
Malam itu setelah rombongan WanaHardi berangkat.
Tirta, Bayu dan Adnan segera melakukam perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke arah sewaktu berangkat kemarin..
Beberapa saat mereka berjalan , ketika jalanan mulai sepi dari rumah-rumah penduduk.
Terlihat di sebuah pinggiran hutan, sosok wanita dengan rambut panjang terurai, tertiup angin.
Sosok itu berpakaian putih bersih tampak berdiri di gundukan tanah di pinggir jalan..
Jika orang penakut dan jirih, pasti pikirannya pasti mbak " Kunti".
Tapi berhubung anak-anak muda ini adalah anak- anak muda yang tidak mudah ketakutan, maka segeralah mereka mempercepat langkah-langkah untuk mendekatinya.
"Nastiti !" seru Tirta..
"Iya Mas, aku menjemputmu," kata Nastiti lirih..
Walau lirih, tapi terdengar cukup jelas di telinga Tirta, Bayu dan Adnan.
Tirta segera memperkenalkan Bayu dan Adnan pada Nastiti.
"Pantas, pantas,, Hmmm.." kata Bayu sambil memegang dagunya yang tidak ada rambutnya..
"Pantas apanya Bay,?" seru Adnan penasaran..
"Pantas Tirta ngotot banget !" seru Bayu..
"Lha wong ini Nastiti cantik banget kayak bidadari,, ! mana mungkin Tirta menolaknya," jawab Bayu cuex..
"Bukan begitu Bay," sanggah Tirta..
"Bener Bay, cantik buanget Bay," bisik Adnan pelan tapi cukup untuk membuat Nastiti tersenyum malu..
Nastiti ini adalah gadis lincah dan riang akan tetapi pemalu menghadapi pemuda seperti Bayu yang suka ceplas-ceplos ngomongnya . Apalagi memang Nastiti belum pernah keluar dari padukuhan Srengseng sebelumnya. Dan jarang sekali bergaul secara bebas dengan pemuda- pemuda di luar padukuhannya. Dia seperti putri dalam sangkar saja, bukan burung dalam sangkar!
Dia kali ini telah keluar dari padukuhan Srengseng hanya karena Tirta! ya,,, hanya demi Tirta.
Dia telah meminta ijin pada kakeknya untuk bisa mengikuti Tirta..
__ADS_1
Tadinya ki Ranu berusaha melarangnya, tapi Nastiti terus merengek dan memohon pada kakeknya itu untuk di ijinkan mengikuti dari jauh sang pemuda..
Ki Ranu juga pernah merasakan masa- masa muda, akhirnya dia memberikan ijinnya pada Nastiti untuk mengikuti Tirta dari jauh.
Beberapa saat kemudian terlihat empat bayangan berkelebat -kelebat cepat menyusuri jalanan yang sepi itu.
Satu bayangan bidadari seperti peri yang tidak menapak di bumi dan tiga bayangan gelap membuntutinya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di hutan tempat mereka tersesat kemarin.
Ketika mereka sudah memasuki padukuhan, Nastiti, Tirta, Bayu dan Adnan segera menghentikan laju lari mereka. Mereka mulai berjalan seperti biasa.
Terlihat Bayu yang agak kepayahan karena mengikuti kecepatan lari Nastiti yang lincah bak kijang kencana.
Sesampai di depan sebuah rumah yang paling besar dan berpendopo terbuka.
Nastiti segera menghampiri kakeknya dan beberapa orang tetua yang tampaknya memang sengaja menunggu kedatangan mereka.
"Sugeng ndalu Eyang Ranu, sapa Tirta, juga para tetua semua," sapa Tirta seraya menangkupkan telapak tangan di dadanya
Mereka semua segera membalas salam dari Tirta dan mempersilakan Tirta, Bayu serta Adnan untuk duduk di kursi yang sudah di persiapkan..
Setelah duduk di kursi, Tirta segera memperkenalkan Bayu dan Adnan kepada ki Ranu dan semua tetua yang hadir.
"Tidak apa-apa anakmas, saya percaya pada anakmas Tirta," jawab ki Ranu.
Setelah berbasa-basi sejenak kemudian Ki Ranu menceritakan perkembangan di padukuhan itu pada Tirta, Bayu dan Adnan.
"Tampaknya niat Aryo Seto untuk menguasai padukuhan Srengseng sudah demikian menggebunya," kata ki Ranu.
"Tadi siang, dia sudah mengirimkan anak buahnya ke padukuhan ini untuk menyatakan niatnya itu sekali lagi." lanjut ki Ranu
Akan tetapi sudah ada tekad bulat dari ki Ranu juga para tetua untuk mempertahankan padukuhan ini sampai titik darah penghabisan.
