
Ketiga gadis yang sedang berada dalam mobil Toyota Yaris Sportivo merah metalik itu tertawa lepas ketika misi kabur mereka berhasil.
Orang tua Aiswa tidak akan pernah bisa menduga kemana ia pergi dan di bantu oleh siapa saja saat menjalankan misi kaburnya itu. Karena kedua temannya ini bukanlah dari lingkungan pesantren atau teman kecil Aiswa disekitar pondok.
Dewiq dan Dwiana, nama kedua sahabat Aiswa yang membantunya kabur. Mereka bertemu saat Aiswa pertama kalinya terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba cerdas cermat diluar sekolah saat Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten saat ia duduk di kelas 9.
Ketiganya tak sengaja berkenalan saat makan siang. Awalnya Aiswa duduk menyendiri dari keramaian hingga Dewiq menghampiri Aiswa pertama kali dan izin untuk duduk disebelahnya karena bangku lain telah penuh terisi. Sesungguhnya mereka butuh teman tapi status sosial yang tinggi kadang kala membuat mereka merasa di kucilkan.
Dwiana yang masih mengantri mengambil makanan, mengamati Aiswa sejak duduk di bangku paling pojok di kantin sendirian, sungkan menghampiri lebih dulu hingga ketika melihat interaksi asik antara Dewiq dan Aiswa, Dwiana lalu memberanikan diri bergabung.
Dimulai dengan obrolan ringan yang lama kelamaan menjadi hangat bahkan merasa sangat cocok karena senasib, mereka akhirnya memutuskan menjalin pertemanan lebih lanjut dengan bertukar email, nomor handphone dan akun media sosial lainnya.
Tiga tahun sudah pertemanan rahasia yang mereka jalin. Meski tak pernah pergi bersama dalam suatu waktu namun interaksi ketiganya via dunia maya kian akrab bahkan terjalin ikatan batin layaknya saudara kandung.
" Aish, kamu yakin mau ketemuan sama yayang? " tanya Dewiq sambil menyetir mobilnya. Ia adalah putri tunggal keluarga dokter, pemilik puluhan Rumah Sakit elite yang tersebar diseluruh Indonesia.
" Eh, nanti kalau dia nolak kamu gimana? " sahut Dwiana, putri pengusaha tambang batubara yang ditelantarkan orangtua nya di Jakarta. Berkat Aiswa, dirinya tak terjerumus pergaulan bebas dan gaya hidup hedon yang digandrungi anak muda seusia mereka.
" Ka Amir bukan orang yang kasar, meski dia tak suka kehadiran ku pastilah ia akan tetap berlaku lembut. "
" Tapi kayaknya dia juga cinta sama kamu, Aish. Kenapa sih dia ga datang, lamar kamu gitu? ah ga gentle cowok kamu itu. " ujar Dwiana.
" Heh, bukan ga gentle keles, orang alim mana ada yang begajulan. Lu liat aja tampilan Aish begitu. Senyum aja mahal selain ama kita... Ga kayak elu, cengengesan tiap liat om-om, udah mirip boneka mampang di lampu merah. " Dewiq nyerocos mengejek Dwi meski pandangannya lurus kedepan.
" Hahahaha.... Maafin Dwi, aku ga kuat. " Aiswa tak bisa menahan tawanya. Tawa yang tak pernah ia tunjukkan di rumah, tawa lepas seorang gadis yang menahan diri demi sebuah nama baik sang Ayah.
" Bagus dah lu pada ketawain gue... Terus aja terus. " sungut Dwiana.
" Lah iya, Lu kan gitu hahaha... " ejek Dewiq lagi.
" Asem banget gue.... Eh Aish, ini tiket nya. " Dwi memberikan selembar tiket kereta pada Aiswa.
" Dan ini, dari kita.... " Dwi kembali menyerahkan amplop coklat pada Aiswa.
" Apa ini? " tanya nya.
__ADS_1
" Buka saja sayang. " Dewiq menoleh ke arahnya sekilas.
Aiswa perlahan membuka amplop coklat yang diserahkan oleh Dwi padanya.
" Maa sya Allah, kalian.... A-aku ga perlu ini semua, " mata Aiswa berkaca-kaca melihat 2 ikat uang dengan nominal masing-masing 10 juta di dalam amplop.
" Diterima ya Aish, kita ga bisa nemenin kamu di sana. Inget, jangan bergantung pada lelaki. Jikalau pun Ka Amir-mu tidak mau menerima mu, kamu bisa gunakan itu untuk melanjutkan sekolah kejar paket dan sebagai modal usaha di mana saja sementara kita berdua belum menyusulmu setidaknya kamu bisa bertahan hidup mandiri.. " Dewiq menjelaskan maksud mereka.
Dwiana sudah memeluk sahabatnya itu kala mobil mereka memasuki pelataran parkir stasiun.
" Jangan sungkan bahkan lupakan kita yaa... " Dwi menangis memeluk tubuh mungil itu.
