DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 14. JUMPA LAGI


__ADS_3

Hotel Sriwedari.


Setelah sarapan, Aiswa membersihkan diri dan berniat tidur sejenak. Tubuhnya yang lelah karena perjalanan jauh membuatnya terbuai dalam nyamannya peraduan kamar suite yang ia tempati.


" Nona, anda jadi pergi? " tanya Ulfa menggoyang bahu Aiswa yang masih terlelap.


" Eenghh ... jadi Ka, jam berapa yaa sekarang? " tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


" Hampir pukul 10 pagi, Nona. "


" Astaghfirullah ... ka Amir, " Aiswa terlonjak bangun dari tidurnya, matanya langsung tertuju ke meja nakas disamping tempat tidur untuk meraih ponselnya.


Jemarinya lincah mengetik di sana, mengirimkan sebuah pesan yang berakhir pada satu panggilan.


" Assalamu'alaikum, Aish sudah siap? dimana aku harus jemput? " sahut suara maskulin di ujung telepon.


" Wa'alaikumussalam, maafin Aish ka ... ketiduran habis breakfast tadi. Mandi dulu sebentar yaa ... Aish di hotel Sriwedari, " ucapnya lirih .


" Bilang mandinya ko di sini ... jadi gimana gitu, " goda Amir.


" Eh ... apa? oh maaf, " Aiswa tersipu malu.


" Bercanda, aku jalan sekarang yaa. "


Setelah mengakhiri panggilannya, Amir menuju garasi samping rumah sang kakak. Ketika melihat Qonita sedang membaca buku di teras, ia teringat amanah dari Almahyra yang lupa ia sampaikan.


" Mba, pesan Alma sudah dibalas? afwan aku lupa, " sesalnya.


" Sudah, kata mas Abyan gimana kamu saja mau atau tidak? "


" Aku? kenapa aku? "


" Alma ga bilang sama kamu? dia minta kamu ngajar ilmu ekonomi di MA Al Islah selama kamu masih di sini. Jam nya terserah kamu, kalau bisa mulai minggu depan biar dimasukkan dalam schedule guru. "


" Haruskah? aku ga punya ijazah guru lho Mba. "


" Sharing saja, anggap sedang magang. Lumayan kan nambah pengalaman, siapa tau ketemu jodoh di sana, " goda Qonita.


" Mba bisa aja ... aku pikirkan nanti. Jalan dulu yaa Mba. " Pamitnya sembari membuka pintu mobil.


" Mir, jalan sama cewek yaa? sumringah amat, hati-hati dijalan, jaga diri dan sikap ... Mba diam, " isyarat tangannya menutup mulut dan mata.


" Syukron Mba, " balasnya dengan senyum cerah.


Setelah memasang seat belt, Brio merah itu perlahan keluar dari komplek Al Multazam. Amir kembali melakukan panggilan, handsfree.


" Assalamu'alaikum, Alma. Sedang sibuk? "


" Wa'alaikumussalam, sedang break. Gimana ka? diterima? ... by the way Jazakallah khayr sudah revisi beberapa kalimat draft ana. Do'akan lancar yaa kak. "


" Wa iyyaki ... Kenapa ga bilang langsung ke aku sih? "


" Ana sungkan Ka, tapi mau yaa? "


" Boleh, tapi aku juga punya permintaan buat kamu, gimana? "


" Asal ga berat dan melanggar norma, bisa. "

__ADS_1


" Alhamdulillah ... aku kabari lagi nanti yaa, aku sedang dijalan. "


" Ya khayr Ka, fii amanillah. Assalamu'alaikum. "


" Ma'assalamah, wa'alaikumussalam. "


Apapun yang akan di dengarnya nanti, paling tidak Amir sudah memikirkan akan meminta bantuan dari Alma. Karena ia yakin, Alma pasti bersedia membantunya. Entah keyakinan yang seperti apa, setidaknya ketika Aiswa disini, Amir bisa menitipkannya pada teman sesama wanita.


20 menit berlalu, Amir memasuki pelataran parkir Hotel Sriwedari.


Sebelum melangkahkan kakinya masuk ke lobby, ia sempatkan mengirim pesan pada Aiswa.


" Aku sudah dibawah. "


Tak menunggu lama, pesan balasan kembali masuk.


" Aku di lobby ... Ka Amir di mana? aku keluar atau tunggu disini? "


" Tunggu didalam saja, aku masuk. "


Degh. Degh. Degh. Amir mengusap dadanya pelan sembari menarik nafas panjang.


Bibirnya melengkungkan sebaris senyum tipis. Sebelum turun, sekali lagi ia melihat tampilannya lewat kaca spion dalam, mengagumi wajah tampannya dan meyakinkan diri bahwa penampilannya sudah matching dengan outfit casual kemeja navy lengan pendek berkerah Shanghai dipadu pants warna khaki dan sneaker coklat tua. Rambutnya ia beri sedikit pomade agar tetap rapih.


Perlahan pintu mobilnya ia buka, sepasang kaki panjang itu turun satu persatu dari sana, jemari kirinya menutup handle pintu dan menekan tombol remote hingga berbunyi Biip Biip.


Bismillahirrahmanirrahim. Langkahnya mantap memasuki lobby Hotel.


Netra coklatnya mengitari ruangan luas sesaat setelah pintu dibuka oleh bell boy. Tak ia temukan Aiswa di sana. Ketika akan menuju meja receptionist, langkahnya terhenti oleh suara lembut yang memanggil dari arah belakang tubuhnya. Perlahan Amir berbalik.


