
Waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Di salah satu rumah judi, tampak beberapa orang berjaga di teras dan halaman rumah.
Tarmpak Wulungan berdiri di sana bersama beberapa anak buahnya.
Tubuhnya yang tinggi besar tampak menonjol diantara para pemuda pengawal Aryo Seto ini.
Ketika mereka sedang duduk duduk di teras sambil berkelakar Tampak dari arah jalanan yang berbatu , karena memang padukuhan ini adalah dukuh rahasia yang negara tidak mengetahuinya sehingga pembangunan tidak dapat menjangkau padukuhan ini.
Berjalan seorang wanita sendirian menuju rumah judi itu.
Ternyata wanita itu adalah Mawar atau Marni!
Dia berjalan dengan lembut dan sengaja menonjolkan sisi sisi kewanitaannya yang menarik di mata para lelaki!
Para penjaga yang ada di halaman teras rumah itu tampak melotot matanya melihat pemandangan ini.
Wulungan segera mengenali wanita yang akhir-akhir mengisi hatinya.
"Marni!" desis Wulungan!
"Kang Wulung, ! sapa Marni atau Mawar.
"Marni masuk dulu ya kang,,, mau ikutan main judi nih ! siapa tahu Marni bisa menang! kata Marni sambil berlalu dari depan Wulungan dan anak buahnya yang memandang Marni dengan penuh nafsu!
Wulungan tampak memejamkan matanya karena dia tidak ingin melihat kawan-kawannya melihat Marni dengan penuh Nafsu!
Dan inilah yang menyelamatkan dia, karena kawan dan anak buahnya segera terjerat oleh ilmu Gendam Kantil yang di sebar oleh Marni.
Marni melangkah masuk rumah judi degan di ikuti oleh orang-orang yang telah terpikat oleh nya.
Sesampainya di dalam rumah judi terlihat orang-orang sedang sibuk bermain judi! di dalam ada beberapa puluh orang.
Marni segera tebar pesona kesana kemari!
Ketika orang-orang sudah dalam pengaruh ilmu Gendam Kantil, maka dengan mudah Marni menyuruh mereka bertarung untuk mendapatkan dirinya!
Maka, kembali kejadian seperti malam kemarin terjadi dan terulang!
Duel antar pengunjung, juga antar pengawal yang rata rata menguasai ilmu bela diri tak terelakkan.
Mereka bertarung Seperti kesurupan massal!
Korban mulai berjatuhan!
Darah segar mulai tertumpah!
Sementara Wulunganpun tak mampu menghentikan ataupun melerai tawuran ini.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar!
"Berhenti!!!" seru suara itu menembus gendang telinga dan menggetarkan jantung!
__ADS_1
Seorang pria gempal dengan pandangan berkilat seperti macan kumbang tiba tiba sudah berdiri di tengah-tengah pertarungan kacau itu.
Suaranya yang menggelegar tadi ternyata berhasil menghentikan dan menyadarkan orang- orang yang berkelahi seperti kesurupan.
Pria ini adalah Jadug dengan ajian Gelap Ngamparnya!
Pertarunan segera berhenti karena orang orang ternyata telah tersadar dari pengaruh aji Gendam Kantil.
Tampak nya aji Gelap Ngampar mampu menyadarkan orang-orang yang terkena aji Gendam ini.
"Mawar,,! apa maksud semua ini! seru Jadug keras,
Ketika di lihat nya Mawar sedang duduk di sofa di pojok ruangan yang sudah poranda tersebut!
"Hi, hi, hi,,. maaf kang Jadug, aku hanya bermain-main saja," kata Mawar lembut tanpa rasa berdosa sama sekali!
"Sudah lama aku enggak mempermainkan para pria hidung belang kang Jadug! jadi yaa ketika dini aku menemui banyak laki-laki hidung belang yaaa aku gatal tangan kang Jadug!" jawab Mawar.
"Hmm,, kemarin kamu juga yang melakukan di rumah judi lain kan?!" tanya Jadug Lagi.
"Yaaa maaf kang ,. tanganku sudah gatal sih Kang,!" , jawab Mawar cuex.
Tampaknya Jadug juga bimbang untuk menentukan sikap dalam menghadapi Mawar ini..
"Ya sudah , jangan di ulang perbuatanmu! sekarang kamu ikutlah denganku !" ajak Jadug!
"Kemana kang Jadug?!" jawab Mawar dengan suara manjanya yang bisa membuat semua laki -laki takluk padanya!
***
Sementara itu Tirta Jayajayakusuma sudah bergerak ke dukuh Wuni dengan kelompok kecilnya.
Tugas Tirta adalah membuka jalan atau cucuk lampah!
Ketika sampai di Regol tanpa basa-basi mereka membereskan para penjaga yang berjumlah lima orang itu dengan mudahnya, tanpa ada perlawanan yang berarti.
