
Aiswa merasa jengah dipandang demikian, juga kenapa Dokter itu malah meminta nomernya, sungguh modus.
"Ma, maaf jika tadi ga sopan, Aku sebal sama dia, ga bisa jaga ... eh, maaf ya Ma," Aiswa kelepasan bicara padahal memang dia yang sudah tidak sopan.
"Mama ngerti Aey ... Aeyza yang ini tetaplah Aiswa," bisik Mama tersenyum hingga anak angkatnya itu ikut tersenyum dibalik maskernya.
Sesampainya di Hotel.
Aiswa mengirimkan pesan pada Dewiq bahwa Mama kemungkinan akan terapi hingga dua pekan, belum juga selesai berkirim pesan, Dewiq malah menelponnya.
"Aey, biar Papa yang nemenin disana, kamu kembali dengan Joanna, lanjutkan kuliahmu ... Papa juga akan mengambil keputusan demikian."
"Kak, biar aku ... Papa sibuk kan, aku bisa cuti atau kerjakan semua dari sini juga bisa, nanti aku izin pada beberapa dosen ku."
"Engga, pokoknya kembali." Dewiq bersikukuh.
"Kak, Papa dan Mama bukan mahram loh, masa mau berduaan? satu atap meski beda ruangan gitu?"
"Astaghfirullah, lupa, jadi gimana?" tanya Dewiq buntu.
"Nikah lagi lah, rujuk ... Kak, bujukin Papa, aku bujukin Mama."
"Yakin Aey? ga ada jalan lain?"
"Engga ada, jika Papa yang harus nemenin Mama," sahutnya lagi.
"Ok kita coba yuk," ujarnya bersemangat.
Obrolan kedua gadis itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan agar bagaimana caranya mereka dapat kembali rujuk, karena dari apa yang mereka lihat sesungguhnya masih ada rasa sayang diantara keduanya namun entah apa yang menghalangi untuk kembali bersama. Apakah masih saling menyimpan amarah meski Aiswa tahu Papa angkat nya itu telah lama mengaku bersalah dan menyesal.
Untuk mendukung rencananya, Aiswa kemudian meminta Joanna mengirimkan pesan pada Dokter Rayyan supaya ikut ambil bagian peran esok pagi, saat pembacaan hasil lab, agar meminta Mama selama masa terapi ditemani oleh suami sehingga support morilnya lebih terjaga.
Ting.
Ponsel dokter bergetar tanda notifikasi masuk.
Dia membaca pelan pesan dari nomor yang telah dia simpan dengan nama 'gadis cantik' itu dengan wajah berseri.
"Oh, dia maunya begini, bukan masalah besar dan memang seharusnya demikian."
__ADS_1
"Ok, Nona ... aku ikut rencana Anda." balasnya pada pesan Aiswa.
Joanna yang menerima balasan, menunjukkan pesan dari sang dokter. Aiswa berkata tak usah lagi membalas pesannya.
Sementara ditempat lainnya, dokter Rayyan menunggu pesan balasan dari Aiswa hingga dirinya tertidur disofa apartemennya.
Keesokan pagi.
Hari ini Aiswa mengenakan gamis overall berwarna marun tua dengan dalaman blouse broken white dipadu hijab senada serta sneaker putih yang membalut kaki putihnya, lebih mirip anak SMA yang mencirikan anak mama tengah menggamit manja lengan sang bunda.
Sehingga pandangan dokter Rayyan tak bisa berpaling darinya semenjak sepasang kaki itu menyentuh lantai keluar dari lift menuju poli.
Dari lantai tiga, sang dokter memandangi potret hidup itu dari kantornya yang tepat berada diseberang poli, memungkinkan dia dapat melihat dengan jelas setiap keluarga pasien yang tengah menunggunya dibangku depan ruang praktek itu.
"Sungguh cantik, Aeyza."
Saat konsul kali ini, Aiswa memilih duduk di brangkar pasien setelah Mama turun dari atasnya tadi. Meski Mama memintanya duduk bersebelahan, ia tetap enggan. Meski demikian, rupanya Sang dokter bisa diajak bekerjasama, terbukti dia mengikuti semua permintaan Aiswa. Tak dia pungkiri, terlihat gurat kecewa digaris wajah dokter muda itu sebab Aiswa kentara menghindarinya.
"Tidak adakah ucapan terimakasih untukku? Nona Aeyza?" tulis pesannya untuk Aiswa, namun seperti biasa tak kunjung mendapat balasan membuat Rayyan kesal.
