
"Apa? siapa?!" Dwiana kesal, bukan pada Aiswa namun pada dirinya. Ingin rasa hati membagi segala beban yang menghimpit namun apa daya ia merasa tak pantas.
Dwi menutup diri dari semua pria yang mendekati bukan karena tak suka tetapi lebih menjaga agar hatinya sehat. Tidak terjebak pada suatu hubungan toxic.
Aiswa mendengarkan, bukan hanya dirinya, namun semua yang ada diruangan itu. Terlebih Rayyan, dia hanya menundukkan kepalanya sedari tadi. Entah apa yang pria itu pikirkan.
"Dwi, kau nangis ya? heleh baru segitu udah mewek, cemen amat sih jadi cewek, katanya Dwiana itu setegar karang, bahkan punya godam raksasa ... terakhir kali Lu bilang, Papa mau dijampi pake ajian rogo sukmo, biar takluk ama kamu," Aiswa mengalihkan sementara emosi Dwiana.
"Enak aja cengeng, Lu kali. Demen amat bikin orang senewen, urus aja sana laki sejagadnya. Udah macam kontes aja kita susul-susulan kawin kek bus kopaja," semprotnya kali ini pada Aiswa yang dibarengi kekehan keduanya.
Amir hanya menggelengkan kepala mendengar kegilaan istrinya bila bersama Dwiana. Tak terkecuali Mama yang melihat sisi lain dari Aiswa, persis gadis seumurannya.
"Dwi, buka hati ya. Pada lelaki yang akan datang padamu, aku bantuin doa dari sini. Jika memang tak ingin menjalin hubungan, setidaknya kamu bisa mendengarkan darinya makna kebersamaan, cinta kasih serta harapan. Juga visi misi tentang apa itu sebuah keluarga ... Ok sayang?" tuturnya kembali lembut.
"Aish, kenapa sih kita jauhan yaa, aku pengen peluk kamu sekarang ... Bisakah aku? jujur aku takut akan menyakiti nya," cicit Dwiana.
"Menerima saja dulu, maafkan dirimu. Bukan salahmu ada dalam keluarga demikian, bukan salah kedua orang tuamu juga tapi semua ini adalah jalan agar kalian belajar ... tentang apa? semuanya, in sya Allah ada hikmah dalam setiap peristiwa, macam aku. Mau sama Qolbi aja kan muter dulu, konflik dulu, merana, dosa pula," Aiswa mencubit lengan Amir yang sedari tadi hanya senyam-senyum melihatnya bicara.
"Aww, sakit sayang," bisik Amir.
"Heh, suara siapa itu? Aish, gak lagi aneh-aneh kan?"
"Aneh-aneh apa? Dwi otakmu itu isinya udah mulai traveling ... tadi suara Qolbi lah, aku cubit. Pikirkan kembali, dan jaga diri baik-baik disana. Bukankah Dokter Rayyan kemarin merawatmu?"
"Iya, entah jika tak ada dia bagaimana nasibku kini, mungkin sudah menjadi onggokan daging ransum para cacing tanah ... Mamanya baik banget tau ga sih? pengen meluk tapi ga berani," jawabnya.
"Kenapa?" desak Aiswa.
"Karena beliau bukan Mamaku, aku gak mau kehilangan rasa yang tidak semestinya aku miliki. Aku gak mau memulai jika harus kehilangan," imbuhnya sendu.
"Kan aku bilang, cinta itu ga melulu harus memberi. Tapi juga menerima, mencintai bukan bagaimana kamu melihat tapi bagaimana merasakan. Bukan bagaimana kamu mendengar, tapi bagaimana mengerti," Aiswa gemas, Dwiana bebal.
"Ah Lu dah kawin sok dewasa," gelaknya di ujung sana.
"Karena Qolbi jejelin aku begitu, Dwi," Aiswa tertawa. Dia juga merasa bahwa sejak bersama Amir, dirinya lebih santai menjalani hidup.
__ADS_1
"Intinya begitu ya Dwi. Jaga diri baik-baik disana, ingat kesehatan wajib diperhatikan karena kamu memilih hidup mandiri bukan? maka bertanggungjawab lah terhadap keputusanmu ... peluk Dwiana Rose," pungkas Aish menutup percakapan.
Setelah panggilan tertutup, Aiswa melayangkan pertanyaan pada dokter Rayyan.