Dengan Tirta yang menjadi cucuk lampah maka tidak akan ada yang sanggup mengimbanginya
Tirta kemudian bergerak ke arah padukuhan induk dengan cepat .
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah yang tampaknya adalah sebuah tempat prostitusi, karena di depan tampak para gadis muda berpakaian minim dan berdandan mencolok sedang duduk duduk di teras rumah tersebut!
"Ayo jalan terus saja, tak usah kita perdulikan, tujuan kita adalah pucuk pimpinan dan gegedug dari padukuhan ini !" seru Tirta.
Ketika tepat di sebuah perempatan terlihatlah sebuah rumah yang terlihat paling besar dan paling terang dengan penjagaan sangat ketat.
Terlihat puluhan orang berjaga-jaga di halaman rumah yang cukup luas.
Beberapa dari mereka tampak duduk- duduk saja dengan rokok mengepul dari mulut mereka!
Sementara sepasang pedang iblis tampak duduk menyendiri, di sudut yang lain dari halaman rumah judi tersebut.
Adapula yang hanya berdiri saja ngobrol bersama kawan-kawannya..
__ADS_1
Dari tempat persembunyian Tirta mengawasi dengan seksama para penjaga itu.
Kemudian dia berbisik pada Bayu yang berada di sampingnya.
"Tampaknya ada orang- orang penting di dalam rumah ini Bay!" katanya.
"Benar Ta, tampaknya yang sedang ada di dalam adalah para Bos besar yang sudah di undang oleh Aryo Seto!" jawab Bayu
"Kita di sini dulu sambil menunggu kelompok yang lain. tampaknya tempat ini dijaga oleh orang-orang yang kuat juga." .kata Tirta.
Dari informasi Mawar, rumah kepala dukuh Wuni ini tampaknya berada di jalan utama ini dan dari perempatan ini jaraknya kurang lebih tiga ratusan meter berada di sebelah kiri jalan.
Dan kelompok yang di tugaskan menyerbu kesana adalah kelompoknya Mahardika , kelompok Ludiro , serta dua kelompok pengawal padukuhan Srengseng dengan didampingi oleh Ki Ranu, Ki Suromenggolo, Kyai Fakih dan Ki Seno Aji!
Yang patut di perhitungkan dari kelompok Aryo Seto ini adalah keberadaan Ki Pradigdo dan Ki Singo Lodra !
Dan sebelum nya sudah di atur bahwa Ki Ranu bertugas menghadapi Ki Pradigdo dan Ki Singo Lodra akan di hadang oleh Kyai Wonokerti.
Mahardhika dengan di bantu oleh Adnan dan Bayu bertugas menghadapi Jadug.
Dan beberapa saat kemudian kelompok Mahardhika dan Ludiro sudah datang mendekati Tirta beserta dua kelompok pengawal padukuhan Srengseng.
Tirta , Mahardhika dan pimpinan kelompok kemudian berunding setelah melihat penjagaan di rumah judi tersebut.
Tidaklah mungkin bagi mereka semua menyerbu masuk begitu saja!
Dengan dua puluh orang pengawal bersenjata pistol revolver , tak mungkin Tirta melepas anak buahnya untuk mengantar kan nyawa.
Ketika sudah di putuskan Tirta Jayakusuma dan Mahardhika yang akan turun tangan lebih dahulu.
Mendadak ada beberapa orang masuk ke halaman rumah itu.
Seorang wanita dan lima orang pria!
Ya mereka yang baru datang adalah Mawar, Jadug, Wulungan dan tiga orang pengawal.
Seperti biasa ! daya tarik Mawar kali ini pun membuat para pria kekar yang ada di halaman rumah judi itu klepek-klepek.
Pandangan mereka tak bisa dialihkan dari tubuh sintal Mawar.
Ketika Mawar menyaksikan senjata senjata api yang terselip di pinggang para pengawal ini, maka Mawarpun menjadi mengkhawatirkan keselamatan dari pemuda-pemuda padukuhan Srengseng!
"Pasti mereka tidak akan tahu bahayanya sebuah senjata api!" batin Mawar.
Mawar berpikir keras untuk bisa menjatuhkan para pengawal bersenjata api ini..
Mawar tahu dengan aji Gelap Ngamparnya , Jadug mampu menyadarkan orang-orang yang terpengaruh oleh ajian Gendam Kantil.
Setelah berpikir sejenak, mawar kemudian berkata pada Jadug!
"Kalian masuklah lebih dulu, aku ingin Ki belalang dulu kang!" kata Mawar lembut..
Tanpa bercuriga sedikitpun Jadug menganggukkan kepala! dan bersama Wulungan dia segera memasuki rumah judi itu.
__ADS_1