DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 158. DOA DUA A


__ADS_3

"Karena apa Umma?"


"Karena kamu yang ada disisinya, Mir."


...***...


Pagi menjelang.


Setelah dokter visit berkunjung ke kamar Hasbi, mereka kembali diminta berkonsultasi diruangan dokter.


Hasbi yang semalam tidak bisa istirahat dengan benar karena kedua aspri nya juga tidak dapat menemukan obat yang dicari, dirinya pun gelisah.


Saat ini dokter kembali menjelaskan kondisi pasien.


"HBnya siang nanti akan di cek kembali apakah telah naik atau sebaliknya, ayah anda akan di test setelah pukul delapan nanti langsung ke lab ya Tuan."


"Meskipun hasil MRI tidak menunjukkan gejala abnormal, namun jika pasien demam atau kejang kembali disertai durasi panjang, kita harus waspada kembali ... semoga kondisinya stabil hari ini meski akan tetap kami observasi," jelas dokter.


"Apa konsekuensi dari kejang yang berlangsung lama dokter?" Hasbi mulai cemas kembali.


"Kejang pada bayi atau anak dengan durasi lebih dari lima menit, berulang dan terjadi hingga hilang kesadaran maka dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak, atau terjadi epilepsi karena riwayat pasien pernah mengalami peningkatan bilirubin ... Tuan, kami tetap akan maksimal mengupayakan tindakan medis ... namun banyak faktor yang mempengaruhi jika terjadi dampak demikian."


Dokter tetap menenangkan Hasbi, tetap meyakinkan bahwa kondisi anaknya tidaklah parah namun tetap waspada. Obat yang dia cari adalah obat untuk diagnosa terburuk.


Mengapa dicari lebih dulu? karena obat tersebut sempat langka maka dokter mencarikan beberapa jenis obat serupa, karena untuk pasien dengan dugaan gejala epilepsi, jika sudah cocok pada jenis obat maka wajib mengkonsumsi obat yang sama seterusnya.


Akhirnya Hasbi mengerti alasan dokter untuk menyiapkan segala yang beliau minta kemarin. Saat ini, Abuyanya adalah harapan kesembuhan bagi Reezi.


"Kita tunggu rhesus ayah anda ya Tuan Hasbi, semoga bisa digunakan untuk pasien."


Hasbi melangkah gontai keluar dari ruangan dokter. Serli yang melihatnya pun merasa sangat cemas, tekanan darahnya menjadi rendah padahal dia harus menyiapkan asi yang baik bagi Reezi.


Menjelang Dzuhur.


Putranya kembali rewel, menangis dan sangat sulit dibujuk. Hasil lab ayahnya pun telah keluar, namun mengecewakan, dokter tak menyarankan dilanjutkan pengambilan darah karena khawatir tidak dapat menaikkan HB sebab kemampuan regenerasi sel darah merah ayahnya sudah berkurang, ditakutkan ada gangguan fungsi jantung, ginjal, dan lainnya yang dapat membahayakan kesehatan beliau.


Saat dirinya termenung memikirkan cara atau mencari pendonor sukarela. Pintu kamar VVIP itu diketuk pelan dari luar.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalaam ... mau apa kesini? ingin mentertawakan kami?" hardik Hasbi ketika membuka pintu dan melihat pasangan muda didepan kamar rawat mereka.


Pasangan muda ini memilih diam, sang wanita bersembunyi dibelakang lengan suaminya, enggan melihat pada sosok pria dihadapannya.

__ADS_1


Mendengar putranya membentak seseorang, Yai Maksum bangkit dari duduknya.


"Hasbi, Buya yang mengundang mereka ... masuk Nak," ajak Yai Maksum menarik lengan Amir.


Hasbi memilih meninggalkan ruangan itu dengan wajah menahan amarah. Sedangkan Amir duduk di sofa bersama Yai Maksum, gurunya.


Aiswa melihat Reezi gelisah di tempat tidurnya, juga Serli terlihat lemah saat menyapa tadi, mungkin karena lelah. Aiswa mendekati bayi yang merengek seakan meminta sesuatu.


"Assalamu'alaikum sayang, Umma datang jenguk adek sholeh," sapa Aiswa lembut mendekat pada telinga Reezi lalu mengecup pipinya.


Bayi itu seakan mengerti, dia mendengar suara Aiswa yang menenangkan.


"Mau ikut Umma ga?" tatapnya pada manik mata jernih milik Reezi, tangannya mengusap pelan punggung bayi lelaki itu.


"Aku boleh gendong?" Tanyanya pada Serli yang diangguki lemah olehnya.


"Alhamdulillah, yuk sayang ikut Umma ya?" ujarnya mengecup kedua telapak tangan Reezi bolak balik bergantian. Lalu perlahan mengangkat tubuhnya.


Panas sekali, sayang. Bismillah, sembuh yaa, doa Umma dan Abi untuk adek.


Ajaib, Reezi seketika diam dalam gendongan Aiswa. Dia mengusap pelan kepala bayi itu, tak henti melantunkan doa dan dzikir kemudian meniupkan pada ubun-ubunnya.


