Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
kesadaran Ludiro


__ADS_3

Pertarungan terus berlanjut dengan sengitnya!


Ki Suromenggolo juga mulai menyadari bahwa pukulan dan sepakannya tak ada satupun yang bisa menyentuh ujung baju sekalipun dari pemuda yang menjadi lawannya ini.


Dia menyadari tenaga tuanya punya batas tertentu.


Walaupun ilmu kebal dan juga tenaga batinnya sudah di kerahkan sampai batas maksimal, sehingga tandangnya makin ngedap edapi (mengagumkan) saja!


Akan tetapi kecepatannya sepertinya dikurangi, berganti dengan kekuatan gajah yang sedang berjalan dengan menimbulkan getaran di tanah yang di pijaknya. langkahnya mantap dan kuat!


Tirta mengikuti saja gaya bertarung dari ki Suromenggolo!


Tirta belum mau menggunakan ilmu- ilmu yang di milikinnya secara berlebihan, takut jika akan membuat lawannya terluka berat dan mati.


Tapi tampaknya kekuatan ki Suromenggolo juga tidak ada habis-habisnya.


Sementara pertarungan antara Adnan melawan lawannya yang ternyata adalah Ludiro sudah mendekati titik akhir.


Beberapa kali Ludiro terkena sabetan tongkat baja dari Adnan, luka-luka yang ditimbulkan pun bukan luka terbuka, karena Adnan mengurangi tenaganya ketika tongkatnya mulai menyentuh tubuh Ludiro.


Ini dilakukan karena dilihatnya Ludiro bertarung tidak sepenuh hati, dia seperti menahan beban, dia seperti tidak fokus dalam bertarung melawan Adnan.


Walaupun luka yang ditimbulkan dari sabetan tongkat Adnan bukan luka terbuka dan berdarah, tapi akibatnya menimbulkan lebam kebiruan di seluruh bagian yang terkena sabetan tongkat dari Adnan.


Suatu ketika, Ludiro kurang cepat dalam menghindari sabetan tongkat baja dari Adnan !


dia terlambat sedikit dalam menghindar sehingga pahanya terkena sabetan tongkat Adnan. kali ini dia sudah tidak mampu berdiri lagi tumbuhnya jatuh karena kakinya tak mampu menopangnya,


"Aku sudah kalah Mas," kata Ludiro.


"Aku tidak akan menyakiti orang yang sudah tidak berdaya!" sahut Adnan dan membiarkan Ludiro berdiam diri dan memandang Adnan dengan rasa terimakasih.


Di sudut lain, pertarungan antara Bayu dengan Jokosuro juga sudah mencapai akhir.


Jokosuro berkali-kali melompat menjauhi Bayu..!.


Ketika dilihatnya sahabat sekaligus teman kecilnya sudah kalah dan menyerah kalah, dirinya pun akhirnya berpikiran sama.


"Tak ada yang patut di perjuangan dalam pertarungan kali ini!" batinnya


Tampaknya sang guru ki Suromenggolo hanya mengejar harta belaka, makanya padepokan mereka sangat mewah dan megah, serta kehidupannya benar benar berlebihan!


Apalagi lawan- lawan nya kali ini adalah pemuda-pemuda yang kelihatannya baik dan menjunjung kebenaran dan kejujuran.


"Aku menyerah mas," seru Jokosuro ketika suatu saat dia melompat agak jauh dari Bayu.


Bayu terkejut dengan tindakan Jokosuro.

__ADS_1


Dia segera melepaskan senjatanya dan melemparkannya ke lantai ruangan.


ki Suromenggolo yang melihat kedua muridnya menyerah menjadi mencak-mencak karenanya.


"Hai Ludiro, Jokosuro , gila kalian, kalian belum kalah ! lawan mereka!" teriaknya sambil menyerang Tirta Jayakusuma.


Ludiro dan Jokosuro tampak mulai ragu dan bimbang!


"Jangan dengarkan guru gila kalian!" seru Adnan.


"Kalian hanya dimanfaatkan oleh guru kalian untuk kepentingan nya saja! Gurumu sudah keluar dari paugeran (tatanan) masyarakat!" lanjut Adnan.


"Lihatlah itu gurumu ! dia tidak akan mungkin mengalahkan kami!" seru Adnan.


"Tirta yang dia hadapi adalah pemuda pilih tanding, dia menghadapi gurumu hanya untuk mengimbanginya saja!"


"Jika dia mau dalam serangan pertama gurumu pasti sudah mati!" Adnan ingin menghapus keraguan dari Ludiro dan Jokosuro.


Ludiro dan Jokosuro segera mengarahkan pandangan pada pertarungan antara gurunya dan Tirta.


ki Suromenggolo terlihat sangat marah sekali mendengar perkataan dari Adnan.. Dia tidak terima di remehkan Adnan.!


Tirta yang tadinya hanya mengikuti saja ki Suromenggolo , akhirnya merasa, dia harus menujukkan pada Ludiro dan Jokosuro bahwa guru mereka bisa di kalahkan dengan mudah olehnya dan supaya mereka bisa meninggalkan guru mereka yang membawa mereka ke dunia hitam.


Tenaga batin dan Wadag segera di tingkatkan, pukulan Tirta kali ini di lambari dengan tenaga yang lebih besar lagi.


