
Sementara Tirta jaya Kusuma sedang berkumpul dengan segenap penghuni padepokan di pendopo.
Dari info mata-mata atau Telik sandi yang di pasang bang Leo untuk mengawasi tiap gerakan dari cakar iblis di kota Jakarta dan sekitarnya. Bahwa cengkeraman cakar iblis ini sangat pesat menyebar ke segenap dunia mafia..
Pemain besar dan kecil di kuasai nya! bahkan merambat pada sendi-sendi yang lebih berbahaya lagi, yaitu menggunakan tangan tangan para pengusaha untuk ikut masuk dalam sistem pemerintahan.. inilah yang paling berbahaya.
Mereka masuk dalam mafia pertanahan, mafia perdagangan legal maupun ilegal. Mereka ikut dalam menentukan dan bermain dalam perdagangan bahan pokok..
Mendengar laporan dari anak buahnya ini, Leo segera menceritakan pada segenap penghuni padepokan pada malam itu.
"Tampaknya organisasi ini sangat lah berbahaya,," kata Mbah Hardjo.
"Sebenarnya Mbah kurang begitu paham akan gerakan gerakan seperti ini, akan tetapi mendengar cerita Leo seperti nya akan sangat berbahaya bagi Indonesia dan negara ini!" lanjut Mbah Hardjo.
"Iya Mbah, memang kondisi ini berbahaya bagi pemerintah Mbah, dan sudah kewajiban kita untuk ikut memberantas organisasi jahat seperti ini.."
"Negara ini tidak boleh jatuh dalam cengkeraman mafia seperti ini," kali ini Tirta yang memberikan tanggapannya.
Ketika sedang asyik asyiknya berbincang-bincang, tiba- tiba saja ponsel Tirta jaya Kusuma berdering,, di layar tertera nama Nadine!
Tirta tampak kaget juga menerima Video Call dari Nadine ini. Dia segera beranjak dari duduk nya dan minta ijin pada segenap yang hadir untuk keluar pendopo dan menerima video call dari Nadine di luar pendopo.
"Tirta sayaaang,!!?" terdengar suara merdu dan renyah dari seberang!
"Aku kangen,,,,,!" Rajuk Nadine dengan suara manjanya..
"Kapan kamu kesini Tirtaaa,?!" kata Nadine..
"Aku sekarang sibuk mendampingi papa menjalankan bisnis Ta,,!" lanjut Nadine.
"Aku aku pengin ke Semarang...pengin ketemu kamu!...
Tapi kerjaan gak habis habis... Usaha papa sekarang malah maju pesat,, rencananya ini mau ekspansi ke Luar negeri,,!"
Kemudian Nadine bercerita panjang lebar tentang kegiatannya dalam mendampingi papanya mengurus perusahaan, juga tentang kerinduannya pada sang pemuda..
Dan di akhir ceritanya dia menceritakan tentang adanya orang-orang yang sekarang mulai mengganggu usahanya.. Seperti yang dulu di lakukan oleh kelompok Mr Budiman.
Tirta terkejut dengan cerita Nadine tentang orang atau pihak-pihak yang mulai menggangu usaha pak Michael ini, dia segera menghubungkan cerita Nadine dengan hasil penyelidikan yang di lakukan oleh anak buah bang Leo di Jakarta akan perkembangan organisasi jahat Cakar Iblis.
__ADS_1
"Nadine, tahukah kamu siapa orang-orang yang mulai mengganggu usaha papamu itu ?" tanya Tirta..
"Tidak tau Ta, yang ngurusin papa.. tapi memang papa juga yang memintaku menghubungi kamu,,,!" jawab Naidine.
"Kata papa tampak nya di Jakarta ini akan ada prahara besar... katanya orang- orang ini hanyalah pion kecil saja dan di belakang ada satu organisasi yang sangat kuat yang membekingi orang-orang ini." lanjut Nadine.
"Dan kata papa, tampaknya organisasi ini lebih besar dan lebih berbahaya dari kelompok Mr Budiman." terang Nadine!
"Papa dan aku berharap kamu bisa datang kemari, secepatnya Ya!" kata Nadine,,
"Jakarta semakin berbahaya dan gawat!"
"Iya, iya Nadine,! secepatnya kami akan ke Jakarta,"Jawab Tirta Jaya Kusuma.
Begitulah setelah bercakap-cakap dengan Nadine cukup lama Tirta kemudian kembali ke pendopo padepokan dan bergabung dengan segenap penghuni yang hadir yang tampak sangat serius membicarakan tentang Cakar Iblis ini.
Tirta segera menceritakan info dari Nadine ini kepada segenap yang hadir di pendopo padepokan..
"Tampaknya masalah ini berkembang menjadi sangat serius," eyang pandu ikut menanggapi tentang pergerakan dari kelompok cakar iblis ini.
"Benar eyang," kata Adan.
