
Satu jam sudah Amir membiarkan handphonenya untuk di charge sementara ia kembali berusaha menambah hafalannya lagi.
" Sedikit lagi, sisa 5 juz yang harus aku hafalkan tapi sayangnya kamu tidak akan pernah jadi milikku, Aiswa. "
Ingatan nya kembali pada masa dimana gadis itu berhasil menghafal 100 nadzom berkat bantuannya. Sebelum Aiswa pamit masuk ke dalam rumah, dia pernah meminta Amir menjabarkan satu ayat. Ali Imran, 14.
" Kamu ingat Aiswa, ketika kamu memintaku menjelaskan makna satu ayat, aku bilang bahwa :
Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, (yakni segala yang disenangi serta diingini nafsu sebagai cobaan dari Allah atau tipu daya dari setan (wanita, anak-anak serta harta yang banyak).
Dan kamu menanggapi dengan, " kayak laki-laki dan perempuan ya ka? cinta kepada yang diingini, apakah itu sebagai nikmat atau tipu daya setan akibat nafsu? "
Degh.
Amir mengingat kala itu Aiswa memandang nya lama, menampilkan senyuman manis di bibir yang kabarnya tak pernah ia tampakkan pada selain mahramnya, yang membuat Amir mengingat jelas betapa indah paras gadis itu saat tersenyum.
" Subhanallah, apakah itu artinya kamu juga memiliki rasa yang sama untukku?. " Amir bermonolog dengan pikirannya sendiri.
" Aiswa... Sayang... Bolehkan aku menyebutmu begitu, selama kamu belum sah menjadi istri sahabatku. Kamu sudah memberikan isyarat namun aku yang bodoh tak menyadarinya. "
Tiada guna lagi sesal, yang ada hanyalah perasaan makin sesak. Amir berusaha mengalihkan pikirannya dari Aiswa dan mengira itu hanyalah godaan syetan yang terkutuk.
Matanya beralih pada dipan atas tempat tidur. Ponselnya telah penuh terisi daya karena lampu indikator sebagai tanda batre full telah padam. Amir mencabut kabel charger, lalu menyalakan ponselnya.
Kriiing. Kriiing. Ponselnya kembali berbunyi beberapa detik setelah sempurna menyala. Dan lagi-lagi nampak nomer tanpa identitas dilayar.
" Halo assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam, ana Almahyra, terpaksa menelpon ka Amir sedari tadi karena ponsel Mba Qonita off dan Ustad Abyan pun tidak merespon.. Tolong sampaikan pada Mba, ana mengirim pesan penting.. Agar beliau segera menjawabnya.. Syukron ka. " Tuturnya panjang.
" Ya khayr... Ana aqwl, huna akhtar? " (baik, aku sampaikan. Ada lagi?)
" Hadza yakf, syukron. " (Kurasa cukup, terimakasih).
" Afwan Alma. "
" Hmm Ka, aku boleh minta tolong bantu cek draft naskah aku untuk presentasi? Tazkiya terkenal dengan para alumninya yang cakap berbicara berbagai bahasa asing, mau yaa, aku kirimkan file nya. "
" Salah alamat Alma, aku bukan mendalami bahasa. Aku ambil ekonomi syariah hingga lulus kuliah disana.. Jika ingin sharing boleh aja tapi jangan menaruh ekspektasi lebih padaku yaa. Hmm, aku tak pernah bilang alumni Tazkiya, kamu mencari tahu tentang ku, Alma? " goda Amir kemudian.
" Hmmm, itu...Itu, Mba Qonita pernah cerita adik iparnya alumni sana.... Afwan, Email ka Amir? " Alma salah tingkah, ia kelepasan dan berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak terlalu kentara bahwa ia tengah malu.
Pembicaraan mereka ditelepon berlangsung beberapa menit lamanya hingga Amir terusik dengan suara nada tunggu saat panggilan masih berlangsung.
" Afwan Alma, ada panggilan masuk. Kirim saja draft nya by email, nanti akan aku baca yaa, syukron. "
Setelah panggilan Alma terputus. Amir langsung menjawab telepon masuk dari nomer asing yang berbeda.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam. "
__ADS_1
" Afwan, dengan siapa aku bicara? "
" Hmmm... Ka.... "
" Ya? "
" Ais-wa Fajri. "
Degh. Degh. Degh. Amir tertegun sesaat, ia menjauhkan ponselnya dari telinga guna memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Matanya pun langsung melebar, menatap nomor ponsel dilayar seakan tak percaya, bahwa gadis pujaannya justru menghubunginya lebih dulu.
" Halo, Ka, masih dengar aku? Ka Amir? hiks... please jawab Aish, ka.... "
" Aiswa, betulkah ini Aiswa? "
" Na'am, Aku... Ka Amir dimana? aku perlu bicara. " Tanyanya terdengar suara sisa isakan.
" Kenapa Aish? bukannya Aish tidak boleh pergi? kan mau jadi.... " suara Amir tercekat, tak mampu melanjutkan kata-kata yang tersangkut di pangkal tenggorokannya.
" Ka Amir dimana? Aish ingin bertemu, tolonglah, " pintanya memohon.
