DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 44. MEMINTA RESTU


__ADS_3

Perjalanan panjang hendak kembali pulang dari kediaman pembuat sumpah terasa singkat bahkan seakan melayang ringan di udara.


Semuanya merasa jauh lebih lega sebab satu persatu urusan mereka Allah permudahkan. Kala memutuskan singgah karena bertepatan dengan jam makan siang, adzan dzuhur mulai terdengar. Alex memutar laju mobilnya berbelok ke arah masjid yang tak jauh dari lokasi terkini mereka.


" Sholat dulu yaa, lalu makan siang di kantin sana atau mau cari tempat tertutup? " Abah menawarkan pilihan namun di hiraukan oleh kedua pemuda yang masih asik bercanda.


" Aww, " sahut mereka berbarengan, karena Abah menjewer telinga keduanya.


" Astaghfirullah Abah ngomong dicuekin ... lekas wudhu sana ... Nak Alex tunggu sebentar yaa. "


" Iya Bah, silakan. Aku terbiasa menunggu ko, santuy. "


" Termasuk kuat menunggu masa lalu agar berubah menjadi masa depan ya Bang, " Gamal mulai nyeletuk kembali, diselingi kekehan Alex.


" Heh mulut, nyamber aja kek pawang api. " Amir menarik Gamal menuju tempat wudhu mengikuti Abahnya dari belakang.


Saat Imam mulai menyerukan aqiimuu shufuufakum watarosshuu, Abah menarik Amir berdiri tepat di belakang sebelah kanan imam pada shaf pertama. (seruan untuk merapatkan shaf)


Saat roka'at kedua, imam yang telah Sepuh itu menjeda bacaannya lama. Dari gestur tubuhnya ia ragu apabila mundur, apakah ada yang menggantikan. Merasa sudah tak sanggup, beliau perlahan mundur pasrah, nafasnya terengah.


Amir menggeser posisinya, lalu maju dua langkah menuju mimbar menggantikan sang Imam.


Alhamdulillah.


Mungkin kalam ini yang terbersit dalam kalbu masing-masing jama'ah sholat. Bacaan tartil wa tahsin yang Amir lantunkan membius menghadirkan syahdu mengajak khusyuk beribadah.


Sesekali ia menggunakan Hadar kala melafalkan ayat panjang. (Tehnik menghafal para hafidz : membaca secara cepat namun tetap dengan tajwid yang benar).


Setelah salam, ia menoleh ke belakang dimana Imam awal bersimpuh meminta izin dzikir di tempatnya kini.


Amir mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Tanpa ia sadari, microphone pada tripod pendek di mimbar masih menyala, suara paraunya mengudara menyalurkan kesedihan ke semua jama'ah didalam masjid.


Allah ampuni aku, usai aku berdiri menghadap-Mu di shaf terdepan, kenangan terakhir kami kala berdoa bersama menguar begitu saja, Aiswa sayang semoga kamu baik saja, meski hatiku mengatakan tidak. (bab 23)


Mereka kian menunduk terisak, entah karena larut dalam suasana syahdu yang Amir ciptakan atau justru teringat akan segala dosa.

__ADS_1


" Allahumma inni 'asaluka ridhoka wal jannah (semakin lirih) ... aamiin, " Tutupnya kemudian sambil menoleh ke belakang berniat meraih tangan Imam Sepuh dan Abahnya.


" Waladun sholih. " Usap Imam dikepala Amir saat mencium tangannya.


" Aamiin, " giliran Abah menyalami takzim sesepuh dihadapannya bergantian dengan Gamaliel, lalu ketiganya bangkit keluar masjid menuju kantin yang letaknya tak jauh dari sana.


" Setelah dari sini, kita mampir ke rumah orang tua Almahyra ya, calon mertuamu. Abah telah meminta izin pada Yai Rois. "


" Bah, minggu depan itu kan pertemuan untuk mendengar jawaban Alma, nah jika sudah seperti itu kapan lamaran dan akadnya? "


" Tergantung kesepakatan yang Alma minta nanti Mal, sabar. Makanya jangan girang dulu, kan belum tentu kamu nikah. " Abah menahan senyum menggoda Gamal.


" Lah sih Abah gitu, do'ain kudunya ish ... lalu kita ke rumah orang tua Alma mau ngapain Bah, kan Alma diwalikan oleh Yai. "


" Ya pasti di do'akan tapi tergantung Alma kan? haha... memperkenalkan diri kamu. Kedua orang tua Almahyra masih hidup artinya baktimu harus seimbang antara ke Yai dan orang tuanya. Jangan halangi Alma untuk sekedar sowan dan bakti pada mereka meskipun kewajiban utamanya mendahulukan segala kepentinganmu dan Mama. " terang Abah.


