
Parasnya sangat lembut, garis rahang keturunan Jawa ningrat kian menegaskan bahwa dia adalah wanita anggun nan berkelas.
Otaknya yang cerdas mengundang banyak pasang mata kumbang jantan yang menaruh rasa kagum padanya. Namun sayang, pesona Raden Ahmad Hasbi yang cemerlang di almamater nya telah mencuri hati wanita anggun nan seksi ini sejak tahun pertama dirinya masuk ke dalam University Of Singapore, kampus dimana sang idola mengenyam pendidikan yang sama.
" Hanya dia, yang peduli padaku....!! "
" Sayang, bangun ... bukan salahmu, kasihan anak kita bila kamu seperti itu. "
Plakk.
" Anak? anak siapa? "
" Anak kami, dia tengah mengandung 5 minggu.... " Meraih tubuh istrinya kedalam pelukan. Tak Hasbi pedulikan rasa panas di pipinya, yang dirinya khawatirkan hanyalah Serli dan anak dalam kandungannya.
Serli terisak dalam pelukan suaminya, ia sadar hari ini akan tiba jua. Dia tak dapat membayangkan bila saja Buya meminta Hasbi menceraikannya.
Dirinya telah banyak berkorban demi pria itu agar melihatnya, membiarkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain meski telah berbagi ranjang dengannya.
Harga diri, kehormatannya telah ia serahkan sepenuhnya untuk sang suami yang teramat dia cinta. Mungkin otaknya tak waras, meminta suaminya memperlakukan hal manis yang sama pada Aiswa, demi agar Buya tak membuangnya bila kelak posisinya terbongkar. Dia menerima dipoligami. Miris, batinnya.
Yai Maksum memejam, rahangnya mengetat, tangannya mengepal meredam emosi yang membuncah dada.
" Buya, duduk dulu. " Suara anak sulungnya.
" Mas, dia berani padaku ... adikmu kurang ajar, melempar kotoran pada muka ayahnya, " sentaknya.
" Tidak ... keluarga Serli mengetahui ini dan merestui mereka, aku ada disana saat mereka berikrar. "
Plakk.
" Kurang ajar kamu Mas! "
__ADS_1
" Buya, aku tak punya pilihan ... Hasbi diujung tanduk, Serli menghubungi aku via ponsel Hasbi, dia di ICU Singapura dan Serli yang meminta untuk dinikahi siri demi merawat Hasbi agar tak berzina ... Serli menyelamatkan kehormatan kita Buya, meski cara kami salah. "
" Lalu Aiswa? apa niatanmu?... kamu juga, sebagai istri harusnya kamu mencegah kelakuan suamimu ... kalian tak menghubungi ku meski genting? kalian anggap aku siapa? " Yai Maksum murka.
" Aku mengizinkan suamiku, agar Buya tak membuangku bila statusku diketahui, karena aku bersedia di poligami ... aku sangat mencintainya."
" Serli bahkan memintaku memperlakukan Aiswa dengan baik, " kecup Hasbi pada kening wanitanya.
" Siapa yang kamu pilih!! " Buya putus asa. Apa yang akan dia sampaikan pada sahabatnya Hariri salim.
" Jangan Buya, jangan minta Mas Hasbi memilih, aku ikhlas ... aku yakin Aiswa perlahan mencintainya juga, jangan nodai pernikahan kedua suamiku. " Isaknya lagi
" DIAM!! "
" Kalian telah merusak makna pernikahan, kalian mempermainkan hati mahluk Allah lainnya ... kasihan Aiswa dan Amir karenamu, dendam laknat yang seharusnya tak kau piara ... aku menyerah karena Raden Panji Mahendra memang telah mengkhitbah Ainnaya dua kali via Amir. "
" Amir selaku kakak Ainnaya, sudah seharusnya tak menerima khitbah lainnya, kamu lupa adabmu? aqidahmu? ... sungguh Kaji Ahmad alias Raden Mas Brajawisesa telah berhasil mendidik Amir, meski anaknya disakiti demikian rupa, mereka tetap santun. "
" Kamu lupa, Kaji Ahmad ayah Naya masih hidup? wali langsungnya tak mengizinkan bahkan menerima khitbahmu, lalu aku harus bagaimana?... aku masih punya akal sehat! "
" Bohong, kalian sekongkol kan? aku tahu Mahendra bukan orang biasa meski dia pria cacat ... aku mencintai Ainnaya sejak dia belia, Buya tak mengizinkan aku menyapanya kerap kali aku mengunjungi Amir ... aku sudah lama menunggunya, ketika bertemu tak sengaja di kereta, aku ingin meminta namun Buya sedang opname saat itu ... Naya cinta pertamaku, hidupku untuknya, aku memantaskan diriku untuknya, " Hasbi menangis.
" Jadi kamu memang berniat balas dendam pada Aiswa karena merasa Amir tak adil memperlakukanmu? dengan memperalat Ahmad? innalillahi ... anakku monster. " Buya menahan sesak didada hingga tubuhnya goyah.
" BUYA!! " teriak Hasan, anak sulungnya.
" Hasbi sudah dulu, tolong Buya, " pinta kakak sulungnya.
Yai Maksum menampik tangan kedua putranya yang hendak memapahnya berdiri dan duduk. Nafasnya tersenggal menahan gejolak amarah, sebisa mungkin dia mengatur detak jantung yang serasa ingin meletup.
Keributan keluarga itu akhirnya mereda seiring waktu. Hasbi tak bisa segera kembali ke rumah sakit bila masalah ini belum selesai dan Buya kembali tenang.
__ADS_1
***
Sementara ditempat lainnya. Ponsel Amir berdering tak henti membangunkan dirinya yang terpejam.
" Assalamu'alaikum, " lirih memberi salam.
" Wa'alaikumussalam, Mir syukron masih menerima panggilan dariku. "
" Ada apa? langsung saja, aku ga bisa keluar kamar, istriku sedang tidur dilenganku. "
" Aku ingin menemuimu lusa. "
" Aku akan safar dengan Qiyya, ada kepentingan apa? "
" Maafkan aku atas kejadian Aiswa. "
" Sudah berlalu ... ada Qiyya disisiku, aku mulai menyukainya Ahmad, afwan bilamana ada niatan terkait Aiswa ... aku menolaknya sebab tak ingin istriku terluka. " Amir menangkap maksud Ahmad yang sepertinya ingin meminta dirinya menjenguk Aiswa.
Suamiku sayang, terimakasih banyak. Mas selalu menjaga hatiku.
" Ngghhh, " gumam Aruni memancing reaksi.
" Sudah dulu ya, aku tak ingin istriku bangun ... semalam tidurnya terganggu ... Assalamu'alaikum." Karena kami memadu kasih hingga menjelang pagi.
" Mas, " suara seksinya manja.
" Tidur lagi sayang, ashar masih lama ... aku juga masih ngantuk. " Merapatkan selimut agar suhu rendah pendingin ruangan tak menyergap kulit mereka yang tanpa benang sehelai pun disebaliknya.
.
.
__ADS_1
..._____________________________...