
Saat Adzan Ashar, Amir keluar dari kamarnya hendak menuju masjid pondok bersamaan dengan Ahmad.
Saat melintasi kamar Umma, dia dicegat mertuanya yang menanyakan perihal banyaknya koper diruang keluarga.
"Mir, ini barang siapa? banyak amat," tanya umma saat melihat dua koper besar juga dua box bertumpuk disalah satu sudut ruangan.
"Kayaknya yang Joanna bawa deh Umma, dari Mansion ... Aish minta Joanna membereskan semua miliknya yang disana, tapi entah ini sekalian dibawa ke rumah atau tidaknya," terang Amir sesaat sebelum keluar rumah.
"Coba nanti Umma tanya Jo kalau gitu, Aish mana? sudah bangun?"
"Sedang mandi tadi Umma ... nah itu Joanna ke kamar menemaninya, masuk saja Umma mungkin sudah selesai."
"Ayo, udah iqamah tuh," Ahmad menarik lengan Amir mengikuti Buya yang lebih dulu berjalan didepan mereka.
Umma akhirnya melangkah menuju kamar putrinya itu.
Tok. Tok.
"Aish, koper diluar mau dibawa juga?" tanya umma kembali sesaat setelah masuk dalam kamar putrinya.
"Engga, disimpan disini aja kali ya Umma, ga banyak ko itu atau nanti aku pilih dulu deh," sahutnya saat akan mengambil mukena.
"Jo, ya ampun, kerjaan kamu begitu? Aiswa bisa melakukan sendiri," tegur umma saat melihat Joanna melayani putrinya menyiapkan sajadah serta mengambil mushaf.
"Aish ga minta loh, Joanna sendiri begitu."
"Kata Tuan Besar, wajib menemani kemanapun pergi ... jika permintaan Den Mas, harus menemani Nona dikamar bila beliau tidak ada ... permintaan Nona Dewiq dan Nyonya malah beda lagi ... aku harus membantu semua aktivitas yang akan dilakukan Nona," terangnya menjelaskan pada Umma semua tugasnya.
"Astaghfirullah, Aiswa ... kamu bakalan jadi pemalas nanti Nak," tegur Umma tak habis pikir atas segala pelayanan untuk putrinya terlebih Amir, ada-ada saja, masa dikamar harus ditemani meskipun tanpanya.
"Nona justru mengabaikan semua itu kecuali yang diminta suaminya ... Den Mas itu posesif akut, eh maaf."
Aiswa hanya tersenyum mendengar penuturan Joanna pada Umma.
"Aku ga minta, dulu waktu Qolbi ga ada pun Joanna sudah begitu ... Jo, ayo sholat." Aiswa mengabaikan Umma yang masih menggelengkan kepala melihat putrinya diperlakukan bagai ratu.
Menjelang Isya.
Pasangan muda ini pamit saat Buya hendak kembali ke Aula mengisi kajian untuk para santri putra tingkat atas, ditemani Umma mengantar hingga teras.
"Eh, sudah mau berangkat?"
"Nggih Buya, ini sudah siap semua diantar Ahmad," jawab Amir menyambut uluran tangan Buya.
__ADS_1
"Sudah dibereskan semua ko Umma yang dari Mansion ga Aish bawa, buat disini biar ga perlu bawa baju jika nginep nanti ... Aish tinggalin Joanna disini ya buat Umma karena Aish ada Qolbi." Aiswa melirik Joanna, menahan senyum, rasanya happy melihat Joanna memohon agar jangan meninggalkan dirinya disini.
"Nona, jangan, nanti saya dipenggal sama Tuan besar...." cicit Joanna ketakutan.
"Ck, kamu itu godain Joanna mulu sampe nangis tadi ... udah sana dibawa."
"Tunaikan tugasmu dengan benar ya Aiswa, jaga diri baik-baik, jaga kehormatan suamimu, keluarganya juga keluargamu," pesan Buya, ia mengusap kepala putrinya sayang.
"Sering kabari Umma ya Nak, semoga Allah segera menitipkan amanah buat kalian, aamiin."
"Aamiin," Aiswa menyalami umma diikuti Amir.
"Titip Aiswa ya Mir," pinta Umma saat menantunya mencium tangannya.
"Jangan Umma, jangan ... ya Allah jangan, Umma ... Buya tolong, ya Allah jangan...." Umma balik menciumi bolak balik kedua telapak tangan Amir bergantian. Amir ingin menarik diri namun cekalan Umma begitu kuat hingga ia segan.
"Hafiz, sholih, in sya Allah ... cari kami jika Amir ga ketemu Umma dan Buya di surga-Nya Allah nanti yaa ... Ummimu Jameela Arthadarma melakukan amalan yang bagaimana, dzikir apa, bisa punya putra begini ... Maa sya Allah Umma sangat iri," tutur Umma lirih mengusap air matanya karena haru sekaligus bahagia, sosok dihadapannya menjadi menantu bagi keluarga Tazkiya.
