
Setelah pertikaian singkat di taman, Amir dan Aruni menyingkir ke coffee shop seberang Hall resepsi Gamal.
" Kak, sekali lagi maaf. " Masih dengan wajah menunduk.
" Satu kali lagi bilang maafnya Qiyya, nanti dapat doorprize, " senyumnya.
" Ish ... aku haus, kakak mau pesan apa? " tanyanya sambil melambaikan tangan pada waitress.
" Pesankan saja, " Amir sesekali mencuri pandang, sembari mengetik pesan balasan dari Mahendra yang menanyakan kemana dia pergi karena melihat Aiswa menuju arah yang sama dengannya tadi.
Kamu membelaku agar Hasbi tak punya alasan menghinaku, Qiyya, kamu....
" Lemon tea hangat satu, iced satu and then croissant with Choco dip but less sugar, is already to serve now? " tanyanya pada waitress.
" Salad with French dressing ... can you tell me what does that salad consist of? " sambung Amir bertanya pada waitress, dan dia menjawab apa yang ditanyakan keduanya.
" Mau itu, " Ia melihat Qiyya.
" Itu saja Mba, thanks ya. " Dirinya mendengarkan saat waitress mengulang ordernya. Saat jeda menunggu makanan datang, Amir merasa waktu yang tepat untuk mengutarakan sesuatu pada Aruni.
" Kita sama, suka lemon tea ... Qiyya, lusa aku umroh sepuluh hari, Abi dan Mama jadi kesini kan? " tanyanya.
" Jadi ... pergi sendirian ya Kak, Buyut bilang ga ikut dulu karena diajak Sinuhun ke Jogjakarta. "
" Sendiri, eh, ga donk ... sama seseorang. " Pancingnya.
" Siapa? cewek ya? "
" Iyalah, aku masih normal. "
" Hmm, pantas ga ngajak aku ... mau ibadah berdua yaa di sana. "
" Ngajak ibadah disini juga bisa. Sayang belum ada yang mau diajak sama-sama ... Qiyya mau ikut? " godanya lagi.
" Engga, nanti jadi obat nyamuk. Mba Qonita bilang kakak punya misi yaa saat umroh nanti. "
" Niatnya betulan ibadah Dek, kangen wangi masjid Nabawi ... dan semoga ada kemantapan hati. Doain yaa. " Amir melayangkan harap, namun Aruni tidak melihatnya.
" Aamiin. " Bertepatan dengan pesanan mereka yang datang.
" Jaga diri selama aku ga ada. " Amir melihat cara Aruni menata semua makanan diatas meja, termasuk menyiapkan salad dan memutar gagang cangkir agar dirinya mudah mengangkatnya. Luwes.
" Dari? "
" Segala kemungkinan. Obatnya, vitaminnya diminum, makan, tidur tepat waktu. Jangan suka begadang meski cuma gambar design. Ok? "
Aruni hanya tersenyum menanggapi pesan beruntun Amir seraya menyesap Iced Lemon tea nya.
" Denger ga? "
" Iya Balim aku dengar. " Aruni berpikir Amir tak akan paham apa yang dia ucapkan.
" Sayang? ... Teşekkür ederim canım, " balasnya. (Terimakasih sayang)
Uhulk. " Kak? " Aruni tersedak akan balasan Amir.
__ADS_1
" Apa? aku menjawab apa yang kamu katakan tadi. " Senyumnya merekah membuat gadis diseberangnya salah tingkah.
Setelah menghabiskan hidangan diatas meja, Amir mengeluarkan cardnya untuk meminta bill, lalu menyerahkan pada Aruni.
" Duh berduaan santuy ... kalian dicariin Uyut, mau bubaran itu acaranya. Gamal kan nginep disini ga pulang, kata Abah, Aruni yang antar Mama dan Buyut pulang. " Mahendra menyusul mereka.
" Simpan card aku dulu ... Qiyya aku yang antar. " Aruni menuruti permintaan Amir, menyelipkan kartu debit platinum di balik case handphonenya.
" Hetdah Kak, Abah sama siapa balik? "
" Mas lah, siapa lagi ... aku ingin menikmati waktuku, see you Mas, " ujarnya terus melangkah menjauh dengan Aruni berjalan disampingnya.
Waktu Kakak bersamaku?
***
Selama Amir pergi umroh, Aruni giat mengikuti berbagai event pagelaran. Fisiknya semakin lemah namun kerja kerasnya seminggu terakhir membuahkan hasil, predikat juara umum Jakarta flower blooms yang ia ikuti berhasil diraihnya.
Kakak, aku semakin dekat dengan mimpiku, thanks doa dan supportnya.
Tidak ingin memancing kemarahan Amir, Aruni mengabarkan setiap detail kegiatannya, termasuk diskusi tentang design yang akan unjuk gigi saat lomba.
