DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 199. MENGAPUNG


__ADS_3

Hingga ba'da isya semua masih di Mansion, bahkan keluarga melakukan doa bersama. E-mail Mahen penuh oleh laporan, namun belum ia baca.


Adnan dan Hermana Arya masih dalam perjalanan menuju lokasi crash landing, menyusul team sar resmi pihak maskapai.


Naya briefing akhir dengan para teamnya, meminta rehat sejenak karena pengalihan misi. Team yang dia bentuk adalah hasil seleksi Rey serta suaminya beberapa minggu yang lalu sebelum Amir memintanya untuk meng-handle acara ini.


Amir bersyukur ada Umma, sehingga istrinya masih bisa terjaga dengan baik. Juga Maira, enggan lepas dari keduanya membuat Naya lebih fokus membantu Mahen.


Di kamar Dewiq, ketiga pria ini berkumpul. Ahmad memejam sejenak setelah seharian bibir itu tak lepas melantunkan doa dan harapan.


Dr. Rayyan Calling. Ponsel Amir berbunyi.


"Assalamu'alaikum, Dokter," sapa Amir.


"Wa'alaikumussalam, Mas aku diminta standby oleh Papa Hermana mengenai kondisi Mama Rosalie. Di bandara dengan membawa ambulance. Ada apa?" tanya Rayyan.


Amir menceritakan kronologi kejadian singkat yang membuat Rayyan terperangah.


"Baik kalau begitu, aku berangkat sekarang menuju ke sana," ujar Rayyan menutup panggilan.


"Honey, ada kemajuan?" tanya Naya mengusap bahu sang suami.


"Belum sayang, sini," Mahen menarik istrinya masuk dalam pelukan, duduk dipangkuan.


"Ini cara kerjanya begini ya sayang, perhatikan. Siapa tahu suatu saat nanti kamu yang harus menggantikan aku menemukan seseorang," ucapnya serius.


Mahen memberitahu semua pada Naya beberapa kode sandi, IP bahkan sistem pelacakan rahasia yang dia ciptakan lengkap dengan cara penggunaanya.


"Shadow akan menjadi milikmu dan Maira, aku sudah menulis wasiat untuk itu. Rey akan mengajarkan semua hal yang aku kuasai pada Maira kala usianya menginjak sepuluh tahun apabila aku tiada," bisiknya.


"Abang, jangan gitu aah, Ayah akan selalu ada untuk kami. Aku belajar gak apa, tapi Abang selalu disisiku hingga Maira dewasa," Naya mengecup pipi suaminya.


"Segala kemungkinan itu ada sayang. Apa aku mundur dari Exona saja yaa? mengurus kebun dan bantuin kamu?" tawarnya lagi entah yang keberapa kali.


"Kan aku sudah bilang, aku ikut apa keputusan Abang. Ayo, ajarkan lagi bagaimana menghack satelit," kekeh Naya.


"Yang itu, nanti ada caranya. Gak sekarang ya. Aku cek e-mail dulu dan coba menganalisa," Mahen mulai membuka satu persatu e-mail yang masuk. Termasuk dari kenalannya di Airport.


Lama dia memandangi layar laptop, membuat bagan di bantu Naya. Hingga sampai pada satu kesimpulan.

__ADS_1


"Abang, ini kan harusnya begini yaa? apa aku salah?"


"Coba ulangi sayang," pinta Mahen.


"Secara umum serpihan dan benturan dipengaruhi oleh kecepatan dan sudut tabrakan. Kecepatan pesawat menentukan parah atau hancurnya body. Sedangkan sudut benturan akan mempengaruhi kemana saja serpihan-serpihan itu akan terlempar," Naya meraba analisa dari setiap laporan yang masuk.


"Lautan akan menjadi benda padat apabila sesuatu berbenturan pada kecepatan yang tinggi. Pada saat tabrakan dengan air, akan dipengaruhi juga dari besar kecilnya ombak saat itu. Jika lautan tenang tak berombak dan sudut kemiringan benturan besar maka akan lebih parah patahannya. Ombak yang besar justru akan mengurangi besarnya benturan dan berakibat pada sedikitnya puing serpihan karena pesawat langsung masuk ke dalam laut bersamaan dengan gejolak gelombang."


"Lanjutkan sayang," Mahen mulai tercerahkan berkat Naya.


"Ketika pesawat diperkirakan jatuh ke laut maka akan ada kemungkinan, body langsung tenggelam bagai batu, melayang akibat arus air dan mengapung ... Rey bilang tak ditemukan puing radius satu kilo ... hmm, Binggo, mengapung ... Abang ... mengapung ... tolong minta Rey menyusuri bibir pantai atau adakah kapal nelayan melintas untuk mengangkut passenger," Naya antusias.


