DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 85. IDENTITAS


__ADS_3

Perbincangan yang terkesan dingin namun sejatinya adalah ajang pernyataan kesetiaan, masih Dewiq lancarkan pada asprinya, Ulfara.


"Kau mencintainya, Ulf?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku tidak pantas untuknya yang cemerlang," jawab Ulfa tegas.


"Kau tahu semua tentang rencana ku, tentang pasokan obat-obatan yang belum legal, tentang aah ...."


"Nona, bila anda memanggilku untuk meminta pernyataan kesetiaan dariku ... maka inilah jawabanku ... aku akan setia memegang teguh apa yang aku ketahui, bila dihadapkan pada situasi sulit maka aku lebih memilih membawa semua yang aku tahu meninggalkan raga tanpa membuka suara ...."


"Kau jamin itu, Ulf? "


"Iya, masa lalu dan masa kini ku keduanya sama-sama penting, Nona ... karena seperti yang aku katakan tadi, aku tidak bisa mengorbankan salah satunya maka biarlah aku yang mundur dari keduanya ... mati ditangan anda ataupun ditangan Mahendra, bagiku sama saja ... suatu kehormatan."


"Well done Ulf, aku pegang janjimu ... setidaknya aku sedikit tenang kau tak akan berpaling meninggalkan ku nanti."


Dewiq menatap Ulfa, wanita muda yang berusia beberapa tahun diatasnya yang terlihat sangat tenang bahkan seakan punya kekuatan terselubung dibalik wajah kalemnya itu.


"Ada lagi yang membuat hati anda risau, Nona?"


"Tidak, pergilah Ulf ... pasokan bahan untuk produksi masal obat itu apakah telah siap semuanya?"


"Akan aku laporkan detail pada anda, siang ini ... aku permisi," Ulfa bangkit, membungkukkan badan sedikit sebagai penghormatan pada sang Nona muda.


*


Keesokan pagi.


Dewiq masih setia berada di dalam kantornya saat Dwiana merangsek masuk ke sana.


"Selamat pagi cintaku," sapanya memeluk sahabat karib yang tengah terlelap diatas kursi kebesaran dibalik meja kerjanya.


Hening.


"Bangun, makan yuk aku lapar," bisiknya ditelinga Dewiq.


Sunyi, hanya suara Dwiana dan deru nafas halus milik Dewiq yang berpendar ke seluruh ruangan.


"Dewiq, Aiswa!" teriaknya lagi.


"Mana?" bangkitnya terhenyak.


"Dialam sana, surga mungkin mengingat dia wanita sholihah ... tak seperti mu bahkan aku." ujarnya lagi.


Dewiq yang masih belum sadar sepenuhnya mengerjapkan mata menatap sosok seksi disampingnya.

__ADS_1


"Wow! sejak kapan kau di sini? "


"Sejak tadi ... sarapan yuk, lalu kita ziarah, aku tak menyangka dia pergi begitu cepat."


"Dirumahmu tak punya makanan kah? anak penambang sukses ko numpang," celetuknya.


"Aku malas, kangen sama kamu terutama adik kecil kita, Aiswa," tunduknya kembali sendu.


"Aku cuci muka dulu, lalu kita breakfast," mengakihkan pembicaraan.


Keduanya masih berbincang tentang kenangan mereka dengan Aiswa. Tak lama Dwiana pamit undur diri dari kediaman mewah sang sahabat menuju pusara Aiswa.


BMW sport merah metalik itu melesat kencang keluar dari mansion mewah Hermana. Sepanjang perjalanan dirinya masih tidak menyangka bahwa gadis mungil itu akan membawa cintanya turut serta meninggalkan dunia ini.


"Amir, tahukah kamu bahwa dia masih sangat berharap padamu? namun dia menekan perasaannya dengan terus ibadah dan ibadah agar dapat melupakanmu."


"Dia tahu, sikap nya, hatinya menyimpan cinta bukan pada mahramnya. Itulah salah satu penyebab dia jatuh, saat hendak kembali berwudhu kala hatinya tak tenang, selalu mengajak mengingatmu terlebih kamu telah menikah."


Tazkiya.


Dwiana membuka kaca mobilnya kala mendekati gerbang pondok pesantren milik Abuya Aiswa. Dia baru pertama kali memasuki kawasan ini, untung pakaian yang dia kenakan saat ini sopan menurutnya, jeans dengan kemeja lengan panjang motif mini pattern warna biru laut. Dia juga membawa trouser serta pashmina apabila busana yang dia kenakan masih kurang sopan.