"Sak dumuk batuk sak nyari bumi," takkan diserahkan tanah sekecil apapun pada Aryo Seto walaupun nyawa taruhannya. ini adalah pepatah jawa yang melukiskan tentang harga diri,, jika harga diri sudah di injak-injak maka nyawa adalah taruhannya.
"Kembalilah pada Aryo seto, katakan padanya, warga padukuhan ini akan mempertahankan haknya walaupun dengan taruhan nyawa". jawab ki Ranu pada utusan Aryo Seto.
"Demikianlah anakmas Tirta, kata ki Ranu mengakhiri ceritanya..
__ADS_1
"Kira-kira kapan Aryo Seto akan datang kemari ki Ranu?", tanya Tirta.
"Kemungkinan besok malam anak Mas", kata ki Ranu..
Begitulah, setelah pertemuan itu, di sepakati bahwa besok pagi para tetua akan berkumpul lagi bersama anak-anak muda dari padukuhan Srengseng ini untuk mempersiapkan diri menghadapi Aryo Seto dan anak buahnya.
Setelah para Tetua kembali ke rumah masing- masing, ki Ranu kemudian mengajak Tirta, Bayu dan Adnan untuk membicarakan sesuatu yang tampaknya sangatlah penting..
"Anakmas Tirta, anakmas Bayu dan Anakmas Adnan.. eyangmu ini sangat berterima kasih kalian sudah mau membantu padukuhan Srengseng ini, akan tetapi jauh di lubuk hati eyangmu ini, masih ada tersirat rasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan padukuhan ini."
"Aku ingin anakmas bertiga menerima ilmu-ilmu pamungkas dari eyangmu ini,, eyang tidak ingin Aryo Seto membuat kerusakan lebih jauh di dunia luar anakmas, maka dari itu harapan satu- satunya ada di pundak anakmas bertiga."
"Eyang sudah sangat yakin kalau anakmas bertiga akan sanggup memikul tugas berat ini,", ki Ranu berhenti sejenak ,,kemudian melanjutkan kembali.
"Eyang tidak ingin ilmu-ilmu yang eyang mu kuasai akan hilang dengan kepergian eyang,, karena ilmu-ilmu itu membutuhkan dasar tenaga batin yang sangat kuat yang tidak sembarang orang mampu menrimanya."
"Dan hanya anakmas Tirta yang mempunyai dasar tenaga batin yamg mumpuni yang mampu menerima ilmu ilmu dari eyangmu ini."
"Untuk anakmas Adnan dan Bayu eyangmu akan memberikan ilmu yang lain, yang cocok untuk anakmas berdua.
"Terimakasih sebelumnya eyang Ranu, tapi.. Tirta tampak ragu untuk meneruskan ucapannya.
Akhirnya setelah beberapa saat Tirta melanjutkan ucapannya.
"Saya harus minta ijin lebih dahulu pada Eyang Wasis Jayakusuma yang sudah menurunkan ilmunya kepada saya eyang Ranu,nkarena hanya atas ijin beliau lah saya baru berani menerima limpahan ilmu dari Eyang Ranu, kata Tirta.
"Iya anakmas, sebenarnya memang haruslah demikian," kata ki Ranu.
Di depan ki Ranu Tirta segera memusatkan akal budinya dengan mengerahkan tenaga batinnya untuk bisa melakukan kontak dengan eyang Wasis Jayakusuma, leluhurnya.
Memang eyang Wasis Jayakusuma sebelumnya sudah berpesan pada Tirta , jika keadaan mendesak Tirta bisa menghubunginya dengan mengerahkan tenaga batinnya, yang bisa tersambung dengan eyang Wasis Jayakusuma.
Beberapa menit kemudian Tirta membuka matanya, keringat sebesar jagung keluar dari sekujur tubuh dan membasahi seluruh bajunya.
Karena untuk bisa berkomunikasi dengan eyang Wasis Jayakusuma dibutuhkan tenaga batin yang sangat besar.
Dia segera tersenyum ke arah ki Ranu dan ki Ranu pun menganggukkan kepala.
Tampaknya ki Ranu sudah tau apa jawaban yang di berikan oleh Eyang Wasis Jayakusuma.
__ADS_1
Karena sebenarnyalah apa yang telah terjadi ini masih ada hubungannya dengan Eyang Wasis Jayakusuma.
Eyang Ranu kali ini benar-benar kagum dengan kepribadian Tirta Jayakusuma yang penuh sopan santun dan subo sito sebagai orang Jawa, dan tidak serakah untuk mendapatkan ilmu dengan menerak (melanggar) paugeran (aturan) yang ada.