
Ketika ki Ranu menyatakan akan adanya acara pernikahan, Tirta sangat terkejut sekali, Dia masih belum bisa berpikir dengan jernih.
Memang dia memasrahkan semua yang terjadi pada pepesten tapi untuk urusan perjodohannya dia harus berpikir lebih jauh lagi.
"Eyang Ranu, mohon Maaf sebesar- besarnya, apakah tidak terlalu cepat untuk menentukan jodoh dari Nastiti!" kata Tirta menyela pembicaraan antara ki Ranu dengan ki Sentanu. Dengan suara pelan dan setengah berbisik agar tidak di dengar oleh orang lain.
"Tidak anak mas, disini jika jodoh sudah di tetapkan maka harus segera di laksanakan pernikahan," kata Ki Ranu.
"Akan tetapi eyang, ditempat kami pernikahan haruslah mendapat restu dan ijin dari kedua orang tua," kata Tirta pelan.
"Saya meminta waktu untuk memutuskan hal ini Eyang," kata Tirta melanjutkan.
"Saya harus berbicara kepada kedua orang tua saya dan juga guru saya di padepokan lereng gunung Ungaran," lanjut Tirta.
Ki Ranu tampak mengerutkan keningnya, tampak dia bersedih mendengar kata-kata Tirta Jayakusuma barusan. Tapi dia juga menyadari bahwa apa yang di katakan oleh anak muda ini adalah suatu kebenaran.
Tampak ki Ranu masih berdiam beberapa saat lagi.
Kemudian setelah menghela nafas berat ki Ranu segera berkata pelan;
"Memang benar apa yang di katakan anak mas Tirta! Eyangmu ini memang sangat berharap bisa segera menjodohkan Nastiti dengan anak mas tanpa memikirkan perasaan Nastiti, anak mas dan orang- orang tua dari anak mas," kata ki Ranu tampak sedih dan kecewa.
"Baiklah kalau begitu akan aku tunggu jawaban dan kabar dari anak mas, aku harap anak mas Tirta Jayakusuma tidak menolak Nastiti, kata ki Ranu dengan hati yang sedih.
Tampak Tirta juga sedih ketika mendengar kata-kata ki Ranu. Tapi dia harus memikirkan dalam -dalam tentang permintaan perjodohan dari Ki Ranu ini.
Tirta segera meminta maaf sekali lagi pada ki Ranu. Tirta benar benar menyesal telah menyakiti hati orang tua ini, akan tetapi keputusan ini harus diambil, bukan berarti dia menolak tapi dia harus memikirkannya lebih jauh lagi.
"Ki Sentanu, kamu mendengar sendiri kata- kata dari anakmas Tirta, bagaimana menurut pendapatmu ?" tanya ki Ranu pada ki Sentanu pelan.
Apa yang di katakan oleh anak mas Tirta memang benar adanya ki Ranu, kita tidak bisa maksakan kehendak kita pada anak-anak kita," jawab ki Sentanu.
Ki Ranu mengangguk-angguk mendengarkan pendapatnya ki Sentanu. Kemudian ki Ranu berkata;
__ADS_1
"Baiklah jika demikian ki Sentanu, aku akan memikirkan lagi acara pernikahan Nastiti ini," kata ki Ranu.
"Dan besok aku harap ki Sentanu membantu mempersiapkan ubo rampe untuk pemilihan Jagabaya baru, pengganti ki Amongraga."
Demikianlah acara tersebut segera diakhiri, akan tetapi berhubung masih banyak hidangan, anak-anak muda masih saja lek- lekan di pendopo itu.
Tirta, Bayu dan Adnan juga ikutan bergabung dengan anak-anak muda padukuhan Srengseng ini.
***
Siang itu setelah para penduduk usai dari sawah, pategalan juga kebun, mereka segera menuju ke halaman rumah ki Ranu untuk menyaksikan pemilihan Jagabaya yang akan dilaksanakan pada siang itu.
Ternyata di halaman ki Ranu sudah didirikan panggung dari bambu yang cukup besar.
Hampir semua warga padukuhan keluar rumah untuk menyaksikan acara pemilihan Jagabaya baru.
Kali ini yang ikut dalam pilihan Jagabaya ada delapan orang, empat orang adalah ketua Kelompok kecil pengawal padukuhan, dua lagi adalah warga padukuhan yang berusia empat puluhan dan merupakan warga biasa yang sehari-harinya bekerja di ladang dan dua orang lagi anak muda yang juga merupakan anggota pengawal padukuhan yang juga mempunyai kemampuan cukup mumpuni diantara teman-temannya.
