
Seminggu sebelumnya.
Aiswa betul-betul kelelahan apabila Joanna tidak sigap mengurusi segala kebutuhannya termasuk urusan makan.
Dirinya kembali terpilih menjadi salah satu dari belasan siswa yang akan berpartisipasi dalam kegiatan event amal untuk para surviver cancer di Malaysia pekan depan.
Dewiq sangat sibuk mengejar ketinggalan selama dia cuti belajar, sehingga saat Aiswa akan terbang ke Asia dia hanya meminta Joanna dan dua orang anak buah Papa di Malaysia guna mengawasi keamanan gadis itu.
Saat ini, dirinya berada di kediaman Hermana. Melepaskan diri dari segala kepenatan. Juga karena Aiswa menempatkan dua buah gaun rancangannya disini. Kali ini dia butuh nasihat sang Mama karena modul yang dia pelajari dirasa memiliki tingkat kesulitan berarti, sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam menuangkan ide.
"Mama, doakan Aku mampu memberikan kontribusi yang baik untuk event amal ini ya." Kecupnya pada telapak tangan Mama angkatnya.
"Aey, jaga diri ... Mama ga bisa nemenin karena khawatir kakakmu kelelahan, pasalnya Dewiq sangat keras kepala, dia sudah mirip workaholic mengejar ketinggalannya...."
"Ada Joanna ko Ma, lagian disana Aku kan banyak teman dari sini," ujarnya lagi saat masih packing semua keperluannya termasuk satu koper besar yang membawa 2 gaun rancangannya.
"Jadi berangkat senin pagi dari sini Aey? atau senin sudah sampai sana?"
"Kamis berangkat Moms, sabtu event puncak dan kami hanya dua hari disana sebab saat akan menuju lokasi pagelaran itu sekalian checkout juga dari Hotel ... satu jam setelahnya, kami sudah harus meninggalkan lokasi event untuk kembali boarding," jelas Aiswa lagi.
"Padat sekali, hati-hati yaa ... jaga kesehatan disana, kalau jetlag segera pesan yang hangat atau minum obat ya Aey ... Joanna, jaga putriku dengan telaten," pesan mama pada keduanya.
"Baik Nyonya."
Mama hanya bisa membantu semampunya, membelai rambut gadis yang merebahkan kepala tanpa penutup hijab di pangkuannya seperti biasa.
"Kalau Mama ga disini, kamu mau manja sama siapa Aey?"
"Kakak paling, itupun kalau sedang tidak mode seram," kekehnya.
"Ma, bisa masak sop ikan ga?"
"Bisa donk, mau Mama masakin? sore yuk kita belanja dulu, memang pas di cuaca yang dingin kayak gini."
"Mau, ikan gurame ada ga Ma disini?" Aiswa tertawa hingga terlihat gigi atasnya yang sedikit gingsul.
"Kamu itu ada-ada saja, tapi nanti kita coba cari ditemani Ulfa biar ga nyasar ... mau tidur dulu Aey?"
"Mau tapi sama Mama." Mama menarik lebih dekat tubuh gadisnya yang semakin berisi, meski perawakannya tinggi namun tetap saja bila melingkarkan tubuhnya terlihat bagai seekor koala yang butuh kehangatan.
***
Malaysia.
Aiswa dan rombongan dari kampusnya tengah menunggu di lobby Hotel saat koordinator sedang memverifikasi kedatangan mereka sekaligus meminta kunci kamar sesuai list yang telah didaftarkan.
Dirinya sungguh tidak berani berdiri ataupun duduk di tempat terbuka tanpa sesuatu menghalangi di depannya.
Sang Koordinator yang telah menyelesaikan urusan mereka di front office, bersegera membagikan kunci kamar merujuk pada list yang dia pegang.
__ADS_1
"Ladies, setelah semua perlengkapan kalian masuk kedalam kamar ... langsung kembali ke sini karena kita akan menuju hall tempat event berlangsung ... let's Go."
Tanpa dikomando lebih lanjut, semua siswa berpendar menuju kamar masing-masing sesuai arahan sebelummya.
Lima belas menit kemudian, kedua belas siswa itu satu persatu kembali ke titik point temu.
"Mana sisanya?"
"Aku, maaf terlambat." Aiswa terengah.
Setelah semuanya berkumpul, mereka menuju mobil hotel yang akan membawa ke lokasi pagelaran.