" Semarang, Al Multazam kediaman ka Abyan. "
" Jauh yaa dari Jakarta. "
" Ada apa? Aish mau cerita? Aku akan dengerin. "
" Aku.... Aku.... "
Aiswa, makan dulu nak, nanti kamu sakit. Suara sang ibu terdengar oleh Amir di seberang sana.
" Tentu.... (Sayang). "
Tuut.Tuut. Panggilan diputus begitu saja oleh Aiswa.
Amir kembali memandangi layar ponsel sembari tangan kirinya memegang dadanya yang terasa berdetak lebih kencang bagai genderang mau perang, persis lirik lagu band Dewa yang fenomenal.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas menyimpan nomer Aiswa dengan nama Rohi, berasal dari kata Rukh (Belahan jiwa).
Amir kemudian membuka pesan yang belum sempat ia buka. Hatinya rasa tak nyaman, usahanya beberapa hari ini untuk belajar mengikhlaskan Aiswa rasanya luntur begitu saja setelah mendengar suara lembut yang terngiang.
Salahkah aku bila masih mendambanya ya Robb, sebelum ia halal bagi orang lain.
***
Jakarta.
Aiswa telah mendapatkan kabar bahwa pekan depan, Hasbi dan keluarganya akan berkunjung ke kediaman mereka.
Tak Aiswa pungkiri, calon suaminya tak kalah tampan dan mapan dari Amir. Hanya saja, kelembutan dan kesabaran Amir telah menghipnotisnya sejak dahulu.
Hasbi pun ada bersama mereka saat itu, namun dia lebih memilih berkutat dengan kesukaannya memberi makan burung merpati yang dipelihara oleh kakaknya ketimbang membantu Aiswa yang tengah menangis putus asa disana.
__ADS_1
Sebagai usaha akhir menolak pertemuan itu, Aiswa melancarkan aksi mogok makan, mogok bicara dan mengurung diri dikamar sepanjang hari.
Tok. Tok. Tok. Suara pintu kamar kembali diketuk.
" Aish, makan sayang. Nanti kamu sakit, jangan begini Nak. Umma ga sanggup lihat Aish sakit. " Bujuk ibunda dari sebalik pintu.
" Maka biarkan Aish pergi, Umma. Hanya untuk mendapatkan jawaban dari Dia apakah bersedia berjuang denganku. " Ucapnya memohon pada ibundanya.
" Aish, tak elok sayang. Ingat siapa kita, Nak. "
" Umma bilang, aku punya pendapat bukan? Buya bilang akan memberi ku waktu bukan? aku tak suka dengan acara itu meski pertemuan biasa.. Aku menolak.. Sudah sedari awal, aku katakan bahwa Buya tak mungkin mendengarku tapi Umma bahkan tak percaya padaku...!! " Teriaknya keras dari dalam kamar.
" Aish... Dek... Hasbi itu lelaki baik, kamu sudah mengenalnya bukan?. " Suara Ahmad sang kakak ikut membujuk.
" Pergi........!!! "
Braaakkkk. Suara benturan benda ke arah pintu akibat Aiswa melempar terompah kayu khusus untuk dia berwudhu.
Aiswa kembali terisak, kali ini ia sudah diambang batas sabar atas segala usaha penolakannya.
Ia mengambil beberapa helai gamis, baju panjang, hijab ungu pemberian seseorang entah siapa, laptop dan perlengkapan lainnya lalu menatanya kedalam sebuah tas ransel. Tak lupa, Aiswa membuka semua tabungan sebagai bekal diperjalanan nanti.
" Maaf... Aiswa kalian bukan lagi gadis baik. Aku sudah muak dengan aturan Buya. " Ia menangis tersedu.
Tubuhnya jatuh terduduk dilantai, lututnya ia tekuk hingga dada, kedua tangannya memeluk kakinya sebagai sandaran bagi kepalanya untuk terbenam disana, menangisi nasib yang dalam pemikiran gadis seusianya adalah lambang ketidakadilan.
Tak ingin membuat ibunya khawatir, Aiswa mencoba menuliskan sebuah surat.
Umma, mungkin dimata kalian aku adalah anak yang tak tahu diuntung. Aku tidak bisa meminta akan dilahirkan dari rahim siapa, dalam pengasuhan keluarga mana.
Bukan aku tak bersyukur, tapi aku hanyalah menginginkan keberadaan ku bisa seperti gadis lainnya.
Yang bebas punya mimpi sendiri.
Yang punya dunianya sendiri.
Bahkan, dapat memilih pada siapa hati akan berlabuh.
Maafkan Aish, tidak menjadi anak gadis kebanggan Kyai Hariri Salim sang pemilik Tazkiya yang mashur.
Jaga diri umma baik-baik, jangan mencariku. Aku sanggup melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam pikiran kalian bila aku terus menerus dipaksa.
Aiswa menyeka air mata nya, menyisir surai panjangnya yang basah akibat keringat bercampur airmata. Lalu bergegas mandi sebelum ia akan meminta bantuan pada kawannya saat tengah malam nanti.
Semoga berhasil..
.
.
..._______________________________...
__ADS_1
..." Ya Allah, sesungguhnya saya memohon cintaMu dan cintanya orang yang mencintaiMu serta kecintaan pada suatu amalan yang dapat mendekatkanku untuk senantiasa MencintaiMu . "...
...Hadis riwayat At- tirmidzi...