
"Dia? siapa Dokter?" tanya Aiswa penasaran.
"Entah dia mau atau ga sama aku, terakhir di sana kita malah di cuekin ya Ma, padahal Mama bujukin lama banget itu tapi tetep ga luluh ... apa dia trauma Aey?" Rayyan jadi berpikir negatif tentang gadis itu.
"Aey? siapa Aey? bukannya ini Aiswa, Ray?" Mama bingung.
"Aeyza dan Aiswa adalah orang yang sama, Moms. Panjang ceritanya, nanti aku dongengin Mama kalau berhasil bujuk dia, ok?" sahut Rayyan.
"Dia siapa Dok? Dwiana?" tanya Amir.
"Iya, dia menutup diri."
"Dwi? hmm sulit, Dwi bukan tipe yang mudah di rayu apalagi di sodorkan hal manis. Aku tidak pernah mendengar dia membicarakan tentang keluarganya. Yang kami obrolkan hanya tentang masa depan ... keinginan ka Dewiq yang bisa menjadi Pioneer, mengemban tugas Papa ... Dwi yang ingin bebas dari lingkungan keluarganya, bahkan dia ingin membayar lunas semua biaya yang telah Papanya keluarkan, saking apanya coba, Bii," Aiswa kembali mengingat kepingan kenangan kala bersama mereka.
"Saking ingin tak diatur hidupnya, tapi itu salah sayang. Bagaimanapun kita gak bisa membayar jasa orang tua, anak tetaplah anak. Nasehati Dwi perlahan ya Rohi, aku yakin dia akan mendengarkan mu," pinta Amir lembut pada Aiswa.
"Udah, kenyang Bii ... aku coba ya," Aiswa menahan suapan Amir, dia sudah terlalu kenyang.
"Jo, to- ... thanks Jo," Amir hendak meminta Joanna mengambilkan suplemen Aiswa, nyatanya gadis itu sudah mulai paham tugas barunya.
"Tolong ya Aey, aku ke sini dapat alamat dari Umma, pulang dari Aussie Mama minta ditemani lama. Akhirnya aku balik ke Singapura, masuk kerja satu pekan lalu mengajukan jatah cuti tahunan yang jarang aku ambil. Memutuskan kemari karena ya itu tadi, Arzu gak bisa dimintai tolong. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini," ungkap Rayyan menjelaskan detail maksud kedatangannya.
"Kakak memang sedang padat jadwal kuliah, kata Mama kemarin juga sempat sakit. Tahun depan kan CoAss, dan mengajukan praktek disini, entah di accept atau gak nya," jawab Aiswa seraya meminum obatnya.
"Kamu hamil Aey?" tanya Rayyan melihat banyaknya botol suplemen untuk ibu hamil diatas meja.
"He em, empat minggu. Do'ain ya, " imbuhnya lagi.
"Mas, ya ampun. Keren," Rayyan tertawa menepuk lengan Amir.
"Rezeki Dok, alhamdulillah dititipi cepet."
"Wah, baru nikah kan ya? selamat ya Nak Amir, Aiswa," Mama Rini ikut sumringah.
"Makasih Ma, satu pekan lagi pas dua bulan," sahut Aiswa tersipu.
Mereka masih membicarakan tentang rencana Rayyan terhadap Dwiana, meskipun di masa depan dia akan ditolak kembali namun tekadnya untuk terus mencoba akan tetap ia lanjutkan. Terlebih Rayyan sudah mengantongi jadwal untuk menemui kedua orang tua Dwi.
"Enaknya langsung siapkan lamaran jika memang Dwi bisa dibujuk, jadi ga bolak balik," sambung Amir.
"Tapi tadi, Dwi menutup diri padaku, Mas."
"Nanti coba lihat bagaimana Aeyza membujuk Dwi ya Dokter," Amir mencoba menenangkan Rayyan. Mungkin maksud hatinya telah teguh memilih gadis itu, namun belum dapat Dwiana cerna dengan baik.
