
Setelah membicarakan segala sesuatunya, kemudian Tirta dan kawan-kawannya berserta Ki Suromenggolo dan anak muridnya menuju lembah di lereng selatan Gunung Ijen.
Dalam perjalanan itu Ki Suromenggolo sempat menanyakan tujuan yang sebenarnya dari Tirta Jayakusuma naik ke Gunung Ijen ini.
Dengan terpaksa karena tidak ingin berbohong pada orang yang lebih tua, Tirta mengatakan kalau dirinya dan kawan-kawannya ini sedang memperdalam ilmu Kanuragan di puncak Gunung Ijen.
Ki Suromenggolo yang pernah bertarung melawan Tirta kemudian berkata;
"Ilmu yang Mas Tirta kuasai sudah sedemikian hebatnya, apakah belum sempurna Mas!?" tanya Ki Suromenggolo.
"Ah, diatas langit kan masih ada langit Ki Suro, barusan Ki Suro juga mengatakan itu kan?" jawab Tirta.
Demikian lah, langkah mereka tanpa terasa sudah mendekati lembah, tempat acara di adakan.
Setelah dekat, kemudian Tirta dan kawan- kawannya serta ki Suro dan anak muridnya mencari tempat yang agak tinggi untuk menyaksikan duel di atas panggung.
Tampak di atas panggung, terjadi duel yang sangat sengit antara dua pemuda yang sama-sama berpakaian hitam- hitam khas perguruan silat.
Dua-duanya tampak berimbang dalam hal kecepatan maupun kekuatannya.
Hingga beberapa saat kemudian salah satu di antara nya tampak mulai mengerahkan tenaga batinnya, sehingga kali ini setiap serangannya seakan-akan membawa suara angin yang menderu-deru, membuat gentar lawannya!
Hingga akhirnya dalam suatu kesempatan pemuda yang mampu mengeluarkan angin pukulan yang menggetarkan ini mampu membuat lawannya jatuh terjungkal dan jatuh ke bawah panggung!
Sorak sorai membahana menyemarakkan suasana malam itu.
Berikutnya Ki Seno Aji memanggil sebuah nama perguruan silat yang bernama Bawono Sekti ! sebuah perguruan silat yang berasal dari daerah Baluran.
Seorang pria gagah perkasa berusia tiga puluhan tahun segera naik panggung.
Kemudian Ki Seno Aji memanggil sebuah nama perguruan silat lagi, dan diikuti segera oleh seseorang yang melompat dengan ringan keatas panggung.
Orang yang barusan naik ini terlihat mempunyai perawakan sedang sedang saja, rambutnya ikal dan wajahnya memancarkan sorot tajam seperti mata alap-alap (elang) yang siap menerkam mangsanya.
"Hm, tampak nya pria ini adalah salah satu yang di curigai oleh Ki Suromenggolo sebagai penyusup," batin Ki Seno Aji.
Sementara di bawah panggung, Ludiro segera berkata pada Gurunya Ki Suromenggolo!
"Inilah salah satu orang yang aku curigai guru!" bisiknya pada gurunya, juga pada Tirta dan kawan-kawan nya.
Sementara di atas panggung segera terjadi pertarungan yang sengit.
Perwakilan dari perguruan silat dari Baluran tampak berusaha keras untuk dapat menjatuhkan dengan cepat pria yang bermata tajam yang menjadi lawannya.
__ADS_1
Akan tetapi tampaknya pria yang menjadi lawannya ini bukanlah lawan yang mudah untuk di kalahkan! bahkan dalam beberapa gebrakan saja pria dari perguruan silat Bawono Sejati harus berjuang mati-matian mempertahankan dirinya dari serangan si mata alap alap ini.
Dan dalam tempo kurang dari sepuluh menit, pria dari perguruan Bawono sekti ini harus jatuh karena sebuah pukulan yang tampaknya di landasi sebuah ajian yang menggetarkan! yang membuat dirinya terjungkal dari atas panggung dan muntah darah.
Pria gagah perkasa ini seketika pingsan setelah muntah darah .
Demikian lah selanjutnya berturut turut pertandingan di laksanakan hingga hari mendekati dini hari.
Keseluruhannya terjadi delapan pertandingan seru. Dimana ada tiga orang perwakilan yang tampak nya adalah perwakilan dari perguruan silat yang sudah di masuki oleh kelompok rahasia yang sudah menaklukan perguruan- perguruan silat ini.
Sampai hari kedua ini total sudah menyelesaikan lima belas pertandingan seru.
Tinggal sepuluh pertandingan lagi untuk menyelesaikan putaran pertama ini.
Ketika acara di tutup, Tirta dan kawan-kawan nya segera memisahkan diri dari Ki Suromenggolo dan anak muridnya.
Akan tetapi Ludiro yang tampak masih penasaran segera menyatakan keinginannya untuk mengikuti Tirta Jayakusuma dan kawan-kawan nya pergi ke kawah gunung Ijen.