"Assalamu'alaikum, ingin kemana? dan untuk kepentingan apa Mba?"


"Bisa masuk dari sini, namun mohon maaf silakan penuhi syaratnya terlebih dahulu. " Penjaga menunjuk ke sebuah papan pengumuman di depan gerbang tentang syarat memasuki kawasan pondok salah satunya busana yang tidak ketat.


"Aku bawa pashmina panjang,"


"Silakan dikenakan dahulu disini sebelum masuk, lalu lurus arah gerbang kedua ke asrama putri ... parkir didalamnya dan jalan melewati sisi samping bangunan hijau untuk menuju pusara almarhumah, " terangnya.


Dwiana mengikuti arahan sang penjaga gerbang, lalu setelah pintu besi itu terbuka dia melajukan kembali mobilnya sesuai petunjuk arah tadi.


Saat akan keluar dari mobil, dirinya mengenakan trouser agar lebih sopan lalu perlahan mengikuti arah tanda panah untuk menuju makam Aiswa.


Disana, rupanya masih ada beberapa wanita yang sedang mengaji. Saat dia bergabung, sekilas pandang bersitatap dengan wanita paruh baya, mirip ummanya.


Dia umma kah? cantik persis Aiswa.


Dwiana yang minim agama, hanya bisa mengikuti bacaan yang dilantunkan oleh beberapa wanita tadi hingga usai.


Saat akan pergi, karena tidak enak hati berlama di sana mengingat busana yang dia kenakan jauh berbeda hingga mengundang perhatian sekitar. Tangannya di tahan seseorang.


"Teman Aiswa? darimana Nak?"


Dwiana menoleh pada sumber suara. "Umma kah?"

__ADS_1


"Benar ... mohon maaf apabila Aiswa banyak kesalahan yang tak umma tahu atau dia sadari ya Nak,"


"Aku bertemu dengannya saat lomba dulu Umma, kami jarang komunikasi via telepon, hanya by email saja... karena aku studi di Aussy ... hingga kami jarang jumpa, Umma aku kehilangan dia, sangat." Dwiana mulai sesak menahan sedih.


"Pantas, Umma tidak pernah jumpa kalian ... terimakasih sudah menjadi teman baik Aiswa ya, Umma tidak tahu siapa saja temannya diluar pondok." Umma menepuk tangan mereka yang masih terpaut, menyalurkan rasa betapa dia bersimpati pada teman putri yang tak dikenalnya lebih jauh.


Dwiana meminta izin memeluk wanita berusia senja itu, menciumi tangannya tanpa henti.


"Karena Aiswa, keluargaku lebih hangat... karena Aiswa aku terbebas dari minuman dan drugs ... terimakasih Umma telah mendidik Aiswa hingga dia menjadi oase bagi kami." Tangisnya pecah.


"Salam dari Dewiq, kita bertiga karib ... dia tak mau kemari karena meyakini bahwa Aiswa masih hidup, baginya Aiswa sangat berharga. " isaknya lagi.


"Terimakasih banyak, terimakasih banyak, " Umma hanya berkali mengucapkan kata itu hingga Dwiana pamit pulang.


***


Setelah kepergian Dwiana, Dewiq bergegas menuju kamar Aiswa.


Hari ini dia terlihat lebih segar, mulai bisa mencerna makanan ***** perlahan serta juice saat Dewiq menyambangi.


"Makan yang banyak sayang, agar lekas pulih ... setelah makan, kita buka perban yaa."


"Iya Kak," angguknya.


"Cerita ya, nanti aku diapain aja," pintanya lagi.


"Iya, aku akan cerita ... Dwiana tadi kesini, dia shock dan kini sedang ke tempatmu ... aku menolak ikut bersamanya karena kamu masih ada disini, dan yang terbaring disana adikku, aeyza."


"Aeyza? Umma bagaimana? "


"Nanti aku tanyakan pada orang ku disana."


Aiswa memberinya tatapan kebingungan, ada kegundahan dalam sorot matanya.


"Kamu akan menjadi Aeyza kami, adikku yang sangat aku kasihi ... atau kamu ingin memakai identitas lamamu, sayang?" tanya Dewiq.


"Baiknya kak?"


"Hidup baru, harapan baru, Aiswa tapi semua aku kembalikan padamu ... aku ingin kamu lebih bahagia dari waktu yang lalu."


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2