
"Sudahi ini, perbaiki kehidupan kalian kedepan ... jadikan sakitnya anakmu sebagai iktibar, mungkin teguran dari Allah ... sakit adalah penggugur dosa, sakit juga ujian sekaligus nikmat diingatkan betapa kita ini lemah ... baru masalah darah saja, sudah kalang kabut ... bagaimana dengan takdir lainnya yang sengaja kamu rusak? ya memang ini kehendak Allah buat pelajaran kita semua karena Buya yakin, bukan cuma Aiswa dan Amir saja yang mendapat ibroh, tapi juga kita semua yang terhubung di dalamnya...."
"Buya... bagaimana caranya aku?"
"Taubat Mas, ajak Serli serta ... Buya tahu siapa istrimu itu, jangan kira Buyamu orang kolot dan bodoh, Buya tahu kelakuan kamu hanya saja sekali lagi Buya ga mau kehilangan kamu karena emosi ... Buya nunggu kamu adem dulu, meski tahu, diamnya Buya makin menambah dosa-dosa kita...."
Hasbi hanya diam merenungi jutaan kata yang dikeluarkan oleh Buya nya, dirinya memang hampa, seakan ada yang hilang dari hatinya. Mungkin inikah?
Rasa welas asih karena terselimuti tabir tebal hasad yang ia pelihara.
"Astaghfirullaahal 'azhiima-lladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum, wa atubu ilaih ... Hasbi," ia menghembus nafas kasar, mengingat Robb nya.
"Selama ini sholat ya cuma sholat, Allah...."
Ia pun menyandarkan kepalanya pada bangku panjang yang masih dia tempati.
Mengingat pertemuannya pertama kali dengan Amir saat pemuda belia itu baru saja mendaftar sebagai santri di pondokan Abuyanya.
Wajahnya memang tampan, kalem dan senyumnya menawan. Jangankan wanita, Hasbi muda pun tertarik berteman dengannya yang ternyata pendiam.
Amir juga cerdas, sangat menjaga apa yang di titipkan padanya. Suaranya merdu apalagi jika adzan subuh, yang malas jadi bangun karena ingin menikmati adzan nya secara utuh. Amir sang idola hingga keduanya kembali bersama saat Aliyah dan kuliah di Tazkiya, berteman dengan Ahmad sang putra agung Yai mereka.
Dirinya pun masih ingat kala Ummi Amir memintanya menjadi seorang hafidz semenjak Aliyah tingkat dua. Disela kesibukan memaksanya menghafal perlahan halaman demi halaman hingga semua tuntas.
Kekagumannya pada Amir membawanya mengenal Naya, cinta pertamanya. Gadis cilik yang sangat cantik dengan bola mata berwarna hazel, bagai eks patriat, karena beberapa leluhur keluarga Kusuma dari pihak lelaki menikahi gadis noni Belanda dan Portugis.
Ainnaya Misbach Shaki alias Raden Roro Ainur dinarabraja mencuri hati Hasbi muda hingga dirinya dewasa dan dipertemukan kembali dengan gadis itu diatas kereta dalam perjalanan mereka ke Jakarta.
(kisah Naya di judul satunya ya)
"Cinta buta, benar kata Buya, aku terlalu mencintaimu Naya, bahkan hingga saat ini kau sulit terhapus ... Astaghfirullah, Serli, maafkan aku...."
Hasbi bangkit, melepas sepatunya, jalan bertelanjang kaki menginjak rerumputan dalam taman mini didepan cluster nya.
Berharap dingin embun yang meresap dalam pori kulit nya itu dapat menyalurkan sensasi teduh hingga merasuk hatinya.
Dalam renungnya ia melihat brangkar putranya kembali didorong keluar oleh suster, nampak bersiap melakukan pengobatan lanjutan.
Ia pun bergegas memakai kembali alas kakinya lalu menyusul sang bocah tampan putra sulungnya.
__ADS_1
"Reezi, sehat ya Nak...." lirihnya sepanjang lorong terus memohon pada Allah, agar jangan menimpakan segala khilafnya pada Reezi.
...***...
Tazkiya.
Amir dipaksa oleh Ahmad untuk menemaninya bertemu lawyer Hasbi dalam penandatanganan perjanjian kontrak yang telah berakhir karena pelunasan dana pinjaman.
Keduanya bertolak ke kantor Tazkiya Tour and travel menggunakan Nissan Livina X-gear silver milik Ahmad.
"Mobil baru nieh?"
"Bukan, mobil sisaan ini," balasnya seraya menekan pedal gas lebih cepat.
"Ko sisaan?"
"Innova aku dijual, lalu beli ini, sisanya buat modal waktu bikin AH chicken itu, tapi modalnya dah balik ko, aku belikan logam mulia buat tabungan Mahar Mir," ujarnya.
