DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 116. DA3A


__ADS_3

Sudah satu pekan Mahen tidak pulang ke tempat istrinya berada. Lagipula keluarga Abah semuanya berkumpul di Solo karena menemani buyut mereka yang tengah jalani pemulihan pasca kembali dari Singapura.


Bisnis yang dikelola kakak beradik itu kembali mereka jalankan via online dengan bantuan Alex untuk mengontrol dilokasi.


Pagi ini Naya mendapatkan undangan resmi by email Queeny untuk menghadiri pagelaran umkm yang diadakan oleh salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa, Travelaja yang berpusat di Malaysia.


Queeny menjadi trend setter brand baru di sana yang mempunyai growth traffic customer sebanyak 30% atas pasar lokal.


"Kak, dapat undangan pameran di Malaysia minggu depan, hanya pameran produk kita aja sih, partisipasi dan kita diminta jadi sponsor ... yang mau dikeluarkan apa sebagai gift untuk mengisi goodie bag sebanyak 150 bundle?" tanya Naya setelah dia selesai memandikan Maira.


"Budget subsidi atau free Nduk? ... boleh scarf atau segi empat, candy chic series minggu lalu ... buat dongkrak penjualan item itu, slow moving sejak diluncurkan ga seperti pendahulunya," ujar Amir sembari menerima Maira yang Naya serahkan padanya.


"Kalau dari email sih subsidi Kak, coba deh kakak cek." Naya membawa laptopnya ke hadapan sang kakak yang duduk di karpet ruang keluarga.


"Udah cantik nih Maira, sama Uwa dulu ya, Bunda mau mandi dan makan ... nanti ikut jalan sama Uwa yuk, pulang nya dengan Ayah dari sana, ok gemoy?" Amir menggendong erat bayi gendut yang mulai mengantuk dalam pelukannya.


Sejak usia tiga bulan, Maira sudah akrab dengan suhu hangat yang berasal dari tubuh uwa nya, betapa Amir menyayangi bayi perempuan adiknya itu. Sehingga Maira terkadang lebih mudah luluh dengan Amir jika rewel ketimbang ayah kandungnya.


"Nduk, Maira diajak kan? siapin prosedurnya sejak sekarang ... juga ajak baby sitter Maira, kamu jangan kecapean nanti Mas Panji sewot sama aku," serunya masih mencerna rentetan tulisan di komputer jinjingnya itu.


"Iya, aku izin Abang dulu," Naya berlalu masuk kedalam kamarnya.


Tak lama setelah kepergian Naya, Abah menghampiri putra dan cucunya di ruang keluarga hendak menunjukkan sesuatu dari ponselnya.


"Mir ... kata nak Alex, Abah dapat undangan event di Malaysia Expo ... Abah ga pergi deh, wakilkan kamu aja yaa," Abah berkata sembari duduk di sofa kulit berwarna coklat dan menghela nafas setelah mengurus keperluan Danarhadi kala pagi hari.


"Abah dapat juga?" Amir menerima ponsel yang ayahnya serahkan dengan tangan kanannya.


"Pengundangnya sama ga? ini dari Dirjen pariwisata ... coba lihat denahnya," tunjuk Abah pada gawainya.


"Udah lama banget ga ikut pelatihan umkm, masih aja dapat undangan ginian ... meski gratis akomodasi tapi kan kita jadi punya beban siapin modul karena Meela.Co itu diminta presentasi ... kamu aja siapkan," kilah Abah agak lelah mengurusi ini.

__ADS_1


"Berarti kita bagi tugas, Naya jaga stand dan aku ke Abah, Bang Alex ikut Bah, aku ga sanggup nanti ... karena malam nya ini ada pagelaran mode loh, dan jam kegiatan Abah ba'da ashar - jelang maghrib dijadwalnya." Pungkasnya setelah melihat segala persyaratan diponsel ayahnya.


"Tolong kamu atur ya, Abah bayarin Mega deh biar Naya banyak yang bantuin."


Amir mencatat semua yang harus dia siapkan minggu depan. Melalui program seperti inilah Brand mereka cepat dikenal, jika dapat berkontribusi dengan baik maka akan mendapatkan pelatihan dari banyak instansi yang bisa mendukung ekspansi ataupun segi pemantapan management perusahaan.


***


Singapura.


Novotel Paradise menjadi tempat bertemunya Dewiq dan Mahendra di negara Singa sesuai kesepakatan mereka beberapa hari lalu. Kedua pria dengan look yang sangat mencirikan pria metro sek-sual itu telah datang di venue sejak tiga puluh menit berselang.