" Ka.... "


Gamis A-line berwarna marun tua dengan aksen lipit dan list pita di bagian kiri. Hijab polos dengan warna senada lengkap dengan bros silver inisial huruf A tersemat di bahu kanan, menutup sempurna aurat gadis ayu dihadapannya.


" Hmm, jangan liatin Aish begitu, " lirihnya sambil menundukkan pandangan karena ia tersipu oleh tatapan Amir yang mengunci.


" Astaghfirullah, maaf, maaf ... kamu banyak berubah. Kita jalan sekarang atau mau ngobrol di sini? " tanyanya seraya menyentuh dahi untuk menutupi gugupnya.


" Gimana ka Amir aja, Aish ikut. "


" Ikut ke penghulu mau? "


Aiswa menengadahkan kepalanya, memandang sejenak mata coklat pekat pria tampan dihadapannya, yang sudah lama mengisi relung hatinya, berharap ucapan tadi adalah sebuah kesungguhan.


" I wish, but I couldn't, " tunduknya lagi.


" (Astaghfirullah kelepasan lagi) Hmmm, maaf ... Jalan yuk. "


" ..... " Aiswa hanya mengangguk tersenyum. Ia sibuk menata debaran jantung yang kian kuat, hingga dirinya lupa menarik nafas agar paru-parunya yang sesak kembali terisi oksigen.


Amir menyilakan Aiswa lebih dulu keluar lobby kemudian memandunya menuju samping hotel. Tak lupa ia membuka handle pintu bagian kiri agar sang gadis bisa masuk dan duduk dengan nyaman di sana.


Keheningan menjeda sesaat setelah Amir duduk dibalik kemudi. Jarak di antara keduanya yang sangat dekat membuat Aiswa bisa mencium wangi lembut citrus wood, parfum pria disampingnya seraya menunduk dan terdiam.


" Kenapa kabur? ga baik, kita bisa bicara lewat telepon kan? " Amir membuka percakapan setelah mobil mereka perlahan melaju meninggalkan Hotel.


" Ka Amir tau Aish kabur? " pandangnya pada pria disamping yang sedang mengemudi.

__ADS_1


Ya Allah, dia tampan sekali. Batin Aiswa.


" Aish bilang berhasil, kalau bukan kabur, apa donk? " Amir menoleh sembari tersenyum.


Ka, tolong, bisakah senyummu itu hanya untukku.


" Sudah tahu kan? Aish ga mau melanjutkan proses ta'aruf nya ... ada ka Amir disini, " tunjuknya pada dada sebelah kiri.


Ciiittt. Amir mengerem mendadak, terlalu shock mendengar pengakuan Aiswa.


" Kaaaaaa ... hati-hati! " teriaknya disertai tangan yang reflek terulur menyentuh bahu kiri Amir yang sedang memegang kemudi.


Untungnya situasi jalanan sekitar hotel lengang karena masih jam kerja.


" Aiswa Fajri, kamu jangan bercanda. "


" Buat apa Aish rela ke sini jika hanya untuk bercanda. "


" Kita menepi dulu. " Amir menepikan mobilnya ke pinggir jalan di bawah pohon agar tidak terlalu terkena pantulan matahari. Untunglah kaca mobil ini gelap jadi tidak begitu nampak dari luar.


" Ulangi. "


" Aish sayang ka Amir, " ucapnya sambil menunduk.


" Lihat aku, " Aiswa mengikuti perintah Amir, keduanya saling tatap menelisik kedalam bola mata satu sama lain.


" Aish tahu, kita tidak mungkin bersama bukan? "


" Tahu, tapi setidaknya Aish ga akan pernah menyesal sudah mengungkapkan apa yang Aish mau dan rasa ... Ka Amir, sayang Aish juga kan? "


" Sangat.... " tatapnya tajam.


" Sebentar saja, izinkan Aish disisi ka Amir yaa, bolehkan? " isaknya tertahan.


" Inginku ... bahkan jika takdir Allah memihak, aku ingin kamu yang ada di sisiku, Aiswa Fajri. " tangannya mencengkeram erat kemudi.


" Kenapa tidak sejak kemarin ka Amir datang? " tangis Aiswa pecah.


" Kamu terlalu istimewa bagiku, hanya kalam Allah yang sanggup aku berikan untuk memilikimu, tapi Allah justru berkehendak lain ... aku tahu ini berat buat kita, " ingin rasa hati menghapus air mata di pipi gadisnya.


" Mari berjuang bersama ku, " matanya memejam menambah deras aliran bulir bening yang jatuh.


" Sayang ... bukan aku tidak ingin berjuang, tapi kedudukanmu untukku tidak setara dengan merebutmu dari pria lain yang telah mengkhitbahmu. Meski aku sangat ingin membawamu pergi, tapi aku tidak ingin cinta yang Allah beri ini berubah menjadi nafsu yang akan menyeretmu ke lembah kesengsaraan fii dunya wal akhiroh, na'udzubillah. "


Aiswa semakin terisak. Amir tak tega melihat air mata gadis yang dicintainya tumpah ruah.


" Aku sayang kamu, Aiswa Fajri. Maafkan aku yaa, " ulur tangannya menggantung diudara tertahan hendak menyentuh kepala Aiswa.


" Demi kamu, aku kini bahkan telah melanggar norma, dan kita telah melakukan dosa, jalan berdua, " lirihnya menarik kembali tangannya yang sempat terulur disertai tarikan nafas panjang dan mata yang memejam.


" Ampuni aku Ya Robb," pintanya seraya meremas ujung hijab yang dia pakai.


" Sayang, tenangkan dirimu...."


.


.

__ADS_1


...________________________...


...Bertanya cobalah bertanya pada semua... Di sini ku coba untuk bertahan... Ungkapkan semua yang ku rasakan.....


__ADS_2