"Kalau kita hanya berpangku tangan tanpa ikut serta menghadang maka percuma kita mempelajari oleh Kanuragan!
jika kita membiarkan saja keangkara murkaan meraja lela," kata Mbah Hardjo.
"Kita harus melakukan sesuatu,!" kata Mbah Hardjo..
"Apa tidak sebaiknya info ini kita sampai kan ke pihak berwajib saja?" kata Bayu.
"Kalau sekadar info saja tanpa bukti yang kuat agaknya agak sulit untuk menggerakkan pihak berwenang.. kalau sudah ada korban, atau laporan dari masyarakat pihak berwenang baru bisa bergerak!" Kata bang Leo yang mengerti tentang seluk beluk nya.
"Untuk menghadapi kejahatan yang semakin lama semakin tinggi saja di ibu kota pihak berwenang sudah sangat kewalahan apalagi di tambah kemunculan organisasi cakar iblis ini..!
Sedangkan gerakan organisasi cakar iblis ini cukup rahasia dan berhati hati," lanjut bang Leo..
"Mungkin aku bisa minta tolong pada pak Fajrul, beliau punya koneksi dengan beberapa pejabat pemerintah , mungkin dengan pak Fajrul yang berbicara hasilnya mungkin akan berbeda," usul Tirta..
"Benar , saya kira Tirta bisa mencoba berbicara dengan pak Fajrul." kata bang Leo.
__ADS_1
"Tapi sebaiknya kita juga mulai menyusun kekuatan untuk menghadapi organisasi ini," kata bang Leo.
"Mungkin kita bisa berkoordinasi dengan Mahardhika, agar dia mempersiapkan diri dan kalau bisa mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk membantu menghadapi organisasi cakar Iblis ini,!" usul Adnan.
"Karena anggota persatuan padepokan silat yang di pimpin oleh Mahardhika cukup besar dengan anggota yang sangat banyak," lanjut Adnan lagi.
Ketika hari semakin larut malam, segenap penghuni bersiap untuk melakukan latihan di puncak Ungaran!
Johan dan juga Regas, beserta anak buahnya kali ini di ajak ikut serta ke puncak gunung Ungaran !
Ini demi untuk menambah kekuatan padepokan nya Mbah Hardjo dalam persiapan nya menghadapi kelompok Cakar iblis.
Leo berencana membentuk pasukan khusus dengan anggota orang-orang ini . Leo akan mendidik nya seperti dia mendidik anak anak buah dahulu!
Kalau dahulu dia mendidik untuk di jadikan pembunuh-pembunuh bayaran yang handal dan efektif, sekarang dia mendidik untuk di jadikan pasukan khusus pembela kebenaran dan keadilan dari padepokan ini yang tangguh tanggon dan berkepribadian baik!.
Dibawah pendidikan dan gemblengan dari Leo, orang orang ini selanjutnya akan menjelma menjadi sebuah pasukan khusus yang bisa di andalkan dalam memberantas kejahatan.
***
Sementara itu, Tirta Jaya Kusuma dan Irman pada malam itu tidak ikut berlatih bersama di puncak Ungaran.
Mbah Hardjo menyampaikan bahwasannya leluhurnya , yaitu Eyang Wasis Jayakusuma atau Adipati Pragola ingin menemui mereka berdua.
***
Untuk di ketahui, Adipati Pragola ini masih anak keturunan dari Ki Penjawi yang bersama- sama dengan Ki Ageng pemanahan mendapat tugas menumpas pemberontakan Aryo Penangsang..
Setelah berhasil membunuh Aryo Penangsang melalui tangan Danang Sutawijaya (putera Ki gede/Ageng pemanahan) yang selanjutnya menjadi pendiri kerajaan Mataram Islam bergelar panembahan Senopati.
Selanjutnya Ki Penjawi mendapatkan hadiah tanah di Pati, sedangkan Ki Ageng Pemanahan mendapatkan tanah di alas/hutan mentaok yang sekarang adalah Yogyakarta.
Dalam perkembangan selanjutnya terjadi intrik politik sehingga Adipati Pragola di anggap memberontak pada kekuasaan Mataram.
Padahal permaisuri dari panembahan senopati yaitu Ratu Mas adalah kakak dari Adipati Pragola atau Wasis Jayakusuma.
Panembahan Senopati kemudian mengirimkan putranya yang bernama Mas Jolang yang merupakan putra dari Ratu Mas, untuk menghadapi Wasis jayakusuma..Hal ini memang di sengaja oleh panembahan Senopati agar supaya Wasis jayakusuma mundur dari perlawanannya melawan Mataram.
Dan benar saja, Wasis jayakusuma menolak melawan keponakannya sendiri,,
__ADS_1
Dia sempat menegur sang keponakan dengan sengaja memukul pelipis / batuk dari sang keponakan dengan gagang tombak!.. dia hanya memberi sedikit pelajaran pada sang keponakan bahwa Medan perang bukanlah ajang bermain.