
Tak terasa, dua bulan berlalu.
Disaat Tazkiya sibuk menyiapkan syukuran cucu pertamanya. Soetta kedatangan satu orang dokter tampan nan gagah menginjak bumi Nusantara.
Pria dengan setelah jas casual berwarna coklat nut, berpadu sneaker hitam merk ternama. Kacamata hitam bertengger di garis hidungnya yang tegak.
Rambut sedikit urakan justru tak menapikkan ketampanan seorang Andre Bagasfa yang baru saja boarding.
Siang ini dirinya akan langsung masuk kerja melengkapi jajaran dokter berprestasi. Mengambil kursi kosong posisi wakil manager divisi humas di sebuah Rumah Sakit elite kawasan Cipayung.
Sang Dokter spesialis Internist ini lalu meninggalkan Bandara, meminta Sang driver membawanya menuju sebuah resto yang asri dan meneduhkan agar mood nya kembali hadir sebelum menginjakkan kaki di tempat kerjanya yang baru.
"Kita ke Triple R ya Dok, di sana cozy jika jam segini belum ramai dengan pengunjung. Adem pokoknya," ujar sang driver.
"Ok, apartemenku sekitaran rumah sakit kan Pak?" tanya Andre.
"Betul, Dokter. Setelah ini, kita ke apartemen dulu lalu aku akan menunggu Anda, mengantar ke rumah sakit ... Direktur memberikan kunci mobil sebagai fasilitas Anda, saat rapat nanti," jelas sang driver.
Andre hanya mengikuti semua yang di katakan oleh lelaki di depannya. Setelah hampir satu jam perjalanan dari Bandara. Tibalah ia di cafe.
"Selamat pagi, silakan, Tuan," sapa waitress saat Andre hendak meraih handle pintu.
"Aku pesan menu favorit di sini, juga snack middle ya, maksudnya cukup kalori," pinta Andre saat waitress menyerahkan kartu menu.
"Baik, ada lagi?"
"Hm, tidak, itu saja," balas Andre.
Setelah waitress pergi, ia memindai sekeliling. Kagum akan interior dan tata letak semuanya ornamennya.
"Beneran can--tik," gumam Andre. Netranya menangkap sosok ayu nan anggun memasuki ruangan cafe.
"Mirip siapa ya? rasanya familiar," lirih Andre.
Renata yang baru saja tiba, merasa ada seseorang tengah memperhatikannya, Andre pun segera memalingkan wajah, meraih majalah diatas meja. Tak etis rasanya mencari tahu urusan orang lain.
"Raiden, No. Don't, disturb," tegur seorang wanita saat Raiden mulai mengganggu anak balita pengunjung.
"Rai, come on. Ikut onty saja," ajak Dwi yang muncul dari balik meja kasir.
"Onty, kita ke Papa. Raiden ingin berdoa untuk Papa, Rai kangen. Gak bisa lihat Papa karena Papa sudah di surga," rengek Raiden pagi itu.
"Mba?"
"Bawa dia Rose, sejak semalam dia rewel. Mungkin rindu Derens," ucap Renata mengusap kepala anaknya yang memeluk Dwiana erat.
Andre menyaksikan percakapan kedua wanita itu dari ekor matanya, tertutup sebagian majalah mode yang dia baca. Suasana cafe yang lengang memudahkan dirinya mendengar jelas pembicaraan yang terjadi, tak jauh dari tempat ia duduk.
"Oh, single mom. Keren, Mandiri."
"Ok jagoan, kita kunjungi Papa, yuk."
Degh.
"Suaranya?"
Andre menajamkan penglihatan saat sosok wanita yang menggandeng tangan mungil bocah lelaki pergi keluar cafe.
__ADS_1
"Eh, tapi ... dia sangat tomboy dan gadis tadi, feminin juga suaranya lebih lembut," gumam Andre bertepatan saat pesanan datang ke mejanya.
"Silakan, selamat menikmati," ucap waitress.
Dokter muda yang sudah setengah lapar langsung menyambar hidangan di hadapannya. Menyilakan sang driver menemaninya bersantap di saat Brunch Time.
Setelah hidangannya habis. Andre mengirimkan pesan pada Rayyan, berniat memberitahu bahwa ia telah di Indonesia kembali.
Juga ingin mengajaknya nongkrong, di cafe ini selepas jam kerja nanti. Masih mengagumi nuansa yang ada. Andre memejam sejenak, ia larut dalam kenyamanan yang di suguhkan.
"Permisi, imun booster untuk Anda yang terlihat lelah. Spesial dari kami, semoga dapat menaikkan mood kembali," ujar Renata mengantar satu mini tumbler minuman soda dengan aroma mint, lemon slice dan berwarna hijau akibat sirup melon yang digunakan.
"Aku gak pesan ini, maaf," Andre menolak.
"Just for Free," balas Renata meninggalkan kursi pengunjungnya.
Andre mengerjapkan kelopak matanya yang berat. Meraih gelas mini di hadapannya yang terlihat menggoda.
"Wah, beneran booster. Thanks, Cantik," lirihnya dengan senyuman mengembang penuh arti, untuk seorang wanita yang baru saja menghampiri.
...***...
Keesokan pagi, sesuai rencana malam sebelumnya.
Dwiana telah ada di kediaman Naya setelah sarapan. Ia berpapasan dengan Mahen saat di basement.
"Naik saja Dwi, istriku sudah menunggu. Maira baru saja tidur," sapa Mahen sambil lalu menuju mobilnya.
