Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
pulang tanpa Tirta, Bayu dan Adnan


__ADS_3

Begitu sampai diatas tebing atau puncak Penanjakan , ternyata Adnan sudah berhasil membawa naik gadis yang di tolongnya dengan susah payah.


Orang-orang Yang melihat kejadian ini benar-benar takjub ruarrr biasa!!!


Di jaman modern seperti ini masih ada pemuda- pemuda hebat yang mempunyai kekuatan kanuragan yang luar biasa, seperti dalam cerita-cerita dongeng saja..dan mendarmakan kemampuan nya untuk menolong sesama.


Tirta segera meletakkan gadis yang didukungnya di tikar yang segera disipakan.


Dengan segera Tirta menyadarkan si gadis.


Sewaktu di dasar tebing tadi Tirta sudah meriksa kondisi si gadis dan memang kondisinya tidak berbahaya, hanya lecet dan lebam, serta terkilir..


Tampaknya Nastiti menolong tepat waktu, jika saja sampai terbentur batu-batu yang banyak terdapat di dinding dan dasar tebing pasti gadis ini sudah tewas dengan tubuh hancur lebur.


Begitu gadis yang di tolongnya sudah siumam, Tirta segera beralih memeriksa gadis yang di tolong oleh Adnan, karena mamang Adnan belumlah sehebat Tirta.


Setelah diperiksa beberapa saat, ternyata gadis ini pun, hanya mengalami terkilir, juga lecet dan lebam, Tirta segera melakukan beberapa pijatan untuk membetulkan beberpa tulang yang bergeser dari tempatnya..


Setelah semua selesai dilakukan , Tirta segera berpesan pada Ravi dan juga anak- anak mapala ;


"Tolong segera dibawa turun, jangan banyak bergerak dulu dan alangkah baiknya kalo mendapat perawatan medis lebih jauh."


Setelah memberikan beberapa pesan Tirta segera mengajak Adnan berlalu, dari tempat itu.


Dia tidak ingin orang- orang ini terlalu memandang dirinya terlalu tinggi.


"Mas jangan Pergi dulu!" seru beberapa orang itu.


Tapi Tirta dan Adnan tidak memperdulikannya dan tetap berjalan keluar dari kerumunan orang- orang itu.


Setelah matahari menampakkan dirinya secara penuh, Guntur segera mengajak anggota WanaHardi meninggalkan puncak penanjakan 1, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kawah Bromo, dengan melewati lautan pasir yang mengelilingi kawah Bromo.


Perjalanan kali dilakukan pagi hari jadi, sehingga udara terasa sejuk dan segar, angin semilir menambah nikmatnya udara di pagi itu.


Dengan pemandangan lautan pasir seperti di gurun pasir Sahara! Sejauh mata memandang terhampar pasir luas membentang berkilo-kilo meter jauhnya.


Sesampai di kawah mereka juga masih harus menaiki anak tangga yang cukup menguras energi untuk bisa mencapai kawah Bromo..jumlah anak tangga ini sendiri berjumlah 250 sampai 270 anak tangga,, cukup membuat capek! tapi buat anak-anak muda ya enteng-enteng saja.


Setelah sampai di kawah,, Tirta dan Iza serta lainnya sudah tidak sabar berselfi ria..


Kawah Bromo sendiri berdiameter 600 samai 800 meter.

__ADS_1


Sudah ada larangan untuk beraktifitas selfi di area bibir kawah,, tapi namanya anak muda, pasti banyak yang melanggarnya dengan mencari spot-spot berbahaya dan menantang bahaya. Bahkan ada yang sampai di lereng- lereng kawah..


Selama beberapa saat rombongan WanaHardi menikmati suasana di sekitar kawah Bromo, ketika sudah dirasa puas mereka segera turun dari kawasan kawah dan melintasi pasir berbisik.


Rencananya nanti malam mereka akan pulang menuju semarang.


Dalam suatu kesempatan Tirta membicarakan tentang rencananya untuk tinggal lebih lama di daerah pegunungan Tengger ini kepada Adnan dan Bayu, karena adanya permintaan dari ki Ranu agar Tirta ikut membantu menyelesaikan masalah yang di timbulkan oleh Aryo Seto.


Adnan dan Bayu sangat bersemangat mendengarkan cerita Tirta tentang Ki Ranu dan padukuhan rahasia Srengseng di lereng pegunungan Tengger ini.


Mereka tetap akan medampingi Tirta! Merantau bersama dan mencari pengalaman bersama.