Ki Suromenggolo segera merasakan tekanan yang luar biasa ,, udara panas melingkupi arena pertarungan dan bahkan ke seluruh ruangan yang luas tersebut.


ki Suromenggolo tergetar hatinya, udara yang panas menunjukkan tenaga batin yang luar biasa yang belum pernah di temui nya.


Dia bersiap mengerahkan Ilmu kebalnya mengitari tubuhnya.


Tiba-tiba Tirta mengembangkan telapak tangan dan menghentakkan ke arah ki Suromenggolo.


Ki Suromenggolo segera menyilangkan kedua tangannya di dadanya, dia yakin akan ilmu kebalnya,


Benturan keras segera terjadi..


"Duar,, !" telapak tangan yang merupakan ciri kas pukulan Tapak Geni, membentur pertahanan tangan bersilang dari ki Suromenggolo yang dilambari ilmu kebal.


ki Suromenggolo terlontar ke belakang sejauh limameter dan membentur kursi tamu besar hingga pecah berhamburan.


Tubuh ki Suromenggolo jatuh terduduk dan darah segar keluar dari mulutnya, napas nya tinggal satu-satu.


Terlihat di kedua lengan ki Suromenggolo menghitam seperti terbakar dan melepuh, juga dadanya sebagian juga terbakar dan melepuh. Ternyata ilmu kebalnya tidak mampu melindungi dirinya dari Aji Tapak Geni!


Ludiro dan Jokosuro segera melompat mendekati sang guru.

__ADS_1


Keduanya tertegun menyaksikan keadaan gurunya yang tampak pucat pasti dan nafas satu-satu .


Bagaimanapun ki Suromenggolo adalah gurunya yang mengenalkan mereka akan ilmu kanuragan. Terlepas dari sifat- sifat gurunya yang tamak!


"Guru, maafkan kami!" seru Ludiro yang segera memeluk sang guru yang terluka sangat parah.


Tirta yang sejak tadi hanya memandangi dari kejauhan kemudian mendekati guru dan murid nya itu .


Dilihatnya efek dari Tapak Geni yang dikerahkan dengan tenaga yang cukup kuat.


"Bawalah Guru kalian pulang ke padepokan, gurumu akan tetap hidup, tapi karena luka dalamnya dan juga usia gurumu yang sudah tidak muda lagi, maka sebagian ilmunya akan hilang ataupun kemampuan nya akan susut tidak bisa seperti sedia kala!" kata Tirta


Tirta kemudian duduk di belakang ki Suromenggolo dan meletakkan sebelah tangannya dan mengerahkan tenaga batinnya untuk memperbaiki jalur- jalur syaraf dan urat-urat yang terputus, supaya tidak berbahaya bagi keselamatan ki Suromenggolo.


"Bawalah gurumu dan rawatlah dengan baik, aku sudah memperbaiki syaraf-syaraf dan urat-urat dari gurumu kata!" Tirta.


"Luka- luka gurumu sudah tidak berbahaya lagi bagi jiwanya," lanjut Tirta.


"Terimakasih Mas! kalian memang pemuda-pemuda yang baik," kata Ludiro.


Bolehkah kami tau Mas ini dari mana dan mengapa Mas bisa terlibat dalam masalah ini, tanya Ludiro yang memang lebih sering berbicara. Sedang Jokosuro lebih pendiam dan kurang banyak bicara.


Bayu lah yang menjawab pertanyaan Ludiro!


"Kami dari sebuah padepokan di lereng utara gunung Ungaran Mas, tepatnya di desa Plalangan Gunungpati! Kami bertiga mendapatkan tugas dari guru kami untuk merantau sambil mencari pengalaman hidup dan mendarmakan ilmu kami," kata Bayu memberikan keterangannya.


"Kelak kalau guruku sudah membaik aku akan mencari kalian, untuk mengucapkan terimakasih!" kata Ludiro lagi.


Malam mendekati Fajar ketika Tirta Bayu dan Adnan keluar dari rumah persembunyian Hendra!


Ternyata Hendra tidak berada di rumah itu..


Ludiro, Jokosuro dan ki Suromenggolo yang sudah agak membaik keadaannya juga meninggalkan tempat itu.


Sebelum pergi ki Suromenggolo memberikan pesan pada Tirta.


" Hati hatilah anak muda, kalian sudah mulai bersentuhan dengan kekuatan besar dunia hitam yang sangat berbahaya, aku hanyalah pion kecil saja bagi mereka!" kata Ki Suromenggolo.


"Trimakasih atas peringatan ki Suromenggolo, semoga tujuan kami untuk melawan kejahatan bisa terwujud!" jawab Tirta.


Sementara Jonathan dengan memapah melky diam-diam sudah meninggalkan tempat itu, ketika Tirta, Bayu dan Adnan sedang bertarung melawan ki Suromenggolo, Ludiro dan Jokosuro.


***


Pagi itu di rumah Nadia,


"Nadia, kamu sudah dewasa, bisa membedakan pemuda yang baik dan pemuda pemuda yang hanya menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk menindas orang! " Leo berbicara pada adik semata wayangnya!

__ADS_1


Dia memang sudah kesengsem berat pada Tirta Bayu dan Adnan. Dan berharap salah satunya bisa dekat dengan Nadia adiknya.


Tadi malam sewaktu pulang dari tempat persembunyian Hendra, Leo memang tidur di rumah nya yang di tempati Nadia karena mengantarkan Tirta, Bayu dan Adnan.


__ADS_2