" Kalian.... A-ku, hiks.... Dengan cara apa aku membalas kebaikan kalian ini. " tangis Aiswa pecah. Hanya mereka kawan yang ia punya. Hanya bersama mereka Aiswa merasa menjadi dirinya sendiri.
" Doa, do'akan kami, orang tua ku terutama agar ia ingat anaknya disini. " pinta Dwi.
" Yups, do'akan keluarga ku juga. Kamu lebih alim dibandingkan kami, Aiswa Fajri... Aku bersyukur dikala kebingungan mencari jati diri, kekecewaan pada papa, aku bertemu kamu hingga hidup ku lebih baik. " Dewiq mengenang saat ia frustasi dan mencoba bunuh diri karena kurang perhatian dan kasih sayang.
" Aku pun, udah tobat ga nge-drug lagi, ga ngudud lagi berkat kamu, ayank. " Dwi kembali memeluk erat sahabatnya itu.
" Yuk.... " gandeng nya bersisian dengan Aiswa ditengah.
Setelah ketiganya masuk ke peron dan memilih menunggu di ruang tunggu eksekutif. Dewiq memanggil seseorang.
" Aish, kenalin.... Ulfa, bodyguard aku yang bakal nemenin kamu sampai kamu aman dengan yayang. Jangan sungkan minta tolong dengannya selama diperjalanan. Ok? "
" Haah, ya Allah Ka Dewiq.... " Aiswa kembali memeluknya erat. Membenamkan wajah sedihnya dibahu sang sahabat.
" Salam kenal Nona, semoga perjalanan kita menyenangkan. " Ulur tangan Ulfa pada Aiswa.
" Salam kenal Ka Ulfa " sambut uluran tangan Aiswa.
" Aish, jangan khawatirkan Umma, orang ku akan menjaganya, kabari kita setelah kamu sampai disana yaa... Aku sudah pesankan hotel untukmu dan Ulfa sudah paham apa yang harus dilakukan. " Dewiq mengatur misi Aiswa dengan sempurna, otak encer warisan keluarganya tak ia sia-siakan kali ini.
" Hem, percaya sama kakak sulung kita ini, Aku akan ikut test masuk ke Universitas di Aussy dan Dewiq akan ke London... Lusa kita akan prepare jadi minggu ini mungkin aku dan Dewiq sedikit sibuk. " Ungkap Dwi kemudian.
__ADS_1
" Sukses untuk kalian berdua, aku do'akan yang terbaik.... " Aiswa terharu, sangat.
" Makanya kita bekelin kamu, takut kita sedang ga on nanti... Selamat berjuang ayank, aku salut keberanian mu, Aiswa Fajri. " Dewiq memeluknya erat, sangat erat hingga Aiswa bisa merasakan tubuhnya bergetar karena tangis.
Aiswa, wajahmu yang sekilas mirip dengan adikku. Kami yang dipisahkan akibat perceraian kedua orang tua ku. Kini, aku juga harus kehilangan mu lagi. Batin Dewiq.
" Ka... Meski beda usia kita hanya satu tahun, tapi kamu bagaikan kakakku... Aku sayang kalian. " Aiswa menangis, ketiganya berpelukan erat hingga suara petugas informasi mengabarkan bahwa Kereta Api Jayabaya tujuan Semarang sudah transit di Stasiun Gambir dan 5 menit lagi akan segera berangkat.
" Nona, aku pamit pergi sementara. Jaga diri anda baik-baik.. Mari Nona Aiswa. " Ulfa menyadarkan ketiga gadis itu agar mengurai pelukan mereka.
" Jaga dia, Ulf... Sebelum dia betul-betul aman, kamu dilarang kembali. " bisik Dewiq pada bodyguardnya.
" Bye Aiswa Fajri. " Lambai tangan Dewiq & Dwiana yang saling merangkul melepas kepergian sahabat kental mereka saat Aiswa telah naik ke gerbong.
" Bye kalian... Aku akan merindukan kalian. " Lirihnya di selingi tangis saat ia melambai di jendela melihat kedua sahabatnya terakhir kali sebelum akhirnya hilang dari pandangan seiring kereta yang melaju perlahan meninggalkan stasiun.
Jakarta, untuk pertama kalinya aku meninggalkanmu. Meniggalkan segala yang aku punya disini. Kini, aku hanyalah Aiswa Fajri gadis biasa, bukan lagi putri Hariri Salim yang terpandang.
" Nona, anda ingin makan? " suara Ulfa membuyarkan lamunannya.
" Boleh, aku sangat lapar. " Perutnya sangat sakit dan perih, ia hanya sempat memakan roti saat sarapan sebelum orang tua nya bangun pagi tadi.
Sementara Ulfa memesan makanan, Aiswa mengetik sebuah pesan.
" Aish berhasil........ "
.
.
..._____________________________...
...Aku tersesat menuju hatimu... Beri aku jalan yang indah...
...Izinkan ku, lepas penatku... 'Tuk sejenak lelap di bahumu...
__ADS_1
...Dapatkah selamanya kita bersama?.... Menyatukan perasaan kau dan aku?...