
Satu pekan sebelumnya.
Amir terheran dengan kebiasaan baru istrinya, setiap akan tidur dia selalu mandi bahkan menawarkan 'tugasnya' hampir setiap malam.
"Dek, emang ga cape? udah ga gerah?"
"Ga tahu, lagi enak aja badan aku Mas, hmm sekalian bayar hutang kewajiban selama aku sakit kan ga bener lakuinnya ... kemarin ditambah istihadhah juga kan."
Amir hanya tersenyum memandang wajah istrinya hingga dia tersipu. Pria itu lalu menariknya dalam pelukan seraya membisikkan sesuatu yang membuatnya tertawa.
Malam mereka selama satu pekan terakhir mengalahkan para pasangan pengantin baru. Aruni merasa berada di puncak kebahagiaan nya hingga suatu malam dia menanyakan sesuatu tentang kisah cinta pertama Rosulullah serta petikan surat yunus yang menceritakan tentang Fir'aun yang sempat bertaubat.
"Mas, Rosulullah pernah jatuh cinta yaa sebelumnya?"
"Menurut Ali Raudah dalam tulisannya yang berjudul Ali bin Abi Thalib yang sampai pada Hasan dan Husein, iya Rosulullah pernah jatuh cinta bahkan melamar seorang wanita sebelum bertemu Sayyidah Khadijah, dialah cinta pertamanya Fakhitah, putri sang paman, Abu Thalib."
"Lagi Mas lagi...."
"Baginda Nabi melamarnya namun ditolak secara halus oleh sang paman dengan alasan kebiasaan Bani Hasyim kala itu yang menikahkan putri mereka dengan Bani Makzhum, juga mereka telah lebih dulu melamar puterinya."
"Singkat kisah, Rosulullah diangkat menjadi Rosul dan banyak orang memeluk Islam ... suami Fakhitah ini tidak menerima dengan ajaran kenabian yang disampaikan Rosulullah lalu meninggalkan Mekah dan meninggal belum memeluk Islam. Fakhitah dikarunia empat orang anak, Baginda Nabi lalu melamarnya kembali namun ditolak halus olehnya karena beliau takut lalai dalam melayani Rosulullah, sebab cintanya pada ke empat anak mereka."
"Jika tidak Allah takdirkan ga akan ketemu juga ya Mas, kayak kamu dan Aiswa ... aku malah yang beruntung, c-up," imbuhnya seraya mengecup bibir suaminya.
"Mulai deh, dibilang jangan ngomong begitu ... Qiyya, entah gimana aku harus buktikan ke kamu kalau aku beneran sayang ... ga percaya juga."
"Percaya Mas, kan aku bilang beruntung jadi istri kamu, nih ya sekarang ... bisa dipeluk kamu begini tiap malam itu tuh kayak mimpi."
"Ya sudah makanya jangan lihat yang lalu lagi, kamu kewajibanku, kan yang minta kamu nikah itu Aku, bukan kamunya yang minta ... apa kamu jangan-jangan nyesel sama aku?"
"Dih mana ada yaa Mas, ngarang ... tapi Mas, Aku dulu lepas pakai hijab, Allah ampuni dosaku ga ya Mas?"
"Allah Maha Pengampun, sayang."
__ADS_1
"Cerita tentang Fir'aun itu Mas...."
"Surat yunus ayat 90, menceritakan tentang kaumnya yang ditenggelamkan. Ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berujar bahwa percaya pada bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhannya Bani Israil tapi Malaikat Jibril menyumpal mulutnya dengan segenggam tanah, khawatir Fir'aun mengucap syahadat lalu Allah merahmatinya dan menerima taubatnya."
"Kenapa begitu?"
"Dzolim, penindasan, kekejaman, kekufuran yang mencapai puncak saat itu serta kesombongan Fir'aun mengaku Tuhan membuat Malaikat Jibril membencinya."
"Lagi...."
"Dalam tafakkur fiddin diceritakan alasan tadi juga diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dari Ibnu Abbas : kemudian malaikat Jibril berkata, wahai Muhammad, seandainya engkau melihatku, kala itu aku mengambil tanah hitam dari dasar lautan. Lalu memasukkannya ke dalam mulut Fir‘aun karena takut ia diliputi oleh rahmat."
