
Jelang dini hari, Abah bertolak ke stasiun dengan tujuan keberangkatan kota Semarang.
Ditemani Alex salah satu team shadow besutan menantunya yang mengurus segala kebutuhannya, kini beliau telah duduk nyaman di gerbong eksekutif.
" Abah, silakan istirahat. "
" Nak Alex dimana? "
" Ini, bersebelahan, Bos menyiapkan 2 tiket untuk kita agar nyaman dalam perjalanan, " ujarnya.
" Istirahat juga Nak Alex, perjalanan panjang lumayan buat rebahan. Paling nanti kalau lapar Abah pesan makanan. "
" Ini menu yang sudah di pesan oleh Nyonya Bos, beliau bilang Abah ga boleh makan sembarangan lagi, "
" Naya? ckck anak itu mulai rewel. "
Saat melihat daftar menu yang telah Naya siapkan, ponselnya berdering.
" Ya Mir, ini mau berangkat sama Nak Alex ... iya sampe sana ba'da subuh. Jangan buru-buru jemput nanti, " pesannya.
Misi Alex kali ini memang untuk mengawal mertua bosnya kemana-mana. Keduanya lalu larut dalam benaknya masing-masing. Meski matanya terpejam namun pendengaran Alex cukup tajam disela suara laju kereta yang tak sepenuhnya teredam baik.
***
Kediaman Gamal, Ba'da Isya.
Gamaliel mencoba mendekati sang Mama yang beberapa hari ini semakin murung.
Sepanjang waktu di jemarinya kini melingkar tasbih digital, dzikir kerap membasahi bibirnya. Memang, Mama lebih dekat pada Sang Pencipta setelah kepergian Babanya.
" Ma, " tegur Gamal saat di teras samping rumah.
" Ya Mal, " tengoknya ke sumber suara.
" Masuk yuk, sudah jelang larut malam, nanti Mama drop lagi, " Gamal mendekati sang Bunda, menaruh kepalanya dipangkuan wanita yang masih sangat ayu di usianya.
" Kamu kenapa? yakinlah satu hal Mal, Mama sayang kamu. Perjodohan ini akan menyelamatkan banyak nyawa, suatu saat kamu akan mengerti, bukan Mama tak sayang, ya Nak. " Belainya lembut dikepala Gamal.
" Ma, jangan ada yang disembunyikan ... aku mohon, " balasnya tak kalah sendu.
" Apakah ini saatnya Tuhan? " lirihnya.
" Mau sampai kapan Mama menyembunyikan bahwa aku adalah keturunan Kusuma sama dengan Amir? "
Degh.
__ADS_1
Hening.
Mama terpaku, memejamkan mata, dan butiran cairan bening itu jatuh membasahi pipi Gamal yang masih menempel dipangkuannya.
" Maa, mungkin inilah yang membuat Mama sesak ... aku menemukan buku tua yang diselipkan diantara deretan buku dirak sana. Ceritakan yang sebenarnya Ma, " pinta Gamal menatap wajah ibunya itu.
Netra basahnya terbuka, jemarinya membelai lembut pipi wajah rupawan perpaduan istri sah dan suaminya, Cinta yang mereka miliki begitu besar hingga mampu memaksa Wilona muda meniggalkan segala kemewahan yang keluarganya miliki demi lelaki bernama Fadzli Arbi.
" Gamaliel Arbi, kelahiranmu telah di nanti oleh Baba sekaligus tak diinginkannya karena.... "
" Karena apa Ma? "
Mama terisak, suaranya menyayat hati hingga tak mampu membuat bibirnya berucap kata beberapa saat lamanya.
" Karena kamu lahir bukan dari rahimku ... kamu lahir kembar, kakakmu meninggal karena demam tiba-tiba. Baba membawamu yang masih merah ke pangkuanku, sebagai pengganti anakku yang harus kami gugurkan dulu ... Gamal, aku menikah siri dengan Baba saat masih usia sekolah. Kehamilanku kala itu menjadikan petaka bagi kami hingga keputusan bejad itu menghukumku ... aku tak dapat hamil kembali hingga saat ini, terlebih Baba dipaksa menikah dengan Ibumu. "
" Jadi aku bukan keluarga Kusuma? lalu semua bukti itu? "
" Semua dokumen yang diurus oleh Baba, membuatmu sah menjadi anakku dimata hukum. "
" Ibuku? "
" Meninggal, alergi penisilin karena ibumu punya riwayat darah tinggi dan sayangnya keluarganya tak mengetahui ini ... kamu juga, alergi terhadap penisilin sama seperti ibumu. "
Mama menyeka air matanya perlahan, meski masih sesak sebisa mungkin ia sampaikan kebenaran di balik semua ini. Termasuk alasannya menjodohkan dengan Almahyra.
