
Satu bulan kemudian.
Cuaca kota di pesisir pantai utara Jawa begitu terik, hingga para pekerja di kawasan kediaman abah pun mengeluh. Tak biasanya se ekstrem ini, meski gudang dan workshop dilengkapi kipas angin besar di beberapa bagian tetap tak mengurangi hawa panas yang datang.
"Den Mas, ga gerah apa ya kerja di teras begitu. Ya meski sekarang teras depan dipasang tirai dan dilengkapi kipas angin tetap saja kan panas," celetuk pekerja pada Alex.
"Kawin makanya, biar punya AC lahir bathin. Gimana mau panas, lihat istrinya cantik bener begitu, adem selalu lah ... mana Non Aiswa itu kalau bicara, ya ampun kek es krim, lembut," ujar Alex.
"Lex, hati-hati loh. Nanti Den Mas denger, berabe urusannya," nasihat Mang Sapri.
"Den Mas sekarang posesif banget ya ... Non Aiswa itu dijaga bener-bener," ujar pekerja wanita.
"Ehhem," suara Joanna.
"Ampun Non, jangan dibilangin ya, khilaf."
"Mana berani dia, mau cari muka? gih," sengit Alex.
"Eh sorry yaa bujang lapuk, muka cukup satu, mahal perawatannya. Emang situ, kerja makan gaji buta. Jagain apaan? kalau malam tidur mulu, kesian Abah dan Bos Mahendra donk, ngegaji kamu tapi ga guna," sindir Joanna tak kalah pedas pada Alex.
"Sini Lu, coba bilang lagi. Adu panco dah, atau adu apa gitu ama gue," tantang Alex.
"Ga malu? lawan cewek, cih." Joanna melenggang pergi.
"Heh!"
"Lex, sudah, Joanna ko diladenin. Anak kecil gitu," tugas Mang Sapri melerai keduanya.
"Jo," panggil Amir pada Joanna.
"Ya Den Mas," sahut Joanna berlari keluar dari gudang.
"Jo sedang sibuk ga?"
"Engga Den Mas, kan Nona ga kemana-mana, perlu apa?"
"Mau minta tolong belikan buah donk, nanas dingin dengan rujak ya. Sayang, mau apa? sekalian Joanna belikan," tanya Amir pada Aiswa yang sedang duduk memegang tab di kursi malas.
Jika dulu ia bekerja dengan para karyawan di workshop. Semenjak kehadiran Aiswa, ruang kerjanya pindah ke teras depan yang setiap sisinya telah ia pasang tirai, dilengkapi kursi kayu jati untuk tamu dan satu kursi malas untuk Aiswa ketika mendesign atau kuliah on-line.
"Beli jus boleh ga Bii?"
"Boleh sayang ... strawberry? dengan?"
"Es krim strawberry, udah itu aja," ujar Aiswa kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Dengar Jo? sekalian untukmu juga. Pakai motor yang ada dan minta uangnya pada Rohi," titah Amir pada Joanna.
"Sayang, tolong ambilkan uangnya dari dompetku," pinta Amir pada Aiswa.
"Ini Jo, makasih banyak ya."
Joanna menerima selembar uang seratus ribu dari Aiswa lalu ia pergi menggunakan motor Vario milik Amir, membelikan keinginan sang majikan.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu.
Amir melanjutkan pekerjaannya. Dirinya menemukan kejanggalan pada laporan stok yang minus dan plus. Dia pun memanggil Mang Sapri dengan Alex.
"Mang, Bang ... bisa kemari sebentar?" pintanya sedikit lantang.
Keduanya pun mendatangi teras dimana majikannya berada.
"Ini coba ditelusuri ya Mang dan aku minta laporan CCTV Bang," Amir menyerahkan catatan yang tak balance pada Mang sapri.
"Bii, Kak Naya barusan kirim pesan padaku. Design Qiswa yang mau naik kembali itu sudah lengkap belum? aku revisi garis yang ini Bii, coba dilihat dulu," ujar Aiswa.
"Sebentar sayang," balas Amir masih bicara pada Alex.
"Aku ke Qolbi atau gimana?" izinnya lagi karna Amir masih sibuk dengan keduanya.
"Aku kesitu sayang."
"Ya ampun, padahal cuma jarak sejengkal," bisik Alex pada Mang sapri.
"Sstt," Mang sapri meletakkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar Alex diam.
C-up. Amir mengecup bibir istrinya sekilas saat wajah Aiswa menengadah padanya.
"Ga sabaran banget sih, yang mana?"