"Nah, sudah dengar sendiri bukan? dia tidak menutup diri, hanya ragu bahkan takut akan menyakiti Anda. Jadi seperti yang Qolbi bilang, Dwiana hanya butuh kepercayaan dan kesungguhan Anda jika ingin serius mendekatinya, Dokter. Masih mau lanjut atau sudah?" tanya Aiswa.
"Sayang," tegur Amir lembut.
"Biar Bii ... Dokter Rayyan juga butuh penegasan akan sikapnya. Aku ga mau ya Dokter, ditengah jalan nanti Anda meragu dan mundur setelah Dwiana membuka hati ... kawanku bukan kelinci percobaan seleksi jadi istri," cecar Aiswa.
"Aiswa Fajri," Amir kembali menegur istrinya, kali ini lebih tegas namun tetap tak diindahkan oleh Aiswa.
"Aku tahu Dokter Rayyan masih setengah hati, yakinkan dulu perasaan Anda pada Dwiana. Karena keyakinan itu terpancar menjadi sebuah tindakan nyata. Maafkan aku ya Ma, aku hanya menjaga hati temanku yang sudah terluka agar tak terlalu parah. Atau malah sebaliknya, berlagak menjadi obat namun tidak tuntas, justru akan menambah luka bahkan infeksi yang sulit untuk disembuhkan." Aiswa bangkit, meninggalkan suami dan tamunya di ruang keluarga.
"Mama ngerti Nak Aiswa, semua ini kuncinya memang ada pada Rayyan," Mama menepuk bahu sang putra yang sedari tadi diam.
"Maafkan istri saya ya Dokter, Ma. Aku permisi, Aeyza juga butuh di tenangkan," ujar Amir pamit undur diri.
"Ah ya, jangan sungkan disini ya ... Jo, tolong temani Mama," pinta Amir saat melihat Joanna masuk dari pintu belakang.
Australia.
Dwiana merenungi setiap perkataan Aiswa. Ia sadar bahwa hatinya terlalu takut untuk memulai suatu hubungan. Bayang kegagalan keluarganya memberikan cinta kasih menghantui dirinya.
"Akankah aku bisa tak seperti mereka? apakah nanti dia menerimaku dengan baik tanpa mengungkit masa laluku?"
Alien, aku tahu bahwa hatimu itu belum sepenuhnya condong padaku.
Ting. Notifikasi pesan masuk.
"Assalamu'alaikum, Dwi."
"Wa'alaikumsalam."
"Dua minggu lagi, aku akan menemui ayahmu di kantor. Saat itu aku akan meminta padanya, seorang putri Raharja Arka, untuk mengenal lebih dekat dengan Dwiana rose."
__ADS_1
"Dokter, jangan bercanda."
"Aku tidak, izinkan aku ya Dwi. Mau kan memulai bersama ku?"
"Entahlah, aku tidak yakin," Dwiana teguh pendirian.
"Biarkan aku mencoba berjuang untukmu, Dwi. Dimulai dari hari ini ya, aku akan lebih intens menghubungimu. Suka atau tidak, ini salah satu caraku agar kau melihat Rayyan," ungkapnya.
"Jangan mengharapkan imbalan manis dariku Dokter."
"Tidak, aku akan terus memberi hingga tangan mu penuh untuk menerima semua pemberian dari ku," tekad Rayyan.
"Tak ada yang muncul setelah kegelapan selain cahaya, tak ada yang muncul setelah kesedihan selain bahagia. Aku tidak terlalu paham apa itu definisi cinta, yang aku tahu intinya di saat aku sudah nyaman dengan seseorang, aku tidak tertarik dengan yang lain. Lets try," imbuh Rayyan lagi.
Hening menjeda lama, hingga....
"Aku menunggumu, Alien...."
Rayyan mengerjapkan matanya berkali, bahkan memperlihatkan chatnya pada sang Bunda yang masih duduk menemaninya. Tidak salahkah yang dia baca? Dwiana memberikan kesempatan padanya?.
"Ma, gak salah kan ini?" Rayyan menyerahkan ponselnya pada Mama.
"Kayaknya enggak Ray, kalau kamu sudah yakin, pergilah Nak, minta dia dengan benar pada keluarganya. Berikan apa yang Dwiana cari selama ini. Mulailah mempelajari semua kebiasaannya Rayyan, dekati dia perlahan. Biarkan hatinya yang membuka diri bukan karena paksaanmu ... benar kata Aiswa, jika kamu salah langkah, maka Dwiana akan semakin terluka." Pungkas Mama mengusap punggung putra satu-satunya penuh kelembutan.
.
.
..._____________________________...
...Visual Dwiana rose
...
__ADS_1