
Setelah dokter memberinya catatan tentang apa yang harus dia cari. Hasbi menunggu istrinya selesai pumping asi. Namun saat baru saja serli keluar dari toilet, suaminya menariknya masuk kembali.
"Mas kenapa? ga enak, ada Buya loh," tanya Serli heran atas kelakuan suaminya.
"Coba baca ini sayang," Hasbi menyodorkan selembar kertas berisi tulisan indah dokter anaknya.
"Dari dokter? sebanyak ini? cari dimana? disini ga ada Mas?" Imbuhnya memberikan pertanyaan beruntun.
"Ya iya dari dokter sayang, masa aku sih? tulisannya kan khas dokter begitu ... Aku akan coba konfirmasi ke sana dulu ya, sembari menunggu diagnosa turun ... masih ada waktu tiga jam lagi," ujar Hasbi meminta persetujuan istrinya
"Nyari sendiri Mas? ga minta tolong sama Billy saja atau Rony gitu?" pinta Serli enggan ditinggal suaminya, memilih meminta tolong pada dua asisten pribadi Hasbi.
"Ga bisa, harus aku ... Aku ga mau Reezi ditangani mereka," tekadnya yakin.
"Ya sudah ... hati-hati ya Mas, selalu berkabar," ucap Serli mencium tangan suaminya.
"Sayang ... berdoa ya, agar aku bisa menemukan obatnya juga lainnya."
"Aamiin."
Keduanya lalu keluar dari toilet, disambut Yai Maksum yang menanyakan tentang perintah dokter tadi. Hasbi menenangkan ayahnya dengan mengatakan akan menebus resep obat untuk cucunya itu.
Yai maksum tak sabar, hatinya sangat gelisah sehingga pada akhirnya ia menelpon sahabat lamanya. Kaji ahmad, yang tak lain Abah Amir.
"Assalamualaikum Ji, sibuk ga? ... afwan Ana repotin Antum terus ini, bingung mau cerita dengan siapa... antum paling bisa menenangkan hati Ana jika sedang gelisah begini," ungkap Yai menjelaskan kondisi hatinya.
"Wa'alaikumussalaam, mboten Yai ... pripun? sudah keluar hasil labnya? Ana sudah sampaikan pada amir jika cucu Yai diopname ... mereka nanti mau jenguk adek bayi," imbuhnya bahwa Abah telah menyampaikan amanah yang beliau minta.
"Syukron Ji, Ana malu sebenernya sama keluarga Antum terlebih Amir, rasanya gimana gitu Ji," sesalnya kembali hadir mengingat perlakuan Hasbi pada kedua anaknya, Naya dan Amir.
"Sampun, lupakan saja ... sudah berlalu ... Yai Afwan ya tidak memberitahukan tentang pernikahan kedua Amir dengan Aiswa, rasanya ko Ana gimana gitu yaa ... Yai Hariri itu guru putra kita juga besan Antum, lah sekarang jadi besan Ana," Abah tertawa dibarengi Kyai Maksum mengingat berapa rumit hubungan para orang tua.
"Kita jadi besanan bertiga ya Ji ... ga apa-apa yang penting bahagia semuanya toh Hasbi juga salah berani-beraninya dia menjadikan Aiswa itu istri keduanya."
Abah diam, terkejut namun mengalihkan pembicaraan.
"Jadi gimana kondisi terkini cucu Yai? siapa namanya, Rizi yaa?"
"Habrizi, dipanggil Reezi ... masih gantung Ji, hasilnya dibacakan ba'da maghrib nanti ... sekarang Hasbi lagi mencari obat buat anaknya ... Ana hanya berdua disini dengan istrinya," jelasnya kemudian.
"Semoga ga ada apa-apa dengan adek Reezi, sehat kembali, paripurna aamiin...."
__ADS_1
"Aamiin, minta doa ya Ji, jika majlis antum berjalan kembali," sambung Yai Maksum meminta untaian doa dari Abah.
"In sya Allah, majlis di Cirebon masih jalan ... yang mengisi dzikir, mang sapri sementara Amir belum kembali ... nanti Ana sampaikan."
"Jazakallah, Ji."
"Wa jazakallah kheir, Yai afwan... ini mau siapkan vitamin kakek Ana dulu ya, beliau Sepuh tapi masih ngabdi jadi Ana siaga...."
Setelah percakapan kedua pria satu zaman itu berakhir. Abah termenung.
Dirinya pun merasa janggal saat di beritahu Kyai Maksum mengenai cucunya yang diopname, bukankah saat menikah dengan Aiswa, Hasbi tidak punya putra namun kenapa Yai Maksum mengabarkan beliau mempunyai cucu dari Hasbi. Ingin bertanya, rasanya enggan.
Namun sebuah fakta di ungkapnya sendiri, ternyata Aiswa adalah istri kedua Hasbi. Abah tak mengira bila sikap anak itu berbeda sekali dengan ayah dan kedua kakaknya.