Menurut Aiswa, Dwiana adalah sosok tertutup jika menyangkut keluarganya. Dia hanya ceria dan apa adanya di lingkungan yang membuatnya nyaman.
Jika Dwiana sudah diam, dan berbicara lirih dengan penuh perasaan. Telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengannya.
"Loh, waktu di Bandara, dia lembut banget tatkala melihat satu keluarga harmonis. Bahkan dia bagai bukan Dwiana," tutur Rayyan.
"Nah itu, luka batinnya, Dokter." Amir menyimpulkan.
"Gitu ya Nak Amir, solusinya gimana?" Mama Rini nimbrung kembali bersama Aiswa setelah keduanya asik di dapur membuat sesuatu.
"Sayang, duduk, jangan ngapa-ngapain lagi?" pinta Amir saat melihat Aiswa membawa satu gelas besar lemon tea.
"Butuh kepercayaan. Selama ini Dwi tidak pernah mendapat gambaran bagaimana diperlakukan dengan sayang oleh pria yang seharusnya menjadi cinta pertamanya dalam keluarga, ayah. Juga tidak pernah mendapatkan perhatian dari Mama. PR berat Dokter, yakin?" tanya Amir kemudian.
"Yakin Mas, tapi dia menolak didekati. Gimana?"
"Jadikan halal, mendekati tak harus menyentuh kan bisa, izin dulu sama keluarganya. Bangun kepercayaan bagi Dwi bahwa Dokter itu serius," jelas Aiswa.
"Kan Ray, Mama bilang juga apa," Mama Rini menimpali pernyataan Aiswa.
Obrolan hingga menjelang siang, antara dua pria yang mengatur langkah agar tepat sasaran. Mengingat kondisi keluarga Dwiana yang tidak biasa.
Sedangkan Aiswa masih mencoba membujuk sahabat karibnya itu.
__ADS_1
...***...
Belahan bumi lainnya.
Mama khawatir melihat Dewiq yang seakan mengabaikan kondisi kesehatannya. Semua keinginan Mama agar sulung Herman Arya itu memperhatikan asupan nutrisinya kerap diabaikan.
Bahkan ketika sakit pun, Dewiq bersikeras masuk kuliah hingga larut malam. Kekhawatiran Mama sudah melewati ambang batas.
"Assalamu'alaikum, Mas, Mama ganggu gak?" Rosalie menghubungi calon menantunya.
Beberapa saat kemudian.
"Wa'alaikumussalam, Ma, kenapa dengan Marsha?" tanya Ahmad khawatir, Mama mengirim pesan pribadi dengannya.
"Tolong nanti bilangin Kakak, jaga kesehatan. Dia sakit dua hari lalu dan hari ini masih pucat tapi memaksakan diri masuk kuliah, Mama kuatir Mas, putri Mama sisa satu. Dewiq itu berusaha menebus rasa bersalahnya selama hidup urakan dulu sebelum ketemu Aeyza," Mama menulis kalimat panjang.
"Nanti aku coba chat ke grup ya Ma," balas Ahmad.
"Tolong ya Mas, mungkin dia bakal dengerin kamu. Dia tidak pernah lagi memikirkan dirinya sendiri sejak tinggal di London dan menata hidupnya lagi. Aeyza bahkan kerap kali mengungkapkan kekagumannya terhadap Kakak sekaligus ketakutan jika saja Dewiq sudah berubah mode menjadi pendiam dengan wajah serius meski jika dalam kondisi normal, dia sangat manis," ungkap Mama.
"Aku mengerti Ma, Marsha bagai punya dua sisi kepribadian. Aku paham posisinya, sebentar aku ke grup ya."
"Mama kali ini hanya diam ya Mas, tolong. Katakan apapun yang ingin kamu ucapkan agar dia mereda," tulis Mama lagi.
"Yess, akhirnya nasib baik datang." Ahmad bersorak.
