Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
lengsernya ki Ranu


__ADS_3

ki Ranu segera keluar dari ruangan dalam, dan segera menyapa mereka semua yang Hadir.


ki Ranu kemudian duduk di sebelah Tirta yang memang sudah duduk si sana sejak tadi bersama Bayu dan Adnan.


"Ayo silahkan di cicipi dulu hidangannya,," kata ki Ranu.


diantara hidangan-hidangan tersebut nampak pula beberapa onggok tembakau coklat kehitaman yang di rajang halus dan lembut, di tempatkan di beberapa piring.


Tambakau tembakau ini memang adalah hasil tanaman dukuh Srengseng sendiri, berbau harum dan menggugah selera.


Juga sudah tersedia klobot (daun jagung kering) dan juga daun tembakau utuh sebagai pembungkus udud atau rokok.


Selain itu juga ada cengkeh dan juga kemenyan yang sudah di haluskan.


Itu semua adalah bahan- bahan khas udud para leluhur tanah Jawa.


Para sesepuh dan semua yang hadir sangat antusias melihat ini.. Jarang-jarang mereka bisa menikmati udud kemenyan di tambah cengkih dan tembakau yang sangat istimewa ini..


Dalam sesaat ruang pendopo sudah di hiasi kabut asap yang tebal.


Bau tembaku dan menyan tersiar memenuhi pendopo.


Bau kemenyan yang khas akan membuat orang-orang yang tidak terbiasa akan pusing tujuh keliling. Tapi tidak dengan orang-orang padukuhan Srengseng ini.


Mereka tampak sangat gembira dan menikmatinya.


Untunglah bagi Tirta Bayu dan Adnan yang memang mulai terbiasa dengan rokok model beginian. Sehingga mereka tidak terlalu tersiksa.


Di padepokan Mbah Hardjo mereka sudah mulai terbiasa merokok dengan udud klobot, tapi belum pernah mereka mencampurnya dengan kemenyan, paling banter hanya di leleti kopi saja.


Beberapa saat kemudian ki Ranu mulai berbicara;


"Poro sederek (para saudara) sekalian , malam ini aku akan membicarakan tentang nasib dari padukuhan Srengseng ini pada kalian semua." kata ki Ranu.


"Seperti yang kalian ketahui bersama, Aryo Seto telah membuat ontran- ontran (kerusuhan) di pudukuhan ini.


"Dan bersyukur lah kali ini ada anakmas Tirta Jayakusuma yang telah dengan suka dan rela mempertaruhkan nyawanya demi padukuhan Srengseng ini."

__ADS_1


Ki Ranu berhenti sejenak , kemudian melanjutkan lagi kata-katanya.


"Untuk sementara ini kita bisa bernafas dengan lega. Tapi ancaman ini belum benar- benar hilang, tiba saatnya padukuhan Wuni akan menyerang lagi kemari mungkin dengan kekuatan yang jauh lebih besar," lanjut ki Ranu.


"Untuk itu, kalian harus lebih giat lagi dalam berlatih olah kanuragan ! sehingga kalian mampu mempertahankan padukuhan Srengseng ini dari ancaman padukuhan Wuni dan Aryo Seto !"


"Aku sudah tua dan tenagaku sudah mulai surut, entah sampai kapan nyawaku ini menempel di badanku yang sudah renta ini," ki Ranu berdiam sejenak , setelah menarik nafas dalam -dalam kemudian melanjutkan kata katanya;


"Aku hanya mempunyai satu keturunan yaitu Nastiti. Dan untuk memimpin padukuhan Srengseng ini aku pikir belum saatnya bagi Nastiti, karena dia masih terlalu muda !"


"Dan selama menunggu Nastiti sudah siap atau mungkin Nanti jika ada keturunanku yang siap dan mampu! maka aku ingin menyerahkan untuk sementara sampai tiba waktunya yang entah kapan, pimpinan padukuhan ini kepada ki Amongraga !"


Seketika di ruang pendopo rumah ki Ranu menjadi sunyi senyap.Mereka tampak terkejut dengan pemberitahuan ki Ranu kali ini.


"Bagaimana pendapat kalian ?" tanya ki Ranu pada segenap yang hadir di pendopo itu.


Terlihat ki Sentanu segera berbicara;


"Aku kira tidak masalah ki Ranu ! akan tetapi dalam keadaan yang masih gawat ini, karena ancaman ki Pradigdo dan Aryo Seto belumlah lewat sepenuhnya, apakah tidak sangat berbahaya bagi keselamatan penduduk padukuhan ini? tanya ki Sentanu.


