
...(Haroub \= Kabur)...
.
Jakarta.
Kyai Hariri Salim kembali pulang ke rumah tepat jam sepuluh malam. Dirinya melihat istri dan anak sulungnya berdiri didepan pintu kamar Aiswa sambil memohon untuk di bukakan pintu.
" Umma, ada apa? " tanyanya pada sang istri saat ia mencium tangannya.
" Buya.... " Ahmad sang anak sulung ikut menghampiri dan salim pada sang ayah.
" Aish ga mau buka pintu, sedari pagi dia belum makan. Sejak Buya pergi ba'da subuh tadi. "
" Kan ada kunci serep? bukalah... "
" Di ambil Aish Buya, " jawab Ahmad
" Astaghfirullah. " Ujarnya sambil meraup wajah.
" Apa di dobrak saja Buya? " tanya Ahmad.
" Buya ganti baju dulu, nanti Buya coba bujuk. "
Kyai Hariri Salim melangkahkan kakinya menuju kamar diikuti sang istri dibelakangnya. Setelah dirasa aman telah menjauh dari Ahmad, umma mulai melayangkan protes pada suaminya.
" Sudah ku bilang, yang aku khawatirkan akhirnya terjadi kan, Mas sudah keterlaluan.. Aku ga mau tahu, Mas harus dengarkan keinginan Aiswa, aku mohon padamu Mas.. Aku mohon, " pintanya memelas pada suaminya.
" Mau taruh dimana mukaku? Aiswa setuju bila nanti diadakan pertemuan perkenalan ini, dia sendiri yang bilang saat aku tanya di ruang baca. Dia hanya merajuk saja, lagipula dia itu sudah kenal dengan Hasbi. "
" Bukan tentang menaruh muka, menanggung malu atau kenal Hasbi, ini masalah hati Mas... Aish sudah punya kekasih didalam hatinya! " bentak Umma putus asa.
" MARYAM!!... Beraninya kamu berteriak didepanku. "
Umma tertunduk terkejut mendengar suara suaminya yang meninggi. Ia terakhir kali mendengar nada bentakan yang sama saat akan pergi dari rumah ini karena Aiswa akan di sekolahkan ke Yaman di usianya yang baru 12 tahun sekaligus dititipkan pada kerabatnya disana dan akan dinikahkan saat Aiswa genap berusia 18 tahun, seperti saat ini.
" Salahku, menikah denganmu Mas... " Umma meninggalkan suaminya di kamar, ia menutup mulutnya, menahan agar isakannya tak didengar Ahmad sambil setengah berlari menuju dan masuk ke kamar tamu, mengunci pintunya dari dalam lalu menangis disana tak peduli akan suara ketukan dipintu dan bujukan suaminya.
" Umma, Maryam... Aku minta maaf.... "
" Maryam.... " bujuknya lagi.
" Lakukan sesukamu, Mas... Anggaplah aku tak ada seperti selama ini, " isakan Umma terdengar pilu.
" Baik... Baik, aku akan bicara pada Aiswa, buka pintunya Maryam... "
" Pergilah.... Aku ingin sendiri. "
Hariri Salim pergi menjauh dari kamar tamu dan kembali menuju kamarnya. Dirinya seakan ingin berteriak meluapkan kemarahan. Fisik yang lelah setelah perjalanan dakwah ditambah masalah di rumah membuat nya stress seketika. Aiswa persis ibunya, pendiam namun menyimpan emosi yang bisa meledak kapan saja, ia lupa.
" Mandi... Lalu bicara dengan kedua wanita itu, " ia memandang tampilan dirinya dicermin bagai nyamuk kurang darah, letih tak leluasa bergerak dan mengeluarkan suara ngiiing ditelinga.
Tiga puluh menit tanpa suara, akhirnya Hariri Salim selesai dengan rutinitas dikamar mandi. Ia melihat kearah jam dinding, pukul 11 malam. Kakinya kemudian ia langkahkan menuju kamar tamu lebih dulu mencoba membujuk istrinya kembali.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
" Umma, buka pintunya... Temani Buya bicara pada Aish. "
Lama tak ada suara dari dalam, sedetik dua detik hening. Merasa telah membuang waktu percuma, ia beralih menuju kamar anak gadisnya, Aiswa.
Tok. Tok. Tok.
" Aish, buka sayang... Buya mau bicara. "
Aku sudah bulat tekad, maafkan aku Buya. Aiswa bersiap kabur.
" Aish.... Aish, Buya janji akan dengarkan permintaan Aish. "
Abuya nya menunggu dengan sabar didepan pintu hingga membuat Ahmad sang putra sulungnya yang akan mengambil minum mengurungkan niatnya dan menemani dirinya disana.
" Pergilah minum dulu Kak... " pintanya pada Ahmad ketika melihat tangan putranya membawa sebuah gelas.
" Ya khayr, aku ke dapur dulu Buya. "
" Aiswa, Aiswa Fajri binti Hariri Salim, BUKA!! "
Ia putus asa, hampir habis kesabaran meski ia sekuat tenaga mencoba mengendalikan emosinya.
*
Selepas kepergian suaminya, Maryam alias Umma Aiswa berpikir keras. Bila dirinya tak membela anaknya, maka Aiswa pasti akan menderita.
" Robb ku, apa yang dapat aku lakukan sebagai Ibu? aku ingin memberikan kesempatan bagi Aish menemukan jawaban hatinya. "
Sayang, anak umma, biarlah umma yang menanggung kemarahan Buya mu. Umma akan membantumu Nak.
