DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 113. DA3A


__ADS_3

Aiswa berhenti sejenak, apakah pertanyaan barusan ditujukan untuknya. Baru saja dia akan membalikkan badan. Sebuah suara mengalihkan perhatian Amir.


"Den Mas," Kusno kalani memanggil.


Aiswa punya kesempatan melanjutkan langkah meski Amir sepeti hendak menahan.


Maaf ya Bii, kamu bukan milikku.


Matanya kembali berkabut, ujian hati sesiapapun mungkin antara sanggup atau tidak, sebisanya dia meredam agar tak menjadi nafsu.


Joanna sampai lebih dulu di pintu parkir lantai dua, ketika Aiswa tiba, dia telah membuka pintu kiri jok belakang agar Nona nya dapat segera masuk. Setelah dirasa nyaman, mobil sedan Lexus hitam itu melesat keluar basement menuju Bandara guna melanjutkan perjalanan kembali ke London.


Bye Qolbi, mungkin kita tak akan pernah bersama.


Aku sudah cukup puas ya Robb seandainya hanya bisa melihat dari kejauhan, jaga dia untukku karena sebaik-baiknya pemegang amanah adalah Engkau.


Aiswa menghembuskan nafas perlahan. Mulai menata lagi hatinya, berlatih sedikit demi sedikit agar sesak itu tak lagi muncul ketika melihatnya di masa depan.


Sementara dirumah sakit.


"Ya Pak, kenapa?"


"Ndoro nyariin, mau sholat katanya," sahut Kusno kalani.


"Oh iya lupa, tadi aku...."


"Aku kenapa Den Mas?"


"Ga apa, mungkin cuma prangsaku mawon Pak. " Meski hatinya gamang, ia berusaha mengabaikan kembali segala prasangkanya. Berjalan bersisian dengan sang Aspri menuju kamar Danarhadi.


Keesokan Pagi.


VVIP Kamar Rosalie.


"Selamat pagi Nyonya?" Ada yang sepi di ruangan ini, tak nampak Aiswa yang biasanya duduk disofa sedang mengaji atau sedang mengerjakan sesuatu didepan laptopnya.


"Pagi, Dokter."


"Aku cek dulu yaa, kemarin gimana? apakah merasa lebih baik?... infusnya mau dilepas atau tetap dipakai? jika bisa minum obat dengan baik tanpa mual, ini bisa dilepaskan," tanyanya ramah.


"Lepas saja ya Pa, gimana?"


"Kalau kamu enakan yaa bisa kan Dokter Rayyan bilang gitu."

__ADS_1


"Dilepas ya, nanti suster bantu bereskan."


Rayyan terlihat serius mencatat semua hasil pemeriksaan pagi ini, sedangkan suster mulai membawa peralatan untuk melepaskan infus yang terpasang di tangan kiri pasien.


"Sepi banget, Nona Aeyza kemana? ga kelihatan dari tadi," tanyanya disela mengecek sisa obat.


"Sudah kembali kuliah, dia cuti seminggu kemarin," Mama menimpali.


"Kuliah? dimana Nyonya?"


"London Dokter, Aeyza suka gambar dan kebetulan terpilih seleksi interview untuk mendapatkan beasiswa," imbuh Hermana Arya.


"Sudah cantik, cerdas pula ... calon istri idaman," seloroh Rayyan.


"Naksir Dok?" Sambung Hermana Arya lagi.


"Boleh ga?" Rayyan mencoba peruntungan.


"Tapi jangan sakit hati ya ... sikapnya dingin, juga galak," ucap mama menambahi.


"Harus gigih donk yaa ... kapan dia kembali?"


"Entah, anak itu kadang sesukanya dan kami ga berani menggangu mimpinya." Mama menatap suaminya, teringat anak kandungnya Aeyza yang bahkan tak punya kesempatan meraih mimpi, sama seperti Aiswa dulu.


"Semoga Aey kuat, doain Ma," Hermana Arya peka, istrinya pasti teringat akan Aeyza.


"Bukan Dokter ... aku hanya sedih jauh darinya, semoga dia bisa mandiri disana," ucap Mama.


"Hmm, Aeyza kuliah dimana? aku minggu depan akan mengunjungi London, ada kegiatan disana ... jika diizinkan, aku akan menemui Aeyza atau bilamana ada titipan boleh sekalian."


"Dokter." Rosalie sudah curiga, Dokter muda ini menaruh suka pada Aiswa.