Mir, kamu pasti baru tahu juga kan? Moga Aiswa belum disentuh Hasbi ya Mir, rezeki bertubi.
Abah terkekeh, bahagia dengan lamunannya.
...***...
Malam menjelang, RSPP Jakarta.
Hasbi datang tanpa hasil maksimal, dia bahkan meminta kedua asprinya membantu mencari list obat yang sulit ditemukan karena pasokan distribusinya terhambat dari produsen.
Dari hasil kedua test lab Habrizi sementara ini tidak menunjukkan gejala yang membahayakan, namun bayi itu kini mengalami anemia.
"Ko bisa Dok?" Tanya Hasbi.
"Penyebab anemia ini karena tubuh bayi berkembang pesat, sedangkan produksi sel darah merah perlu waktu untuk mengimbanginya. Anemia pada bayi, dapat disebabkan oleh infeksi atau kelainan genetik bawaan, ini disebut sebagai anemia fisiologis, Tuan Hasbi."
"Apakah pasien lahir prematur?" Tanya Dokter lagi.
"Iya Dokter, usia delapan bulan dengan berat 2.2 kilogram, karena saya pendarahan akibat terjatuh ... sempat diopname di Singapura selama dua minggu di awal kelahirannya sebab bilirubin meningkat," ujar Serli.
"Solusinya gimana Dokter? apakah berbahaya?" Hasbi cemas.
"Kami akan memberikan transfusi darah sebanyak 25-50cc sebab HB pasien hanya 9.5 ... Anda harus mencari 100cc stock darah AB baru untuk jaga-jaga bila HB nya belum naik ... sayangnya semua ketersediaan darah dengan yang dibutuhkan Reezi saat ini kosong bahkan di PMI pusat jadi harus mencari donor pribadi atau keluarga," terang Dokter menjelaskan detail.
Degh.
"Baik, Ayahku bergolongan darah sama, bisakah beliau menjalani test kelayakan dokter?"
__ADS_1
"Kita coba ya Tuan, silakan tanda tangani tindakan medis terlebih dahulu...." suster menyerahkan lembaran yang harus Hasbi isi dan tanda tangani.
"Karena pasien masih dibawah enam bulan, maka Ibu harus banyak mengkonsumsi makanan yang sehat dan kaya akan zat besi, seperti apricot, kacang-kacangan, telur, hati, oatmeal, bayam, dan kangkung serta suplemen agar asi-nya berkualitas." Pungkas dokter yang diangguki pasangan muda ini.
Setelah semua siap, suster pun mengambil peralatan yang dibutuhkan. Kemudian mereka berdua dipersilakan kembali ke kamar perawatan.
Malam ini setidaknya mereka lega, ada Buya yang siap menjadi pendonor darah bagi cucunya.
"Bi, gimana?" tanya Yai Maksum saat melihat anak dan menantunya telah kembali dari konsultasi pembacaan hasil.
Hasbi menceritakan pada sang ayah kondisi Reezi dan sesuai harapan, Yai Maksum bersedia.
...***...
Amir tiba kembali di Tazkiya hampir pukul sebelas malam. Istrinya sangat antusias saat di Arza hingga ba'da maghrib mereka baru kembali ke Jakarta menyambangi beberapa butik Queeny.
Rasanya tak tega membangunkan bidadari yang pulas tertidur di lengan kirinya. Dia pun memutuskan untuk membopong Aiswa masuk ke dalam rumah perlahan.
"Yassalam, Aish ... manjanya, bangunkan Mir ... berat," ujar Umma yang masih terjaga, tengah memegang sebuah kitab di ruang tamu saat dirinya masuk.
Umma bergegas bangkit mendahului menantunya untuk membukakan pintu kamar mereka.
"Biarin Umma, kasian lelah tadi siang nemenin main santri cilik di Arza," lirihnya menjawab takut Aiswa bangun.
"Berkah ya Nak, sudah makan dan isya belum Mir?"
"Aamiin ... sampun Umma, eh, sudah, tadi dekat butik di Menteng," ujarnya seraya melepas sepatu, kaus kaki juga peniti hijabnya yang menempel di dagu Aiswa, merapikan posisi tidurnya agar nyaman.
"Kamu bikin iri semua wanita, termasuk Umma ... istirahat Mir ... besok jadi pulang ke Jawa?"
"Belum Umma, mau nengok anaknya Hasbi dulu kan diopname."
"Innalillahi ... Aish mau?"
"Justru Aish yang minta sama aku agar membesuk mereka," jawab Amir.
"Itu karena...."
.
.
__ADS_1
...____________________...
...Mommy juga iri sama Aiswa ðŸ¤.. maaf lama Up guys, signal eror dan mommy baru berhasil nulis setelah ngurusin kerjaan mommy yang lainnya.....