" Ospek aja Bah, biar otak dia isinya ga ' anget ' melulu, " sambut Amir menanggapi nasihat Abah untuk Gamal.


Menu makan siang yang telah Amir pesan sebelum mereka duduk tadi, tak menunggu lama sudah terhidang di meja lengkap dengan teh hangat dan air mineral. Kini, kumpulan lelaki dewasa di meja sudut kantin mulai menyantap makanan mereka dalam diam.


Beberapa saat berikutnya. Amir membayar bill seraya keempatnya keluar dari sana menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Abah turun lebih dulu, mengetuk perlahan seraya mengucapkan salam didepan pintu berlapis triplek dengan motif kayu.


Lama tak terdengar sahutan hingga seorang anak gadis dengan rambut dikuncir dua berwajah oval membuka pintu.


" Siapa ya? maaf, tuan rumah tidak menerima ta-mu, " liriknya ke arah Amir dan Gamaliel yang berdiri di belakang Abah.


" Kami mendapatkan izin dari Yai Hasyim Rois, ada calon suami Almahyra hendak bertemu. " Abah menjelaskan.


" O-oh, yang mana? " ucapnya menelisik ke sebalik punggung.


" Nona, beginikah cara memperlakukan tamu? " Gamal kesal.


" Ma-af silakan masuk, saya akan panggilkan Bibi. " Masih penasaran dengan sosok tampan dibelakang sana, lama ia menyingkir dari pintu.

__ADS_1


" Ck, aku calonnya Almahyra dan dia hampir sold out, " tukas Gamal melirik Amir, seakan tahu keingintahuan gadis itu tentang status mereka berdua.


Gadis itu menunduk malu, maksud hatinya ketahuan. Dirinya menyilakan tamunya masuk lalu kembali dengan mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita paruh baya.


" Saya Ibunda Almahyra, ada keperluan apa ya? semua urusan Almahyra diwakilkan oleh adik ipar saya. "


" Maaf mengganggu waktunya Bu. Dia, Gamaliel calon suami Almahyra dan tengah menunggu tenggat atas jawaban perjodohan beberapa waktu lalu. "


" Alma sudah lama tidak kemari, aku tak pusingkan hanya saja aku tersanjung anda menemui kami, si pembawa sial. Suamiku sudah tidak dapat bicara sejak kematian calon Alma sebelumnya. Kami memutuskan menyingkir dari kehidupannya. Maaf, silakan anda pulang. "


" Ibu, do'akan kami yaa. Restui kami, " Gamal meminta restu.


" Iya, pergilah. Kami melepaskan segala kewajiban Alma dan kamu terhadap kami dikemudian hari. Kami pantas, setidaknya bisa mengurangi siksa kubur nanti. " Suaranya menahan sesak dan getir.


" Semua mahluk Allah baik, mulia. Jangan halangi bila suatu saat mereka ingin menunjukkan baktinya pada anda. Kami pamit, semoga anda selalu sehat dan dalam lindungan Allah, aamiin. "


Keduanya bangkit dan keluar dari sana kecuali Gamal. Dia menghampiri wanita tua itu, meraih tangan keriputnya dan mencium perlahan.


" Sehat selalu ya Bu, hadirlah nanti dipernikahan kami. Aku akan sering mengunjungi kalian setelah Alma halal untukku, " genggamnya pada kedua tangan yang tetap bergeming.


Hingga Gamal bangkit dan melangkah keluar rumah, tak ada jawaban atas pernyataannya. Dirinya mengerti, orang tua Alma terlalu sungkan atau merasa bersalah pada putrinya.


" Alma, jikalau kita memang berjodoh, aku akan mengembalikan hubungan yang telah rusak antara kamu dan orang tuamu, yakinlah padaku Alma sayang, " mantap Gamal melangkah ke mobil.


Tidak semudah itu mematahkan mitosnya wahai anak muda. Tapi semoga kali ini, kamu selamat mengingat Rois sangat berupaya untuk mencari jodoh yang tepat untuk keselamatan semuanya. Ibunda Almahyra menatap sendu kepergian calon menantunya.


" Almahyra Binti Firdaus, maafkan ayahmu. Semoga ke sholihah-an yang Rois bentuk mampu menyelamatkan kami di akhirat nanti berkat doamu. " Isaknya pilu.


.


.


...______________________________...


...Salah satu amal yang tiada terputus adalah doa anak yang sholih. ...

__ADS_1


...❤❤❤...


*sedang merunut adab & nasab.


__ADS_2