Allahummasyfii Habrizi bin Ahmad Hasbi, al-fatihah dilanjutkan al mu'awiddzatain.


U'iidzuka bikalimatillahi tammati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah.


"Bii ... do'ain adeknya," pinta Aiswa pada Amir yang sedari tadi mengamatinya. Lelaki bersahaja itupun mendekati istrinya yang mendekap Reezi.


"Assalamu'alaikum, sholehnya Abi ... adek sakit? Abi boleh tahu ga dimana yang sakit sayang?" sapanya sembari mengecup tangan Reezi bolak balik, persis yang dilakukan Aiswa.


Bayi mungil dalam dekapan Aiswa itu menggerakkan tangannya yang diinfus, gerakan halus yang Amir tangkap atas reaksinya.


"Ini ya yang sakit?" ujarnya mengusap tangan kiri Reezi.


As'alullāhal azhīma rabbal 'arsyil 'azhīmi an yassfiyaka.


Amir membacanya tujuh kali sesuai sunnah Rosulullah. Dilanjutkan dengan...


Imsahil ba'sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā'u. Lā kāsyifa lahū illā anta.


Ia membacakan Al isra ayat 82 ditelinga Reezi sambil duduk ditepi ranjang dan berulang mengusap kepalanya sementara Aiswa berdiri.


"Umma mau cerita makna salah satu ayat yang Abi bacakan tadi ya sayang ... Reezi boleh sambil bobok ... kata Ibnu Katsir dan asy-syaukani, Al-quran sebagai obat bagi Qolbun atau hati untuk menghilangkan kejahilan, keragu-raguan, kekufuran serta menyingkap penyimpangan tentang hal yang berkaitan atas perwujudan Allah ... Al-Qur’an juga sebagai obat bagi penyakit-penyakit dzohir seperti pusing, demam, infeksi, bengkak disengat sesuatu atau lainnya dengan cara ruqyah disertai ta'awudz seperti yang kami lakukan ... Reezi kelak jadi anak Umma yang sholeh ya Nak, jadi hafidz seperti Abi Amir, karena Al-Qur’an juga sebagai rahmat, Aamiin."

__ADS_1


"Aamiin ... lekas sehat lagi ya sayang, sehat paripurna," Amir mengecupi tangan bayi yang terinfus berulang kali.


Bayi itu terlelap, suhu tubuhnya menurun tak lagi panas seperti tadi saat Aiswa menggendongnya. Pasangan muda ini sangat menikmati membelai bayi mungil yang terlihat lemah.


Amir menawarkan bergantian menggendong namun di tolak Aiswa, akhirnya ia kembali melantunkan lirih surat al anbiyya ayat 83 hingga 84 seperti kisah Nabi Ayub alaihissalam.


Pemandangan menyejukkan yang membuat Serli menangis tanpa suara. Hingga suster datang ke ruangan itu meminta sesuatu yang membuat Serli kembali bingung.


"Nyonya Hasbi, pendonor sudah ada? untuk trsnsfusi jika HB pasien belum naik ... jika sudah ada langsung ke lab siang ini ya," pintanya seraya mengecek kondisi Reezi dalam pelukan Aiswa.


"Demamnya turun ya?" suster mencatat perkembangan pasien dan tak lama keluar kamar mereka.


Hah? turun? karena mereka kah?


"Alhamdulillah, sehat ya sayang."


Aiswa menatap Amir lama, hingga lelaki itu sadar istrinya menginginkan sesuatu. Mereka hanya saling pandang namun sejurus kemudian Amir mengangguk dan membuat senyum Aiswa terbit.


"Mba, Reezi nya udah bobo ... kita pamit dulu yaa, nanti kembali lagi kesini esok ... tenangkan hati dan kalau bisa temani dengan murottal atau yang Mba bisa agar Reezi juga tenang." Serli hanya diam menanggapi Aiswa, ia terlalu takjub padanya.


Aiswa meletakkan kembali bayi montok itu dalam ranjangnya, menciumi gemas pipinya.


"Umma dan Abi pulang dulu ya sayang, nanti kesini lagi," bisik Aiswa di telinga Reezi.


Setelah pamit pada Yai, pasangan ini menuju suatu tempat.


"Bii, syukron," genggamnya erat mengecupi telapak tangan suaminya.


"Bismillah sayang kita coba ya ... terbuat dari apa hatimu Aiswa?"


"Karena Qolbi bersamaku ... dan ini buatan Allah, jika bisa maslahat kenapa tidak dilakukan?"


"Haduh gemes, mau cium ga boleh ya?"


C-up.


"Boleh dan lunas." Aiswa mengecup pipi suaminya, lalu meninggalkan Amir yang terdiam ditempatnya karena terkejut akan sikap Aiswa barusan.


Sementara di kamar, Serli mengurung diri di toilet, menangis sejadi-jadinya, ia menyesal.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


...Hayo nyesel kenapa si serli? 😌... tolong pasangan bucin tahu tempat lah ya 🤭...


__ADS_2