DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 106.


__ADS_3

Tujuh hari setelah kepergian Aruni.


Amir ditemani Naya mengunjungi pemakaman umum, mengajak serta Maira dalam gendongan ibunya.


"Assalamualaikum Eyang, Mas Naufal dan Uwa, Maira mau kirim doa."


"Aku datang sayang, bismillah...."


Keduanya khusyu berdoa di tiga pusara kesayangan mereka selama beberapa waktu.


"Happy first anniversary, kalian mengisi waktu satu tahunku dengan singkat namun penuh kenangan berkesan ... adek, jaga mommy dan eyang disana yaa ... Abi kelak akan mencari kalian."


"Mba Runi, amanahnya akan Naya sampaikan setelah dirumah ya, in sya allah akan kami jaga suami tampanmu ini."


"Amanah apa Nduk?" tanya amir heran.


"Ada deh, Aku ga baca isinya hanya dititipi saja, masih disegel suratnya."


"Tentang apa sih?"


"Entah, kan aku ga baca Kak...."


"Kita pulang kalau gitu, jangan ada yang disembunyikan lagi Nduk."


Glek.


Naya menelan saliva, pasalnya wajah sang kakak sudah serius menatapnya, seram.


Tiga puluh menit kemudian.


Saat kakak beradik itu sampai, kondisi rumah sedikit ramai karena catering serta snack box sedang diangkut dari mobil kedalam rumah. Hari ini adalah tujuh hari istrinya berpulang. Nanti malam akan diadakan pengajian berkaitan dengan itu. Juga sebagai rasa syukur bahwa dalam musibah pun pasti ada hikmah kebaikan.


Keluarga Kusuma hampir dalam waktu bersamaan satu persatu jatuh sakit. Mulai dari Danarhadi, Almahyra yang diharuskan bedrest padahal sudah trimester kedua disusul mama Aruni yang akan kembali ke Turki bersama suaminya esok, rasanya perlu untuk kembali bermunajat memohon kemudahan, kesehatan, keberkahan padaNya sang penguasa semesta.


"Nduk,mana?" tanya Amir saat menidurkan Maira dalam box bayi didalam kamar adiknya itu.


Naya membuka laci meja riasnya, menarik sepucuk surat yang dia letakkan disana sejak dua hari sebelum kepergian kakak iparnya itu.


"Ini kak" sodornya pada Amir yang telah menunggunya di sisi ranjang.


Amir menerima dengan tangan kanannya, membuka amplop biru lalu membacanya pelan. Nampak gurat kesedihan di raut wajahnya.


Assalamualaikum Mas, semoga kamu sehat ya.


Bila surat ini sampai padamu itu tandanya aku sudah tak lagi disisimu, maaf.

__ADS_1


Aku meminta pada Naya agar lekas membereskan semua milikku setelah aku pergi. Jangan menghalanginya ya Mas, aku tak ingin kamu menyimpan kesedihan tentangku lebih lama .


Bukan juga ingin kau melupakan semua hal manis saat kita bersama, namun aku tahu kamu, Mas.


Kamu akan terpuruk dan larut dalam diam, aku ga mau Mas begitu.


Lanjutkan mimpi kita ya, semangatlah lagi. Wujudkan keinginanmu agar Queeny bisa menjadi lead market fashion moslem yang betul-betul syar'i .


Jadikan setiap kalam yang Mas pahami, menjadi sumber inspirasi dan tertuang dalam setiap design Queeny. Seperti yang Mas selalu bilang padaku, dakwah banyak ragam serta caranya. Apa yang kita rintis ini semoga menjadi sumber pahala jariyah atas ilmu yang Mas punya.


Naya hanya terdiam menunggu reaksi sang kakak.


Amir masih memandangi surat itu, satu dua tetes cairan bening jatuh tepat diatas kertas berwarna biru muda.


Tetaplah jadi sosok suami idaman yang sempurna untuk istrimu nanti ya Mas. Seandainya Aiswa masih hidup, aku akan mendatanginya agar dia bersedia ku titipi seorang lelaki tampan untuk menjadi suaminya.


Semoga siapapun isterimu nanti dapat memberikan apa yang tak sanggup aku beri dan wujudkan.


Harapanku, semoga Mas selalu sehat, dikaruniai anak-anak yang sholeh sholihah, lebih bahagia daripada saat bersamaku, maafkan aku belum menjadi istri yang sempurna untukmu.


Terimakasih telah memilih dan menjadikanku Ratu dalam perjalanan kita yang singkat.