Maryam keluar dari kamar tamu, berjalan mengendap menuju halaman belakang. Dengan tangan rentanya ia membawa tangga dari gudang dan menaruhnya tepat dibawah jendela kamar Aiswa. Agar anaknya tak terluka saat akan turun karena dibawah jendela kamar Aiswa ditanami bunga dengan duri tajam, Euphorbia.
*
Dua jam sebelumnya.
Aiswa telah meminta bantuan pada dua orang sahabatnya untuk membelikan satu tiket kereta eksekutif class menuju Semarang. Ia juga meminta kedua temannya menunggu tepat di gerbang belakang dekat dengan kebun bambu saat tengah malam, 5 menit setelah pergantian penjaga.
Jam 10 malam Aiswa mendengar keributan diluar rumahnya. Rupanya Abuya nya telah kembali dan sedikit bertengkar dengan sang bunda akibat beliau membelanya.
" Maafin Aish, Umma.... Aku tidak punya pilihan. "
Aiswa menunggu waktu pelariannya dengan cemas. Ia telah mengganjal gagang pintu dengan meja belajarnya agar Abuya nya tak mudah menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Jam 11 malam, terdengar sang Ayah masih berusaha membujuk hingga lama-lama beliau kesal dan nada bujukan yang pada awalnya lembut kini berubah menjadi sebuah bentakan.
" Aiswa, Aiswa Fajri binti Hariri Salim, BUKA!! "
" BUKA, atau Buya dobrak!! " teriaknya lagi.
Aiswa gemetar, tapi hatinya mencoba meneguhkan niat dan tekadnya. Ia membuka jendela kamar, namun dibuat terkejut karena tiba-tiba ada tangga dibawah jendelanya.
__ADS_1
Tak membuang waktu, seiring suara dobrakan yang makin kencang, Aiswa turun melalui jendela. Wajahnya ketakutan celingukan dipekatnya malam, ini adalah misi pertamanya kabur.
Temannya telah mengirim pesan bahwa mereka baru saja tiba di lokasi penjemputan. Aiswa berlari mengendap, berjingkat, menuju pintu belakang pondok yang senyap.
" Hey.... Siapa itu.... " suara penjaga gerbang.
Aiswa panik, ia bingung hendak melarikan diri kemana. Jantung nya berdebar kencang tak beraturan, keringat nya mengucur deras dan wajahnya sudah pucat pasi memikirkan nasib kegagalan misinya.
Namun saat keadaanya terjepit, sebuah suara menyelamatkannya.
" Jang.. Ujang, tolong kemari... "
Degh.
" Umma........ " Aiswa melihat umma nya muncul di kejauhan dari tempatnya bersembunyi.
" Bu Nyai, maaf malam-malam begini ada disini? "
" Aku gerah jadi mencari udara sejenak disini, lalu melihat kayu-kayu disana sepertinya menggangu jalan... Aku minta esok hari pindahkan ke pinggir saja yaa " Umma mengajak dua penjaga itu bicara sambil mengarahkan keduanya membelakangi tembok agar tak melihat Aiswa memanjat dinding tinggi dengan tangga yang telah dia siapkan juga disana.
Umma tahu anaknya melihat dirinya, lambaian tangan umma menyuruh Aiswa kabur dilihat anak itu.
" Jazakillah kheyr Umma, hiks... Terimakasih banyak atas bantuan malam ini. Aish akan ingat selalu " seka air mata pada wajah nya.
Aiswa kabur dengan mudah malam itu, ia terjun dari tembok setinggi 2 meter dan di tangkap sekenanya oleh kedua sahabatnya.
Brugh. Aiswa meringis merasakan lututnya sakit terkena benturan tanah tandus namun ia indahkan. Ketiganya lalu bergegas pergi dari sana menaiki mobil menuju stasiun kereta.
*
Umma merasa Aiswa telah berhasil kabur maka ia pun kembali menuju rumahnya. Dan ketika Umma mencapai pintu belakang, ia mendengar.
Braaakkkk. Suara pintu ditendang paksa.
" AISWA.......!!! BERANINYA KAMU...!! " Teriak Hariri Salim hingga mengakibatkan beberapa santri penjaga mendatangi kediamannya.
Ketika suaminya terlihat meninggalkan kamar Aiswa menuju halaman depan dan berusaha mencari, Maryam menyelinap masuk kembali ke kamar tamu dan berdiam diri disana.
Ia kemudian mengambil wudhu dan bersiap menunaikan sholat sunnah ketika pintu kamarnya didobrak paksa oleh sang suami.
" Maryam, apa yang kau lakukan? "
" Aku ingin sholat, minggirlah Mas... "
" Ka-mu......... "
Maryam tak menggubris suaminya, ia tetap melanjutkan sholatnya. Dalam hatinya cemas luar biasa memikirkan anak gadis satu-satunya telah pergi, sekaligus sakit melihat perpecahan dalam keluarganya.
Hanya kepadamu lah, aku memohon perlindungan dan petunjuk. Jagalah anakku diluar sana ya Robb, tunjukkan Rahiiim-Mu untuk anakku. .
.
.
__ADS_1
...____________________________...
......" Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthma-innah, tu’minu biliqoo-ika’ watardhoo bi qodhooika wataqna’u bi’athooika”......