Saat Aiswa tertinggal itulah, sepasang mata menatap lurus pada sosok mirip seseorang yang dikenalnya. Aiswa tidak menyadari bahwa tatapan mata seorang wanita itu telah mencuri perhatiannya, hendak mengikuti kemana langkah dia pergi.
Hingga. Set. Joanna menarik lengan Aiswa bersembunyi dibalik tembok saat wanita yang mencurigainya ditarik oleh seseorang.
Nampak keduanya sedang mengkonfirmasi sesuatu ke arah pintu samping hotel yang akan Aiswa lalui.
"Tidak ada siapapun disini, ayok ke kamar dulu, bandel ya kamu suka kabur-kaburan." Terdengar oleh mereka suara seorang pria yang mulai menjauh.
Setelah situasi aman, Joanna melepaskan cekalan pada lengan Nonanya serta tangan kiri yang membekap mulut gadis itu.
"Sakit Jo," rengek Aiswa merasakan bekas cengkeraman kuat di lengannya.
"Maaf Nona, anda hampir dikenali."
"Siapa ya tadi?"
"Ingat, karena aku menghadiri pesta pernikahan mereka di Semarang."
"Ngapain mereka disini?"
"Gamaliel berasal dari sini Nona,"
"Little A, come on," tegur sang koordinator.
"Oh I'm coming Sir," sahutnya seraya sedikit berlari meninggalkan Joanna.
Hampir saja, Almahyra, semoga mulutmu dijaga kali ini.
Aiswa gladi resik dengan rombongannya hampir sehari penuh lalu kembali ke Hotel saat menjelang malam.
Setelah membersihkan diri, dia menyiapkan dua gaun yang akan di pamerkan esok pagi.
"Sempurna dan cantik, hening dengan ungu tuanya," dirinya terkekeh memikirkan inspirasi kali ini.
Hanya menggunakan satu warna gradasi, dark ungu hingga dusty atau lilac. Kesendirian yang mampu berubah menjadi sebuah kekuatan namun tetap lembut sebagai simbol wanita.
***
__ADS_1
Penang, saat yang sama.
Aruni sudah sangat gelisah, dia terus meminta pada Amir untuk kembali pulang. Namun Amir menahannya, sisa dua hari lagi pikirnya kala itu.
"Sabar Dek, dua hari lagi kan sisa cek lab aja habis itu langsung pulang."
"Sudah kangen kamar dan kangen berdua sama kamu Mas," keluhnya.
"Setiap hari juga berdua sayang," Amir tersenyum simpul.
"Ada Mama, noh, ga bebas mau ngapain aja."
"Mau ngapain emang?" Amir sengaja berbisik di telinganya.
"Tau ah," cebiknya mulai kesal Amir dirasa tak peka.
"Aku juga kangen kamu, sangat, sabar ya nanti kita balas dendam deh ... jangan ngeluh cape dan pegal loh yaa, " bisiknya lagi sedikit menggoda.
"Mas, dih, kan belum boleh."
"Emang mesra-mesraan sama kamu cuma kesana doank, kamu mesum sayang," gelaknya.
"Iiihhhh, nyebelin sih." Aruni malu, menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Justru sikapnya ini membuat Amir gemas, di ciuminya tubuh yang terbalut selimut lalu dia menaiki brangkar dan menyelinap masuk kedalamnya, memeluk tubuh miliknya menempel erat mengikis semua jarak.
"Dia bangun Dek, kamu tanggungjawab."
"Gimana, pake itu?" tanyanya lugu.
"Jangan pura-pura ga ngerti," bisiknya mesra menciumi tengkuk Aruni.
"Mas, pulang, beneran kangen sama kamu."
"Iya sayang, besok yaa aku sampaikan ke dokter dulu ... sini," Amir membalikkan badan ke arahnya.
"Aruni Fauqiyya jika sudah punya keinginan, maunya maksa ... tapi gapapa deh, karena dia istri cantikku, aku tuh entah kenapa sayang kamu banget," belai wajahnya lembut, menatap manik mata yang juga sama menatapnya, menyelam kedalamnya.
"Mas,"
C-up. Tak mempedulikan kehadiran Mama yang duduk di sofa ruangan, Amir menghujani wajah istrinya dengan ciuman. Menyusuri setiap jengkal wajah yang semakin ayu.
Kamu wangi Qiyya, entah wangi ini berasal darimana. Wangi...
.
.
...__________________________...
...Teringat wanginya Ummi, wangi yang ah ga tau lah, pokoknya wangi... ðŸ˜...
__ADS_1
...Al Fatihah... ...