"Jangan keterusan!"
"Siap Mamer," imbuhnya semangat.
"Apa Mamer?"
"Mama mertua, aku ke grup ya Ma, mumpung belum jalan lagi."
Grup chat Satpam Halal.
"Wa'alaikumussalam, ya Bear? aku sedang break lima belas menit," balas Dewiq.
"Aku kok kayak sesak ya? sulit bernafas."
"Kenapa? flu? Bear, sesak bagaimana?"
"Sha, VN donk, jelasinnya."
Dewiq send voice note.
"Bear, sakit? susah bernafas atau bagaimana, jelaskan sama aku."
"Iya, ternyata benar."
Ahmad mengirim chat kembali.
"Benar kenapa sih, Bear?"
"Wanitaku sedang sakit disana, suara kamu sumbang sayang, padahal bukan Doel. Sudah berapa lama sakit, Marsha?"
"Bear 😅, Si Doel kan suaranya emang sumbang, haduh kamu."
"Sha."
"Ya Bear, aku gak apa kok, hanya flu biasa."
"Sudah berapa hari Sha?"
"Baru dua hari, aku gak apa kok, serius."
"Sha, jaga kesehatan disana. Aku gak bisa melakukan banyak hal ketika tahu kamu sakit, kau ingin aku menyesalinya, Sha?"
__ADS_1
Hening.
"Entah, aku hanya merasa bahwa kau tidak baik saja. Jangan memaksakan diri, kamu sudah sangat istimewa di mataku, selalu terbaik, Marsha, kamu dengar? eh salah, kamu baca?"
Sunyi.
"Jika aku saat ini hanya mempunyai satu kesempatan dan harus memilih antara bernafas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu ... sesak ku karena ini, karena merasa bahwa My Sha, sedang membutuhkanku namun aku tak ada di sisinya."
"Bear, 😭😭😭" Dewiq hanya diam.
"Honey, kamu adalah penyemangat ku. Jika kamu goyah, aku akan jatuh."
"Sha, jika satu keinginanmu jatuh berkeping, kamu masih bisa memungut serpihan nya untuk memulai kembali. Namun jika ragamu yang kau rusak, semuanya akan ikut hancur. Segala yang berlebihan itu gak baik, Honey," Ahmad terus membujuk.
"Mas, 🥺"
"Bear, maaf gak jujur sama kamu, aku memang sakit dan sedikit memaksakan diri."
"Kau mau apa dariku Sha?"
"Big hug, Bear."
"Ma, Acc gak nieh?"
"Mama gak baca ya Mas," kali ini Mama ingin melihat apa yang akan Ahmad lakukan.
"Sha, dekatkan ponsel kamu ke pipi."
"Kenapa?'
"Ikuti aja."
"Berasa ga, Sha?"
"Engga, emang kamu ngapain?"
"Aku cium layar hape, ngarepnya sih ke transfer sampai pipi kamu."
" 😂😂😂 " Mama hanya tertawa.
"Bear, aku ikutan konyol karena kamu, 😂"
"😂, aku kek orang bodoh, Sha."
"😂😂😂😂😂😂😂" Mama puas tertawa.
"Sha."
"Ya Bear," Dewiq masih tertawa.
"Jaga diri ya, inget aku jika kamu ingin menyiksa tubuhmu itu. Bahwa akan ada yang menyesal karena merasa tidak berguna sebagai pria. Aku ga bisa kesana, karena janjiku dan ini sudah sangat menyiksa. Jadi jangan kamu tambah dengan rasa bersalah ya My Sha," Ahmad memang serba salah. Inginnya mempercepat namun semua belum siap.
"Bear," Dewiq berat ingin mengungkapkan sebuah rasa.
"Ya?"
.
.
...________________________...
...Selamat malam kesayangan mommy ❤...
...Visual Ahmad, nyari yang mirip Aiswa struktur wajahnya. Semoga cocok.
__ADS_1
...