
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, tampak seorang wanita setengah baya membukakan pintu.
"Dika,!" seru wanita tersebut yang tampaknya adalah ibu dari Mahardika.
"Ibu, !" seru Mahardika yang segera memeluk sang Ibu.
Keduanya segera melepas rindu,, kemana saja selama ini kamu Dika, Kamu pergi tanpa beritahukan pada Ibu,, kata sang Ibu
"Maafkan Dika Bu,, kapan kapan saja Dika akan cerita sama ibu..! Oh ya ini teman teman Dika Bu," kata Dika memperkenalkan Teman teman barunya pada sang Ibu.
Tampak ibunya Mahardika memandang curiga pada teman-teman anaknya ini.
Karena beberapa kali Mahardika mengajak kawan- kawannya yang sering berbuat onar seperti berkelahi dan, mabuk mabukan.
Mahardika tahu bahwa sang Ibu bercuriga pada kawan-kawannya.
"Mereka adalah murid-murid eyang Pandu," kata Mahardika memberikan penjelasan pada Ibunya, supaya Ibunya tidak terlalu bercuriga pada Tirta, Bayu dan Adnan. Dengan menyebut eyangnya pasti Ibunya percaya kalau teman-teman nya kali ini adalah pemuda-pemuda yang baik.
"Kamu bertemu Eyangmu?" tanya sang Ibu terkejut..
Karena sudah hampir setahun ini eyang Pandu pergi meninggalkan rumah dengan pesan jangan di cari, sebab dia akan merantau, begitu pesan dari eyang Pandu..Ya jiwa eyang Pandu adalah jiwa Perantau yang tidak bisa di kekang.
"Iya Bu, Dika ketemu eyang Pandu di kota Semarang," kata Mahardhika..
Mahardika kemudian bercerita secara singkat tentang pertemuannya dengan eyang Pandu, juga keadaan eyang Pandu sekarang ini.
"Syukurlah kalau eyangmu sehat-sehat saja, ibu turut gembira," kata ibu Mahardika.
"Untuk cerita lanjutannya besok saja Bu ! sekarang aku mau bersih bersih badan dulu, juga ini kawan-kawan biar mandi-mandi dulu..!" lanjut Dika.
"Iya, iya, ibu siapin air panas dulu buat kalian," ya kata sang ibu.
"Ohh, gak usah repot-repot Bu,!" seru Tirta.
"Pakai air dingin saja juga gak apa-apa kok Bu ," tolak Tirta.
"Gak papa kok Mas,," Jawab Ibunya Mahardika sambil berlalu..
"Ayo, kita ke kamar aku dulu," ajak Mahardika.
Kamar Mahardika letaknya di ruang depan di sebelah ruang tamu..
Tampak nya setiap hari di bersihkan walaupun sudah di tinggal oleh Mahardika cukup lama.
__ADS_1
Malam itu mereka Tidur cukup pulas. Seharian melakukan perjalanan membuat tubuh mereka cukup letih sehingga begitu selesai membersihkan badan mereka langsung tertidur.
Paginya ketika Adzan Subuh berkumandang mereka segera bergegas ke masjid Raya Tuban yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Dika.
Masjid Tuban ini di bangun pada abad ke 15 oleh Bupati Tuban ke 7 dan merupakan bupati Tuban pertama yang beragama Islam yaitu Raden Ario Tedjo..
Dan di belakang masjid Agung Tuban ini makam Sunan Bonang berada.
Tuban sendiri adalah sebuah kabupaten (kadipaten) yang sudah ada pada awal berdirinya Majapahit,
Dengan dipimpin oleh Adipati gagah perkasa, Ranggalewe ! Seorang yang sangat berjasa ikut mendirikan Majapahit bersama Raden Wijaya, tapi yang pada akhirnya dianggap memberontak kepada Majapahit karena intrik intrik para pejabat pemerintahan di Majapahit pada waktu itu.
"Megah sekali masjid ini !" seru Bayu begitu sampai di halaman masjid Agung Tuban ini. Ya masjid Agung Tuban memang sangatlah megah dan indah.
Setelah selesai sholat Subuh mereka kemudian duduk duduk di alun alun kota Tuban yang letaknya hanya di depan masjid Agung Tuban.
Pagi itu sudah banyak pedagang makanan di seputar alun alun kota Tuban.
Hampir dua puluh empat jam, komplek Masjid, makam sunan Bonang dan alun-alun ini selalu ramai oleh pengunjung.
Mereka nongkrong sambil makan dan minum di pinggir alun alun, menikmati udara pagi yang bersih.
Ketika Hari mulai terang, mereka kembali ke Rumah Mahardika.
