DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 110. DA3A


__ADS_3

Indonesia.


Amir sedang bersiap dikamar packing beberapa perlengkapan karena akan menyusul buyutnya ke Singapura.


Hanya dia yang tidak punya tanggungan berarti saat ini. Adik iparnya sedang dinas sedangkan Naya punya Maira tidak memungkinkan untuk menjaga pasien disana. Dia mengalah, kembali mengerjakan semua bisnisnya dari online.


Memantau progress perkembangan kurikulum sekolah yang dia rintis sejak lulus dari Tazkiya Universitas.


"Kak, bawa ini, obat-obatan yang biasa kakak pakai. Ka Abyan nyusul meski ga bisa lama karena Mba Qonita sakit," ucap Naya menyerahkan satu bundel obat-obatan untuknya.


"Abah di Solo atau balik sini, Nduk? kamu sendirian loh, Mega kan ga ikut," cemasnya karena jika malam terkadang Maira masih suka rewel, dia kasihan melihat adik bungsunya itu kerap begadang hanya untuk menyusui Maira.


"Abah balik sini dulu katanya, nemenin aku, gih pergi ... besok uyut terbang, sekarang otw ke Jakarta."


"Ok, aku berangkat siang nanti ke Jakarta langsung lanjut ke Bandara ... rumah sakit mana? dokter siapa? tanyakan pada suamimu Nduk, aku ga bisa buka handphone lama nanti jika sudah jalan," sambungnya seraya menurunkan koper dari atas ranjang.


"Singapore Internasional Hospital, SIH, dokter Rayyan Ar-rasyid, specialis syaraf, orang Bandung aslinya ... hotel kakak, Merlion Hotel dekat dengan RS nya, kata Abang sudah direservasi dengan double bed deluxe room ... coba nanti cek e-mail kak, untuk konfirmasi ke pihak hotel," sambungnya sembari menggendong Maira.


"Kalau Mas Panji yang ngatur pasti tinggal masuk, thanks ya Nduk ... Aku berangkat sekarang, biar ga mepet karena pake ojol ... dadah Maira, Uwa jalan-jalan dulu," ciumnya gemas dipipi yang semakin bulat bagai tomat.


"Gemesin banget sih kamu ... Nduk, hati-hati, jangan lupa makan biar asi kamu banyak, aku minta mba sri tidur dikamar kamu kalau malam ya," masih saja khawatir dengan Naya.


"Udah sana, semoga ketemu jodoh ya Kak," celetuk Naya.


"Ck, belum juga seratus hari Nduk ... Assalamu'alaikum."


Siang ini Amir akan terbang ke Singapura menemani pengobatan sang buyut bersama Kusno kalani, aspri Danarhadi.


***


London.


Rey yang tidak ikut meeting dengan para orang penting yang hadir di konsulat London atas undangan Kedubes, menyingkir ke guest room yang telah disediakan disana.


Jemarinya lincah menari diatss keyboard laptopnya menyusuri pemilik jam tangan itu. Jika bukan karena koleksi yang sama serta gestur yang sedikit mirip dengan Aiswa, dia juga ogah melakukan hal seperti ini.


Berulang kali, Rey melakukan zoom terhadap tangkapan layar saat Aiswa terjatuh di Bandara.


"Mirip sih, tapi yang ini lebih berisi dan terlihat lebih tinggi juga ... sangat stylish dan wanita disisinya, seperti pernah melihat, siapa ya? dimana?" gumamnya memandang foto Mama.


Ting. Notifikasi berita online.


"Ck, aku lupa mematikan fitur ini," tangannya beralih mengambil handphone disamping laptopnya untuk menghapus notifikasi dari aplikasi berita online.

__ADS_1


"Hermana Arya, penguasa perusahaan medis serta rumah sakit elite di negeri ini, dikabarkan akan kembali rujuk dengan sang istri yang telah terpisah sejak tujuhbelas tahun terakhir, cinta belum usai ujarnya." Rey membaca tajuk berita yang muncul.


"Istri Hermana Arya, yang mana sih?" Rey justru mencari tahu, pasalnya beberapa waktu lalu sang big bos mendatangi Exona menawarkan kerjasama pembangunan project kawasan rumah sakit elite disertai apartemen bagi keluarga dengan kondisi kritis.


Include paket pengobatan nan luxury agar warga Indonesia tidak lagi keluar negeri untuk mendapatkan pelayanan serta perawatan yang sebetulnya sama standar kualitasnya. Dan seperti biasanya, divisi yang Mahendra pegang harus menyiapkan semua sistem untuk project tersebut.