Hari ini tepat sebelas hari kepergian Amir, kabarnya sore nanti dia tiba bertepatan dengan Danarhadi yang diperbolehkan pulang oleh dokter setelah opname beberapa hari akibat kelelahan.
Abi dan Mamanya juga telah berada di kediaman Wardhani sejak kemarin, namun Aruni belum sempat menyapa kedua orang tuanya itu.
" Assalamu'alaikum, " Amir mengucap salam yang disahuti oleh Abah.
" Mir, langsung ke kamar Uyut sana, sungkem dulu. "
" Tidur, jangan diganggu. Kasihan dia kurang istirahat balik dari Jakarta langsung ke rumah sakit gantian jaga uyut sama Abah. "
Amir menuju kamar sang buyut, beliau terlelap dipembaringannya. Amir mendekat, mencium tangan serta keningnya setelah mendoakan sepuhnya itu.
Tak ada riungan dirumah itu sejak pagi, semua aktivitas dilakukan didalam kamar masing-masing termasuk urusan makan malam.
Tok. Tok. Ba'da Isya.
" Mir, Abah boleh masuk? "
" Fadhol Bah. "
" Gimana? sudah lebih baik? Mimpimu, apa mendapat petunjuk? " Abahnya duduk di tepi ranjang.
" Semakin kuat, tapi entah siapa karena bukan ketiganya. Aku betul-betul tak berdesir Bah. "
" Jadi keputusanmu? ... kamu muroja'ah daritadi, mau bil ghoib untuk siapa? mahar itu yang tidak menyulitkan atau memberatkan Mir, ingat itu. "
" Tidak untuk ketiganya Bah ... Nggih, ini sih bersiap aja dulu Bah, dengan siapa yaa entah gimana nanti. "
" Besok, Anggita dan Raden H. Emran kesini, orang tua Aruni ... kamu jangan kemana-mana, barangkali Abah ngambil obat Uyut besok. "
Obrolan ringan mereka lalu berpindah ke kamar Danarhadi hingga Amir terlelap disamping buyutnya seperti biasa.
***
__ADS_1
Esok hari, Rumah sakit.
Abah akhirnya meminta Amir yang mengambil obat ke rumah sakit tepat pukul sepuluh pagi sebab H. Emran meminta bertemu.
Saat melintasi lorong poli, dia melihat Aruni masuk ke salah satu ruangan dokter sebagai pasien terakhir nampaknya karena tidak ada orang lain dibangku tunggu.
Amir hendak menunggunya, karena sejak kemarin dirinya belum berjumpa dengan gadis itu. Ada rasa rindu menyelinap dalam hati, ingin melihat gadis itu tersenyum saat melihatnya telah kembali.
Degh. Degh. A-pa.
Bagai tersengat lebah, dia tak percaya dengan perkataan seorang ahli berjubah serba putih didalam sana.
Dari balik celah pintu yang tidak tertutup rapat, sayup terdengar penjelasan dokter terhadap pasiennya.
" Aku ga salah lihat kan? kamu yang ada didalam, Qiyya? kamukah? " Amir seakan dihempaskan ke udara merasa telah menemukan jawaban atas mimpinya, namun bersamaan itu dirinya pun jatuh membentur kerasnya tanah.
Hatinya berkedut nyeri, bagaimana dengan mental gadis itu?
" Qiyya, tegarlah. " Langkahnya gontai meninggalkan rumah sakit. Ia mengurungkan niat menunggu gadis itu keluar dari sana, khawatir membuatnya lebih sulit menghadapi fakta.
*
Tak lama kemudian Amir tiba di Joglo Ageng.
" Assalamu'alaikum. "
Salamnya di jawab seorang pria tampan blasteran yang sedang duduk diruang tamu.
" Aku, datang dengan keluarga H. Emran, mereka sedang didalam, " sapanya.
" Oh, silakan duduk. Maaf aku kedalam dulu. "
" Kak ... ko ga bilang sih sudah pulang. " Seru Aruni memanggil dari kejauhan.
" Jangan lari Qiyya, nanti jatuh Dek. " Cegah Amir karena gadis itu girang melihatnya.
" Aku nungguin padahal ... lho, dari rumah sakit? tau gitu nitip ke aku, sekalian check up. "
" Gimana hasilnya? "
" Ga begitu baik tapi aku yakin bisa sehat lagi, " ujarnya mengikis jarak menuju posisi Amir berdiri.
" Good girl, semangat yaa! " balasnya sembari mengusap kepala gadis yang tertutup hijab pemberiannya itu.
" A-ru-ni? "
Kedua insan yang tengah saling melepas rindu didepan pintu itu menoleh, pada sebuah suara yang memanggil nama salah satunya.
.
.
...__________________________...
..." If'al maa yus'iduka, fa al ayyaamu lan ta'uudu.”...
__ADS_1
...(Lakukanlah hal yang membuatmu bahagia karena hari- hari lalu tak akan pernah kembali.) ...