DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 192. SENJA SYAHDU UMMA & AHMAD


__ADS_3

Tazkiya, saat yang sama.


Ahmad sedang gelisah sejak ba'da Ashar. Dia berkali membasahi wajah kalem yang mulai di tumbuhi jambang tipis itu dengan berwudhu lalu sholat hajat memohon ketenangan hati.


"Ya Allah, ingin rasanya ngobrol dengan mereka yang otaknya goyang, namun hatiku nanti akan semakin tak sabar," Ahmad meraih ponselnya dan melihat grup chat bertiga yang dibuat oleh Amir beberapa hari lalu.


"Dedemit, ada aja si Gamal ini. DEretan MilyarDEr kliMIs dan Tampan," ujung bibir Ahmad tertarik ke atas membentuk segaris senyum yang meneduhkan.


"Ya Robb, hatiku gelisah. Akankah dia redho nanti, ini adalah keputusan sepihak dariku untuknya ... sungguh aku ingin menjaganya lebih dari ini, betapa aku takut kehilangan dia ... Engkau yang membuat pandanganku jatuh padanya, Engkau pula yang membuat hatiku yakin memilihnya. Jadi, bolehkah kiranya aku jika memintaMu agar melembutkan hatinya untukku," Ahmad mulai parau, suaranya tercekat menahan isak.


Aku mencintainya, cinta yang Kau berikan di saat yang tepat bahkan ketika aku belum memintanya PadaMu ya Robb.


Tak hentinya bibir putra sulung Kyai kondang Hariri salim melantunkan doa. Mengaji hanya sekedar menahan rasa agar apa yang Allah titipkan padanya tidak berubah menjadi nafsu.


Tok. Tok. Pintu kamar diketuk.


"Kak, lagi apa?" suara lembut Umma Maryam.


"Beik, muroja'ah," jawab Ahmad.


"Umma boleh masuk?" tanya Umma.


"Fadhol Umma," jawab Ahmad seraya bangkit membuka pintu kamarnya.


Umma merasakan kegelisahan Ahmad, putra sulung yang sempat jauh darinya akibat rasa bersalah atas kejadian Aiswa dulu.


"Gelisah?" tanya Umma seraya mendekat dan duduk di sisi ranjang.


"He'em Umma. Gak tahu, rasanya kayak mau apa gitu, masih belum tenang," ujarnya merebahkan kepala di pangkuan Umma.


"Pernikahan disebut sebagai perjanjian yang kuat dan kokoh. Mitsaqan ghaliza, bahkan Allah hanya menyebutnya tiga kali dalam al-quran di surat An-Nisa, salah satunya ayat dua satu. Memegang dengan cara yang patut dan melepaskan juga memakai aturan yang baik."


"Mitsaq artinya tauhid, penekanan terhadap janji. Komitmen lebih dari sekedar janji Kak ... dalam kondisi apa pun suami harus menjaga janji pernikahan ... jika suatu pernikahan tidak bisa dipertahankan, sehingga memilih jalan perceraian, maka untuk melakukan itu juga harus dengan cara yang baik," Umma membelai lembut kepala Ahmad.


"Cinta itu tidak menciptakan pernikahan, tetapi karena menikahlah cinta itu datang. Mencintai juga bukan menyamai sifat namun ikhlas dalam menerima setiap perbedaan pasangan ... menikah juga bukan untuk mencari pasangan yang tepat tapi menjadikan dia tepat bagi kita," lanjut Umma lembut.


"Seorang suami yang baik, ia akan selalu menyiapkan jemari untuk menyeka air mata istrinya, namun suami yang hebat adalah pria yang dapat menyediakan telinganya untuk mendengar cerita tentang sebab istrinya menangis," Umma menjeda kalimatnya. Teringat tentang perjuangannya kala pindah ke Tazkiya sebab Hariri salim mengemban amanah sang ayah.


"Umma," Ahmad menangis, dalam pangkuan ibunya.

__ADS_1


"Kakak paham maksud Umma?" tanya umma kemudian.


"In sya Allah, aku akan memuliakannya, mencintai dan menjaga pernikahan kami. Dia adalah rezekiku, dia juga pilihanku. Doakan agar aku tak memandang selain apa yang bukan menjadi milikku," Ahmad terisak.


"Benar kak ... rumah tangga, istri itu bagaikan pakaian. Mungkin tidak sempurna sesuai selera namun itu bisa menutupi diri dari kekurangan, melengkapi, serta mempercantik. Lillah, niatkan semua karena Allah ... Umma akan berdoa semoga rumah tangga kalian menambah rasa taqwa dan syukur untuk meraih ridhoNya, aamiin."


