layaknya gajah, dia kurang lincah dalam bergerak, jadi gerakannya harus sangat efektif untuk mengimbangi kecepatan lawan dan menutupi kekurangannya dalam kecepatan.


Sedangkan Adnan, dengan tubuh bagus dan atletis jelas mengandalkan kecepatan dan kekuatan..Antara kekuatan dan kecepatan nya relatif berimbang.


Setelah dirasa cukup, keduanya segera dipisahkan oleh Tirta.


Hari mulai gelap dan lampu-lampu taman mulai dinyalakan.


Suasana di pantai menjadi remang-remang.


mereka melaksanakan sholat Magrib di pinggiran pantai di hamparan pasir lembut di pinggir pantai Alam Indah.


Malam beranjak semakin larut, mereka bertiga masih menunggu dengan sabar, hingga dari kejauhan mendekat tiga bayangan.


Setelah dekat barulah di ketahui bahwa mereka adalah Leo, Gendon dan Jim.


Ternyata Leo tidak menambah orang. Dia tampaknya punya ego dan harga diri yang tinggi.


"Hemm tampaknya kalian cukup gentelmen dengan berani datang kemari!" seru Leo.


"Aku sangat menghargai keberanian dan kekuatan.


Walaupun aku seorang pembunuh bayaran aku tidak pernah membunuh secara pengecut!


Lawan- lawan ku aku habisi tanpa ada kecurangan!"


Ya, Leo walaupun desersi akan tetapi latar belakang pelatihannya adalah gentle dan berani, tidak akan berbuat curang dalam menghadapi lawan.


Dia sangat percaya pada kekuatan dan kemampuan dirinya.


"Kalau kamu benar-benar seorang yang gentle dan tidak pernah berlaku curang, kenapa kamu menyerang kami menggunakan senjata tajam padahal kami tidak membekali diri kami dengan senjata!" menimpali Adnan.


"Tapi paling tidak kami menyerang kalian dari depan kan!" seru Leo..


"Ayo kita tentukan demikian ,


"Aku ingin melihat Gendon bertarung lebih dulu dengan anak gajah itu seru Leo sambil menunjuk kearah Bayu."


"Gendon, maju ! habisi anak gajah itu!" perintah Leo pada Gendon..


"Tunggu sebentar seru Tirta, kami tidak membawa senjata, kalau kalian gentle, lepaskan senjata kalian!.


Walaupun sebenarnya Bayu masih menyimpan belati milik anggota Leo. Tapi dia masih kawatirkan jika Bayu bisa saja terluka walaupun Tirta sudah berjaga-jaga.


"Baik,, !"

__ADS_1


"Ndon lepaskan belatimu!"


Gendon tidak akan pernah menyangka dan akan menyesal nanti karena melepaskan kedua bilah belatinya, karena merasa tadi pagi Bayu bertarung imbang saja.


Begitu dia melepas kedua belati di tangan kanan dan kirinya Gendon langsung menyerang dengan ganas dan cepat.


keduanya segera terlibat pertarungan tangan kosong yang seru.


Pertarungan kali ini berlangsung di pinggir pantai berpasir, ini akan merugikan orang yang mengandalkan pergerakan kaki, hal ini baru di sadari oleh Leo setelah Gendon turun gelanggang.


Gendon pun mulai sadar, gerakannya tidak leluasa, apalagi ketika terjadi benturan kekuatan antara keduanya membuat dirinya jatuh terpelanting dan tubuhnya bergulingan di pasir pantai.


Dia segera melenting berdiri dan melompat menyerang Bayu dengan tendangan "Jump kick", sebuah tendangan yang di lakukan sambil melompat mengarah kepala lawan!.Tendangan ini merupakan andalan kelompoknya diciptakan oleh Leo berdasarkan pengalaman nya bergelut dengan dunia hitam.


Bayu segera menangkis dengan tangan kirinya yang besar seperti lengan kingkong.


"Bruak....! terjadi benturan lagi yang sangat keras,, tubuh Gendon terlontar kembali dengan lebih keras dari yang tadi , tubuhnya lembali berguling-guling di pasir pantai yang lembut, sehingga terhindar dari luka.


kali ini Gendon tidak bisa segera bangkit, tubuhnya tergetar oleh benturan tadi, untungnya dia jatuh di pasir.


Bayu berdiri kokoh di tempatnya, dia memandangi lawannya yang masih telentang di pasir pantai yang lembut.


"Heh Ndon jangan Tiduran dong lekas bangun!" teriak Bayu.


"Tiduran palamu peang!" Gendon masih sempat membalas teriakan Bayu yang setengah mengejeknya.


Gendon dengan susah payah berdiri, kakinya terlihat tidak bisa menapak dengan benar, tapi tampaknya dia tidak suka menyerah kalah.


Karena pukulannya hanya bisa menjangkau perut Bayu maka serangannya terlihat hanya bisa menjangkau bagian perut Bayu yang menojol seperti gentong..


Bayu tidak mengelak, bahkan sengaja membiarakan perutnya sebagai sansak hidup.