"Maaf Tuan, aku sepertinya harus jujur dengan Anda ... mungkin terlalu dini tapi aku tertarik dengan putri Anda, Aeyza ... bila diizinkan mengenal lebih dekat. Aku lebih suka jujur meminta izin di awal agar saling menjaga," ucap dokter Rayyan berani.


Hermana Arya tersenyum, mengakui bahwa pria di depannya ini gentle.


"Semuanya aku kembalikan pada putriku, Aeyza ... aku mengikuti segala keinginannya. Jadi bilamana Anda berniat serius denganya, silakan Dokter, selamat berjuang karena Aeyza kami tak seperti gadis kebanyakan ... Saint Martin," imbuh Hermana Arya lagim


"Diizinkan yaa ... yess! " serunya girang.


Kampus ternama, mimpimu rupanya setinggi langit.


"Aw, be carefull sus," Mama mengeluh nyeri saat jarum lepas dari nadinya.

__ADS_1


Melihat respon suaminya terhadap Aiswa, Rosalie khawatir. Dia menatap lekat pria yang belum lama rujuk dengannya itu.


Sang suami yang ditatap tajam oleh sepasang mata disampingnya, hanya menepuk telapak tangannya pelan.


Setelah Dokter Rayyan meninggalkan ruangan, Mama memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Papa gimana sih anaknya kan suka sama Amir, ko malah dikasih tahu kampus Aey ... nanti kalau putriku ngambek gimana? lagipula Aeyza itu sedang fokus kuliah, meski dia hanya mengambil waktu tiga tahun baiknya jangan di ganggu donk ... Mama kecewa sama Papa ... inget ya, Papa tuh megang janji loh, jangan sampai ingkar, dosa besar kata Aeyza."


"Jika anak itu tak suka yaa maka akan abai Ma, jangan berlebihan lah ... Papa akan tetap tunaikan janji ko dengan Dewiq kan kita telah sepakat ... juga tidak ada perjanjian bahwa Aiswa harus menikah dengan Amir meski Papa tahu istrinya baru saja meninggal satu bulan yang lalu dan pria itu bebas ... please Ma, aku juga ingin Aeyza bahagia ... menemukan pasangan sejati kan bukan hanya Amir seorang ... jika Rayyan bisa mengobati luka dan masuk dalam hatinya, mungkin Aeyza akan jauh lebih bahagia ... itu harapan aku terhadapnya namun aku janji tidak akan memaksa bahkan Dewiq telah bersumpah akan mendukung adiknya meraih bahagia dengan siapapun yang nanti akan jadi pasangannya."


"Serah Papa deh, Mama pokoknya bakal bela Aeyza juga kalau kalian berdua maksa-maksa dia," kesalnya.


"Ckck, ga akan maksa lah Ma, dia bukan hakku, meski aku sayang padanya."


***


London.


"Hai London, aku kembali siap menjemput mimpi."


Dewiq hari ini tak bisa menjemput Aiswa di airport maka dia mengutus Ulfa ke sana.


Saat Ulfa turun dari mobil yang baru saja dia parkirkan, langkahnya disejajari oleh seorang pria. Ulfa menoleh kearah kanan lalu menghentikan langkahnya.


"Kak...."


"Hai gadis kecil, kamu sudah keren sekarang, ikut siapa?"


.


.


...___________________________...


...Pernah tahu kisah Laila Qois atau Laila majnun? doa Qois didepan Ka'bah apa? meminta Allah agar mengekalkan cintanya meski tak saling memiliki, dan Allah ijabah....


...Inti dari ini harapan mommy sih, yang diambil adalah ketawakalannya, gigihnya, sabarnya, baik Aruni, Aiswa, Almahyra ataupun Amir sekuat tenaga dengan cara masing-masing meredam godaan agar tetap stay kewajiban dalam hidupnya. Meski nafsu itu yaa ga bisa lepas dari syaithan yang mengganggu hati manusia nan lemah dan berusaha logis agar nyambung dengan real life karena kita masih manusia. ...


...Bukan pada kisah yang manja atau mendayunya, karena mommy bikin flat untuk asmaranya wajar kalau ga sweet banget....


...Cinta, jangan kan Amir yang rumit, tilik kisah kita sendiri aja gimana ya haha... padahal katanya pacaran... konfliknya juga banyak bukan? keuwuan juga ada.....


...eh mommy sih ga ngerasain pacaran, cuma tahu dari curhatan aja xixi.....

__ADS_1


...❤❤❤❤...


...semoga ada ibroh yang bisa diambil, meski mommy tahu, tulisan ini masih jauuuuuhh banget dari kata bagus apalagi sempurna... ...


__ADS_2