DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 216. DEDEMIT


__ADS_3

Ahmad tak dapat tidur, Dewiq memenuhi pikirannya malam ini. Sudah hampir satu pekan, ia tak menghubungi istrinya itu.


Bukan maksud mengacuhkan namun terakhir Dewiq bilang, ujian kali ini dia padatkan karena ingin segera CoAss dan tak ingin remedial ujian praktek nanti.


Maksud hatinya baik, ingin memberikan ruang bagi istrinya agar fokus. Namun caranya bertentangan dengan keinginan Dewiq saat ini.


Kedua insan yang sesungguhnya dapat menyelesaikan masalah dengan sangat baik, justru mendiamkan kesalah-pahaman berlarut-larut.


London, waktu subuh.


Dewiq terus saja memandangi layar pipih gawai nya setiap hari. Jika ujian telah usai, yang pertama kali ia buka adalah kotak pesan, berharap Sang suami mengirimkan kabar.


"Bear, kamu gak tahu ya? aku kangen berat," lirih Dewiq.


"Apa aku kirim pesan ya? eh kan dia yang ngizinin aku pergi. Aku gak salah, udah nanya dan dia diem aja bahkan aku sampai nangis-nangis tetap aja dia diem," Dewiq kembali kesal dengan sifat Ahmad yang menurutnya tidak peka.


"Bear, kamu lagi apa sih di sana? aku tahu, kamu sangat sibuk akhir-akhir ini. Bahkan jarang tidur saat di rumah sakit karena seharian menjagaku dan malamnya kamu kerja," kenang Dewiq.


"Kamu tuh aslinya lembut, tapi...."


Dewiq kembali terisak. Kenapa di saat telah halal malah terasa semakin jauh.


"Bahkan kamu belum menyentuhku, padahal terakhir saat Mama pulang, kan kita cuma berdua di sana. Kamu tahu gak sih, aku takut kamu selingkuh di sana," isaknya semakin jadi.


"Padahal aku dah nawarin, kata Aeyza kadang wanita perlu memancing agar kaum pria bereaksi. Betul sih, tapi kayaknya gak ngefek sama kamu ... aku gak seksi kah, Bear? badanku gak sesyur Aeyza. Dia rajin ngegym dan membentuk lekuk tubuhnya ... aku sibuk dengan tumpukan buku. Nge-gym hanya sesekali," Dewiq memandangi pantulan dirinya di cermin.


Membandingkan dada dan pinggulnya dengan milik sang adik angkat.


"Aeyza seksinya ketutup gamis. Dada bus-tie, pinggul padat tapi pinggang ramping. Amir menang banyak emang, ckck," keluhnya lagi.


Hari ini ujian Dewiq hanya sore. Ia ingin tidur sepanjang hari mengistirahatkan kondisi badannya yang masih sangat lelah.


Kerinduan pada sang suami dia bawa dalam sedihnya hingga tertidur kembali.


Sementara di Indonesia.


Ahmad yang tidak dapat memejam, mendekati tengah malam ia memilih berwudhu lalu menunaikan sholat sunnah. Hatinya masih belum tenang setelah dua jam muroja'ah dan bolak balik membasahi wajahnya dengan tetesan air wudhu.


Tubuhnya lelah, inginnya mengistirahatkan mata namun otaknya mengajak terus bekerja.


Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Membuka chat grup DEDEMIT berniat cari hiburan.


"Assalamu'alaikum, Deretan milyader klimis dan tampan, ada yang ronda gak?"


"Wa'alaikumussalaam. Gue, baru pulang jatah ronda giliran Rt ... Mas Ahmad tumben belum tidur," balas Gamal.


"Gak bisa tidur," ketik Ahmad.


"Amir mana?"


"Mir."

__ADS_1


"Mir."


"Yuhu, Mir."


"Aiswa jangan di sekap, apalagi di porsir, bakalan cepet turun mesin loh," tulis Gamal.


Dia mengirimkan banyak stiker tertawa, di susul Ahmad.


"Eror emang ya," balas Ahmad pada Gamal.


"Dia sih mentang-mentang yang ini cakep ga ketulungan, suka lupa turun," balas Gamal lagi.


"Ku kira, Mas Gamal gak eror begini," sambung Ahmad membalas Gamal.


"Sesuai request aja kalau aku sih," samber Gamal.


Notif pesan grup menimbulkan suara bising di telinga Amir. Aiswa baru saja lelap dan ia masih mengecek semua laporan pembukuan hari ini. Baik Queeny butik dan Qiswa serta Meela.Co.


"Berisik amat, ganggu lagi kerja aja nih. Kelarin dulu dah," gumam Amir tak memedulikan suara notif ponselnya.


