Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
kembali ke padepokan dan kembali ke Jakarta


__ADS_3

Mbah Hardjo, Eyang Pandu, kang Damar juga Delima sudah Menunggu sambil duduk di lincak depan ketika ketiga anak muda ini memasuki halaman padepokan.


Mereka segera memberikan salam!


Sesaat kemudian mereka sudah duduk melingkar di pendopo dengan beralaskan tikar pandan..


Eyang pandu dengan tidak sabar menanyakan pengalaman mereka dalam pengembaraan mereka kali ini..


Dan seperti biasa kali ini pun Bayu yang kebagian menceritakan pengalaman mereka, dalam pengembaraan kali ini..


Jika dirasa kurang Tirta dan Adnan yang segera menyelanya.


"Ngger, sebaiknya Annger bertiga segera kembali ke Jakarta, aku kawatir terjadi apa-apa dengan keluarga pak Michael, karena tampak nya lawan yang angger hadapi ini sebuah organisasi kejahatan yang sangat besar yang mampu berbuat apapun,," Mbah Hardjo memberikan sarannya.


"Iya Mbah, jawab Tirta,, sebenarnya kami juga berpikiran demikian, akan tetapi kami sudah cukup lama merantau , jadi kami kangen dengan suasana padepokan juga kami ingin bertemu dengan kawan-kawan kami disini" kata Tirta..


"Boleh- boleh saja kalian pulang Ngger, tapi dengan kepulangan kalian akan mengakibatkan keselamatan orang lain dalam bahaya kan malahan tidak baik, kalian harus menyelesaikan apa yang sudah kalian mulai, jangan berhenti di tengah jalan,," Mbah Hardjoikoro memberikan petuah nya pada tiga anak-anak muda di hadapannya ini..


"Sebaiknya kalian esok segera kembali ke Jakarta lagi, Mbah kawatir dengan keselamatan pak Michael itu.."


"Tapi Mbah, kami barusan sampai, masak harus kembali lagi?" Bayu yang protes kali ini..


"Nyawa lebih utama Ngger Bayu," kata Mbah Hardjo..


"Damar, kali ini dampingilah Angger bertiga ini, tampaknya lawan- lawan kali ini sangat tangguh dan perlu tenaga yang lebih untuk bisa menanggulanginya."


"Njih Bopo, saya akan ikut mendampingi mereka bertiga," Damar menyatakan kesediaannya.


"Hardjo, biarlah aku juga ikut mendampingi anak-anak muda ini, aku ingin melemaskan otot-otot tuaku ini,, Eyang pandu tampaknya juga ingin bergabung dalam menghadapi kejahatan kali ini .


Demikianlah dengan berat hati Tirta , Bayu dan Adnan harus kembali ke Jakarta besok pagi pagi pada penerbangan pukul 7 pagi .


Tirta segera mengabarkan perubahan rencana ini pada Iza


"Maaf kan aku Iza,, besok pagi-pagi sekali kami harus sudah terbang kembali je Jakarta, keadaan sangat mendesak karena menyangkut keselamatan seseorang" ketika pada malam hari dia sedang menghubungi Iza.

__ADS_1


Tampak Iza sangat kecewa sekali. Akan tetapi apa yang sudah diputuskan sang pemuda dia tidak berani membantah nya,, Dia hanya kecewa karena belum melepas kangen dengan leluasa banyak yang ingin diungkapkan dan disampaikan, eh sudah mau berpisah lagi ...


Demikianpun dengan Adnan yang memberitahukan pada Nani kalau besok pagi pagi mereka akan berangkat lagi ke Jakarta..


Nani juga tampak keberatan dan bersedih hati, hanya doa yang bisa di sertakan dalam langkah langkah Adnan.


Pagi-pagi sekali Tirta Bayu dan Adnan dengan di iringi kang Damar dan Eyang Pandu sudah berangkat dari Gunungpati menuju bandar udara Ahmad Yani.


Sesampai di Bandara Ahmad Yani Tirta dan Adnan di kejutkan dengan keberadaan Iza dan Nani yang menyongsong kedatangan mereka di pintu masuk bandara,.


Iza segera mendekati Tirta dan memeluknya dengan erat, mata indahnya memerah menahan air mata yang hampir menetes, berat rasanya, ketika baru ketemu, sekarang hendak berpisah lagi,,


"Pulanglah dalam keadaan selamat," bisik Iza di telinga Tirta.


"Jangan kamu duakan hatiku Ta," pesan Iza lembut pada pemuda pujaannya ini. Tirta mengangguk pelan dan mencium lembut pipi halus putih di hadapannya ini..


ketika sudah duduk dalam kursi pesawat Garuda yang mereka tumpangi, Eyang Pandu sempat berkata pada Tirta;


"Jadi , ini yang menyebabkan Angger Tirta dan Angger Adnan ingin segera pulang ke Semarang cepat-cepat yaa ," goda Eyang Pandu..