"Benar kata Umma Mir, kami iri dengan Abah dan Ummimu...."
Sebulir bening keluar dari sudut mata teduh pria muda yang disegani keluarga istrinya. Kedua orang tua ini lalu melepaskan kepergian kedua anak kesayangan mereka.
"Allahumma Shalli Alaa Nuuril Anwaari Wasirril Asraari, Watiryaaqil Aghyaari Wamiftaahi Baabil Yasaari, Sayyidinaa Wamaulaana Muhammadinil Muhtaari Wa Aalihil Ath Haari Wa Ash Haabihil Ahyaari Adada Niamillaahi Wa Ifdhaalih," Aiswa melafalkan lirih sholawat nuril saat suaminya menggenggam tangannya masuk menuju mobil yang akan membawa mereka ke stasiun.
Dua puluh lima menit berselang, Gambir.
"Mir, Aish, aku langsung balik ya ... kabari jika sampai disana, fii amanillah." Ahmad melambaikan tangan saat bagasi mereka telah diturunkan.
"Syukron, ma'assalamah." Amir memeluk kakak ipar sekaligus sahabatnya ini.
Mahen dan Naya sudah menunggunya di peron lobby stasiun dengan Maira yang tak sabar ingin digendong Amir saat melihat uwa kesayangannya itu datang.
"Ya ampun Maira, nanti dulu, uwa belum sampai sini," Mahen kesulitan mengendalikan tenaga anak gadisnya yang meronta.
"Assalamu'alaikum Maira sayang," Amir langsung membuka tangannya menyambut keponakannya yang menggemaskan. Ia menciumi telapak tangan bayi montok itu hingga ke pipi membuat Maira tertawa riang.
"Maira, tau aja cowok cakep datang," seloroh Naya saat memeluk Aiswa juga menyalami kakak keduanya itu.
"Maira ga mau tidur saat Naya bilang mau antar kalian, jadi dia ikut padahal biasanya sudah lelap," ujar Mahen yang melihat putrinya enggan lepas dari gendongan Amir.
"Kita langsung ya Nduk," ujarnya menyerahkan Maira untuk Aiswa gendong.
"Lucu banget sih, cantik pula ... mata Maira Maa sya Allah kayak Bunda, cantik ... sampai ketemu lagi sayang," Aiswa mengembalikan Maira pada Naya setelah menghujani dengan ciuman dipipinya.
__ADS_1
Joanna enggan melihat pada Mahendra karena dia tahu lelaki itu pasti paham siapa dirinya.
"Hai Jo, titip Nona mu," sapa Mahen saat Joanna seakan rikuh padanya.
"I-ya Baik, Tuan Delta 04 ... eh,maaf."
"Kak, Joanna ini pernah ikut seleksi shadow dan blackshark namun Rey tak meloloskannya karena dia masih belia kala itu."
"Kan," Amir sudah menduga.
"Den Mas, jadi elite bodyguardnya Exona itu impian setiap orang yang terjun didunia kami ... aku yakin, beliau ada disini pun banyak spy yang menjaganya."
"Istimewa," kagum Aiswa.
Suara pengumuman bahwa kereta telah siap lansir menjadi tanda perpisahan keluarga kecil itu. Keduanya lalu melepas kepulangan kakak ipar mereka disertai tangisan Maira, yang melihat uwanya menaiki escalator menuju line kereta diatas untuk kembali kerumah.
"Cirebon, aku pulang membawa dia yang ku impikan...."
"Bii, jangan ngegombal, ada Joanna, nanti dia laporan sama Papa berabe malunya."
"Berani Jo?"
"Engga Den Mas, aku tutup telinga," ujarnya mengeluarkan headphone lalu memasang pada kepalanya sesaat kereta telah melaju meninggalkan stasiun.
...***...
Australia, Malam hari.
Rayyan baru saja memasuki apartemen miliknya yang lama tak ia huni. Kenangan bersama sang ayah masih teringat jelas disini. Tempatnya menemani masa terakhir Papa sebelum beliau berpulang karena sakit dalam tugasnya.
"Hai Melbourne, kota sejuta kenangan manis ... masihkah ada peristiwa manis disini nanti untukku?"
"Assalamu'alaikum Moms, aku baru tiba ... Mama mau nyusul ga? Rayyan lama ko disini, cuti sambil menunggu peringatan dua tahun Papa," ujarnya saat menelpon sang Bunda di tanah air.
"Ok Moms, sehat selalu disana ... aku sayang Mama."
"Hai Pa ... Angela... aku kembali...."
.
.
...____________________...
__ADS_1