
Pria dengan tatto di seluruh badannya ini segera melakukan serangan pembukaan dengan tendangan tinggi ke arah kepala lawan yang segera di sambut dengan tangkisan dan pukulan tangan kanan dari orang Vietnam tersebut .
Keduanya segera terlibat pertarungan yang sangat seru.
Mereka terlihat saling jual beli pukulan dan tendangan dengan sengitnya.
Pada awal pertarungan tidak terlihat siapa yang lebih unggul, akan tetapi begitu menginjak setengah jam kemudian, tampak bahwa pria bertato ini mulai bisa menguasai keadaan.
Gaya bertarungnya yang liar dan brutal dan agak-agak mirip dengan gaya bertarung dari Leo.
Dan dalam satu kesempatan, pria bertato ini berhasil menyarangkan sebuah pukulan dahsyat ke wajah si orang Vietnam dan di ikuti sebuah tendangan samping yang menghajar pinggang si orang Vietnam.
Pria Vietnam ini langsung jatuh tersungkur dengan hidung yang berdarah-darah dan tidak sanggup lagi untuk berdiri, dan tampaknya tulang hidungnya telah patah.
Peter segera menunjuk pria bertato ini sebagai pemenangnya.
Selanjutnya Peter segera menunjuk dua orang lagi untuk maju ke arena pertandingan.
Orang pertama adalah pria bertubuh gempal, terlihat tangan yang besar dan terlihat kekar dan berotot sedangkan lawannya adalah pemuda yang cukup gagah dan ganteng dengan kulit agak putih dan bersih. Memakai iket (ikat kepala) di kepalanya.
Keduanya segera melompat ke arena pertarungan.
keduanya juga tampaknya tidak menginginkan untuk menggunakan senjata.
Laki- laki gempal ini adalah seorang preman di daerah Tanah Abang Jakarta, dia sangat terkenal sebagai penguasa Tanah Abang, dia sangat disegani di wilayah ini,, selain kuat ternyata dia juga kebal terhadap senjata tajam.
Keduanya berdiri berhadapan, dengan satu lompatan cepat pria gempal ini bergerak seperti kingkong saja, tangannya mengembang seperti ingin memeluk.
Lawan- lawan dari pria gempal ini sebelumnya juga takluk karena pelukan kuat dari si preman Tanah Abang ini.
Pelukannya sangatlah kuat, sehingga mampu meremukkan isi dada dari lawan-lawannya jika berhasil dipeluk olehnya.
Dan kali ini dengan gerakan yang sama dia meloncat memeluk si pemuda lawannya yang menggunakan iket.
Tampak pemuda yang mengenakan iket tersebut tidak berusaha menghindar, akan tetapi membiarkan tubuhnya di peluk erat oleh preman Tanah Abang ini .
Beberapa saat tampak si preman gempal dengan tubuh seperti kingkong berusaha untuk meremas dengan pelukannya !
Akan tetapi hingga beberapa saat si pemuda tampak membiarkan saja, seperti menikmati pelukan hangat di tubuhnya. Hingga timbul keisengan si pemuda dengan menggelitik ketiak dari pria gempal seperti kingkong yang sedang memeluknya.
__ADS_1
"Hi, hi, hi.. !" terdengar suara geli dari pria gempal tersebut..
"Sudah,,sudah hentikan ,, geli geli," seru si pria gempal seperti kingkong ini..
Si pria gempal ini segera melepaskan pelukannya , karena tidak tahan gelitikan.
Dia juga kaget karena pemuda lawannya tidak bisa diremas dengan pelukannya yang sangat kuat yang sudah berhasil menjatuhkan lawan- lawan sebelumnya.
Kali ini dia tidak bermaksud memeluk lagi, digunakannya tangannya untuk mengayun memukul seperti palu yang besar.
mengayun dari atas kebawah.
Ayunan deras mengancam kepala si pemuda yang memakai iket.
Semua penonton tampak ngeri menyaksikan hal ini.
Akan tetapi keajaiban dunia segera terjadi ! tangan besar tersebut tampak di tahan oleh si pemuda yang menggunakan iket dan dengan mudahnya. Kemudian dengan telapak tangan terbuka melakukan pukulan ke arah lambung dari pria gempal tersebut.
