DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 149. JODOHKU


__ADS_3

Rayyan meratapi sedihnya hingga dini hari. Mungkin tetangganya sedang merasakan jua hal yang sama, mereka larut dalam puluhan lagu melow. Seakan hanya itulah teman kesedihan yang dapat mengungkapkan berjuta kalimat indah nan perih pewakil kata hati.


Jika tadi hanyalah setetes air mata bak embun yang mengintip diujung netra. Seiring pekat dan dinginnya malam, justru setetes cairan itu berubah menjelma bala tentara yang turun ke medan perang. Menjebol dengan mudah garis pertahanan seorang Rayyan.


Bagai gletser, meluluhlantakkan semua yang ada dibawahnya. Wajah pria muda khas akang Bandung yang kalem itu pun basah oleh air mata yang berderai seperti iklan pipa, mengalir sampai jauh.


Penampilan Rayyan malam ini tak lagi maskulin meski pahatan wajah tampannya masih sangat kentara. Setelah lelah berkubang duka, ia pun kemudian ambruk diatas sofa membawa sisa kesedihannya.


Keesokan Pagi.


Rayyan bangun dengan sambutan sakit kepala hebat. Ia bagai orang setengah waras sejak semalam. Mabuk kesedihan, lebih tepat disematkan padanya kali ini.


"Oh god, love you like crazy ... dan aku hampir crazy," ujarnya saat membuka gorden apartement lalu menuju pantry mencari sesuatu yang dapat ia jadikan bantalan untuk menelan obat pereda nyeri.


"Baiklah, aku akan bersiap menemuimu Aeyza...."


"Jodohku, maunya ku, dirimu ... hingga nanti, hetdah, ini mulut bagaikan toko kaset sejak semalam," celotehnya mengundang tawa bagi dirinya sendiri.


(ckckck Rayyan 😂, cocok kayaknya kalau ketemu gamal)


...***...


Tazkiya.


Pagi ini Aiswa terlihat lebih segar, tidurnya sangat lelap semalam dalam pelukan Amir. Ponsel mereka pun padam, dan baru dinyalakan ba'da subuh tadi.


"Sayang bangun, temani duha yuk sekalian lanjutin bil ghoibnya lagi...." Amir menciumi wajah ayu Aiswa yang masih lelap dalam pelukannya.


"Rohi, sayang, Aiswa...."


"Bii, ngantuk bentar lagi yaa," rengek Aiswa dengan suara serak, semakin mengeratkan pelukannya.


"Begini, gimana ga naikin mood coba Rohi? belum selesai ya?"


"Harusnya sih sudah Bii, kemarin mau mandi ko masih flek coklat samar," keluhnya kali ini masa ha-id nya menjadi lebih lama satu hari.


"Kecapean jadi begitu, siang ini full istirahat yaa sayang ... Mama dan Dewiq bentar lagi tiba namun mereka mengatakan akan kemari menjelang acara nanti sore," Amir mengatakan kalimat panjangnya sambil membelai rambut panjang Aiswa yang telah dipangkas sebatas bahu.


Tak ada lagi percakapan diantara mereka, Aiswa kembali lelap dalam pelukannya. Jam dinding yang menggantung diatas tembok pintu kamar telah menunjukkan angka delapan, waktunya duha.


"Sayang, maaf yaa, aku dhuha dulu ... kalau ngikutin kamu begini mulu nanti bablas semuanya," bisiknya pada telinga Aiswa meski ia yakin istrinya tak mendengar karena pulas. Amir menarik pelan lengan kiri yang dijadikan alas tidur oleh Aiswa. Meletakkan kepala wanitanya perlahan diatas bantal lalu mengelilingi tubuh istrinya dengan beberapa guling serta menarik selimut agar ia tetap hangat.

__ADS_1


C-up. Kembali menghujani kening Aiswa dengan kecupan.


"Cantik banget sih kalau tidur, jadi gemes sendiri," ujarnya seakan berat meninggalkan meski hanya untuk berwudhu.


"Lebay Mir, lebay ... masih satu ruangan juga," ia terkekeh merasa heran akan dirinya.


Setelah duha, ia memuroja'ah hafalannya selama satu jam, membuat Aiswa semakin lelap dalam mimpinya. Pemulihan agar lekas sehat, bahkan umma pun tak berani mengganggu mereka.


Amir keluar kamar, menuju teras depan rumah. Menghampiri kedua mertuanya disana.


"Mir, Aish masih sakit?" Tanya Buya saat melihat menantunya.