Beberapa saat kemudian ki Amongraga naik ke atas panggung bambu tersebut, dan mulai bicara..
"Yang menjadi pemenangnya dan mengalahkan lawan-lawannya yang selanjutnya akan menjadi Jagabaya, setelah mendapat persetujuan dari ki Ranu," kata ki Amongraga keras.
"Jadi syarat menjadi Jagabaya adalah yang keluar menjadi pemenang dan mendapat Restu dari ki Ranu."
Demikianlah ki Amongraga menyampaikan pada warga padukuhan akan syarat menjadi Jagabaya.
Selanjutnya aturan pertandingan disampaikan juga oleh ki Amongraga.
"Peraturan dari pertandingan kali ini adalah, peserta akan dinyatakan kalah apabila menyerah kalah, keluar atau turun dari panggung pertandingan ini dan melakukan kecurangan !"
Demikianlah aturan pertandingan yang di tetapkan oleh ki Amongraga.
"Untuk pertarungan pertama silahkan naik ke atas panggung, Wulungan dan Jaladri !" seru ki Amongraga memanggil nama dua orang pemuda.
__ADS_1
Wulungan segera melompat ke atas panggung, disusul seorang pemuda lagi yang bernama Jaladri, seorang pemuda yang juga anggota pengawal padukuhan Srengseng ini.
Keduanya segera saling berhadapan di atas panggung..
Mereka tampak saling menangkupkan telapak tangan di dada dan saling membungkuk tanda saling menghormati.
"Silahkan pertarungan di mulai !" Seru ki Amongraga dari bawah panggung, dimana disana berdiri juga para sesepuh dan gegedug dari padukuhan Srengseng ini.
Setelah saling menghormati, tampak Jaladri kemudian melompat menerjang ke arah Wulungan yang segera memapaki dengan pukulan pula.
Pertarungan segera saja terjadi dengan serunya, mereka saling jual beli pukulan dan tendangan.
Beberapa saat kemudian Wulungan yang bertubuh tinggi besar tanpa kesulitan yang berarti sudah berhasil membuat Jaladri jatuh bangun menghindari serangan-serangan Wulungan yang membadai tanpa henti !
Dan dalam sebuah serangan yang dahsyat, tendangan Wulungan yang menggunakan sebagian besar tenaganya dengan dilambari aji Bayu Bajra tampak tidak mampu di tahan oleh Jaladri!
Walaupun tendangan berhasil di tangkis akan tetapi tubuh Jaladri tetap terlontar keluar dari panggung pertarungan. Jaladri jatuh terjungkal ke bawah dan keluar dari panggung arena pertarungan.
Wulungan segera membungkuk hormat dan segera turun dari panggung.
"Kali ini pertarungan di menangkan oleh Wulungan!" seru ki Amongraga.
"Selanjutnya silahkan Sadewa dan Sudiro naik ke panggung !" seru ki Amongraga memanggil dua pemuda lagi,.
Sudiro adalah pemuda yang juga pimpinan kelompok kecil dari pengawal padukuhan seperti halnya Wulungan. Sedangkan Sadewa adalah seorang petani yang sehari-harinya bekerja di sawah, umurnya sudah mendekati usia empat puluh tahunan akan tetapi masih belum punya pasangan hidup, tubuhnya kekar dan berotot karena setiap hari bekerja keras di ladang.
Keduanya kemudian saling memberi hormat,
"Silahkan di mulai," seru ki Amongraga.
Keduanya segera saja memulai pertarungan, Sudiro sudah mulai dengan tendangan kuat dengan dilambari Bayu Bajra.
Ya, Bayu Bajra adalah ajian yang hampir semua warga dari padukuhan Srengseng ini menguasainya, tergantung tingkat nya saja. Ada yang menguasai dasarnya saja, ada yang cukup hebat seperti Wulungan.
__ADS_1
Ternyata bahwa Sadewa juga menguasai Bayu Bajra dengan cukup mumpuni, sehingga pertarungan kali ini berjalan lebih seru daripada pertarungan pertama tadi.
Serangan-serangan dari keduanya yang sertai aji Bayu Bajra sungguh membuat pertarungan benar- benar seru ! Angin pukulan dan tendangan menderu-deru dan berputaran, membuat panggung bambu ikut-ikutan berguncang.