Dari balik kacamata hitam yang masih bertengger di hidung tegaknya, Mahen melihat Dewiq datang didampingi oleh Ulfara, sesuai dugaannya.


"Halo Tuan Mahendra Guna, maaf terlambat ... kita to the point?" sapanya penuh percaya diri seraya mendudukkan bo-kong sintalnya pada sofa dihadapan kedua pria.


"Dewiq Arzu Hermana ... apa tujuan Anda memalsukan kematian Aiswa Fajri? apakah ini murni sekedar simpati sosial atas kedekatan kalian ataukah ada maksud lain?" ujarnya seraya melepas kacamata hitamnya.


Brakk. Rey menjatuhkan semua bukti diatas meja.


"Aku tahu Aiswa seorang pemberani, pemimpi ... kesepakatan yang terjadi di antara kalian berdua, aku tak ingin tahu ... tapi jika Anda menggunakannya untuk menjadikan keluarga Kusuma sebagai tameng, Anda akan berhadapan denganku."


"Nona Arzu, aku tahu Anda punya sesuatu di laboratorium Hermana central Hospitals, sebuah formula yang kau uji coba pada Aiswa ... Anda ingin menjadi Pioneer bukan? bekerjasama dengan para pelaku bisnis serupa, dan Hermana Corp menjadi satu-satunya pemasok ... sayangnya beberapa bahan yang kalian gunakan, belum sepenuhnya legal maka dari itu Anda butuh bantuan tak kasat mata sebagai pelindung jika situasi terdesak meskipun sifatnya teritorial semacam keluarga Kusuma atau Tazkiya."


"Bravo Tuan Mahendra, seperti biasanya analisa Anda sangat detail ... aku tak memanfaatkan Aiswa, hanya membantunya saja keluar dari segala masalah dimasa lalunya...."


"Menyembunyikan identitas seseorang, terlebih memalsukannya bukanlah tindakan kejahatan biasa Nona muda ... Danesh Aeyza Hermana saat ini, adalah Aiswa, adikmu yang tak diketahui keberadaannya telah meninggal tepat di hari Aiswa dibuat 'meninggal' olehmu."


"Atas dasar apa Anda menuduh ku memanfaatkan keluarga Kusuma?"


"Ckck, Aiswa dan Ka Amir keduanya masih saling terpaut, dipastikan Anda tahu itu ... status keduanya telah bebas, Anda akan membuka jalan bagi keduanya, Aiswa dibiarkan menggapai mimpi agar kalian punya sesuatu untuk meminta budi kembali, saat Aiswa atau Kak Amir memutuskan menikahinya."

__ADS_1


Dewiq terdiam, seakan disiram oleh air hujan, basah.


"Well, aku tak sejauh itu Tuan, aku hanya membuka jalan dan asal Anda tahu, semua yang kami lakukan pada Aiswa adalah legal...."


What, legal? apakah itu artinya orang tua...


"Aku hanya menegaskan, apabila niatan burukmu Anda limpahkan pada Kak Amir jika suatu hari mereka bersama, kau akan berhadapan dengan ku."


Glek. Dewiq tahu benar kemampuan yang dimiliki pria di hadapannya ini.


"...." Dewiq menarik sudut bibirnya keatas, senyum sinis menguar menghiasi wajah ayunya.


"Kurasa apa yang aku sampaikan telah mengkonfirmasi kebenaran yang coba Anda sembunyikan lebih dari satu tahun ini ... akan ada saatnya semua terbuka ... oh iya selain aku, Anda juga harus mewaspadai seseorang yang pasti akan merasa bahwa ini adalah sebuah intrik, penipuan publik ... bersiaplah, jika Anda masih menyayangi kerajaan Hermana, maka berhati-hati lah."


"Aku tahu," jawabnya singkat.


"Sampai jumpa lagi, ku harap semua dugaanku salah ... bisnis is bisnis, aku tidak akan ikut campur, perhatianku hanya sebatas Kakak iparku dan Aiswa ... aku pamit, terimakasih atas waktu Anda, Nona Arzu." Mahen bangkit dari duduknya meninggalkan gadis yang masih berdiam diri disana. Nampak oleh Mahen, dia mengambil semua berkas yang dikumpulkan oleh Rey.


"Ulf, musnahkan segera." Raihnya pada map berisi informasi tentang kebenaran Aiswa yang Mahen tinggalkan diatas meja.


Ternyata benar... gadis itu Aiswa, yang semakin cantik, stylish dan anggun semenjak dipoles keluarga Hermana.


Kak, dia sangat cantik saat ini, semoga setelah ini jalan kalian mulus...


"Rey, kau dengar tadi? dia melakukan ini legal, apa kau memikirkan hal yang sama denganku?"


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2