"Aku baru tahu cara bersuci dan sholat dengan benar saat istihadhah, memakai hijab yang benar juga banyak kisah tentang istri Fir'aun lalu mengapa nabi Musa tidak dapat berbicara dengan jelas, semuanya dari kamu ... jadi semoga Allah mengampuni semua dosaku saat dalam ke jahiliyah-an tentang hukum atau ibadah ya Mas ... lagi Mas, cerita lagi." Aruni merapatkan tubuh polosnya kedalam pelukan sang suami.
"In sya Allah, banyak bertaubat sayang, mohon ampun ... ini kenapa nempel lagi? mancing melulu nih ... udah wudhu kan? pake bajunya Qiyya, dingin loh."
"Kali mau nambah, ga susah buat lepas lagi, kalau aku ngantuk kan Mas bisa langsung, pahala ngalir buat Aku," tawanya diiringi Amir.
"Santuy ya Dek, semuanya dapat, pinter kamu."
Hingga kemarin, kamu masih ikut aku shaum dan malamnya kita masih...
"Kak, sudah siap." Mahen menepuk bahu kakak iparnya pelan.
"Mas, jangan lama-lama kasihan Aruni, ayo." Ajak Abah agar Amir melepaskan jenazah istrinya yang dalam pelukan untuk dimandikan.
"Sayang, terimakasih banyak telah bersedia menjadi istriku ... sabar denganku dan mencintaiku tulus, terimakasih untuk semua waktu yang kita lalui bersama, malam terakhir yang indah dan sangat bahagia." Amir kembali membelai wajah ayu dalam pandangannya, membelai lembut pipi putih yang perlahan memucat, mengecup bibir merah yang semalam masih dia nikmati.
" ... Ya Robb, Aku kembalikan amanah dari Mu dan aku bersaksi bahwa Aruni Fauqiyya adalah istriku yang shalihah, tiada cela baginya dalam memenuhi kewajibannya padaku, hingga Aku redho kepadanya ... berikanlah untuknya pilihan memasuki surgaMu dari pintu mana saja, aamiin."
"Sayang, Aku akan memandikanmu untuk yang terakhir ... Qiyya ... " air mata nya jatuh, butir bening yang dia tahan akhirnya luruh membasahi wajah istrinya yang tersenyum.
"Hanya aku yang akan memandikannya ya Bah."
__ADS_1
"Iya boleh, ditemani Naya dan paraji Mas, ayo...."
Amir mengangkat tubuh istrinya seorang diri menuju tempat pemandian disisi rumah. Naya telah siap membantu disana.
"Nduk kalau mau disini, jangan nangis ya," pintanya lembut membelai wajah adiknya saat tubuh Aruni telah diletakkan dibilik.
"Hem, in sya Allah kuat," sahut Naya.
Guyuran demi guyuran air dengan lancar Amir ratakan ke seluruh bagian tubuh almarhumah. Hingga menjelang saat akan di wudhukan, Amir menciumi seluruh bagian wajah ayu istrinya, membisikkan sesuatu yang Naya dengar.
"Kamu selalu cantik dimataku, salam untuk Ummi dan Naufal ... istirahat ya sayang, tiada lagi sakit bagimu."
"Nduk, ayo wudhukan, jangan nangis, dia sudah ikhlas," Amir melihat Naya berkaca-kaca, memeluk adiknya sesaat lalu menuntun tangan yang gemetar untuk membasuh semua anggota tubuh Aruni agar rukun wudhu terpenuhi.
"Kak, panggil para akhwat untuk angkat Mba."
Semua prosesi untuk istrinya tak sedikitpun dilewati oleh Amir hingga jenazah itu sangat wangi dan siap disholatkan.
Mama beberapa kali tak sadarkan diri, begitu juga keluarga Kusuma di Solo sana. Amir kali ini menjadi makmum saat sholat jenazah dilakukan. Dia membiarkan Abahnya memberikan penghormatan terakhir bagi menantunya.
"Mas, dikebumikan sebelahan sama Naufal dan Ummi, disana sudah siap, ini ga usah nunggu siapapun kan? Ayah mertuamu tiba masih lama, kasihan Runi."
"Langsung saja Bah," imbuhnya kali ini lebih tegar.
Mahendra kagum akan sosok disampingnya ini, di usia yang jauh dibawahnya dia sangat dewasa dan tetap tenang meski Mahen tahu dalam hatinya hancur.
Amirzain, pantas Aiswa bahkan Naya mengidolakanmu ... bahkan Aruni beberapa hari lalu bilang padaku bahwa rasanya tak rela meninggalkanmu yang begitu sempurna untuknya.
Selamat jalan Aruni, terimakasih telah hadir dalam kehidupan kami...
.
.
__ADS_1
...__________________________...