Ketika Keinginan Tirta untuk tinggal dulu di sini karena ingin menolong seseorang di lereng Tenggger ini disampaikan Kepada Iza,, sang gadis sangat antusias untuk ikut.


"Aku ikut Ta," kata Iza,, aku juga ingin mencari pengalaman..lanjutnya.


"Tapi perjalanan ku selalu berbahaya Iza,, ini bukanlah perjalanan liburan, juga bukan perjalanan pendakian .. Ini perjalanan yang menyerempet bahaya, Nyawa taruhannya Iza !" kata Tirta berusaha memberi keterangan agar Iza tidak ikut.


"Aku tidak ingin membayakan keselamatan mu,, aku akan sangat menyesal seumur hidup kalo ada apa- apa dengan mu karena di sebabkan oleh aku," kata Tirta panjang lebar.


Iza tampak kecewa berat, wajahnya tampak cemberut .


Iza berdiam diri saja beberapa saat hingga akhirnya Tirta memengang jari-jemarinya lembut sambil berkata;


"Tapi aku ingin selalu dekat denganmu Ta," sahut si gadis manja.


"Ada saatnya suatu saat kita bersama Iza," kata Tirta lembut..


Kebersamaan Tirta dengan Iza agak jauh dari nafsu yang menggebu, karena Iza juga masih bisa menjaga dirinya, juga karena Iza bukankah seperti Nadine yang sangat terbuka dan vulgar..


Jika bersama dengan Nadine , nafsu-nafsu Tirta sebagai pemuda normal selalu saja menghadapi ujian berat bahkan sangat berat. dan tiap saat meledak- ledak seiring dari godaan-godaan Nadine.


Sedangkan dengan Iza, nafsu-nafsunya bisa di tekan dalam-dalam, yang ada adalah ketenangan dan kebahagiaan dalam kebersamaan mereka.


Akhirnya Iza mengiklaskan sang pemuda untuk tinggal dulu di lereng Tengger ini.


Sore itu ketika rombongan WanaHardi Sampai kembali di homestay di desa Ngadas,


Tampak beberapa mahasiswa mapala dari Surabaya sudah menungggu Tirta dan Adnan.


Ravi, sang ketua mapala tampak ada diantara mereka.

__ADS_1


"Mas, mas Tirta ya!" serunya sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan dengan Tirta, Bayu, Adnan serta Iza, Selvi dan Deka.


Kali ini Iza tidak menolak untuk berjabat tangan.


"Saya Ravi mas, ketua mapala Fakultas ekonomi dari sebuah universitas di Surabaya," kata Ravi.


"Terima kasih Mas, kalian sudah menyelamatkan nyawa anggota kami," kata Ravi penuh hormat.


Tak ada lagi kesombongan di sana, tak ada lagi wajah arogant yang ada tinggal keramahan di wajahnya dan juga teman-temannya..


"Karena kalian, dua anggota kami terselamatkan dan sekarang keduanya sudah kami antar pulang ke Surabaya lebih dulu untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut, terang Ravi.


" Ah itu hanya kebetulan saja, mas Ravi," kata Tirta merendah.


"Saya juga minta maaf sebelumnya karena perkataan-perkataan kami yamg menyinggung kalian," lanjut Ravi.


Demikianlah kedua kelompok ini akhirnya bercakap- cakap akrab dan saling bertukar kontak ponsel, siapa tahu kelak di kemudian hari bisa saling tolong-menolong ketika membutuhkan.


Ternyata sore itupun mapala yang di ketuai oleh Ravi pun berencana kembali ke Surabaya dan mengakhiri acara diksarnya.


Dan di lain kesempatan juga, Tirta menyampaikan pada Guntur bahwa dia bersama dengan Bayu dan Adnan tidak ikut pulang ke Semarang dulu, karena masih akan memyesaikan beberapa persoalan dilereng Tengger ini.


Guntur segera mengubah komposisi penumpang di setiap mobilnya sehingga merata.


Mobil Iza akhirnya di kendarai oleh anggota lainnya, dan ditambah seorang anggota yang lain lagi.


"Hati hati Ta," bisik Iza sedih,, beberpa hari ini hatinya benar-benar bahagia, tapi hari ini dia harus berpisah lagi dengan sang pemuda pujaan hatinya..


Berangkat bersama, eh pulang berpisah! Hati siapa yang tak akan sedih?


Dipeluknya sang pemuda dengan penuh mesra seakan-akan takut untuk kehilangan..



Tangga menuju kawah Bromo



Kawah Bromo


__ADS_1


Pasir berbisik.


__ADS_2