DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 84. WELCOME HOME, BABY


__ADS_3

Perasaan bahagia sangat terpancar dari sorot mata elang yang dilapisi kontak lens keabuan milik Dewiq, putri Mahkota keluarga Hermana kala menyaksikan pasien cantiknya terbangun dari koma.


"Welcome home, baby," ucapnya lagi dengan sumringah hingga sudut bibirnya tertarik keatas mengembang sempurna.


"Di-man-- ... a? "


"Mansion milikku, kau aman disini. "


"Be-bas?"


"Iya, kamu bebas sesuai keinginanmu saat sebelum kolaps serangan awal ... maafkan aku sayang, memilih jalan ini."


"Kak?"


"Iya sayang,"


"Ka-mu kak-akku ka-n? Kak Dewiq? ya-ng sangat lem-but da-n sa-ya-ng pa-dak-u?"


Dewiq meneteskan airmata haru, dia masih menganggapnya demikian meski dirinya telah dipisahkan dari keluarga olehnya.


"Sayangku,"


"K-kak,"


"Ya? perlahan sayang, perlahan."


"Umma?"


"Kita bicarakan ini esok, Ok? tidurlah lagi yaa, besok perban di kepalamu akan aku buka, kau siap?... anggukan kepala agar otakmu tak bekerja terlalu cepat saat ini."


Menganggukkan kepala atas intruksi Dewiq.


"Good Girl, masih pusing?"


Dia menganggukkan kepalanya kembali.


"Berikan obat pereda sakit untuknya,"


"Baik, dokter."


"Sayang, aku akan memeriksamu dulu yaa,"


Kali ini, mata cantik itu bergerak perlahan sebagai isyaratnya.


"Lakukan pemeriksaan, now! aku tak suka menunggu, terlebih untuknya." Serunya membuat sang asisten terhenyak sesaat.


"Jangan takut, aku disini." Dewiq menggenggam jemari lentik yang hanya terbungkus tulang.


"Ak-u masih me-makai hi-, "


"Selalu, aku tak mengizinkan yang bukan mahram menyentuhmu ... bahkan aku yang memandikanmu langsung setiap hari, dan semua yang kau kenakan juga tak lepas dari pengawasanku ... termasuk hijabmu ... kau ingin bercermin?"


"Syuk--, "

__ADS_1


"Sama-sama sayang."


Dewiq membuat pengalihan topik agar sosok lemah itu tak terlalu merasakan sakit akibat beberapa test yang tengah dilakukan para asistennya.


Pengambilan sampel darah, tensi dan sebagainya yang membuat jengah siapapun bila terbaring diatas ranjang pesakitan itu.


Setelah semua pemeriksaan akhir selesai, Dewiq memberikan suntikan obat melalui selang infus yang masih terpasang ditelapak tangan kirinya.


Perlahan, mata dengan retina yang belum fokus itu menutup sedikit demi sedikit hingga tak lagi terlihat oleh Dewiq iris mata coklat tua miliknya yang indah.


"Tidurlah lagi sebentar, sebelum kamu tahu identitas mana yang akan dipakai nanti ... aku sangat menantikan saat itu datang, kamu bahagia dan berterimakasih padaku untuk kesempatan kedua yang telah aku kabulkan ... semoga kamu kuat, bisa menata hatimu kembali."


"Awasi dia, observasi 24 jam ke depan. Aku kembali ke ruangan Mama." perintahnya pada kedua asisten yang berjaga disana.


Baru saja tangannya menyentuh pintu ruangan yang didominasi serba kaca itu, Ulfa menghadap menahan laju langkah ayunan kaki. Dewiq untuk masuk ke ruangan sang Bunda.


"Nona, Nona Dwiana telah landing lima belas menit yang lalu."


"What? fu-ck Dwiana, dia tak mengabariku dahulu."


"Dia hanya tahu anda sedang berduka, baiknya anda sudah berada di Mansion utama sebelum dia menghubungi ponsel Anda yang tidak aktif sejak tadi pagi."


"Untuk kepentingan apa dia kemari selain mengucapkan duka?"


"Liburan Nona, dia mengejar mata kuliah seperti Anda, dipadatkan hingga dapat sesekali pulang menyambangi kalian, rencananya begitu," terang Ulfa.


"Ulf, ikut aku ... ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Baik,"


Bila Nona mudanya sudah melangkah dengan tegap dan penuh keyakinan di setiap hentakan nya maka dapat dipastikan bahwa dia tengah dihadapkan pada situasi yang sedikit kurang mengenakkan.