Chat Grup Dedemit.


"Gimana Mas, unboxing belum?"


"Boro, baru megang doank," jawab Ahmad.


"Megang? gimana tuh rasanya? kek tahu bulat gak? gurih enyoy gitu?" Gamal tertawa atas kalimatnya sendiri.


Ahmad hanya mengirim stiker tertawa pada Gamal.


"Lah, Lu habis gibahin bini ya?" tuduh Gamal.


"Ngecek laporan, ada Abah kan di sini. Mana berani berbuat gaduh, gue ... lupa, kamar belum pasang peredam," sahut Amir di barengi tawa ketiganya.


"Kalung liontin beli di Mekah, warnanya merah, indah merekah. Buat pengantin yang baru nikah, malam pertama jangan banyak tingkah," tulis Amir men-tag Ahmad.


"Ciyee pengalaman pertama ngeronda juga, Mir?" ejek Gamal.


"Enggak lah, gol donk langsung. Emangnya Lu, ronda!"


"Apaan, kata siapa?" kilah Gamal.


"Gue denger Alma cerita ke Naya," gelak Amir menohok Gamal. Padahal ia hanya menebak dan Alma tak pernah membahas itu dengan Naya.


"Ngakak....." balas Ahmad.


"Payah Lu, belagak suhu tapi cupu," sindir Amir lagi.


"Setdah, bibir bini gue kudu di lakban. Meruntuhkan masa depan suaminya ini," keluh Gamal mengundang tawa kembali.


"Gue kangen dia Bro, tapi berat memulai." Tulis Ahmad mulai serius.

__ADS_1


"Eh, kenapa ini? udah pisahan lagi? beneran belum ngicip jadinya?" tanya Gamal.


"Ngicip apaan?" balas Amir.


"Rendang berbumbu, puas Lo?" sergah Gamal mulai kesal pada Amir.


Duo A, membalas dengan banyak stiker tertawa.


"Mas, rugi nahan gengsi karena adik kecil gak ngerti gituan. Jangan nodai kepolosannya dengan ego kita, pusing tau rasa ntar ... Ya, Mir," saran Gamal, masih dengan kekonyolan.


Ahmad hanya mengirimkan stiker kartun yang pingsan.


"Yoi, Mal ... dia nunggu kali, Mad. Mulai gih, jika ingin lekas selesai. Versi pemikiran laki-laki berbeda dengan wanita. Dia nyangka A padahal maksud kita B...." Amir mengingatkan.


"Yaelah, manten balu jauh-jauhan. Saran aku, say Hai aja kalau memang berat, Mas ... masa udah halal malah membatasi begitu sih? siapa tahu diemnya dia ya karena gak berani sama kita ... ibarat kata gini Mas, semahal dan se em-puk apapun sebuah bantal di atas ranjang, gak akan bisa mengalahkan lengan suaminya sebagai tilam," balas Gamal untuk Ahmad.


"Ciyee, Pak Haji...." Amir mengirimkan emot jempolnya.


"Rumah tangga itu gak melulu menjalaninya hanya dengan cinta namun juga kewarasan ... sebab ini bukan hanya tentang dua orang yang merasa paling baik melainkan bagaimana agar kita berdua berubah menjadi lebih baik lagi setiap harinya," Gamal mulai bijak.


"Gamal mode lurus merasuk jiwa," balas Amir.


"Menikah juga sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak kita temui saat ta'ruf ... yang aku tahu, Alma itu pedes kalau ngomong, tapi setelah menikahinya, dia sangat lembut bertutur kata padaku, apalagi kalau minta, beuhhhhh...." tulisnya lagi.


"Mulai miring ... tolong pecinya, Pak Haji Gamaliel, di betulkan lagi...." Amir mengirimkan stiker Bang Haji, menggelengkan kepala.


Ahmad tertawa menanggapi Amir. "Bener, sesuai request ... Mas Gamal, thanks ya," balas Ahmad.


"Pak Ustadz dua periode, tolong gantian wejangannya...." balas Gamal pada Amir.


Ahmad kembali tertawa. Bahan ejekan untuk Amir selalu saja begitu.


"Udah tadi kan ... tidur yuk, mulai dingin nih gess," ujar Amir.


"Mir."


"Mir." Panggil Gamal.


"Gih, Mas. Serang Negara Api," balas Ahmad.


"Lagi forbidden city, Mas."


"Ciyeeee, duo jomblo beda nasib...." balas Amir mengirimkan stiker dadahbabay.


"Nasib."


"Betul, nasib."


.


.

__ADS_1


..._________________________...


...Teman Multimedia, gelo iya, lempeng juga bisa 😌...


__ADS_2