Aku sungguh tak mengira jika kedatangan ku ke sini nyatanya membawa pada banyak keinginan yang akhirnya tercoret satu persatu karena mu, sebab Allah menganugerahkan Amirzain yang sempurna padaku meski bukan sesiapa.


Peluk sayang penuh cinta untuk suami tampanku yang sempurna.


Amir terdiam, menyeka sudut netranya yang menyisakan bulir. Jemarinya melipat kembali kertas berwarna biru muda itu. Merapikannya seperti sediakala.


"Nduk, tolong bereskan semua barangnya esok pagi ya, sedekahkan agar jadi jariyah untuknya."


"Dia sudah tahu kapan pergi, maka membuat pesan seperti ini. Sampaikan pada Abah juga, bahwa waris atas nama Qiyya, aku tak berniat mengambilnya ... sedekahkan juga atas namanya."


"Aku menitipkan ini lagi padamu, Nduk. Ingatkan aku apabila lalai menjaga keinginannya agar Queeny menjadi jalan dakwah bagi kita."


"Qiyya titip apalagi padamu?" ucapnya beruntun.


"Jagain kakak, perhatikan makan dan semua kebutuhan sampai kakak menikah lagi."


"Ck, entah sampai kapan itu. Aku bahkan masih enggan, tanah istriku masih basah."


"Jodoh siapa tahu, Kak ... jika Allah berkehendak, ya kan?"


"Entahlah ... Aku gapapa in sya allah nrimo ko Nduk, tanggung jawabmu sudah banyak ... ada Maira dan suamimu yang lebih butuh kamu ... maafin yaa kalau Qiyya pernah merepotkan kalian."


Naya hanya tersenyum.

__ADS_1


"Quenny dapat kontrak untuk membuat hijab karyawan Kak, meski grade B, lumayan 1500 pcs ... draft kontrak sudah di lawyer aku, tapi belum Abang cross cek lagi sih karena besok dia mau ke UK dulu dua hari ... sudah bisa dibawa kerja kan Kak," tanyanya segan.


"Sudah, tidak boleh sedih berlebihan ... itu sama saja kecewa dengan ketetapanNya. Bismillah bangkit Nduk."


"Alhamdulillah."


***


London.


Dewiq menerima panggilan dari Papa beberapa menit yang lalu, meminta Mama melakukan check up rutin ke Singapura, fasilitas medis telah Papa disiapkan disana.


"Besok jadi pergi Ma, ditemani Aey ya ... dia libur ... Aey, Aey, Aeyza." seru Dewiq memanggilnya.


"Iya Kak, sebentar, cari hijab."


"Aey, ini semua dokumen Mama, jangan lupa nanti begitu sampai, beli makan atau snack dulu, Mama harus minum obat." Serah nya dengan tangan kanan satu map dokumen Mama pada Aiswa saat gadis itu telah dihadapannya.


"Baik Kak," tangan kanan Aiswa mulai luwes bergerak.


"Jo," panggilnya.


"Siap Nona."


"Aey, hati-hati sayang. Moms, Aku pergi dulu ya, doakan deal ... c-up." Dewiq mencium pipi Mama dan mengusap lembut pada hijab yang menutup rambut pendek Aiswa.


Keesokan pagi, waktu London. Aiswa, Mama, Joanna serta dua orang bodyguard meninggalkan London menuju Singapura.


Tiga belas jam kemudian, waktu yang panjang bagi Aiswa untuk tidur, makan dan tidur lagi. Membuat perjalanan kali ini tak terlalu membuatnya mual, beberapa kali pergi pulang nyatanya tetap membuat perutnya susah berkompromi.


Gate kedatangan internasional, Changi Airports.


Gubrak. Kopernya ditabrak seseorang yang tergesa-gesa menyenggol Aiswa yang masih sedikit pusing hingga terjatuh.


"Sorry Miss," ucapnya meminta maaf. Ketika pria itu ingin membantu Aiswa berdiri, Joanna menghalanginya. Mama dengan satu orang bodyguard, membantu anak gadisnya bangkit.


Insiden kecil yang sempat menyita perhatian karena Aiswa ikut terjatuh, membuat satu pasang mata menoleh.


Pria dengan postur tegap, membuka kaca mata hitamnya saat dia hanya berjarak 10 meter dari lokasi insiden.


"Ga mungkin, dia sangat stylish ... bukan Aiswa. " Dia pun memakai kaca matanya kembali bersamaan dengan announcement yang telah meminta passenger bersiap.


Saat ia beberapa langkah menjauh, dia berbalik badan kembali. Watch, bukankah itu sama dengan miliknya? kemana tadi perginya.


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2