Hari masih pagi ketika pesawat Garuda yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara Sukarno Hatta.


Di lokasi penjemputan, Gendon anak buah bang Leo sudah menunggu mereka, karena Tirta sudah memberitahukan pada bang Leo kalau pagi ini mereka akan terbang kembali ke Jakarta.


mereka segera di bawa Gendon, menyusuri jalanan kota jakarta yang sangat padat dan macet pada pagi itu. perjalanan hampir dua jam melintasi hutan-hutan beton yang menghiasi sepanjang jalan antara bandara Sukarno Hatta menuju hotel Hilton di jalan Pegangsaan timur Jakarta pusat.


Tak henti hentinya Eyang Pandu memuji perkembangan ibukota Jakarta yang sangat pesat ini.


Setelah berjuang menembus macetnya jalanan kota Jakarta, akhirnya mereka Tiba di Hotel Hilton tempat keluarga pak Michael di ungsikan..


Nadine yang mengetahui kedatangan rombongan Tirta segera menyambut dengan pelukan hangat dan semyuman yang merekah di wajah cantiknya.. terpancar jelas kebahagiaan.


Kemudian mereka menuju ke ruangan kamar tempat pak Michael dan Istrinya berada, tampak pak Michael yang segera menyambut kedatangan mereka.


"Selamat bertemu kembali Mas Tirta, syukurlah kalian sudah kembali ke sini.

__ADS_1


Kami sangat kawatir kalau sepeninggal kalian akan ada penyerangan dari orang orangnya Mr Budiman.."


"Iya, pak Michael kami memang bekhawatir sekali akan keselamatan pak Michael," kata Tirta.


Dan kami kemari juga membawa kakek saya Eyang pandu dan kakak saya Kang Damar yang akan menambah kekuatan jika penyerangan berikutnya dari para penjahat itu berkekuatan lebih besar lagi."


Pak Michael segera mengulurkan tangannya menjabat tangan Eyang Pandu dan kang Damar dengan erat penuh rasa terimakasih..


Kali ini pak Michel tidak berani memandang sebelah mata lagi keberadaan eyang Pandu dan kang Damar.


Walaupun di lihatnya eyang Pandu kelihatan sudah tua sekali tapi wajah tua dan wibawanya masih sangat terasa.


Dan yang di perkenalkan sebagai kakaknya Tirta pun adalah seorang tengah baya yang terlihat masih kuat dan tidak nampak tanda-tanda ketuaannya. Walaupun berkulit agak kecoklatan, tapi terlihat kokoh dan bersemangat.


Pak Michael menjamu mereka dengan hangat dann ramah. Beberapa saat kemudian dia memerintahkan asistennya untuk membuka kamar satu lagi untuk ditempati eyang Pandu dan kang Damar.


Siang itu dengan tidak sabar eyang Pandu dan kang Damar dengan ditemani bang Leo yang beberapa saat saja sudah menjadi sangat akrab, berjalan- jalan di sekitar hotel Hilton ini.


Bang Leo sempat menceritakan bagaimana awal pertuannya dengan Tirta, hinnga akhirnya dia dengan sukarela mengikuti jejak Tirta..


"Begitulah eyang Pandu, kang Damar," Leo mengakhiri ceritanya.


"Sungguh nak Leo ini berhati besar," sahut eyang Pandu.


"Banyak orang yang tersesat jalan sampai saat akhir hidupnya masih saja tidak pernah mendapatkan kesadaran itu."


"Merugilah orang- orang seperti itu nak Leo," lanjut eyang Pandu.


"Mereka sudah terlanjur bergelimang kesenangan duniawi, mereka tidak sadar bahwa masih ada kehidupan setelah mati."


"Dalam kehidupan yang fana ini saja kita mengenal adanya karma. Sadar ataupun tidak suatu saat kita akan menuai apa yang telah kita tanam," eyang Pandu menasehati Leo panjang lebar.


"Contoh nya kalau kita menolong orang yang kesusahan dan membutuhkan bantuan, maka suatu saat kita juga akan menerima bantuan kalau kita sedang kesusahan.. dan contoh paling gampang adalah kalau kita mati ! siapakah yang akan menguburkan kita? kita sendiri ? jawabannya adalah tidak!" demikianlah eyang pandu memberikan nasehatnya pada Leo.


Leo hanya mengangguk dan membenarkan nasihat dari eyang Pandu yang terdengar sangat naif tapi memang benar adanya.

__ADS_1


__ADS_2