Ternyata di rumah Mahardika sang ibu sudah mempersiapkan sarapan Buat mereka.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Gresik dan mengunjungi dua makam Wali di sini yaitu sunan gresik dan Sunan Giri.
Sunan Gresik adalah wali tertua dengan nama Maulana Malik Ibrahim, beliau adalah keturunan dari Syech Jumadil Qubro. Dan berputrakan Sunan Ampel atau yang bernama asali Raden Rahmat yang di makamkan di Ampel kota Surabaya.
Raden Rahmat atau sunan Ampel berputra kan Maulana Makdun Ibrahim, atau Sunan Bonang.
Di Gresik sendiri ada dua makam Wali, selain Maulana Malik Ibrahim juga ada anggota Walisongo yang lain, yaitu Sunan Giri yang bernama asli Muhammad Ainul Yaqin atau Raden Paku atau Sultan Abdul Fatah atau Joko Samudro atau juga Prabu Satmoto.
Ilmu agama dari sunan giri didapat dari Sunan Ampel, Beliau berguru kepada Sunan Ampel bersama dengan Maulana Makdun Ibrahim.
Hari menjelang malam ketika mereka memasuki kota Surabaya. dari arah Gresik.
Ketika mereka sedang mengisi perut di sebuah perusahaan warung soto Surabaya di sebuah jalan Raya yang mengarah ke Jembatan Suramadu. Terlihat orang-orang berkerumun sambil berteriak-teriak
"Maling, maling,! hajar ,, pateni !! Jan***k.
seru orang orang yang kalap dengan sumpah serapah kas suroboyoan.
__ADS_1
Onok opo yo cak (ada apa ya cak?) Tanya Mahardika pada seseorang yang lewat..
"Onok arek nyopet, kecekel !" ( ada pemuda nyopet ketangkep) kata orang yang di tanya oleh Mahardika tersebut.
"Aku akan melihat!" kata Mahardika yang langsung berlari mendekati kerumunan tersebut.
Setelah Dekat Mahardika segera menyibak kerumunan orang-orang tersebut..
Dilihatnya seorang pemuda dengan wajah berlumuran darah duduk dengan ketakutan..
Tangan- tangan memukul tanpa ampun.
"Stop stop!" seru Mahardika berusaha menghentikan amuk warga ini.. Dipasang nya badan untuk menahan rangsekan orang-orang yang ingin menghajar pencopet ini.
Sudah sudah, akan aku bawa pencopet ini ke kantor polisi, Seru Mahardika.
Mahardika kemudian mengawal si pencopet masuk ke dalam Toyota Alphard, diiringi Tirta Bayu dan Adnan.
Di dalam Alphard hitam.
"Ayo Ta jalan, ajak Mahardika,
Tirta segera menjalankan mobil Alphardnya.
"Ke mana Dika? ke kantor polisi ?" tanya Bayu.
"Ahh tidaklah, aku hanya ingin nyelamatin pencopet ini,!"
Dika segera mengambil kotak P3k. Dan mengobati luka luka di wajah si pencopet muda ini..
"Mas, ternyata mas Dika yang nyelamatin aku,,!" kata si pencopet muda itu lirih sambil menahan perih akibat tetesan obat luka yang di berikan Dika pada luka-lukanya.
"Iya ini aku ,Brik," kata Dika.
"Setelah kepergian Mas Dika, kami kehilangan arah mas, kita sering menjadi bulan-bulanan kelompok lain. kita sudah tidak punya tempat beroperasi. Sedangkan Slamet sebagai wakil mas Dika kurang tegas dan tidak sekuat mas Dika, akibatnya lama kelamaan, kelompok kita selalu kalah dalam perebutan wilayah operasi,," kata Jabrik.
Ya, ternyata pencopet muda ini adalah Jabrik, anggota dari kelompok Dika, sewaktu Dika masih merantau di dunia kelam di kota Surabaya ini.
Dika memimpin kurang lebih dua puluhan pemuda gelandangan dan pencopet. Dia menjadikan kelompoknya kuat dan tangguh.
Akan tetapi sejak dia meninggalkan kelompoknya mengikuti pertandingan yang di adakan oleh Peter dan Mr Budiman karena tergiur oleh hadiah milyaran rupiah, Mahardika kemudian meninggalkan kelompoknya tersebut.
Kini kelompoknya tercerai berai seperti anak ayam kehilangan induknya.
__ADS_1
"Sekarang kamu tinggal di mana Brik, sama siapa saja.?" tanya Mahardika.
"Kami tinggal berlima Mas Dika... yang lainnya sudah pergi bergabung dengan kelompok yang lain !" kata Jabrik.