Ahmad hanya menangis, meloloskan semua kegundahan serta kegelisahan hati seiring derasnya air mata yang berderai.


"Ya Ahmad Hariri bin Hariri salim, Umma redho padamu, putraku. Umma tidak akan memintamu untuk memilih antara Umma dan istrimu kelak, meski umma memiliki hak penuh atasmu ... jangan gundah ya Kak, majulah. Teguhlah menjadi pemimpin dan imam yang baik untuk istri dan keturunan mu nanti ... bawalah keluarga agar menghuni surgaNya Allah, aamiin."


Ahmad memeluk ibunya. Umma yang berhati emas dan mulia. Keikhlasan beliau menjalani beberapa tahapan pernikahan telah Ahmad buktikan dengan matanya.


Betapa aku sangat beruntung memiliki Umma sepertimu, Maryam bintu Yasir Alawi. Gambaran untuk tetap mengabdi pada Buya telah aku rasakan dan dapatkan. Sehat selalu Umma ku.


Lolos sudah air mata Umma. Anak sulung yang dia jaga dengan segenap jiwa akan melangkah lebih tinggi meninggalkannya. Bukan untuk melepaskan namun untuk menjemput bahagia miliknya.


Dia putramu, Maryam. Selamanya akan menjadi putramu.


Sore yang syahdu untuk Ahmad dan Umma. Hanya tersisa dua hari jelang melepas masa lajang, artinya Maryam tidak bisa lagi sepenuhnya memiliki sang putra karena dia pun akan memikul tanggung jawab yang lain.


...***...


Ba'da isya ketika Alex sibuk menyiapkan agent yang akan mengawal sepanjang perjalanan majikannya dan Amir yang tak kalah heboh menata kursi istrinya di mobil agar nyaman, Aiswa hanya diam melihat itu semua.


Ia kesal, lelah akibat perbuatan suaminya jelang maghrib tadi. Rambutnya kembali basah.


Kini mobil Honda Jazz sport itu telah meluncur menuju Jakarta.


Sepanjang jalan Aiswa hanya diam, enggan melihat Amir meski suaminya itu tak henti membujuk.


Hingga suara Amir yang merdu mengikuti sebuah lagu yang Audio mobilnya tangkap dari gelombang frekuensi lagu.


"If I should stay. I would only be in your way."


(Jika aku harus bertahan. Aku hanya mau bertahan di sisimu.)


"So I'll go but I know. I'll think of you every step of the way."


(Maka ku kan pergi, namun ... di tiap langkahku ku 'kan selalu memikirkanmu.)

__ADS_1


"And I will always love you."


"Bittersweet Memories. That is all I'm taking with me."


(Pahit manisnya kenangan. Semua kubawa bersamaku.)


"Will always love you." Keduanya mengikuti irama lagu. Kali ini saling menatap.


Amir hanya sekilas melihat istrinya karena ia melihat situasi jalanan. Begitu memasuki gerbang tol, dia membelokkan stir ke lajur kiri, menarik tuas rem.


"Always love you, sayang," bisik Amir mesra.


C-up.


Terbawa suasana romantis dibawah sinar lampu, keduanya saling memagut, lama dan lembut tanpa terburu-buru karena nafsu.


Tok. Tok.


"Maaf, sedang apa Pak?" tegur petugas gerbang tol.


Amir terkejut mobilnya diketuk dari luar. Untung kaca mobilnya gelap sehingga pria itu tak melihat situasi me-sum didalam.


Amir menekan tombol guna menurunkan kaca mobilnya.


"Istriku sedang minum suplemen dulu, sebelum dia tidur," jawab Amir seraya menunjukkan botol suplemen Aiswa diatas dashboard.


"Oh maaf, jika ingin istirahat lama, Rest Area 500 meter di depan," ucap petugas.


"Baik, terimakasih. Ini mau jalan ko," balas Amir seraya menutup kembali kaca mobil.


"Hahahaha, Bii. Makanya me-sum itu tahu tempat," Aiswa tertawa puas melihat suaminya sedikit kesal.


.


.


..._________________________...


...Selamat datang para kesayangan mommy yang baru nyampe sini. Hayo, jangan pernah nge-boom like karya yaa. Kasihani kami, karena akan di catat sebagai kecurangan dan menurunkan pop karya ... hiks, padahal nulisnya segenap hati....

__ADS_1


...Tapi kesayangan mommy mah semua super baik donk, penuh cinta dan sayang ke mommy 😘 luv kalian ❤❤❤...


__ADS_2