"Duduk Mir, sini, Umma buat kopi jahe," Umma menarik kursi agar menantunya duduk.


"Lebih segar dibanding kemarin Buya ... syukron Umma," balasnya.


"Alhamdulillah ... nanti malam, Hermana Arya akan klarifikasi disini Nak ... tidak menjelaskan rinci namun hanya menginformasikan sekilas tentang kondisi sebenarnya agar jama'ah mengerti dan tidak berspekulasi bahwa ini rekayasa meski sebenarnya iya," Hariri salim tersenyum saat mengakui kalimat terakhir.


"Gugatan Hasbi gimana Buya?"


"Sudah berjalan dan sedang dilakukan penyidikan, tapi bukan dari pengadilan ... masih tinjauan kasus team kuasa hukumnya karena lawyer Hermana mengatakan bahwa jika sampai masuk gugatan, Hermana grup akan meminta kompensasi luar biasa," ujarnya menerangkan perkembangan kasusnya.


"Makanya dia kemarin kesini ngamuk itu ya?" Sahut Amir.


"Lukamu Nak, sudah sembuh?"


"Luka kegores dikit Umma, sudah ga perih ko," imbuhnya seraya memperlihatkan luka disudut bibir kanannya pada Umma.


Ba'da dzuhur.


Dwiana tiba di kediaman Aiswa. Kedua wanita itu asik mengobrol di ruang keluarga bahkan ketika makan siang pun mereka meminta disiapkan hidangan disana.


"Sayang, makan dulu ... ini sari apel hangat, lalu aku suapin ya," Amir menyodorkan satu cangkir berisi minuman kesukaan istrinya sebelum makan.


"Tolong jangan bucin disini, ada jomblo limited edition," celoteh Dwiana menyesap minuman dinginnya.


"Tutup mata dan telinga, Dwi ... resiko punya sahabat pengantin baru, terima nasib lah," balas Amir tak mau kalah.


"Sabar Dwi, nanti juga jodohmu datang, siapa tahu lelaki pujaanmu sedang otewe ke sini kan? jangan balik sampai acara selesai ya ... ka Dewiq juga Mama sore nanti baru kesini kata Qolbi," Aiswa menahan sahabatnya agar tak pulang, ia masih ingin melepas kangen dengannya terlebih saat Dewiq datang nanti.


"Dan gue harus lihat kalian berbucin ria depan mata, nasib gue gini amat," cebiknya lagi masih menyesap minuman dinginnya.

__ADS_1


Suasana sore hari makin meriah.


Dewiq dan Mama datang menyambangi kediaman Hariri salim. Keduanya lalu sibuk didapur menyiapkan hidangan untuk acara dengan para santri, sementara Amir bersama kedua mertuanya di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum," ucap salam seorang pria muda didepan pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Amir dari dalam seraya menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


"Dokter, masuk sini ... ada Papa di dalam," Amir menarik lengan dokter Rayyan masuk ke ruang keluarga dan berkumpul dengan mertuanya.


Keempat pria dewasa itupun akhirnya larut dalam perbincangan hangat membahas segala hal. Hingga obrolan mereka terjeda sesaat kala Dwiana keluar dari kamar Aiswa membawa baki yang telah kosong.


"Mir, maaf, ini mau refill minta kesiapa? aku ga lihat Umma," tanya Dwiana lembut.


"Langsung ke belakang saja Nak, Umma disana," Hariri salim menjawab Dwiana.


"Aku bawakan sekalian untuk disini ya Buya," sambungnya lagi.


"Sekalian minta kopi buat dokter Rayyan ya Nak, punya Papa juga nambah."


"Dokter Rayyan?"


"Aku, kamu ga lihat ada aku?" ketus Rayyan merasa tak dihiraukan kehadirannya.


"Ya maaf, kamu mahluk asing bagi mataku wajar jika tak nampak," sambar Dwiana tak ingin kalah.


"Jangan berantem saat baru pertama kali ketemu, nanti jadi cinta," Amir menimpali.


"Cih, ogah banget," seru keduanya, Dwiana berlalu dari hadapan mereka.


"Kompak begitu," goda Hermana Arya.


"Dwiana putri tunggal pengusaha tambang loh Rayyan, dia masih kuliah bisnis di Aussie ... seumpama jadi pedekate sama Dwi, berat di ongkos lagi donk yaa kalau mau ngapel," ujar Hermana Arya disambut kekehan dari semua yang mendengar penuturannya itu.


"Nasib jones mungkin begini." Rayyan tergelak atas kalimatnya sendiri.


"Assalamu'alaikum, seru bener kayaknya."


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2