"Apa susahnya sih, angkuh sekali," rutuknya mulai jengah.
Pulang dari rumah sakit, Aiswa mulai membujuk Mama yang lebih banyak diam, perlahan.
Balkon, menjadi tempat mereka berargumen hingga akhirnya keinginan Aiswa dan Dewiq terkabul setelah proses yang lumayan alot.
"Aey, naiklah Nak." Papa menelponnya. Aiswa dan Joanna kembali masuk ke kamar saat kedua orang tua angkatnya telah siap menyambut di sofa.
" Aey, kami akan menikah," ujar Papa saat Aiswa telah duduk.
"Ga niat nikah kontrak kan Pa? ga boleh loh, nikah mut'ah itu dilarang," Aiswa khawatir demi kesembuhan Mama.
"Engga Aey, kita berusaha berdamai dan memang kita masih sayang."
"Alhamdulillah, kapan Pa akadnya?"
"Secepatnya, besok biar Theo mengurusnya ... sehat lagi ya Rosalie," imbuhnya melihat pada sang istri yang hanya diam merunduk.
Malam ini, ketika akan memejam. Aiswa sungguh merasa lega, memeluk Mama yang juga membelai lengannya. Akhirnya keluarga Kakak angkatnya itu kembali utuh.
__ADS_1
***
London.
Satu jam yang lalu kedua pria perlente telah menjejakkan kakinya di negara dengan menara big ben nya yang mashur.
Ketika Mahendra baru saja memasuki kamar hotel, ponselnya kembali ia aktifkan sehingga notifikasi pesan masuk di gawai miliknya beruntun berdering.
Dia membuka pesan dari sang istri pertama kali, memeriksa setiap foto termasuk rekaman cctv apartemennya yang Naya dapatkan dari Candi.
"Sayang, aku baru saja tiba satu jam lalu ... kini sudah dihotel ... jika dari cctv aku ga lihat Aiswa pakai jam yang sama dengan Ka Amir, juga pergelangan tangan Kakakmu selama diapart tidak pernah memakainya ... siapa gadis itu?"
"Gadis mana? kenapa dengan jamnya sih?" tanya Naya masih tak mengerti.
Mahen menceritakan semua rasa ingin tahu nya atas kejadian yang dia lihat saat di Singapura.
"Cuma mirip kali Abang, memang kak Amir punya jam yang sama dengan gadis itu, tapi bukan berarti dia Aiswa ... maksud Abang gitu kan? udahlah, jangan memaksa kehendak."
"Mungkin aku salah lihat, bener kamu sayang ... aku mandi dulu ya, nanti ku telpon lagi."
"Uyut jatuh, dan kemungkinan akan dilarikan ke Singapura sesuai rekomendasi Abang, Abah ga bawa pasport jadi sepertinya Kak Amir yang akan pergi, ketemu di sana langsung ... Uyut akan dikawal Pak Kusno kalani," terang Naya.
"Ya Allah ... aku akan hubungi dokter Laura dulu jika begitu, karena Aku dapat rekomendasi darinya."
"Mampir dulu tolong jenguk Uyut nanti jika Abang transit disana yaa, jangan terburu pulang jika lelah meski sebenarnya kita juga rindu ... ya Maira, rindu Ayah juga kan?"
"Iya aku akan singgah disana sebelum kembali ... Foto donk sayang ... jangan tanya Ayah kangen atau tidak sama Maira, tiap hari rasanya lebih lama, padahal ingin segera pulang ... kirim foto kalian yaa ... kita bicara lagi nanti, Rey telah menemukan sesuatu." Mahen mengakhiri panggilannya.
"Bos, aku menemukan para pembelinya ... cuma lumayan banyak, meski yang limited custom hanya 50 customer, datanya secret dan aku belum bisa jebol pertahanan mereka."
"Yakin Rey? berikan padaku, buat firewall pengamanan ... entah kenapa aku ko ngebet banget," imbuhnya sembari jemari yang sudah lincah bermain di papan ketik.
Tiga puluh menit kemudian.
"Yes, dapat, clearkan jejak Rey, aku mandi dulu."
"Luar biasa ... what! Indonesia hanya lima orang, tapi tidak ada nama Kak Amir didalamnya ... padahal jelas custom tapi, apakah dia membeli dengan identitas lain?" Rey berargumen setelah Mahen masuk ke bathroom.
.
__ADS_1
.
...__________________________...