"Yassalam, diam-diam ya Bapak punya rencana matang."
"Jadi anak lelaki Buya itu berat Mir, semua dipandang karena Buya ... sengaja aku diam-diam begini ... makanya doain ya usaha aku tanpa uang Buya bisa jalan ... innova itu aku beli dari hasil gajian aku selama kerja di Buya, juga dari fee jika produsen oleh-oleh haji atau buyer memberi tips...."
"Maa sya Allah, pantesan jarang balik waktu disana ya ternyata ngulik ... kata Umma kamu juga disini jarang pulang? nyiapin ini semua?"
"Bener, salut, ajib banget dah ... jadi modal buat halalin Dewiq butuh apa nieh?"
"Doa, dari kamu cuma minta doa aja," ujarnya.
"Ga usah minta itu sih, ala wajib ... aku siapin seragaman ya ... apalagi?"
"Jangan bilang-bilang dulu ya," ucapnya ragu.
"Rahasia? aib bukan? kalau aib ogah ah," sergah Amir.
"Innalillahi, su'udzon aja ... aku lagi nabung beli ruko dekat sini entah digunakan sebagai apa tapi beli aja dulu, baru DP dua kali Mir, kalau jadi sama Dewiq kan itu bisa untuk praktek pribadinya nanti ... kalau ga jadi yaa bisa untuk usaha aku ... kira-kira Dewiq mau ga ya tinggal di pondok? rumahnya gede pasti ya, punya pengawal pribadi pula, jujur aku insecure sebenernya sama dia."
"Ya akhi, bicarakan dengan Dewiq, jika memang kalian sudah mantap dan yakin ... tanya apa syarat nikah nya, maunya, semuanya, sebelum kalian menikah ... jangan lupa tanya juga itu, wajib biar kamu bisa tahan diri ... jangan pura-pura ga paham."
"Contoh Mir, nanya nya gimana?"
__ADS_1
Amir terbahak, sahabatnya ini memang Maa sya Allah, sama seperti dirinya, polos namun Abah menuntunnya ketika dia dihadapkan pada masalah yang sama saat akan menikahi Aruni.
"Ck, kalau tanya sama kamu yang ada diledekin," sungutnya sebal.
"Bahasa kamu lah Mad, masa aku sih tapi yang jelas waktu aku, langsung nanya aja ... Dek, kamu kalau masa haid berapa lama, udah gitu aja."
"Kita bahas lagi nanti, sudah sampai ... yuk turun."
Mereka berdua memasuki kantor yang saat itu masih buka hingga jam sembilan malam, langsung menuju meeting room, kebetulan lawyer keduanya telah tiba sehingga tak membutuhkan waktu lama dalam penyerahan dokumen.
Setelah semua resmi, mereka berjabat tangan lalu langsung meninggalkan tempat itu kembali pulang.
Dalam perjalanan kembali, Ahmad banyak bercerita tentang kondisi dia saat di Mekkah juga saat kolaps. Amir kagum, benar, Ahmad bagai ayahnya, tegas dan keras kepala, persis Aiswa dulu namun sudah berhasil dia taklukkan kini.
"Syukron ya Akhi, Amirzain zaidi ... aku janji akan kembalikan cost mu secepatnya, besok MoU kita dimulai ya...." ucapnya saat didepan pintu kamar Amir yang diangguki oleh adik iparnya itu.
Ahmad masuk ke kamarnya. Membersihkan diri lalu membuka ponselnya kembali. Foto gadis itu yang sempat dia screenshot siang tadi, sudah menjadi wallpaper di laptopnya.
"Alhamdulillah, satu selesai ... semoga semua sudah stabil saat akan menjadikanmu halal untukku ya Marsha, semoga kamu menerima keadaanku yang masih berusaha berdiri dikaki sendiri."
Merasa perlu menanyakan sesuatu ia meraih benda pipih yang diletakkan di sebelah laptopnya.
"Assalamu'alaikum, Ma, sudah tidur belum?" Ahmad mengirim chat di grup bertiga yang dia beri nama Satpam Halal.
Hening.
"Wa'alaikumussalaam, Mama bobok Bear," Dewiq membalas.
"Ya sudah Sha, ga jadi, nanti aja kalau ada Mama ngobrolnya ... Laila sa'idah."
"Sa'idatun mubarokah."
Netra Ahmad membola, benarkah yang membalas pesan Dewiq? cepat sekali gadis itu beradaptasi dengannya.
"Marsha, my Sha ... duh ya Allah ngene rasane jatuh cinta...."
.
.
__ADS_1
...__________________...
...😂😂😂... mau ngegombal ala Ahmad nunggu Mama hadir, besok lagi yaa.. done 5000 kata, 4 bab Amir & 1 bab suara untuk Dilara... ❤ Makasih banyak supportnya ya kesayangan mommy semua... luv ❤...