"Kami hanya ingin berlatih sedikit olah Kanuragan saja mas Ludiro, nggak ada yang Istimewa," kata Tirta yang sebenarnya agak rikuh dengan keinginan Ludiro yang akan mengikutinya.
"Tidak apalah mas Tirta, aku hanya ingin ngobrol dengan kalian saja," kata Ludiro sedikit memaksa.
Akhirnya apa boleh buat! Tirta membiarkan saja Ludiro mengikutinya.
"Berhenti !" seru salah seorang bayangan itu.
Ketika Tirta dan kawan-kawan nya sudah dekat dengan para penghadang tersebut. Tirta segera mengenali bahwa mereka adalah anak-anak murid dari Kyai Syahroni yang di pimpin oleh anak Gadis dari Kyai Syahroni sendiri yaitu Intan !
Seorang anak gadis yang cantik manis akan tetapi mempunyai senyuman sinis dan tidak mengenakkan, terutama pada Tirta Jayakusuma !
Dan tampak nya kali ini dia juga mengajak anggota dari perguruan silat Kembang Joyo dari daerah Surabaya.
Anggota dari perguruan silat kembang Joyo sendiri terdiri dari beberapa gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda yang cukup keren karena mereka berasal dari daerah perkotaan di Kota Surabaya.
"Heh Tirta !" seru Topan , si pemuda berwajah garang yang selalu ada di samping Intan.
"Kemarin aku belum ngasih pelajaran sama kamu! sekarang disini tidak ada yang akan mampu menolongmu!" seru si Topan.
"Maaf mas, apakah salah kami!?" tanya Tirta,
"kami tidak merasa menyalahi kalian," kata Tirta lagi.
"Kalaupun tingkah laku kami ada yang menyinggung kalian, mohon maafkan kami," lanjut Tirta.
__ADS_1
Ya, Tirta memang tidak ingin bentrok dengan kawan sealiran. Dia tidak ingin menanam bibit permusuhan disini.
"Benar-benar nyali tikus !" seru Topan mengejek.
"Benar-benar tak punya nyali ! lanjut Topan keras.
Beginikah pemuda yang di unggul- unggulkan oleh Ki Suro?!" seru Topan lagi.
Dari tadi Bayu yang bersumbu sangat pendek sudah geram dengan kata-kata dari Topan ini. Ingin rasanya dia menghampar mulut pemuda berwajah garang itu!
Akan tetapi tiap kali dia akan bergerak, lengannya selalu di tahan oleh Tirta Jayakusuma.
Sedangkan Mahardika, walaupun juga panas kupingnya mendengar ejekan dari pemuda-pemudi penghadang nya ini akan tetapi Mardika sebenarnya bukanlah pemuda yang mudah marah, malahan dia bisa menahan dirinya.
"Dasar pengecut!" seru Intan yang sedari tadi hanya Diam.
"Aku kira benar- benar pemuda pilih tanding! ternyata hanya merpati jinak yang indah bulunya saja," tambah intan dengan mulut berbisanya itu.
"Cabut saja bulu-bulunya itu kang Topan, biar gak bisa terbang lagi !" seru Intan yang merasa bahwa Tirta sangat menghinanya.
Sebenarnya dia ingin membuat Tirta menjadi marah dan meladeninya dalam sebuah pertarungan sehingga dia dapat membuktikan pada para tetua bahwa dia lah yang paling hebat. Lagian dia tidak senang karena pemuda ini tidak memandang sebelah mata pun pada dirinya!
Intan adalah seorang gadis yang sangat berbakat dalam olah Kanuragan.
Sejak kecil dia sudah di bimbing langsung oleh Kyai Sahroni ayahnya!
Juga dia sempat mendapatkan didikan olah Kanuragan dari para tetua sahabat kyai Sahroni.
Sehingga ketika dia menginjak menjadi gadis dewasa, sudah tidak ada pemuda sebayanya yang mampu menandinginya! Ini membuatnya menjadi tinggi hati dan sombong.
Kemampuan Kanuragan yang hebat, di dukung wajah cantik, kulit mulus dan body aduhai, membuat banyak pemuda-pemuda di sekitarnya yang bertekuk lutut di hadapannya berharap bisa merebut hati Intan.
Mereka memuja-muji dirinya, ingin menyenangkan dirinya dan berusaha mengambil hatinya.
Akan tetapi Intan tidak menggubris mereka semua!
Baginya mereka adalah pemuda-pemuda yang di manfaatkannya saja!
Dan kini ketika dia bertemu dengan seorang pemuda seperti Tirta Jayakusuma yang tidak menganggapnya, bahkan cenderung tidak perduli padanya, hatinya menjadi sangat marah dan tersinggung berat.
Dia yang terbiasa mendapatkan semua sanjungan, pujian dan perhatian dari para pemuda di sekitarnya menjadi tersinggung pada Tirta Jayakusuma.
Rasa ego tinggi yang menyelimuti hati dan pikiran Intan yang merasa tidak diindahkan keberadaannya oleh pemuda culun ini membuatnya mata gelap!
__ADS_1