"Ini, apa! ... jadi dia istri Hermana Arya? brati gadis ini putrinya? eh bukankah putrinya hanya satu? lalu dia siapa? ... wah makin sulit ... kiranya benar, jam tangan itu kunci semua ini, Bos kenapa mata Anda begitu jeli?" Rey bingung mengapa ini berkaitan.


Satu jam kemudian.


Mahendra telah selesai beramah tamah dengan para kandidat yang akan di gaet oleh Kedubes dalam project mereka. Setelah makan siang, dia kembali menemui Rey yang telah menunggunya sedari tadi di guest room.


"Bos, wanita ini Hermana Arya wife, dan gadis ini bukanlah Arzu, belum diketahui identitasnya. "


"Benarkah? kamu lihat dari koleksi foto wanita itu Rey, telusuri dia dulu baru bisa tahu siapa gadis itu ... Arzu, putri tunggalnya bukankah ada di London sedang study?"


"Betul Bos, beliau sendiri yang mengatakan pada Pak Jim saat briefing bahwa bangga pada putrinya yang tengah mengejar ketinggalan pendidikan di London akibat gaya hidup urakan sebelumnya."


"Search Rey ... jam nya bagaimana?"


"Tidak ada nama kakak ipar Anda disini Bos,"


"Siapa saja sebutkan," Mahen melonggarkan dasinya, melepaskan jas lalu menyampirkan di bahu sofa, masih digedung Kedubes.


"Wesley, Anggi Sumitra, Khairan Lee, Arza Zedi, serta youtuber Anto Gledek," Rey terbahak dengan nama terakhir.


Hening.


Hening.


Hening.


Hingga beberapa waktu kemudian.


"Ya ampun Rey," ucapnya seraya menggebrak meja.


Puufftttt.


"Bos, kopi ku," Rey terkejut bukan kepalang atas gerakan bosnya yang tiba-tiba.


"Kebiasaan tuh, kemejaku," masih, rutuknya kesal.


"Haha, sorry Rey ... kamu bodoh, aku juga sih ... ka Amir pakai nama Arza, search kirim kemana? kamu ga ingat nama sekolahnya? Arza Tahfidz Boarding School... Zedi means Zaidi," Mahendra menganalisa.

__ADS_1


"Cerdas juga ... semarang, tapi bukan alamat multazam juga sih ini."


"Keluarga istriku itu cerdas, terlebih ka Amir itu pendiam, hafiz mana ada yang teledor ... orang diam itu menakutkan karena emosinya tidak bisa ditebak ... lagipula kamu lupa gimana Naya kabur dulu sampai kita lama menemukannya? ... Jika dikirim kesana, maka dia membeli saat di semarang ... kamu ingat ga? Aiswa disana kapan? ke aku kan bulan Juli jika tak salah, cocokkan lagi Rey."


"Ya ampun Bos, nyari pemilik jam aja sampai begini ... coba diteliti lagi, gestur nya bukan Aiswa Bos."


"Meski bukan Aiswa, kita perlu tahu siapa gadis itu, mungkin bisa jadi the next kakak iparku kan, apalagi kamu bilang tadi, dia ada bersama istri Hermana Arya, kamu tahu kan siapa dia ... jika kakakku menjalin asmara dengan keluarga konglomerat, kan koneksi ku makin mudah," gelaknya.


"Ya ampun, naif sekali padahal istri Anda juga milyarder."


" ... Naya berbeda, itu miliknya, bukan aku, karena hartanya bukan harta kami, artinya ya aku ga bisa memiliki kecuali Naya hibahkan ... paham lo?"


"Iya Bos, paham," gumamnya malas menanggapi. Mereka berada disana hingga ashar menjelang.


***


Keesokan pagi, lusa, Singapura.


Mama hari ini mulai menjalani terapi, Papa menemaninya setelah mereka melakukan akad nikah di Hotel, sebelum Mama masuk rumah sakit.


Ketika Aiswa hendak ke kantin karena perut yang perih belum sarapan. Sebuah suara mengejutkannya.


"Aey, Aeyza...."


"Ya?" Aiswa menoleh ke sumber suara, dokter Rayyan mau apa, pikirnya.


"Mau ke kantin? bareng yuk, aku juga belum sarapan."


"Bukannya dokter praktek pagi ya?"


"Masih tiga puluh menit lagi," ujarnya ikut melangkah kembali mensejajarkan dengan Aiswa.


"Oh."


Cuek banget sih, gapapa deh, cewek cakep wajar.


"Dokter...."


"Ya? ... Aey, tunggu." Rayyan meminta Aiswa menunggu sejenak dan gadis itu ikut berhenti melangkah.


"Ini salah satu keluarga pasien yang kemarin datang dari Indonesia, baru saja tiba," ujar suster.


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2