Jarak antara Mansion utama dengan posisinya kini, bangunan di sayap kanan tempat adik kesayangan serta ibundanya dirawat intensif oleh jajaran team dokter besutannya. Diipisahkan oleh bentangan taman hijau yang ditanami puluhan jenis bunga warna warni nan indah, kiranya membutuhkan waktu lima belas menit mengitarinya hingga ia tiba menjejakkan kakinya kembali di gedung utama, yang lebih megah.


Wanita muda yang terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya itu terus melangkah kedalam menuju ruang kerjanya.


"Panggil Joanna," titahnya saat melintasi beberapa pengawal pribadi yang sedang berbincang di ruang keluarga.


"Baik, Nona." Jawab salah satu dari mereka.


Cklak. Handle pintu terbuka.


"Ulf, aku haus, " ucapnya saat bo-kong sintal itu mendarat di kursi kebesaran.


"Baik," Ulfa menuju meja saji diujung kiri sofa kulit berwarna coklat tua, meracik sebuah minuman hangat untuk sang majikan.


"Nona, silakan," sodornya ke atas meja.


" Thanks, " sembari mencecap perlahan teh Camomile yang Ulfa berikan.


Tok. Tok.


"Masuk," seru Ulfa.

__ADS_1


"Nona, apa misiku?" Joanna langsung menanyakan tugas kali ini untuknya.


"Duduklah Jo,"


Joanna mendekati sofa ditengah ruangan itu, memilih duduk di salah satu sofa singlenya. Dia tak ingin berdekah dengan Ulfa dalam waktu dekat sebab masih begidik ngeri membayangkan kembali insiden kala Ulfa menamparnya beberapa kali.


"Awasi Dwiana, jangan sampai dia menaruh curiga padaku ... belum saatnya dia tahu."


"Baik, apa aku perlu memasang alat penyadap di ponselnya? atau kediamannya?" tawarnya lagi.


"Tidak perlu, hanya kau harus menggiringnya segera keluar dari rumah ini apabila dia sudah berulah ... jangan sampai dia mendekati bangunan sayap kanan tempat dimana mereka berada."


"Laksanakan ... ada lagi, Nona?"


"Siapkan juga dirimu, dia sudah sadar,"


"Aku mengerti...."


"Itu saja, pergilah."


Joanna bangkit perlahan menarik pan-tatnya dari sofa, membungkukkan badannya pelan ke arah sang majikan serta seniornya, Ulfa. Kemudian keluar ruangan segera untuk menunaikan misi sekaligus merancang rencana smooth agar tak dicurigai apabila sahabat Nona nya itu berulah.


Setelah kepergian Joanna, tinggalah Ulfa disana dengan Dewiq.


Masih menyesap teh buatan Ulfa dalam genggaman tangan yang menyangga cangkir di udara, Dewiq bertanya sesuatu.


"Ulf, mana yang akan kau pilih seandainya dihadapkan pada situasi yang membuatmu bingung ... memilih masa lalu atau masa kini?"


"Masa lalu adalah bagian penting dari masa kini, Nona ... keduanya tak dapat dipisahkan. Namun, aku akan tetap berada pada masa kini meski masa lalu berkontribusi besar membentuk diriku yang sekarang."


"Yakinkah kau? bagaimana bila sosok yang datang adalah penyelamatmu dimasa lalu yang ingin meminta balas budi?"


"Wakil Direktur Exona, Mahendra Guna bukan pribadi seperti itu, Nona."


"Wuah, bravo Ulfa...." soraknya girang, Ulfa memang cerdas, maksud terselubung nya diketahui dengan mudah oleh Ulfa.


"Bagaimana Mahendra membentukmu hingga seperti saat ini, aku penasaran."


"Cinta dan sayang, beliau menghujani kami dengan perhatian, sayang dan kepedulian, disaat semua itu tak kami dapatkan dari orang yang sepatutnya memberikan hak kami ... Beliau juga tulus, Nona."


"Begitukah? kau rupanya sangat mengenal sosoknya."


"Tidak ada yang tak dikenal, mengenal ataupun melupakan beliau, aku masih sangat jelas mengingat setiap perhatiannya padaku saat itu."


"Kau cinta padanya, Ulf?"


"...... "


.


.


...___________________________...

__ADS_1


__ADS_2