"Aku tidak ingin mengecilkan kemampuan ki Amongraga, akan tetapi memang kita memerlukan orang yang kuat seperti anakmas Tirta jayakusuma." kata si sesepuh itu lagi.


"Ki Ranu, tampaknya benar apa yang di katakan ki Sentanu dan ki Sarno," kali ini ki Amongraga yang memberikan tanggapan.


"Aku tahu akan kemampuan ku yang terbatas ini," lanjut ki Amongraga.


"Aku tidaklah sehebat dan sekuat ki Ranu juga anakmas Tirta." Jawab ki Amongraga.


Memang di padukuhan Srengseng ini dari dulu hingga sekarang selalu di pimpin oleh para leluhur dari ki Ranu yang merupakan cikal bakal padukuhan Srengseng ini.


Jabatan sebagai gegedug dan sekaligus kepala padukuhan Srengseng selalu turun temurun dari leluhur ki Ranu ini.


"Tidak usah khawatir akan masalah ilmu kanuragan ki Amongraga, selama aku masih hidup aku akan selalu ikut mengawasi padukuhan Srengseng ini, juga aku akan mengerahkan semua sisa hidup ku untuk menggembleng Nastiti, hingga nanti tiba saatnya dia bisa menjadi pimpinan di padukuhan ini, kata ki Ranu membesarkan hati ki Amongraga."


"Lagipula nantinya anakmas Tirta Jayakusuma juga ikut mengawasi dan menjaga padukuhan Srengseng ini walaupun tidak tiap saat dia berada di padukuhan ini." kata ki Ranu.


"Anakmas Tirta akan menjadi warga padukuhan ini."

__ADS_1


"Maksud ki Ranu? tanya ki Sentanu kemudian.


"Anakmas Tirta aku jodohkan dengan Nastiti, jawab ki Ranu !


Semua yang hadir memanglah sudah mendengar kemarin malam sewaktu ki Ranu mengatakan tentang hal ini. Akan tetapi mereka masih menganggap nya tidak terlalu serius.


Tapi malam ini tampaknya ki Ranu sangat serius dengan perkatannya kali ini.


Tampak wajah Wulungan sangat kecewa mendengar keputusan ki Ranu ini, akan tetapi apalah dayanya? daripada Nastiti di ambil Aryo Seto? maka jauh lebih baik jika mendapatkan pemuda ini sebagai Pasangannya.. Wulungan lebih rela Nastiti bersama Tirta Jayakusuma, walaupun tetap saja hatinya sangat sakit memerima kenyataan ini.


Dia yang sudah sedari kecil sudah menyukai Nastiti, dia bersama Nastiti sudah tumbuh bersama dan ketika menginjak remaja Wulungan sudah mulai merasakan suka pada Nastiti dan berharap kelak akan menjadi pendamping Nastiti. Kini semuanya hancur berantakan.


Awalnya ketika Aryo Seto yang mendadak datang dan berada di antara dia dan Nastiti. Ketika Aryo Seto pergi, harapan Wulungan tumbuh kembali.


Tapi sekarang harapannya runtuh kembali sejak kedatangan Tirta Jayakusuma!


***


Tirta hanya bisa diam mendengar semua perkataan ki Ranu! dia tidak sanggup menyakiti hati ki Ranu dan warga padukuhan Srengseng ini.


"Biarlah apa yang akan tertadi terjadliah," batin Tirta pasrah pada pepesten ( takdir) yang memang harus di jalaninya.


"Baiklah kalau demikian halnya ki Ranu," jawab ki Amongraga.


"Aku menerima keputusan ini ki Ranu!"


"Jangan khawatir akan Aryo Seto ki Amongraga! dengan dukungan dari semua penduduk dukuh Srengseng ini , pasti kita akan bisa melalui masa masa sulit kali ini.


Apalagi ada anakmas Tirta Jayakusuma yang akan menjadi bagian dari keluarga besar padukuhan Srengseng ini, dia akan ikut menjaga padukuhan ini." kata ki Ranu lagi.


"Oh ya Ki Amongraga, untuk mengisi posisimu sebagai Jagabaya pilihlah salah satu warga padukuhan yang sekiranya cukup mumpuni dalam olah kanuragan." lanjut ki Ranu.


"Baik ki Ranu, besok akan aku adakan ujian untuk memilih Jagabaya baru menggantikanku," jawab ki Amongraga.


"Ki Sentanu, tolong persiapkan segala sesuatunya untuk melakukan upacara pernikahan Nastiti" kata Ranu .


"Kira- kira kapan ki Ranu ?" tanya ki Sentanu..

__ADS_1


__ADS_2