"Bii, ish." Aiswa menepuk lengan suaminya.
"Den, ya ampun. Jangan bikin nambah gerah," seloroh Alex.
"Ini sudah cantik sayang, Naya setuju? jika ia, naikkan yang ini dulu, lalu untuk kegiatan lomba kemarin sudah aku send ... sisa persiapan launching minggu depan saja berarti, tolong buatkan sketsa yang menurutmu trend in, aku akan lengkapi sisanya," pungkas Amir setelah melihat karya sang istri.
"Tab ku lowbatt Bii, tugas kuliahku belum selesai " keluh Aiswa.
"Pakai punya aku, send file by bluetooth ... Bang tolong ... eh stay, biar aku saja," Amir beranjak mengambil tab didekat Alex lalu dia kembali pada Aiswa.
"Bangun sayang."
Aiswa mengikuti kemauan suaminya, ia pun bangkit dari kursi malas.
"Duduk sini sama aku," pintanya agar Aiswa duduk di pangkuannya.
"Bii, urusan Qolbi dengan mereka sudah?" bisiknya saat akan duduk dipaha sang suami.
"Eh, iya ... udah Mang, Bang itu saja."
"Ya ampun Den, kirain ada lagi. Kita nonton live ini nambah gerah," sungut Alex seraya menarik lengan Mang Sapri menjauh dari sana.
"Haha, maaf maaf." Amir hanya tertawa.
Selepas kepergian mereka, Amir menarik Aiswa duduk diatas pangkuan.
"Yang ini, garisnya begini. Jangan dibuat diagonal karena sudut ini sulit untuk dijahit sayang," Amir menarik garis yang kurang sempurna pada design project kuliah Aiswa.
__ADS_1
"Ini yang untuk tugas ku kan Bii?"
"Iya cantik, untuk tugasmu. Yang Qiswa ada di tab ini juga dengan nama file Qiswa 2 ... nanti coba di lihat dulu," Amir memeluk istrinya, menciumi pipi Aiswa.
"Berisi ya sekarang," bisiknya mesra.
"Gendut Bii?"
"Engga sayang, berisi itu beda dengan gemuk, semoga saja, aamiin."
"Apa sih Bii?"
"Engga apa-apa Rohi, lanjutkan pekerjaanmu," lirihnya masih mendekap Aiswa.
Lima belas menit kemudian.
"Non ... ya ampun, maaf." Joanna datang membawa pesanan mereka.
"Apa sih Jo, Qolbi ga ngapa-ngapain ko."
"Eh iya, aku selalu saja shock," kekeh Joanna.
"Dapat semua Jo?" tanya Amir melihat Joanna membawa banyak jinjingan.
"Dapat Den Mas, aku juga kebagian ko. Ini silakan," Joanna menata semua pesanan mereka diatas meja tamu lalu masuk kedalam rumah, tak ingin menjadi obat nyamuk di siang bolong.
Aiswa mencoba bangkit dari pangkuan suaminya namun pinggangnya ditahan oleh Amir.
"Lepas Bii, nanti ga enak jus ku mencair," rengek Aiswa pada suaminya.
"Pelan-pelan bangunnya sayang," Amir melepaskan Aiswa yang mulai berontak.
"Jus campur es krim, Rohi, apa enaknya?" tanya Amir ketika melihat Aiswa menaruh es krim dalam jusnya.
"Enak, aku baru coba ini ... nanas? aku boleh minta Bii?" air liur Aiswa mulai menggenang, melihat Amir sangat lahap memakan buah segar itu, cocok di cuaca terik begini.
"Engga, ini milikku." Amir menarik menjauh irisan nanas dingin miliknya dari jangkauan Aiswa.
"Ish pelit, biasanya juga dibagi, tumben."
"Makan pesananmu sayang, atau makan rujak buah saja," titahnya lagi. Saat akan membuka bungkusan rujak, ia mengurungkannya kala melihat Aiswa meraih gelas jus dengan tangan kiri. Amir pun menahan tangan istrinya itu.
"Sini, biar aku pegangin gelasnya."
"Maaf," senyumnya merekah menyadari kesalahannya.
"Dibiasakan Rohi, diingat-ingat kalau makan itu pake ta-,"
Ia menjeda ucapannya, melihat Aiswa berlari ke kamar. Amir pun mengejar istrinya itu.
.
.
__ADS_1
..._______________________...
...Mamaciih support nya, ini mommy tulis ngebut buat kalian semua yang jempolnya aktif.. kesayangan mommy 😘😘😘...