Gadis yang semakin cantik dengan perubahan signifikan itupun naik ke lantai sepuluh.
Kedatangannya telah ditunggu oleh sang Nyonya rumah.
"My lovely wife, My only Naya, My love, My Mine ... Always love you, just for relax, for My Honey, Bundanya Maira dan Adek Maira," Dwiana membaca tulisan pada daun pintu.
"Kak, lucu amat sih Mas Mahen," sambung Dwi.
"Begitulah dan dia anugerah bagiku. Masuk Dwi," Naya membuka pintu pelan.
Sebuah ruangan kecil dengan cat warna putih. Hanya ada meja panjang di sudut ruangan. Diatasnya terdapat alat aroma terapi, diffuser juga speaker kecil.
"Untuk healing, aroma terapi relaksasi dan murottal jika aku malas berucap," sambut Naya.
"Wudhu dulu Dwi lalu kita mulai."
Setelah beberapa saat berlalu. Kedua wanita itu melakukan sholat sunnah hajat (atau duha, boleh). Masih mengenakan mukena, duduk diatas sajadah.
"Butterfly hug. Letakkan kedua tangan mendekap dada. Lalu tarik nafas panjang dan ikuti aku...."
"Al fatihah binniati ... khifdhiidhohiri ... wal bathini ... wannafsiih wal ahli wal auladi wal maali waddaini ... waddunya wa illa hadrotinnabi Musthofa Sayyidina Muhammadin Shallallahu alaihi wa aalihi wa sallam ... Al Fatihah."
Naya menuntun ruqyah mandiri, menghadiahkan fatihah untuk diri sendiri dilanjut Al Baqarah, lima ayat awal, ayat kursi juga tiga ayat akhir, tiga qul, al insyiroh lalu sayyidul istighfar.
"Jangan di tahan jika ingin menangis Dwi, Allah sedang menyentuh qolbumu," lirih Naya.
Satu jam lebih keduanya menghabiskan waktu bersama.
"Tadi, namanya ruqyah mandiri, meditasi ala aku, sholat hajat atau duha rutin setiap pagi. Cobalah, semoga kamu bisa jauh lebih tenang. Menikmati rezeki Allah, berterimakasih, sedekah sendi tubuh ... bersyukur dan melepaskan hal yang membuatmu sakit."
__ADS_1
"Besok, mau hadir kan ke Mba Aish? semoga hatimu sudah siap bertemu dengan semua kawan dan sekitar yang masih terkoneksi dengan masa lalu...."
Dwiana mencerna semua pengajaran kehidupan dari Naya. Ia pun semakin semangat menjalani hidupnya yang baru.
Naya mendekap Dwi sebelum mengizinkan gadis itu pamit yang semakin hari kian baik.
"Alhamdulillah, sebentar lagi ya Dwi, release...."
...***...
Sore hari, selepas dinas.
Kedua dokter muda nan tampan, memasuki cafe yang Andre maksud.
"Gue pernah kesini, tapi malam. Pas mau tutup. Mama mengajukan proposal kerjasama namun belum ada jawaban padahal sudah satu bulan. Kebetulan, aku akan menanyakannya langsung pada ownernya," ucap Rayyan saat telah duduk di meja sudut kanan ruangan.
"Keren ya, apalagi yang punya. Cantik," balas Andre.
Saat sedang asik bercengkrama dengan sang sahabat. Ponsel Rayyan berbunyi. Ia membaca pesannya pelan.
"Besok diundang syukuran ke Tazkiya ba'da Ashar," ungkap Rayyan.
"Kemana?"
"Pondok pesantren, mau ikut? yuk, aku kenalin dengan jajaran orang super baik dan sholeh," ajak Rayyan.
"Boleh?" tanya Andre.
"Aku izin Mas Amir dulu," imbuhnya menjeda obrolan. Sedangkan Andre pamit menuju restroom.
"Mba harus ikut, Rose? sore ya? Tazkiya dimana?... oh Ok," suara Renata didepan kasir saat Andre melintas melewatinya.
Tazkiya? sama dengan Rayyan? mereka berdua saling kenal gak sih sebetulnya?
Saat Andre kembali, Rayyan bersiap pergi.
"Dre, besok jemput aku ya di RSPP, kita bareng pake mobil kamu aja. Mas Amir bilang boleh ajak kawan semauku, fix kamu ikut. Aku duluan, thanks traktirannya," ujar Rayyan terburu.
Andre masih betah berlama-lama di cafe hingga saat menjelang petang. Karena suasana mulai ramai, ia pun tak lagi dapat menikmati kesendirian.
Sang pria dengan penampilan maskulin meski terlihat lelah itu keluar dari cafe, menuju parkiran mobil.
Tepat setelah kendaraan dinas miliknya masuk dalam antrian menuju pintu keluar, Andre melihat seseorang yang di carinya.
"Dwi ... Dwiana...." seru Andre dari dalam mobil.
Tiin. Tiin. Tiin.
Suara klakson, bising dari mobil di belakangnya memaksa Andre melajukan kendaraan itu meninggalkan lokasi.
"Sh-itt!" Ia pun memutar jalan, berniat kembali ke cafe.
Sayang, susah payah menembus macet meski hanya memutar arah. Gadis yang ia cari raib.
"Ah, bodohnya aku!" kesal Andre melampiaskan dengan menyugar rambutnya yang telah rapi.
.
__ADS_1
.
...______________________...