Perut sebesar gentong itu hanya bergerak gerak sedikit saja karena pukulan Gendon..


Dalam beberapa hari ini memang kemampuan Tirta, Bayu dan Adnan benar benar terasah, pengalaman dalam pertarungan yang nyata antara hidup dan mati membuat Ilmu-ilmu yang didapat dari padepokan benar-benar mulai menyatu dalam diri mereka bertiga.


"Pang...!"


Satu pukulan dari Bayu yang berkekuatan setara satu kuintal menghantam kepala kiri dari Gendon yang tampaknya sudah gelap mata.


Gendon terbanting lagi!! Dia mengerang beberapa kali dan kemudian diam tidak bisa bangun, bergerakpun tidak. Pingsan!


Leo membiarkan saja Gendon di tempat nya, dia memerintahkan Jim untuk turun arena melawan Adnan.


Keduanya saling menghampiri.


Mereka saling bertatap muka, berpandangan. Kangen tampaknya! kangen bukan sebagai sepasang kekasih. Tapi kangen ingin segera menghancurkan lawannya!!


Duel segera berlangsung dengan sengit, kecepatan dan kekuatan mereka tampaknya berimbang.

__ADS_1


Pukulan dan tendangan silih berganti di lancarkan.


Pukulan dan tendangan dari Jim tampak nya sudah di asah untuk menyerang bagian-bagian berbahaya dari lawan, seperti tusukan jari yang mengarah mata, pukulan kearah leher, tendangan kearah lutut juga "Jump kick"


Tapi semua serangan itu bisa di elakkan ataupun di tangkis oleh Adnan.


Dua gulung bayangan saling libat dan saling terkam!


Kali ini mereka benar-benar mendapat lawan tanding yang seimbang. Pukulan di balas pukulan, tendangan di balas dengan tendangan.


Tubuh mereka sudah mandi keringat, di beberapa bagian tubuh mereka terlihat membiru dan terasa sakit karena terkena pukulan dan tendangan lawan.


Tanpa terasa satu jam sudah pertarungan sengit itu berlangsung.


Daya tahan mereka sudah mulai merosot. Tapi kali ini daya tahan Adnan terlihat jauh lebih baik.


Tidak percuma hampir tiap malam dia naik turun gunung Ungaran. Dan dalam pertarungan kali ini dia membuktikan manfaatnya.


Ketka langkah kaki sudah berat, gerakan Jim mulai melambat.


Suatu saat karena kelelahan, Setelah melakukan pukulan keras mengarah kepala samping Adnan.


Akan tetapi berhasil di elakkan Adnan, Jim terbawa oleh tenaga pukulannya sendiri dan jatuh tertelungkup di pasir. Adnan segera melompat dan menindihnya dengan mendudukinya! akibatnya Jim tak mampu untuk bangkit lagi. Tampaknya dia benar-benar kelelahan. Nafasnya tersengal-sengal dan memburu.


Leo berdiri dan menghampiri Tirta, Tirtapun ikutan berdiri.


Mereka berdiri berhadap hadapan, tidak ada rasa marah ataupun benci di wajah mereka, Aneh ! seorang pembunuh bayaran seperti Leo tidak marah, ketika anak buahnya kalah oleh para pemuda ingusan ini.


Tampaknya Leo malah bersemangat bukan marah.


"Hmmm hebat juga kawan kawanmu itu Ta, anggota yang aku didik dengan tanganku sendiri kalah semua nya."


"Ayo kita mulai saja, seru Leo langsung menerjang kearah Tirta, sebuah pukulan cepat dan kuat mengarah wajah Tirta di ikuti tendangan tinggi juga kearah kepala.


Pembukaan serangan yang hebat, akan tetapi dengan mudahnya Tirta mengelakkan pukulan dan tendangan itu.


Kali ini Leo sangat bersemangat mendapatkan lawan yang tangguh.


"Tampaknya kamu benar -benar kuat Ta! kelompok Hendra saja bisa kamu obrak- abrik," seru Leo sambil melepaskan beberapa pukulan lurus secara berurutan dan sangat cepat.


Pertarungan antara dua master ini sangat mendebarkan, kecepatan dan kekuatan Leo benar- benar Nggegirisi!


Jika Tirta hanya mengandalkan tenaga wadagnya saja, sejak awal mungkin dia sudah berada pada kondisi tertekan.


Kini kecepatan dan kekuatan Tirta juga mulai di lambari kekuatan batinnya dan Aji Lembu Sekilan mulai di gunakan!


Pertarungan mulai panas dan seru, tendangan Jump Kick dari Leo berkali-kali di lancarkan, tapi selalu saja tidak pernah bisa menyentuh pemuda lawannya ini.


Jaraknya pasti kurang sedikit, ini terjadi berkali-kali padahal lawannya ini tidak melakukan gerakan menghindar atau menangkis.

__ADS_1


"Apakah jarak tendanganku kurang !?" pikir Leo.


Dia mencoba lagi menendang dengan "Jump Kick" andalannya dari jarak dekat.


__ADS_2