Dan,,,
"Buk,,!" tubuh besar seperti kingkong itu terjajar kebelakang tiga langkah dan jatuh berdebam di tanah berpasir dalam arena pertarungan.
Pria gempal seperti kingkong itu tampak tidak mampu untuk berdiri lagi.
"Pemenangnya adalah Mahardika !" seru Peter keras.
Ya, pemuda yang memakai iket ini bernama Mahardika, usianya tidak lebih dari dua puluh lima, bahkan tampaknya bisa lebih muda lagi.
Pertarungan terakhir atau kelima hanya tersisa dua orang, jadi tanpa di perintah lagi dua orang segera melompat kedalam arena pertandingan.
Orang pertama tampak menggunakan tongkat rotan, dia seperti nya seorang dari madura terlihat dari dialeknya yang khas Madura dengan kumis melintang dan sebenarnya dia bersenjatakan celurit, akan tetapi karena pelarangan menggunakan senjata tajam maka dia lebih memilih tongkat daripada parang dari kayu yang lebih seperti mainan anak-anak saja.
Dan lawannya adalah seorang yang berpakaian seperti orang dari perguruan silat, berwarna hitam-hitam. usianya sudah empat puluh tahunan lebih, akan tetapi terlihat masih kuat dan mempunyai tatapan mata yang tajam.
Tampaknya orang yang berpakaian hitam-hitam ini sangat percaya akan kemampuannya, sehingga dia tidak menggunakan senjata yang sudah di persiapkan oleh panitia.
Pertarungan antara keduanya segera terjadi.
Pria yang bersenjatakan tongkat mengayunkan tongkat seperti mengayunkan celurit saja, akan tetapi berhubung orang ini tampaknya menguasai tenaga batin , walaupun terlihat agak aneh akan tetapi membawa angin pukulan yang sangat kuat.
__ADS_1
Pria berpakaian hitam-hitam pun tampaknya juga tahu bahwa pria lawannya ini menguasai tenaga batin yang sangat kuat.
Pertarungan dengan landasan tenaga batin segera berlangsung dengan serunya.
Pasir segera berhamburan menyelimuti kedua petarung ini.
Badai pasir kecil terus berlangsung hingga membuat para penonton mundur beberapa langkah ke belakang.
Ketika dua- duanya sudah mencapai puncak ilmunya masing-masing , maka benturan-benturan tenaga mengeluarkan suara yang cukup keras dan tampak keduanya terlontar keluar dari lingkaran pertarungan.
Tampak kedua duanya tidak bisa segera berdiri.
Peter dan para penonton tampak menunggu siapa yang bisa bangkit lebih dahulu.
Dan ternyata pria dengan pakaian hitam-hitam lah yang bisa bangkit terlebih dahulu, walaupun masih dalam keadaan terhuyung huyung.
Peter segera menunjuk pria berpakaian hitam-hitam tersebut sebagai pemenangnya.
"Hari sudah sore, pertandingan selanjutnya akan dilaksanakan besok." Seru Peter.
Hal ini untuk memberikan pemulihan bagi para petarung yang mengalami cedera maupun kelelahan.
***
Sementara itu di Semarang.
Tirta hari ini masih mengantarkan pak Michael melihat rumah yang di ceritakan oleh Tirta.
Rumah tersebut cukup besar dengan halaman yang luas dengan berbagai tanaman buah-buahan seperti lengkeng rambutan juga durian.
Setelah melihat rumah tersebut tampaknya pak Michael langsung merasa cocok, apalagi lokasinya yang berada di dekat padepokan tempat Tirta dan kawan-kawannya.
Tanpa tawar- menawar yang terlalu rumit pak Michael langsung menyetujuinya begitu saja! maklum orang kaya raya, tajir melintir.
Dan Tirta, Bayu serta Adnan mendapatkan bagian sebagai perantara yang lumayan besar .
Rumah tersebut memang tidak di huni sehingga rencananya besok hari minggu akan langsung di bersihkan dan di cat ulang agar secepatnya bisa untuk tempat tinggal keluarga pak Michael.
Setelah melakukan transaksi secara cepat , pak Michael segera mengajak Tirta untuk menengok padepokan yang jaraknya memang tidak jauh dari rumah yang di beli oleh pak Michael.
__ADS_1