Angannya telah melambung tinggi bahwa ia bahagia bersaudara dengan Amir, nyatanya semua palsu, karena dokumen menyebut Wilona Darus adalah bundanya meski kenyataannya bukan.
" Kamu tetap anak Mama, Gamaliel, bahkan namamu aku yang memberikannya. " Mama kembali terisak.
Kedua insan itu saling menguatkan, Gamaliel menangis mendekap kaki wanita yang telah membesarkannya, mencurahkan kasih sayangnya meski hatinya merasakan sakit dalam waktu yang sama, ia telah dipisahkan oleh ibu kandungnya sejak lahir.
" Mama, menjodohkan aku dengan Alma bukan karena menginginkan aku mati kan? bukan karena membenciku kan? "
" Gamal, bukan itu Nak ... hanya kamu yang sanggup menolong Almahyra, menolong Mama kelak. "
" Kamu bukan anak kandung ku, kamu juga bukan anak sulung ... Almahyra akan terbebas, kamu kelak mendapatkan istri sholihah setelah ini berakhir dan kalian akan menemani masa tua Mama, " pungkasnya.
" Menolong Mama? "
" Mama tidak punya saudara Gamal, Mama telah dicoret dari silsilah Kusuma. Kita sebatang kara Nak, kamu satu-satunya keluarga yang Mama punya. "
" Ma, besok Abah Amir kesini, kami akan kerumah orangtua Almahyra.."
" Pergilah, Wisesa dari dulu baik hati meski kadang keras kepala. Temukan semua yang ingin kamu dengar Gamaliel ... aku sangat mencintai kalian. "
__ADS_1
" Mama rela pergi menjauh dan di madu hanya demi sebuah cinta. Maka aku pun tak gentar karena aku telah mencintai Almahyra. "
Gamaliel ingin marah meluapkan segalanya mendapati kenyataan tentang hidupnya, namun ia urungkan mengingat kasih sayang Mama tiada batas padanya sejak ia kecil, Mama selalu melindunginya dari amukan Baba bila dirinya melakukan kesalahan.
***
Menjelang subuh, Abah tiba di Semarang. Amir yang memang telah menunggu kabar dari Abahnya bergegas menjemput orang tuanya tepat pukul enam pagi, ketiganya sarapan bersama di dekat Stasiun sembari membahas tentang Gamal.
" Abah sudah dapatkan alamatnya, kita ke sana segera karena perjalanan memakan waktu 1.5 jam. "
Selepas sarapan, ketiganya bertolak mengendarai Brio merah menuju kediaman Gamal lebih dulu lalu melanjutkan perjalanan ke utara Semarang tepatnya ke desa Singomedeni, tempat dimana si pembuat sumpah tinggal.
Setelah hampir dua jam yang melelahkan karena nyasar, mereka akhirnya tiba didepan kediaman pembuat sumpah. Rumah khas pedesaan dengan dinding sebagian menggunakan kayu jati tua yang hanya dipernis.
Setelah mengucap salam, mereka kemudian dipersilahkan masuk menyalami tuan rumah yang sempat terheran.
" Saya, Abahnya mereka. Kedatangan kami bermaksud mengkonfirmasi tentang Almahyra, putri dari abu janda yang mempunyai mitos buruk, akan menikah dengan putraku Gamaliel. Kami berniat mematahkan mitos tentang Almahyra, apakah keluarga anda berkenan? "
" Ayahku telah lama meninggal, aku sebagai anaknya sudah memaafkan namun hanya satu hal yang dapat mematahkan mitos itu ... mempelai pria bukan anak sulung atau anak kandung ibunya, sebab awal sumpah serapah bermula saat abu janda menyebar fitnah tentang anak haram, praktek aborsi dan pelacur yang ditujukan pada kami karena profesi ibu sebagai paraji, dukun bayi saat itu dan hamil aku pada saat ayah sedang diluar kota. "
" Ibuku di arak massa, dipasung lalu dibebaskan oleh ayah dan kami pindah tempat tinggal, inilah sebab musababnya. "
" Innalillahi, Allah yahfadz. "
Pantas saja demikian mengerikan. Abah mencelos, kabar yang ia terima dari menantunya bertolak belakang.
" Tidak ada cara lain? "
" Maaf. Semoga kali ini semua berakhir, anda yang ketiga bukan? " selidiknya.
Sementara Abah mengangguk frustasi, Gamaliel nampak santai mendengar kebenaran kembali.
" Abah, mari pulang. "
" Nak, kita harus berupaya maksimal. "
" Bah, yuk. " ajak Gamaliel seraya bangkit dan izin pamit lebih dulu.
Amir yang belum paham kondisi sebenarnya hanya memasang mimik wajah bingung melihat kedua orang yang mengapit duduknya saling tatap dan tarik tangan untuk pamit dari rumah itu.
.
.
..._____________________________...
__ADS_1
...Mitos ini based on true story....