Mahen memeluk istrinya erat. Membuka file terbaru yang dia dapatkan.


"Analisa Nyonya Mahendra, tepat sekali. Makasih sayang udah bantuin aku ya, bantuin para keluarga ... aku akan kirimkan hasil pindai ke kawanku di sana," bisiknya menciumi pipi Naya bertubi.


"Abang sudah tahu?"


"Baru saja, bersamaan dengan analisamu tadi ... sudah dengar kan? kemampuan analisa istriku sama baik denganku," ucap Mahen.


"Loh, aku ngomong daritadi di connect ke mereka?" Naya malu.


"Nona, terimakasih menguatkan argumen ku tentang mengapung. Pesawat terbawa arus gelombang pasang sepanjang hampir sepuluh kilometer dari lokasi landing dan ditemukan oleh nelayan lokal. Aku ragu bahkan Pras mengatakan kecil kemungkinan," sahut Rey dari ujung sana.


"We did it ... Adnan susuri sesuai map yang Rey kirimkan, koordinat share," pungkas Mahen.


"Sayang, sampaikan pada Kak Amir, bahwa kita mendapatkan pencerahan. Minta Ahmad agar kawannya yang di Airport serta Singapore untuk ikut kawal ini ... berkat sahabat Ahmad di ATC Changi Airport, Rey berhasil menembus akses mereka meski izinnya hanya lima menit," titah Mahen pada Naya.


C-up.


"Love you sayang," ucap Mahen menarik Naya sebelum bangkit.


"Mas, kenapa kamu itu suka curi-curi di setiap kesempatan," tegur Abah seraya duduk di sebelah Mahen yang hanya dibalas senyuman oleh nya.


"Abah tuh mimpi apa ya? punya kalian," ucap Abah menepuk bahu Mahen.


"Gak mimpi ko Bah ... aku hanya bantu dikit, Ahmad punya andil besar makanya aku tahan dia di sini. Dia bukan tidak berjuang, namun lebih ke teknis dan spiritual ... shadow bergerak atas arahan Ahmad, bukan aku Bah. Naya menyempurnakan semuanya," balas sang menantu masih duduk di lantai beralaskan karpet.


"Tetap saja, mereka semua adalah orangmu, Mas," kagum Abah.

__ADS_1


Naya datang ke ruang keluarga dengan Ahmad dan Amir. Mereka diskusi bertiga selama Naya menyusui Maira dan melihat Aiswa di kamar.


Menjelang tengah malam.


Semua keluarga sudah beristirahat setelah Mahen menjelaskan garis besarnya. Kemungkinan team sar akan menemukan esok hari namun Hermana Arya telah tiba di lokasi.


"Sekarang, sisa keadaan mereka berdua. Apakah trauma atau sebaliknya, kita berdoa," ucap Mahen di antara Ahmad, Amir, Gamal dan Naya dalam pelukannya.


"Semoga baik ... ya Allah, Marsha," lirih Ahmad lega.


"Mas Ahmad, good job ... terimakasih sudah bersedia aku tahan disini agar kita dapat lebih tenang menyusun strategi. Aku tahu, Anda ingin menyusul bukan? sekali lagi terimakasih banyak atas segala usaha yang tak terlihat," ujar Mahen pada Ahmad.


...***...


Bear? inginku menjumpai namun apa dayaku. Aku lemah.


Aku lelah, apakah aku sudah boleh beristirahat, Bear? kau mengizinkan bukan?


Marsha ... Sha ... kau dengar aku? beri aku sign sayang, kemana harus menemukanmu?


Marsha, hanya kamu, pertama dan satu-satunya indah dalam pandanganku.


Belum waktunya kembali Ok? aku belum wujudkan bahagiamu. Urusanmu belum selesai.


Tak kasihan kah kau padaku? pada orang tuamu?


"Uhuk, uhuk, hoek...."


"Oksigen please, she's need more oksigen," teriak seseorang yang entah siapa.


.


^^^.^^^


..._____________________________...


...Amnesia ga? 😌 Mommy bikin video mau upload IG duh malasnya, hanya di SW aja jadinya hihi.....


...Mommy udah naruh clue banyak di bab 198, narasi Mahen itu. Juga Naya yang diizinkan tetap prepare... Mommy gak akan bikin part, jika gak ada maksudnya. Pasti akan ditarik lagi di part yang akan datang hihi.....

__ADS_1


...Bikin part ini, berpikir keras bikin alasan kecelakaan agar logis dan relate, otak mommy lelah, jadi lapar ahaha... demi kesayangan yang minta lanjut, mommy bikin outline baru... semoga cocok dan suka ❤...


__ADS_2